
Hangga semula masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Bi Jenah. Mungkin ART-nya itu salah mendengar nama sang pengirim brownies. Atau mungkin Arya yang dimaksud itu bukanlah temannya. Mungkin ada Arya yang lain. Bisa saja itu saudara Harum kan?
Namun kemudian dugaannya itu terbantahkan saat ia pergi ke dapur lalu melihat dus kotak yang ia yakini adalah dus brownies di atas meja dapur.
Hangga membaca note dalam tutup dus berpita itu. Just for U Harum. Begitu tulisan pesannya.
Yang membuat ia kesal adalah di bawah pesan tersebut dibubuhkan paraf seseorang yang ia tahu adalah milik Arya. Terang saja Hangga tahu, karena semasa kuliah dulu Hangga dan Arya sama-sama aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Hati Hangga menjadi semakin kesal kala mendapatkan sebuah pesan yang masuk ke ponselnya. Hangga membuka pesan itu lalu membacanya.
Arya : [Calon Mas kakak ipar, salam ya buat calon jodohku]
“Apa sih maksudnya si Arya?” gumam Hangga dalam hati. Ia memilih untuk mengabaikan pesan tersebut.
Sementara di kamar lantai dua, Nata tengah mengetik pesan untuk seseorang.
[Ya, lu tadi ke rumah ya?]
[Salam dari Harum, browniesnya enak n makasih. Harum suka katanya]
*
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Hari Minggu sore, Hangga menemani Nata berkunjung ke rumah Melly untuk mengambil beberapa barang Nata yang masih ada di sana.
“Yang, kamu masih mau lama-lama di sini?” tanya Hangga yang sedari tadi setia menunggu di depan teras rumah Melly.
“Iya, aku masih mau ngobrol sama Melly,” sahut Nata.
“Aku pulang dulu ya, Yang. Aku mau ngecek pekerjaan buat besok.”
“Ya udah pulang sana. Tapi, nanti jemput. Awas kalau enggak jemput." Nata mewanti-wanti.
“Oke, Sayang.” Hangga menghampiri wanita yang sangat dicintainya itu dan memberikan kecupan di pipi.
Lima belas menit kemudian ia sampai di kediamannya. Hangga turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah.
Saat hendak masuk ke rumah, ia bertemu Harum yang tengah merapikan tanaman di halaman. Akan tetapi, suami Harum itu diam saja, tidak berniat menyapa istri pertamanya itu.
Hangga memang begitu, seperti biasanya.
Saat Hangga masuk rumah, Harum juga ikut masuk ke dalam rumah. Merasa Harum mengikutinya, Hangga berbalik badan hendak menegur istri pertamanya itu.
__ADS_1
Mau ngapain ikutin saya? Tadinya Hangga ingin berkata begitu. Tetapi, ia malah melihat Harum menutup pintu lalu berdiri di dekat jendela dengan tangan sedikit menyibak gorden seperti tengah mengintip. Berbarengan dengan terdengarnya deru motor berhenti di depan rumah.
Tingkah Harum membuat Hangga penasaran sehingga menuntunnya untuk menghampiri perempuan yang sore ini memakai jilbab warna hitam.
Harum yang tengah fokus mengamati seseorang dari balik jendela, tidak menyadari keberadaan Hangga yang berdiri menjulang di belakangnya. Saat ia bergerak, kepalanya malah membentur bibir Hangga.
“Aduh.” Hangga memekik sembari memegangi bibirnya yang tersundul kepala belakang Harum.
“Ya Allah, maaf, Mas. Enggak sengaja. Enggak tahu ada Mas Hangga,” kata Harum.
“Mas Hangga enggak apa-apa?” tanya Harum khawatir.
“Sakit tau.” Baru Hangga berkata begitu, terdengar bel rumah berbunyi.
“Siapa?” Hangga bertanya pada Harum tanpa suara.
Harum menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Melalui isyarat tangan, Hangga meminta Harum untuk mundur. Lalu ia maju ke dekat jendela untuk mengintip siapa tamu yang datang.
“Kamu masuk, sana!” titah Hangga pada Harum setelah mengetahui siapa tamu yang datang ke rumahnya.
__ADS_1
Harum mengangguk patuh, lalu masuk ke dalam rumah. Setelah Harum pergi, baru Hangga membukakan pintu untuk tamunya.
“Assalamualaikum, Mas kakak ipar,” ucap sang tamu yang tidak lain adalah Arya.