
“Sekarang kita mau ke mana, Rum?” tanya Arya setelah keluar dari restoran.
“Mas Hangga dan Kak Nata memangnya enggak akan jemput kita?” Harum balik bertanya. Ia masih berharap Hangga dan Nata menjemputnya.
“Aku telepon Nata lagi ya. Tadi sih enggak aktif teleponnya,” sahut Arya. Tangannya merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.
“Masih gak aktif teleponnya,” kata Arya setelah mencoba menelepon Nata beberapa kali.
Sementara ponsel Hangga malah tadi tertinggal di restoran dan sudah diamankan Harum.
“Kita jalan kaki saja dulu. Semoga di depan ketemu Kak Nata dan Mas Hangga,” ujar Harum akhirnya.
Arya mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar dalam diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Harum dengan kesedihannya karena ditinggal berdua bersama pria lain yang bukan suaminya. Sementara Arya dengan kegalauannya karena cinta yang tidak kesampaian.
Hingga kemudian langkah mereka terhenti di depan arena pasar malam. Bibir Harum melengkungkan senyum memandangi arena permainan di sana. Memorinya mengenang masa kecil dulu yang sering naik bianglala bersama mama dan papanya.
Mengingat mama papa, membuatnya teringat fakta bahwa Bu Mirna lah yang telah menyebabkan orangtuanya meninggal.
Kalau saja sikap Hangga masih dingin seperti dulu, tidak semanis saat ini, mungkin Harum akan memilih pergi saja dari biduk pernikahan yang rumit ini.
Tidak ada alasan yang membuatnya bertahan. Bukankah kemarin ia bertahan karena sang mertua. Kemudian kini terungkap fakta bahwa Bu Mirna yang menyebabkan mama dan papanya meninggal. Dan ia berpikir rasa sayang Bu Mirna dan Pak Hendra kepadanya adalah karena rasa bersalah.
Ditinggal makan malam berdua di tempat romantis bersama seorang pria, membuat Harum dapat menerka apa yang dipikirkan Nata.
“Kamu suka cowok yang seperti apa, Rum?” Nata bertanya seperti itu saat mendandaninya tadi.
“Gak ada kriteria khusus, Kak. Yang penting pria beriman dan baik hati,” jawab Harum.
Setelahnya kisah kebaikan- kebaikan Arya mengalir dari bibir merah Nata. Di benak Harum saat itu, Nata seperti tengah mempromosikan Arya. Dan kini ia merasa Nata memang benar ingin menjodohkannya dengan Arya.
“Rum, kamu mau naik itu?” Pertanyaan Arya mengagetkan Harum.
“Enggak.” Harum menggeleng.
“Kamu mau temani aku sebentar ke sana. Biasanya di pasar malam banyak pedagang emperan. Aku lagi cari pernak-pernik buat di kedai bakso.”
“Ayo.” Harum mengangguk.
Arya tersenyum girang. Keduanya masuk ke dalam arena pasar malam yang ramai oleh pengunjung yang kebanyakan membawa anak-anak kecil. Banyak arena permainan anak yang menarik dan tentunya murah meriah, juga pedagang kaki lima tumpah di sana.
Arya berjongkok di depan emperan penjual perabot rumah tangga. "Ini ada yang warna hijaunya ndak?" tanyanya sembari memegang sebuah mangkuk kecil..
“Ada,” jawab pedagang dengan antusias. Kemudian mulai mencari barang yang diinginkan Arya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Arya sudah memborong beberapa perabot. Mulai dari mangkuk kecil untuk wadah sambal, tempat sendok garpu dan botol untuk wadah saus serta pernak-pernik lainnya. Dan semua perabot itu berwarna hijau.
“Rum, kamu ndak ada yang mau dibeli?” lontar Arya setelah membayar barang yang dibelinya.
“Enggak ada, Mas. Di rumah Mas Hangga perabotannya sudah komplit semua,” sahut Harum.
“Sini saya bantu bawakan barangnya,” tawarnya kemudian.
“Jangan ah, nanti aku dimarahi Hangga lagi. Istrinya disuruh bawa beginian.”
“Enggak apa-apa. Sini.” Harum mengambil satu kantong belanjaan dari tangan Arya.
“Mas Arya ini penyuka warna hijau ya?” lontar Harum. Ia ingat betul saat pertama bertemu Arya yang serba hijau.
Arya tertawa ringan. “Memangnya kelihatan banget aku suka warna hijau ya?”
“He’em.” Harum menoleh sekejap pada Arya yang berjalan di sampingnya. “Kenapa suka warna hijau?
“Karena katanya nabi Muhammad itu suka warna hijau,” sahut Arya.
Harum terkesiap atas jawaban Arya. Ia kembali menoleh pada Arya, namun kali ini pandangan mereka bertemu.
“Kenapa?” lontar Arya. Kalau boleh ge er, Arya merasa Harum seperti tengah memandang takjub dirinya.
“Enggak kenapa-kenapa. Mas Arya keren,” puji Harum. Ia tidak menyangka Arya yang kelihatannya selengean tahu juga warna kesukaan Rasulullah.
“Lebih keren Hangga sih, istrinya dua. Hahaha.” Arya berseloroh, namun sesaat kemudian ia menyesal karena khawatir gurauannya menyakiti Harum. “Em ... maaf ya, Rum. Aku ndak bermaksud ....”
Di luar dugaan, Harum malah tersenyum menanggapi gurauan pria bermata sipit itu. “Mas Arya ingin punya istri dua juga ya?” lontar Harum.
“Satu aja belum, moso mau dua. Lagipula aku ndak setuju kalau ada yang bilang poligami itu sunnah Rosul. Menurut aku, poligami itu hukumnya mubah, bukan sunnah. Para lelaki boleh berpoligami, dan wanita boleh dipoligami, jika menghendakinya. Tidak ada pengharaman jika laki-laki ingin melakukannya. Sah sah saja, selama poligami itu baik untuk si lelaki dan istri-istrinya. Tapi, sepertinya sebagian besar kaum perempuan pasti keberatan kalau dipoligami,” tutur Arya.
“Saya sebenarnya enggak keberatan dengan pernikahan poligami yang sekarang dijalani. Tetapi, terkadang saya merasa kalau saya ini orang ketiga bagi mereka. Seandainya saya tahu kalau Mas Hangga sudah memiliki Kak Nata saat meminang saya dulu, mungkin saya memilih untuk menolak pinangan itu.”
“Kamu ndak usah merasa bersalah, Rum. Lah wong Hangga sama Nata itu cuma pacaran. Pacaran itu ndak ada status hukumnya. Banyak kok yang pacarannya sama siapa, eh nikahnya sama siapa.”
“Menurut Mas Arya, apa yang harus saya lakukan?”
“Enggak ada yang harus kamu lakukan, Rum. Kamu hanya harus menjadi istri yang baik buat Hangga seperti biasanya.”
“Meskipun Kak Nata enggak menginginkan saya ada di antara mereka?”
“Bukan enggak, hanya mungkin belum saja. Semoga lama-lama Nata juga akan nerima."
__ADS_1
Harum menggigit bibir bawahnya. Apakah mungkin suatu hari nanti dirinya akan hidup berdampingan dengan Nata dalam kedamaian, dengan sama-sama menyandang status sebagai istri Hangga.
"Apa lebih baik saya mundur aja ya, Mas?"
"Hakikatnya menikah itu kan untuk bahagia. Kalau kamu merasa bahagia, jangan pernah berpikir untuk mundur. Tapi, kalau kamu enggak menemukan kebahagiaan dalam pernikahan tersebut, buat apa dipertahankan, Rum."
Harum bergeming. Ia sendiri tidak tahu apakah sudah menemukan kebahagiaan dalam pernikahannya. Atau jangan-jangan ia sendiri tidak tahu apa makna kebahagiaan itu.
“Rum, kita mau ke mana lagi?” tanya Arya.
“Saya mau pulang saja, Mas.”
Arya mengangguk setuju. Ia juga merasa aneh kalau harus lama-lama berduaan dengan Harum. Masa iya jalan sama istri orang. Istri temannya pula.
“Yuk, kita pulang!” ajak Arya.
“Saya pulang sendiri saja, Mas. Naik taksi,” tolak Harum. Ia enggan jika harus pulang berdua bersama Arya. Bukan karena tidak menyukai Arya, tetapi tidak elok rasanya jika dilihat orang. Khawatir menimbulkan fitnah atau jadi sasaran gibah.
“Tapi, motor aku kan di rumah Hangga.”
Mereka berempat tadi pergi ke restoran dengan menggunakan mobil Hangga. Sementara motor Arya ditinggalkan di rumah Hangga.
“Oh, iya. Kita pulang bareng saja kalau begitu,” cetus Harum setelah berpikir beberapa jenak. Kalau tujuannya sama, masa iya harus pulang masing-masing.
“Aku coba telepon Nata lagi ya. Siapa tahu sudah aktif.”
Arya kembali menghubungi Nata, namun nomornya masih tidak aktif. Sehingga Arya dan Harum memutuskan untuk pulang menaiki taksi. Arya duduk di kursi depan bersama sang sopir, sementara Harum duduk di kursi penumpang belakang.
Mobil bercat biru muda itu meluncur menuju alamat tujuan yang disebutkan Arya. Saat mobil tengah melaju, tangan Harum merogoh ponsel Hangga di dalam tasnya.
Dengan ragu, ia menekan tombol power. Hatinya langsung mencelus saat melihat foto selfie Hangga bersama Nata sebagai wallpaper-nya. Di foto tersebut, Hangga tengah tersenyum lebar, dengan Nata yang tengah mencium pipinya.
Tumbuh rasa penasaran dalam hati Harum terhadap ponsel Hangga yang terkunci itu. Ia berusaha membuka ponsel dengan menekan enam digit angka yang merupakan tanggal, bulan dan tahun kelahiran Hangga, tetapi ponselnya masih terkunci.
Harum menduga bahwa Hangga menggunakan tanggal kelahiran Nata sebagai passwordnya. Ia jadi ingat enam digit nomor pin ATM yang pernah diberikan Hangga. Mungkin itu adalah tanggal kelahiran Nata. Pikirnya.
Harum memasukkan enam digit nomor pin tersebut untuk membuka ponsel Hangga yang terkunci, tetapi hasilnya nihil. Ponsel Hangga belum dapat terbuka juga.
‘Tidak mungkin Hangga memakai password tanggal kelahiran aku kan? Lagi pula Mas Hangga mana tahu tanggal kelahiran aku,’ gumam Harum dalam hati.
Ibu jari Harum bergerak menyentuh enam digit angka yang merupakan tanggal, bulan dan tahun kelahirannya. Tidak disangka dan tidak diduga, ponsel Hangga terbuka.
Harum tergemap sesaat. Ada rasa bahagia hinggap di hati Harum tatkala mengetahui Hangga mengabadikan hari lahirnya sebagai password. Rasa itu semakin berdesir kala membaca nama kontak “Humairaku.” Begitu Hangga menuliskan nama Harum di daftar kontak ponselnya.
__ADS_1
Harum tersenyum bahagia dengan perlakuan manis Hangga tersebut.
Oh, ya ampun. Definisi bahagia kamu terlalu sederhana, Harum.