
Harum seketika teringat dengan biaya rumah sakit. Ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Di ruangan tersebut hanya ada satu hospital bed yang ditempati dirinya. Ada televisi LED yang menggantung di dinding, ada AC, ada lemari es, ada sofa berikut mejanya. Jauh berbeda dengan ruangan yang biasa ditempati almarhumah neneknya ketika masuk rumah sakit dimana dalam satu ruangan terdapat sepuluh ranjang pasien dan hanya nakas sebagai fasilitas pelengkapnya.
Ya Allah ruangan apa ini? VIP, VVIP, kelas bisnis, kelas eksekutif? Berapa harga kamar ini satu malamnya?
Harum tidak peduli nama ruangannya, tetapi yang ia cemaskan biaya yang harus dibayarnya. Ia memang memiliki tabungan, tetapi ia sudah merencanakan ingin membuka warung kecil-kecilan dengan uang tersebut andai tidak juga mendapatkan pekerjaan.
Harum merenungi semuanya dengan kepala tertunduk. Saat itu juga ia baru menyadari pakaian yang dikenakan adalah bukan miliknya. Matanya menelusuri pakaian yang dikenakannya. Satu setel piyama berwarna biru khas pakaian rumah sakit. Kemudian ia mengangkat wajahnya menatap Yuda dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Itu perawat yang mengganti baju kamu. Bukan saya,” ujar Yuda menggelengkan kepalanya, seolah mengerti isi kepala Harum.
“Maaf saya mau pulang sekarang saja,” ujar Harum.
“Kamu harus dirawat dulu di sini. Supaya dokter bisa memantau pendarahan kamu. Umumnya keguguran di tahap awal kehamilan seperti ini akan diikuti perdarahan alami sekitar tujuh sampai sepuluh hari. Biasanya perdarahan akan benar-benar berhenti setelah dua atau tiga minggu," papar Yuda.
‘Masyaallah dua atau tiga minggu di ruangan seperti ini? Tabungan saya pun belum tentu cukup untuk membayar biaya rumah sakitnya. Ngomong-ngomong kenapa anaknya Bu Yusma ini sok tahu sekali, memangnya dia dokter apa,' gumam Harum dalam hati.
“Enggak, saya mau pulang sekarang saja.” Harum bersikukuh.
Ia tidak mau membayangkan tabungannya habis terkuras hanya untuk biaya rumah sakit. Apa yang harus dilakukannya nanti? Ia tidak mau kembali bekerja di kedai milik mantan mertuanya. Karena pasti Hangga akan terus mendatanginya. Dan ia tidak mau lagi melihat sorot penuh kecemburuan dari mantan madunya. Tidak mau lagi. Titik.
Tidak lama kemudian, saat Harum masih meresahkan tentang biaya rumah sakit, pintu ruangan dibuka. Harum dan Yuda sontak menoleh ke arah pintu dan melihat Bu Yusma serta Harum kecil muncul dari balik pintu.
“Assalamualaikum,” sapa Bu Yusma dan Harum kecil sembari melangkah masuk ke ruangan.
“Waalalikum salam,” jawab Harum dan Yuda kompak. Kemudian keduanya saling melirik canggung.
“Sudah bangun, Nak?” Bu Yusma bertanya ramah kepada Harum.
“Ini, Bu. Dia minta pulang sekarang katanya,” lapor Yuda.
“Jangan, Nak. Kamu dirawat dulu di sini sampai pulih ya."
__ADS_1
“Betul. Biar dokter bisa memantau perkembangan keguguran kamu. Jika nanti dari hasil pemeriksaan, dokter menemukan keguguran lengkap dan rahim sudah bersih dari bakal janin, maka tidak diperlukan tindakan apapun. Sebaliknya, jika pada hasil pemeriksaan, ditemukan keguguran tidak lengkap, maka dokter akan melakukan tindakan dilatasi dan kuratase,” terang Yuda panjang lebar.
“Iya, Papi Dokter,” celetuk Harum kecil.
“Hai, Cantik. Ini pasti Harum ya?” Harum melambaikan tangan dan tersenyum memandangi bocah kecil dengan bando Micky Mouse di kepalanya. Melupakan sejenak beban pikiran tentang biaya rumah sakit.
“Kok Kakak tau nama aku sih?” sahut Harum kecil balas tersenyum. Cucu Bu Yusma itu mendekati ranjang yang ditempati Harum. “Papi, aku mau duduk di sini,” pintanya pada sang papi.
Yuda mendudukkan putri kecilnya di atas hospital bed di dekat Harum.
“Kok Kakak tau nama aku sih?” ulang Harum kecil dengan gestur khas anak kecil.
“Karena kamu cantik.” Harum mengusap lembut pipi anak kecil itu.
“Nama Kakak siapa?”
Harum mengulurkan tangan mengajak kenalan, disambut oleh Harum kecil dengan ceria.
“Nama kita sama loh. Nama Kakak juga Harum,” ujar Harum usai menyalami bocah kecil itu.
“Iya, dong. Ayo, tos!” Kedua perempuan beda generasi yang bernama Harum itu saling tos.
“Nak Harum sudah menghubungi suami?” tanya Bu Yusma.
“Saya mau pulang saja, Bu. Saya enggak ....”
“Kalau soal biaya tidak usah dipikirkan. Yuda sudah membayar semuanya,” potong Bu Yusma seolah memahami kegelisahan Harum.
“Jangan. Saya tidak mau berhutang. Saya takut enggak bisa bayar.”
“Saya juga tidak mau memberikan hutang sama kamu. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih saya karena kamu sudah mau repot-repot mengantarkan ibu saya pulang sampai ke rumah," timpal Yuda.
__ADS_1
“Tapi, saya ....”
“Sudah. Saya enggak mau dengar penolakan kamu. Atau kamu mau, saya hubungi mantan suami kamu lalu meminta pembayaran rawat inap kamu," ancam Yuda.
Dari gestur tubuh serta sorot mata Harum saat menyinggung tentang suami , Yuda menerka hubungan Harum dan sang mantan suami tidak berjalan dengan baik. Makanya ia berani mengancam begitu.
“Jangan. Saya enggak mau suami saya tahu keadaan saya.”
“Ya sudah, kalau begitu nurut sama saya.”
Harum mengangguk patuh. “Maaf saya sudah merepotkan ibu dan ....” Harum melirik Yuda. Ia menggantung ucapannya karena tidak tahu harus memanggil putra Bu Yusma itu dengan sebutan apa.
“Tidak merepotkan sama sekali. Ibu malah yang minta maaf sama kamu. Karena mungkin gara-gara kamu mengantar ibu, kamu malah jadi keguguran. Ibu malah sekarang khawatir suami kamu menyalahkan ibu," timpal Bu Yusma.
“Harum cantik," panggil Yuda. Harum dan Harum kecil keduanya sama-sama menoleh pada Yuda.
"Harum sayang." Yuda mengganti panggilannya.
Mendengar panggilan 'Harum sayang' seketika Harum jadi teringat pada Hangga. Mantan suaminya itu sering memanggil dengan panggilan seperti itu kepadanya.
Mas Hangga sedang apa di sana? Apa reaksi Mas Hangga kalau tahu saya hamil, lalu sekarang keguguran?
"Ayo kita ke kantin beli es krim.” Yuda yang merasa Harum ingin bercerita sesuatu, berinisiatif pergi keluar membawa putrinya. Mungkin Harum akan lebih nyaman bercerita berdua dengan ibundanya. Pikir Yuda.
“Asyik. Beli es krimnya dua ya, Papi,” ujar Harum kecil sembari mengulurkan tangan meminta gendong.
“Kakak cantik, Harum beli es krim dulu ya.” Harum kecil melambaikan tangan.
“Iya, hati-hati, Sayang,” balas Harum. Kemudian ia beralih menatap Yuda. “Terima kasih banyak, Pak.”
“Iya, sama-sama,” sahut Yuda lalu berbalik badan.
__ADS_1
Sedetik kemudian, Yuda yang tengah menggendong putrinya menyadari sesuatu.
Apa? Dia panggil apa tadi? Bapak? Apa aku setua itu?