
Bu Yusma terkaget-kaget saat mendengar bunyi “gedebug” seperti benda jatuh dari kamar mandi.
“Apa yang jatuh?” Bu Yusma bergumam sendiri. Sedetik kemudian, ia jadi teringat dengan Harum yang baru masuk ke kamar mandi.
“Nak Harum,” panggil Bu Yusma yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Nak, Nak Harum,” ulangnya berkali-kali sembari menggedor pintu, namun tiada sahutan dari dalam.
“Nak Harum pingsan ya?” tanyanya panik dan tidak mendapatkan jawaban dari Harum. (Iyalah orang pingsan masa mau jawab)
Saat Bu Yusma tengah panik, ia mendengar deru mobil berhenti di halaman rumahnya.
“Itu pasti Yuda," gumamnya. Dengan langkah gegas, ibu berusia kepala lima yang hampir menyentuh kepala enam itu membuka pintu menyambut kedatangan putra dan cucunya.
“Oma ....!” Seorang anak perempuan berusia lima tahunan menghambur ke pelukannya.
“Oma siap-siap mau diomelin Papi loh,” kata anak perempuan itu lagi usai mencium takzim punggung tangan Bu Yusma.
Seorang pria dewasa turun dari mobil setelah mematikan mesinnya. “Ibu ini hobi banget bikin jantung Yuda mau lepas. Kemarin Yuda ....” Kalimatnya terpotong karena kepanikan Bu Yusma.
“Yuda, tolong Harum! Harum pingsan di kamar mandi,” kata Bu Yusma panik.
“Harum ada di sini, Oma. Enggak pingsan,” sahut anak perempuan kecil yang bernama Harum.
“Ish, bukan Harum kamu. Sudah ayo cepat tolongin Harum. Harum pingsan di kamar mandi.” Bu Yusma menarik tangan putranya masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi.
“Ada apa ini, Bu?” tanya putra Bu Yusma yang bernama Yuda setelah sampai di depan pintu kamar mandi.
“Tadi ibu, ibu ....”
“Ibu tenang dulu. Tarik napas ... lalu hembuskan,” ujar Yuda saat melihat kepanikan ibundanya.
Bu Yusma patuh mengikuti instruksi putranya. Menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
“Nah, begitu. Good.” Kedua tangan Yuda meraih bahu ibundanya. “Kalau sudah tenang, coba sekarang ibu cerita. Bicaranya yang jelas ya, Bu.”
“Harum ada di kamar mandi. Terus ibu dengar bunyi ‘gedebug’ dari dalam. Sepertinya Harum jatuh. Ibu gedor-gedor pintunya enggak ada jawaban. Mungkin Harum pingsan.”
“Oke." Yuda mangut-mangut. "Sekarang, Harum itu siapa, Bu?”
“Teman ibu!" salak Bu Yusma. "Bukannya cepat tolongin, ih!” Bu Yusma memukul gemas lengan putranya.
Yuda mulai mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan. Kemudian lanjut dengan menggedor pintu sambil berseru, “Bu Harum, Bu Harum. Apakah baik-baik saja di dalam?”
“Yuda, Harum enggak akan jawab! Orang pingsan kok dikasih pertanyaan. Ayo cepat lakukan sesuatu!” seru Bu Yusma.
“Ini harus didobrak pintunya. Awas mundur!” Yuda mengumpulkan kekuatan dan mulai berusaha mendobrak pintu.
“Papi, Papi, Papi. Ayo, Papi!” seru Harum kecil bertepuk tangan menyemangati papinya.
Butuh tiga kali usaha bagi pria bertubuh macho tersebut untuk berhasil mendobrak pintunya.
“Astaga!” pekik Yuda saat pertama kali melihat Harum yang tergeletak di lantai.
Semula ia mengira dan membayangkan bahwa Harum yang diceritakan itu kira-kira seusia dengan ibundanya. Ternyata otaknya salah mencerna informasi. Perempuan berjilbab yang tergeletak di lantai kamar mandi itu ternyata masih sangat muda dan ... cantik.
“Kenapa, Yuda? Apa meninggal?” Bu Yusma semakin panik.
“Ish, ibu. Enggak lah.” Yuda berjongkok dan mengecek nadi di pergelangan tangan Harum. “Dia pingsan, Bu.”
“Papi, itu di kakinya ada darah!” seru Harum kecil sembari menunjuk kaki Harum yang tertutup gamis dan da laman celana panjang berwarna putih.
“Kita harus bawa ke rumah sakit.” Tanpa berpikir panjang, Yuda mengangkat tubuh Harum.
__ADS_1
*
Hangga duduk merenung sembari bertopang dagu di meja kerjanya. Ia merasa sedang dipermainkan oleh cinta. Saat dirinya telah mencintai Harum sepenuh hati, sepenuh jiwa dan raga, cintanya malah terenggut begitu saja lantaran keadaan. Sungguh sangat menyakitkan.
Hangga tidak mungkin melepas dan meninggalkan Nata. Sebab perempuan cinta pertamanya itu telah mengorbankan segalanya demi dirinya. Ia tidak punya hati, jika sampai mengecewakan istri keduanya itu.
Mungkin betul yang dikatakan Harum, bahwa cinta Nata kepadanya jauh lebih besar dibanding cinta Harum kepada dirinya.
Meskipun ia telah menjatuhkan talak kepada Harum, namun di ruang hati yang terdalam, nama sang mantan istri pertama bersama kenangannya masih tersimpan rapi di sana. Belakangan ini ia mengangkat sebuah doa dalam setiap salatnya. Memohon agar Nata dilunakkan hatinya untuk kemudian mengizinkan dirinya bersatu lagi bersama Harum. Dan mereka bertiga akan menjalani biduk pernikahan yang indah. (Hadeuh, tetep ya Hangga)
Sebab Hangga meyakini bahwa hatinya masih sangat mencintai Nata. Meskipun sebelah hatinya yang lain juga sangat mencintai Harum.
Hangga menarik laci meja kerja dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Bibirnya melengkungkan senyum kala memandangi benda yang kini berada di tangannya. Boneka Barbie. Jarinya menelusuri mata, hidung, bibir boneka tersebut. “Rum, mas kangen,” lirihnya.
Karena rasa rindunya, Hangga kembali berencana pergi ke kedai untuk menemui Harum dan sekedar memandangi wajahnya yang meneduhkan hati. Tidak peduli, jika mantan istrinya itu kembali memarahinya.
Yang penting kangennya terobati.
“Harum kemarin lusa pulang, Mas,” beritahu Nina saat Hangga menanyakan keberadaan Harum yang sontak saja membuat Hangga kecewa.
“Sama siapa pulangnya?”
“Sendiri, Mas. Katanya mau ketemu ibu. Mau izin resign sama ibu.”
“Oh, begitu ya,” sahut Hangga lesu. “Ya udah, makasih ya, Nin.”
Dengan langkah lesu, Hangga meninggalkan kedai. Ia harus menelan kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Harum. Padahal setiap kunjungannya ke kedai itu sudah melalui perhitungan yang matang. Biasanya ia datang mengunjungi Harum ketika mendapatkan kabar dari Nata yang akan pulang terlambat. Di situlah ia mencuri waktu untuk mengunjungi Harum meskipun hanya sebentar.
Hangga masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Kemudian ia meraih gawai untuk menghubungi Nata.
“Halo, Yang. Masih lama pulangnya?” tanya Hangga di ujung telepon.
“Kayaknya masih lama. Kamu udah keluar kantor ya?”
“Udah.”
“Oke. Kamu telepon aja kalau mau pulang, nanti aku jemput.”
“Oke.” Setelahnya, Nata langsung memutuskan panggilan telepon.
“Halo, Yang. Halo.”
Tut, tut, tut.
Begitulah kebiasaan Nata sekarang. Sejak drama percobaan bunuh diri itu, Nata menjelma menjadi sosok istri yang dingin. Tidak ada lagi Nata yang manja. Tidak tampak lagi Nata yang posesif. Bahkan, hingga saat ini keduanya belum pernah lagi melakukan hubungan suami istri.
Hangga bisa melihat masih ada pancaran kekecewaan dari sorot mata wanita cantik yang telah menjalin hubungan cinta yang lama bersamanya itu.
*
Sementara di salah satu Bank swasta tempat Nata bekerja. Wanita cantik berwajah oriental itu memandangi layar ponsel usai sang suami meneleponnya. Nata tersenyum memandangi wallpaper foto dirinya dan Hangga. Dalam foto tersebut, Hangga tengah memanyunkan bibir berpura-pura hendak mencium pipinya. Sementara Nata berpose dengan senyum lebar yang memperlihatkan giginya.
Nata bahkan masih ingat saat momen apa foto itu diambil. Yang jelas foto itu diambil sebelum Hangga menikahi Harum. Saat Hangga—pria pemilik hati, jiwa dan raganya itu masih utuh mencintainya tanpa terbagi oleh cinta kepada perempuan lain.
Hangga telah menceraikan Harum. Akan tetapi, Nata masih bisa melihat cinta yang besar di mata Hangga untuk Harum. Meskipun begitu, Nata meyakini bahwa Hangga masih mencintainya dengan takaran yang sama seperti dulu.
Dalam pelajaran Biologi diterangkan, bahwa organ bernama hati atau lever terletak di rongga perut kanan bagian atas, tepat di bawah rusuk bagian kanan. Organ ini memiliki dua bagian, yaitu bagian kanan dan kiri. Apakah karena hal tersebut, hati manusia memungkinkan terbelah menjadi dua? Kadang baik, kadang jahat, kadang sabar, kadang egois, sudah mencintai perempuan yang ini, lalu mencintai perempuan yang lain.
Tetapi, mengapa hal tersebut juga terjadi pada Hangga? Terserah kalau ada pria yang bisa mencintai dua, empat, enam, selusin, bahkan sekebon wanita. Asal jangan Hangga. Karena ia tidak mungkin balas melakukan hal yang sama. Cintanya hanya untuk Hangga. Ia tidak bisa lagi jatuh cinta kepada pria lain selain Hangga. Hanya Hangga.
“Nat, lu enggak pulang?” Pertanyaan salah satu teman Nata mengagetkan Nata yang tengah membatin memikirkan suami tercintanya.
“Enggak ah, gue masih ingin di sini. Tuh, nemenin si Centil dan si Judes lembur,” sahutnya sembari menunjuk dua teman kerja lainnya yang tengah sibuk mengetik di depan komputer.
__ADS_1
“Thanks, Nata. I love you,” ucap teman yang dijuluki si Centil dari meja kerjanya sambil melambaikan tangan kepada Nata.
“Lovu you, too,” balas Nata sembari menunjukkan tangan membentuk simbol finger heart khas Korea.
“Gajian nanti gue bakal kasih hadiah buat lu,” timpal teman Nata yang berjuluk si Judes.
“Apa tuh hadiahnya?” sahut Nata.
“Jepitan rambut seribuan yang dijual abang jepitan di depan kantor.”
“Hahahaha.” Nata tergelak dalam tawa. Tawa tersebut kini tidak lagi tercipta saat ia di rumah dan berhadapan dengan Hangga.
Semenjak drama percobaan bunuh diri itu, Nata lebih suka menghabiskan waktu di tempat kerja. Ia kerap membohongi Hangga dengan mengatakan lembur bekerja. Padahal sesungguhnya ia hanya duduk diam di kantor menemani temannya yang lembur bekerja.
Entahlah, hatinya masih terluka kala mengingat pengkhianatan Hangga.
Nata merebahkan kepalanya dengan posisi miring di atas meja kerja dan bertumpu pada tangan. Tangannya meraih ponsel, lalu membuka aplikasi pemutar musik. Ia menyentuh sebuah judul lagu, lalu menyentuh ikon play.
Ia mendengarkan lagu tersebut dengan penghayatan yang dalam.
Begitu indahnya. Untuk dikenang. Saat kamu masih. Mengejar cintaku.
Begitu manisnya. Tangismu untuk. Memohon hadirku. Ke dalam hidupmu
Katamu kau tak akan. Tinggalkan aku. Sakiti aku. Lukai aku. Tapi kau ternyata.Tinggalkan aku. Sendiri.
Katamu kau tak akan. Pernah duakan.Hatimu
Cintamu.
Bulir air mata jatuh membasahi pelipis Nata kala mendengar lagu itu.
'Hangga mengapa kita seperti ini? Aku mencintaimu,' lirih Nata dalam hati seiring bulir-bulir air mata yang terus berderai membasahi pelipis mulusnya.
.
.
.
.
.
Kak Nata. Aku juga ikutan nangis loh 😭😭.
.
.
Yang belum pernah kasih vote , kasih dong votenya. Permintaan aku gak muluk-muluk. Selama baca cerita ini dari awal sampai tamat, tolong kasih vote minimal sekali aja.
Biar othornya semangat nulis cerita ini.
Ini ceritanya beda, bukan cerita perempuan yang diperkosa lalu jatuh cinta kepada pelakunya. Bukan cerita CEO yang dengan hartanya bisa melakukan apa pun. Bukan cerita istri yang terus-terusan disiksa dari bab satu sampai akhir. Bukan cerita suami yang kejam dan selingkuhan yang kejam penuh intrik di luar nalar kemanusiaan.
Ini adalah kisah dilema tiga anak manusia. Semua tokoh pun karakternya abu-abu seperti watak manusia pada umumnya.
Nata yang cantik, setia, baik, supel, namun egois kalau soal Hangga.
Harum yang solehah, kuper, baik, namun lemah.
Hangga yang lumayan taat beragama, namun plin plan.
__ADS_1
Lalu di sini siapa yang salah? Siapakah antagonisnya?
Yang salah dan antagonisnya adalah Mak othornya. "HAHAHAHA." (Ketawa jahat sembari berkacak pinggang)