Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 47


__ADS_3

Hangga kembali ke rumah, lima hari setelahnya. Dari rencana awal dua hari, nyatanya workshop itu berlangsung selama tiga hari. Ia salah mencerna informasi dari kantor.


Hangga bekerja sebagai staf IT di salah satu perusahaan telekomunikasi. Dulu ia bekerja di Jakarta dan baru dua tahun di mutasi ke Tangerang. Semula ia berencana meminta mutasi kembali ke Jakarta agar bisa berdekatan dengan Nata yang dulu masih berstatus sebagai kekasih. Namun, pernikahannya dengan Harum membatalkan rencana Hangga tersebut.


Di hari keempat, pihak kantor memberikan jatah libur untuknya dan rekan se-tim. Hal itu dimanfaatkan oleh Hangga dan rekan-rekannya untuk menikmati indahnya Pulau Bali. Tidak lupa untuk membeli oleh-oleh untuk kedua istrinya.


Liburan bersama rekan kantor di Pulau Dewata itu ternyata cukup menyenangkan. Dan sudah pasti akan lebih menyenangkan jika berlibur di pulau yang terkenal eksotis itu bersama wanita pujaannya. Begitu pikirnya.


Selepas makan malam, Nata dan Hangga duduk bersama di sofa ruang televisi sambil membuka oleh-oleh yang dibawa Hangga.


“Rum, sini!” panggil Nata saat Harum melewati ruang televisi hendak masuk ke kamar.


Harum patuh melangkah menghampiri Nata, lalu duduk pada sofa single dekat Nata.


“Ini oleh-oleh dari Mas Hangga. Kamu pilih yang mana, Rum?” lontar Nata sembari menunjukkan paper bag besar berisi oleh-oleh.


Harum hanya tersenyum menanggapi ucapan Nata.


“Yang ini kayaknya Mas Hangga khusus beli buat kamu deh.” Nata mengambil sebuah mukena Bali dan menunjukkannya pada Harum.


“Semua barang aku beli dua kok. Kalau mukena, aku malah beli empat, biar Ibu dan Bi Jenah juga kebagian,” ujar Hangga menjelaskan.


“Kamu belikan aku mukena juga?” tanya Nata.


“Iya. Nanti kamu bisa belajar solat sama Harum,” jawab Hangga.


“Kamu pilih warna apa, Rum?” tanya Nata.


“Yang mana saja, enggak apa-apa,” jawab Harum.

__ADS_1


Kemudian Nata mulai membagi oleh-oleh untuk Harum. Tidak sulit membagi oleh-oleh tersebut, sebab Hangga membeli dua buah untuk setiap item barang, hanya berbeda warna saja.


Setelah urusan pembagian oleh-oleh telah beres, Nata dan Hangga naik ke kamarnya. Sampai di kamar, Hangga langsung merebahkan tubuh di kasur empuknya. Sementara Nata pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah sekitar sepuluh menit di kamar mandi, melakukan ritual cuci muka dan gosok gigi, Nata keluar dengan wajah segar dan berseri dengan senyum yang terus mengembang. Namun, sedetik kemudian wajahnya tertekuk muram sebab melihat Hangga yang sudah tertidur pulas.


Nata bisa tahu Hangga telah tidur, karena ciri mulutnya yang mangap. Nata kenal betul, suami tampannya itu jika tertidur pasti mulutnya mangap dan akan tidur mendengkur jika tubuhnya terasa benar-benar lelah.


Nata menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan perasaan kesal. Sudah lima malam tidak bersama, malah ditinggal tidur duluan seperti ini. Menyebalkan.


Menatap kesal pada sang suami, Nata duduk bersandar di kepala ranjang sembari melipat tangan di dada. Setelah diperhatikan secara saksama, Hangga tidak tidur dengan mendengkur. Hal itu menandakan bahwa sesungguhnya Hangga tidak terlalu lelah. Begitu yang dipikirkan Nata.


“Yang, bangun ih! Enggak kangen apa sama aku!” seru Nata sembari menggoyang-goyang tubuh Hangga.


Tidak ada reaksi dari sang suami, kini Nata menepuk-nepuk pipi Hangga. “Bangun dong, Sayang, bangun!”


Hangga membuka matanya sedikit, menatap Nata dalam keadaan setengah sadar. “Aku tidur duluan ya, Yang. Nanti jam dua ada bola,” katanya dengan mata setengah terpejam.


“I love you,” ucap Hangga dengan mata yang tetap terpejam.


Akhirnya Nata turut merebahkan tubuh juga. Tidur dengan posisi menyamping, membelakangi Hangga. “Awas aja kalau besok malam nempel-nempel, enggak akan dikasih!” sungutnya.


Setelah berkali-kali bolak balik posisi tidur dengan perasaan kesal, akhirnya wanita cantik itu beranjak juga menuju alam mimpi.


Semoga mimpinya malam ini akan indah, seindah harapannya sebelum dibuat kesal oleh suami tercinta.


Pukul 02.00 dini hari, Hangga bangun karena dering alarm yang sengaja di setting olehnya sejak sore. Ia memang sudah mempersiapkan bangun di jam tersebut untuk menonton bola.


Hangga bukanlah pria maniak bola yang rela begadang setiap ada pertandingan bola. Ia hanya akan menonton Liga Italia—liga favoritnya. Dan rela begadang jika tim favoritnya yang berlaga, seperti dini hari ini.

__ADS_1


Sebelum turun dari tempat tidur, ia menatap istrinya sejenak, lalu memberikan sebuah kecupan di kening halusnya. Kemudian ia masuk kamar mandi untuk mencuci muka. Baru setelahnya turun ke lantai bawah menuju ruang televisi.


Satu buah gelas, sebotol air dingin dan biskuit cokelat kesukaannya yang ia ambil sendiri dari dapur menjadi teman Hangga untuk menyaksikan pertandingan sepakbola.


“Gol!” Hangga bersorak riang. Di menit ketigapuluh tujuh babak pertama, tim kesayangannya telah mencetak gol.


“Yes. Yes. Yes. Gitu dong, jagoan gue namanya,” kata Hangga penuh euforia sembari tangannya meraih gelas yang telah diisi air.


Saat Hangga tengah meneguk air, tanpa aba-aba, Harum membuka pintu kamarnya. Pintu kamar Harum tepat berada di depan sofa yang diduduki Hangga. Sehingga Hangga pasti dapat melihat sosok Harum.


“Uhuk, uhuk.” Seketika Hangga tersedak, setelah beberapa jenak menatap Harum tanpa berkedip.


Baru kali ini Hangga melihat Harum dengan penampakan berbeda. Istri pertamanya itu tampil tanpa jilbab yang menutup mahkota indahnya.


Sama seperti Hangga, Harum pun terkejut karena mendapati Hangga di jam dini hari masih duduk di depan televisi.


“Uhuk, uhuk, uhuk.” Hangga masih terbatuk-batuk akibat tersedak.


“Mas Hangga enggak kenapa-kenapa?” tanya Harum khawatir.


“Eee, enggak. Enggak apa-apa. Aku enggak apa-apa,” sahut Hangga.


Kening Harum mengernyit mendengar jawaban Hangga yang terdengar gugup. Kenapa Harum merasa Hangga seperti grogi melihatnya.


Harum hanya mengangguk, tidak ingin bertanya lagi. Kemudian berlalu dari hadapan Hangga.


Hangga menelan liur yang tiba-tiba saja menjadi berlimpah di mulutnya. Ia susah payah mengatasi rasa gugup yang tiba-tiba menjeratnya.


"Masya Allah kamu cantik sekali, Rum,” pujinya dalam hati.

__ADS_1


Sorot matanya fokus menatap langkah Harum yang terus menjauh.


“Rum,” panggilnya, sebelum sosok Harum lenyap dari pandangan.


__ADS_2