Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 36


__ADS_3

Harum dan Nina duduk di sebuah bangku panjang menikmati segelas es cendol sembari menunggu kedatangan pria yang katanya mau menolong mereka.


“Ya Allah semoga laki-laki tadi benar mau menolong kami, ya Allah. Jangan biarkan dia PHP-in kami, ya Allah. Cukup si doi saja yang PHP-in Nina,” seloroh Nina yang bertubuh montok itu.


“Memangnya kamu di PHP-in sama siapa, Nin? Sama Kim Jong Un?” Nina tertawa mendengar gurauan sahabatnya.


“Rum, itu si Om yang mau nolongin kita ‘kan?” Nina menunjuk seorang pria yang menghentikan motornya di tempat terakhir mereka mendorong motor.


“Iya, itu orangnya.”


“Nina samperin dulu orangnya ya,” Nina berjalan cepat menghampiri pria tersebut.


“Maaf ya, lama,” ujar pria tersebut saat bertemu Nina.


“Enggak papa, Om. Oya, kami nunggu di sana.” Nina menunjuk tempatnya duduk tadi dan Harum masih duduk di bangku tersebut.


Pria itu menjalankan pelan motornya, mengekor di belakang Nina.


“Oya, ini bensinnya.” Pria yang masih mengenakan helm itu menyerahkan bensin dalam wadah bekas botol air mineral ukuran 1500 ml.


“Ini bensinnya Pertamax atau Keduax?” Pria itu tertawa mendengar gurauan Nina.


Harum yang berdiri di samping Nina, menyenggol pelan lengan sahabatnya itu.


“Jaga sikap sama orang yang belum kenal,” ujar Harum melalui isyarat mata.


“Mau saya isikan bensinnya ke tangki?” tawar pria itu sembari melepas helm.


“I-iya, Mas,” sahut Nina gugup. Setelah melihat paras Arya, ia mengubah panggilan ‘Om’ menjadi ‘Mas’.


Nina tampak terpana memandang pria yang ternyata berwajah tampan. Kali ini, ganti Nina yang menyenggol pelan lengan Harum. Melalui isyarat mata seolah berkata, “Ganteng ya, Rum.”


Pria itu mengulas sebuah senyum kepada Harum yang membuatnya kikuk. Benar seperti dugaannya, bahwa Harum sering bertemu dengan pria tersebut belakangan ini.


Usai mengisi bensin, pria itu berpamitan. Nina sempat memberikan uang kepada pria tersebut untuk mengganti pembelian bensin, namun pria itu menolaknya.


“Ya Allah, Rum, ternyata masih ada loh cowok ganteng yang baik,” ujar Nina setelah pria penolongnya itu pergi. Harum diam saja tidak menanggapi ucapan Nina.


“Terima kasih Kim Jong Un karena udah ngejar-ngejar Nina dalam mimpi.” Harum mengerutkan kening mendengar pernyataan Nina.


“Ternyata mimpi itu artinya Nina mau ketemu cowok ganteng,” terang Nina yang membuat Harum geleng-geleng kepala.


“Astagfirullah, Rum.”

__ADS_1


“Kenapa, Nin?”


“Lupa tadi enggak kenalan. Cowok tadi namanya siapa ya?”


“Namanya Arya,” sahut Harum. Ya, pria yang menolong mereka tadi adalah Arya, teman Nata dan Hangga yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.


Kedua gadis itu melanjutkan perjalanan menuju kedai bakso tujuannya. Sampai di kedai bakso, Nina tidak berhenti menanyakan tentang Arya. Harum sudah menjelaskan kepada sahabatnya itu bahwa Arya adalah teman Hangga. Dan ia sendiri tidak terlalu mengenal pria tersebut.


“Kalau begitu, tanyakan dong sama Mas Hangga, Mas Arya itu udah punya pasangan belum,” pinta Nina saat keduanya tengah menunggu pesanan bakso.


“Kamu aja sendiri yang tanya ke Mas Hangga,” sahut Harum. Bagaimana mungkin ia bertanya pada suaminya soal Arya, mengobrol saja tidak pernah.


“Tapi, Nina pikir-pikir, Mas Arya ‘kan ganteng, jadi enggak mungkin kayaknya suka sama Nina.”


“Nah, itu tau,” sahut Harum bergurau.


“Harum jahat, ih. Bukannya kasih dukungan Nina, malah menjatuhkan Nina.”


“Bercanda, Nin.” Harum tertawa renyah.


“Rum, Nina ke toilet dulu ya. Nina udah kebelet pipis.” Nina buru-buru meninggalkan Harum menuju toilet.


“Assalamualaikum.” Harum terkejut ketika mendengar sapaan seorang pria yang tidak lain adalah Arya. Tanpa meminta izin, Arya mengambil posisi duduk di tempat duduk Nina tadi, persis berhadapan dengan Harum.


“Hak sesama muslim itu ada lima menurut hadis. Salah satunya adalah menjawab salam. Dijawab dulu salamnya, duhai Ukhti. Wajib loh, hukumnya.”


“Waalaikum salam,” sahut Harum pelan. Ia tidak menyangka Arya yang pecicilan tahu juga tentang hadis.


“Alhamdulillah, kalau begitu ‘kan adem, kayak semilir angin syurga.”


Harum mencebik mendengar gombalan pria yang duduk di hadapannya.


“Dek Harum, aku penasaran loh, memang benar gitu si Nata udah nikah sama Hangga?” tanya Arya penasaran.


Harum terbengong mendengar sapaan 'Dek’ dari Arya. Setelahnya, ia mengangguk menjawab pertanyaan Arya. Meskipun hatinya merasa tidak nyaman untuk membahas tentang Nata dan Hangga.


“Nata mualaf?” Arya yang mengenakan kaus warna hitam bertanya lagi. Harum kembali menjawab dengan anggukan.


“Alhamdulillah,” ucap Arya.


“Terus kalau Dek Harum sendiri benar ndak kalau su ....”


“Mohon maaf, itu tempat duduk teman saya. Tolong, cari tempat duduk yang lain saja,” potong Harum cepat. Ia malas meladeni lagi pertanyaan Arya yang membahas tentang Hangga dan Nata.

__ADS_1


“Itu, teman saya sudah datang.” Dengan ekor matanya, Harum menunjuk Nina yang tengah berjalan kembali ke meja mereka.


“Oke.” Arya bangun dari posisinya duduk.


“Loh, ketemu lagi sama Mas Arya.” Nina yang datang tepat saat Arya berdiri dari duduknya, menyapa Arya dengan semringah.


“Ee ....”


“Saya Nina, Mas. Kita belum kenalan tadi,” ujar Nina.


“Hai, Nina, salam kenal.” Keduanya berkenalan tanpa bersalaman.


“Ya udah, aku tinggal dulu ya,” pamit Arya usai beberapa saat tadi tercipta obrolan basa-basi antara dirinya dan Nina.


“Iya, Mas, hati-hati ya. Soalnya cuaca sekarang lagi ekstrem. Buat yang di jalan harap hati-hati. Buat yang di hati, kapan jalan-jalan? Hehehehe.” Selorohan Nina sontak membuat Harum dan Arya tertawa lepas.


Arya pergi setelah berpamitan yang kedua kali kepada kedua gadis tersebut.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Pelayan meletakkan dua mangkok mi ayam bakso dan dua gelas teh manis ke atas meja.


Harum dan Nina menikmati mi ayam bakso sembari mengobrol. Kali ini topiknya bukan tentang Arya, melainkan tentang kedai bakso yang tampak bersih, rapi dan menarik serta rasa baksonya juara. Dari tampilannya, kedua gadis itu menerka bahwa kedai bakso tersebut masih baru.


“Masih baru, tapi pengunjungnya udah banyak,” celetuk Harum.


“Rasanya juga enak,” timpal Nina.


“Nin, baca deh tulisan di sebelah sana.” Harum menunjuk tulisan besar di dinding yang posisinya langsung menghadap jalan.


“Bakso Tetelan Pakde Ganteng.” Nina membaca tulisan itu, lalu keduanya kompak mengulum tawa. Saat masuk tadi, kedua gadis itu tidak memperhatikan tulisan tersebut.


“Seganteng apa sih si Pakde itu,” ujar Nina di sela tawanya.


Selesai makan, mereka langsung keluar, memberi kesempatan kepada pengunjung lain agar bisa duduk.


“Spesial untuk dua mbak ini, pesanan tadi gratis,” ujar kasir saat Harum hendak membayar pesanannya.


“Loh kok gratis, kenapa?” tanya Harum bingung. Pasalnya, ia melihat pengunjung lain tetap membayar pesanannya.


“Kata bos kami begitu. Mbaknya gak usah bayar. GRATIS.” Kasir berjenis kelamin pria dengan logat Jawa kental itu menekankan kata ‘gratis’.


“Memangnya bos sampean siapa?” timpal Nina.


“Mas Arya, Mbak.”

__ADS_1


Harum dan Nina saling berpandangan mendengar jawaban sang kasir.


__ADS_2