Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 89


__ADS_3

Harum semula ingin turun di terminal bayangan PCI (Pondok Cilegon Indah) untuk kemudian naik angkot menuju rumahnya. Namun, ibu yang duduk bersama Harum itu terus saja mengajaknya mengobrol. Harum yang tipikalnya tidak enakan pada orang, akhirnya mengurungkan rencananya dan memutuskan untuk turun di Merak saja. Nanti dari Merak baru ia akan naik angkot dua kali menuju rumahnya. Lebih jauh memang, tapi tak apalah. Pikir Harum.


“Kamu asli orang mana, Nak?” tanya ibu yang mengenakan kacamata tersebut.


“Kalau kata Nenek, papa saya orang Jawa, sedangkan mama orang Sunda. Mereka bertemu di Cilegon, kemudian menikah lalu lahirlah saya," jawab Harum. Bibirnya tersenyum mengenang satu per satu keluarga yang begitu menyayanginya.


“Perpaduan Jawa dan Sunda jadinya cantik ya," puji si ibu. Harum hanya tersenyum menanggapinya.


“Pasti mamanya cantik dan papanya ganteng," tebak ibu itu lagi.


“Papa dan Mama saya sudah meninggal sejak saya kecil.”


“Innalilahi wa inna ilaihi rojiun, maafkan ibu ya, Nak.”


“Enggak apa-apa, Bu.”


“Terus sekarang tinggalnya sama nenek?”


“Nenek saya pun sudah meninggal. Saya tinggal sendiri. Sebatang kara.” Harum tersenyum getir. Ibu tersebut memandangi Harum dengan iba.


Tidak terasa bus sampai di Merak. Harum turun bersama si ibu yang menurut perkiraan Harum berusia lima puluhan.


“Ibu, Meraknya di mana? Mari naik angkot sama saya,” ajak Harum setelah turun dari bus.


“Nak, ibu boleh minta tolong sekali lagi? Ibu ini mau pulang ke Lampung, tapi ibu enggak ngerti bagaimana cara beli tiket naik kapalnya.” Ibu itu memandangi Harum dengan tatapan mengiba.


“Ibu dari Lampung berangkat bersama rombongan pengajian ke stasiun televisi Daan Mogot nonton live acara Mamah Dadah. Dari stasiun televisi, kami jalan-jalan dulu ke ....” Ibu itu menjeda kalimatnya berusaha mengingat sesuatu. “Duh ibu enggak tahu namanya. Terus ibu malah tertinggal rombongan. Akhirnya ibu berpikir untuk ke terminal terdekat saja, itu pun tanya sama orang. Dan di terminal, ibu ketemu kamu, Nak. Sekarang ibu malah enggak ngerti bagaimana nyeberang naik kapalnya,” tutur ibu tersebut panjang lebar.


Subhanallah, kasihan sekali ibu ini. Gumam Harum dalam hati.


“Eng, saya juga belum pernah naik kapal sih, Bu. Tapi kalau caranya beli tiket, insyaallah saya tahu.” Teman-teman sekolah Harum banyak yang berkuliah di UNILA (Universitas Lampung), Harum dan Nina beberapa kali pernah mengantar kepergian para sahabat satu geng-nya, sehingga Harum cukup tahu bagaimana cara menyeberang ke Bakauheni dengan menggunakan moda transportasi laut tersebut.


Harum kemudian mengantar ibu tersebut untuk membeli tiket. Namun, saat melihat wajah lelah ibu tersebut, ditambah fiisknya yang tampak ringkih, Harum jadi tidak tega membiarkannya naik kapal laut sendirian. Harum yang baik hati itu berpikir untuk mengantarkannya sampai Bakauheni.


“Bu, bagaimana kalau saya antarkan ibu sampai Bakauheni?” tawar Harum.


“Alhamdulillah. Ibu malah senang sekali, Nak,” sahut ibu tersebut semringah. Saat pertama kali melihat Harum di terminal, ibu yang masih belum diketahui namanya itu percaya bahwa Harum orang baik, makanya ia berani berakrab ria dengan perempuan ayu berjilbab tersebut.


Harum membeli tiket reguler kapal Ferry kelas ekonomi untuk dua orang. Ia juga yang membayar tiketnya dan menolak dengan santun saat si ibu menyodorkan uang untuk membayar tiket.


.


Setelahnya, mereka naik kapal laut. Harum tanpa sungkan menggandeng ibu paruh baya tersebut sampai mendapatkan tempat duduk di kapal.


“Nama kamu siapa, Nak?” tanya si ibu setelah mereka mendapatkan tempat duduk.

__ADS_1


“Nama saya Harum,” jawab Harum sembari mengulas senyum.


“Wah, namanya sama dengan cucu saya. Cucu saya juga namanya Harum.”


“Wah, kok bisa namanya sama ya?" Harum tersenyum. "Ngomong-ngomong saya pun belum tahu nama ibu.”


“Oh iya ya. Nama ibu, Yusma. Panggil aja Bu Yus.” Kemudian keduanya kembali terlibat obrolan penuh keakraban.


“Ibu tinggal berdua sama cucu ibu yang namanya Harum itu. Sudah seminggu ini Harum ada di Jakarta ikut papanya karena sedang liburan sekolah. Ibu sengaja enggak ikut ke Jakarta sama anak dan cucu ibu karena ingin ikut rombongan pengajian ketemu Mamah Dadah di stasiun tivi itu. Eh, akhirnya malah begini. Hehehe,” tutur ibu yang memperkenalkan diri dengan nama Bu Yus itu diakhiri tawa. Harum menanggapinya dengan tersenyum.


“Mungkin ini hukuman karena enggak minta izin sama anak,” sambung Bu Yus.


“Ibu punya anak berapa?” Pertanyaan klasik saat bertemu orang baru itu dilontarkan Harum.


“Ibu punya anak satu. Namanya Yuda, papinya si Harum itu.”


“Oh.” Harum mangut-mangut.


Sesaat kemudian, Harum teringat bahwa dirinya belum salat Asar. Ia merogoh tas hendak mengambil ponselnya untuk mengetahui jam berapa sekarang, namun benda yang dicarinya tidak ditemukan. Harum menggigit bibir mengingat-ingat keberadaan ponselnya. Setelah beberapa jenak berpikir, ia yakin ponselnya tertinggal di kamar mes.


“Bu, sekarang apakah sudah masuk Asar?” tanya Harum. Tadi, ia pergi meninggalkan kedai selepas salat Zuhur.


“Sudah jam empat, Nak. Pastinya sudah Asar ya.”


“Kita cari musala dulu yuk, Bu,” ajak Harum dan disetujui oleh Bu Yus.


Harum tidak jadi salat. Beruntung ia membawa pembalut di dalam tasnya. Selesai dari kamar mandi, Harum menunggu Bu Yus yang baru dikenalnya itu selesai salat.


Harum pikir perjalanan Merak-Bakauheni itu hitungan menit. Ternyata lebih dari dua jam waktu yang ditempuh kapal Ferry reguler tersebut untuk berlabuh di pelabuhan Bakauheni.


Turun dari kapal, Harum mengantar Bu Yusma mencari musala untuk salat Magrib.


“Nak Harum, mau balik lagi ke Merak?” tanya Bu Yusma usai keluar dari musala.


Harum menjawab dengan anggukan dan senyuman.


“Eng, maaf, Nak Harum. Apa tidak sebaiknya Nak Harum ikut ibu pulang ke rumah ibu saja? Soalnya ini sudah mau malam, kalau ibu pribadi belum pernah naik kapal malam hari. Takut,” ujar Bu Yusma mengedikkan bahu.


“Enggak, Bu, terima kasih. Saya pulang saja," sahut Harum.


“Oh, begitu ya,” sahut Bu Yusma dengan raut kecewa.


“Memangnya rumah ibu di mana? Apa masih jauh dari sini?” tanya Harum.


“Di Metro, Nak. Kira-kira dua jam perjalanan naik mobil dari sini.”

__ADS_1


“Oh, jauh juga ya, Bu?”


“Malam ini ibu tinggal sendirian di rumah. Kalau Nak Harum mau, Nak Harum bisa ikut ibu. Besok anak dan cucu ibu datang, nanti besok ibu akan suruh anak ibu untuk mengantarkan Nak Harum pulang sampai ke rumah, bagaimana?” lontar Bu Yusma dengan tatapan penuh pengharapan.


“Ibu kan baru kenal saya. Memangnya ibu percaya sama saya yang orang asing ini?”


“Insyallah ibu percaya. Dari raut wajah dan perangainya, ibu yakin Nak Harum orang baik. Kalau Nak Harum sendiri apa percaya sama ibu? Kalau tidak percaya, boleh ditolak saja tawaran ibu.”


Harum yang juga mempercayai Bu Yusma, akhirnya menerima tawaran tersebut. Ia juga merasa tidak tega kalau membiarkan Bu Yusma menempuh dua jam perjalanan sendirian.


Usai menyantap makan malam di sebuah kantin pelabuhan, mereka bertolak menuju Metro Lampung dengan menggunakan travel. Pukul sepuluh malam mereka sampai di tempat tujuan.


Harum tercengang begitu menginjakkan kaki di halaman rumah yang super luas itu. Menurut perkiraan Harum, halaman rumah Bu Yusma bisa untuk membangun empat buah rumah model rumah peninggalan orangtuanya.


Harum jadi berpikir, andai ia menolak tawaran Bu Yusma, alangkah kasihan ibu sepuh tersebut tinggal sendirian di rumah.


Melihat rumah mewah Bu Yusma, Harum langsung menyimpulkan bahwa Bu Yusma adalah orang berada. Harum jadi malu sendiri sebab tadi sok-sokan membayar karcis kapal laut. Kelas ekonomi pula.


“Ayo masuk, Nak. Tidak usah sungkan. Anggap saja rumah sendiri,” ajak Bu Yusma ramah.


Harum melangkah masuk ke dalam setelah melepas sepatu sneaker KW-nya. Ternyata meskipun halamannya luas, ukuran luas rumah Bu Yusma standar seperti rumah biasanya.


“Dulu almarhum suami ibu bercita-cita punya anak yang banyak, makanya suami ibu membangun rumah impian dengan halaman yang luas agar nanti anak-anak bisa main bola di depan rumah," tutur Bu Yusma mulai bercerita. "Eh, malah anaknya hanya satu. Tapi ya, harus disyukuri saja. Meskipun cuma satu, yang penting punya,” sambungnya diiringi senyum.


Setelah mengobrol sebentar, keduanya masuk ke kamar masing-masing. Harum menempati kamar tamu yang letaknya persis di sebelah kamar Bu Yusma.


Saat tengah malam, Harum merasakan perutnya semakin sakit. Kemudian ia pergi ke toilet untuk mengganti pembalut. Ia sedikit heran dengan banyaknya darah yang keluar. Tidak seperti kebiasaannya saat datang bulan.


Hingga keesokan harinya, Harum merasakan perutnya semakin nyeri seperti menusuk. Darah yang keluar pun masih deras. Tiap dua jam sekali, ia harus ganti pembalut saking derasnya.


“Nak Harum kenapa pucat sekali” tanya Bu Yusma usai mengajak Harum makan siang di meja makan.


“Perut saya sakit, Bu. Mungkin karena datang bulan,” jawab Harum sembari meringis menahan sakit.


“Kalau begitu Nak Harum istirahat saja dulu. Anak dan cucu ibu tadi mengabari bahwa mereka sedang dalam perjalanan kemari. Mungkin sebentar lagi sampai.”


“Maaf ya, Bu, kalau kehadiran saya di sini malah merepotkan.” Harum yang biasanya rajin, malah tidak melakukan apa-apa karena nyeri di perutnya.


“Sama sekali tidak merepotkan, Nak. Malah ibu senang sekali,” sahut Bu Yusma ramah. “Sudah sana, Nak Harum istirahat dulu,” sambungnya.


Harum mengangguk patuh. Sebelum beranjak ke kamar untuk beristirahat, ia pergi ke kamar mandi dulu. Baru ia mengunci kamar mandi, ia merasakan pandangannya berkunang-kunang. Sedetik kemudian tubuhnya ambruk di lantai.


Setelahnya, ia sempat mendengar kegaduhan suara ketukan pintu kamar mandi dan teriakan Bu Yusma. Sampai kemudian, ia mendengar suara pintu didobrak. Tubuh Harum terasa sangat lemah dan matanya pun sulit dibuka saat merasakan tangan seseorang menyentuh urat nadi pergelangan tangannya lalu seketika tubuhnya melayang. Sepasang tangan kokoh membopongnya.


Siapa? Apakah Mas Hangga? Batin Harum.

__ADS_1


‘Mas Hangga,' hatinya menangis lirih.


__ADS_2