
“Sayang, mas enggak usah ke kantor aja deh ya,” ujar Hangga usai menandaskan sarapannya. Pasangan suami istri itu masih bertahan duduk di meja makan selepas sarapan.
“Jangan, Mas. Mas Hangga ‘kan karyawan baru, enggak boleh bolos kerja ah,” sahut Harum tidak setuju. “Kalaupun mau bolos kerja, nanti saja saat menyambut si Utun lahir ke dunia,” lanjutnya.
“Tapi, mas khawatir.”
“Orang saya enggak papa kok, Mas. Enggak usah khawatir.”
“Memangnya sekarang udah enggak sakit lagi perutnya?” lontar Hangga seraya mengelus perut istrinya yang kini buncitnya telah terlihat. Pasalnya, semalam istri cantiknya itu mengeluh sakit di perutnya. Perut yang di dalamnya bersemayam janin yang belum diketahui jenis kelaminnya itu terasa kram semalam, bahkan Harum sampai kelojotan meringis kesakitan.
“Enggak, Mas. Semalam itu sakit juga hanya sebentar, hanya kontraksi palsu. Kata Mas Yuda kontraksi palsu itu hal yang wajar pada ibu hamil dan belum perlu mendapatkan penanganan medis. Jadi, Mas Hangga enggak usah khawatir." Harum menguntai senyum untuk memberikan ketenangan pada sang suami yang selalu saja mencemaskannya. Terkadang Harum merasa tingkah Hangga ini berlebihan, lebay, tetapi hatinya malah senang melihat Hangga memperlakukan dirinya seperti itu.
“Yakin?”
“Hem.” Harum mengangguk yakin.
Setelah itu keduanya bersama-sama membereskan bekas sarapan. Hangga sebenarnya melarang Harum untuk ikut membereskan bekas makanan, ia mau melakukannya sendiri saja. Selagi ia bisa melakukannya, ia tidak akan membiarkan Harum mengerjakan apapun demi keselamatan kehamilan sang istri.
“Biar mas aja, Harum Sayang,” cegah Hangga ketika Harum ikut nimbrung saat ia hendak mencuci piring.
“Boleh dong, Mas. Ini kemauan si Utun. Mau cuci piring berdua biar romantis kayak adegan di drama Korea,” mohon Harum dengan ekspresi memelas. Ekspresinya membuat Hangga gemas sehingga mendaratkan kecupan di bibir sang istri yang masih terasa aroma nasi goreng.
Setelah mengerjakan beberapa pekerjaan ringan dalam rumah tangga, Hangga mengganti pakaian rumahnya dengan pakaian kantor.
Hangga memandang penuh cinta sang istri yang tangannya tengah bergerak lincah memasangkan dasi. Sesekali ia mengganggu kegiatan Harum dengan kecupan-kecupan ringan di wajah cantik sang istri. Membuat Harum berkali-kali berdesis dan harus mengulangi lagi kegiatannya memakaikan dasi.
“Alhamdulillah, selesai juga pakai dasinya,” sindir Harum karena tadi Hangga terus mengganggunya.
“Salah siapa cantik,” sahut Hangga gemas sembari mencubit mesra pipi kemerahan yang membuatnya menjuluki Harum dengan sebutan ‘Humaira’.
Harum membalas dengan menangkupkan kedua tangannya di wajah Hangga yang berewokan tipis itu. Harum kini paling suka menyentuh wajah Hangga. Apalagi kalau telapak tangannya sedang gatal, berewok Hangga bisa ampuh meredakan rasa gatalnya. (Ini aku banget nih. Kalau tangan gatal suka krosek-krosek di bawah dagu Paksu. 😂😂. Alhamdulillah paksu gak pernah marah, malah seneng dia digituin 😂😂)
“Makasih ya, Mas, karena sudah mencintai saya sebegitunya,” ucap Harum tulus. Hangga menggenggam tangan Harum yang masih bersemayam di wajah tampannya.
“Harusnya Mas yang bilang terima kasih. Terima kasih karena sudah mencintai mas, bahkan sejak mas belum menyadarinya. Terima kasih untuk cinta yang tetap bertahan, meskipun sikap mas dulu sangat menyakitkan kamu. Terima kasih karena kamu mau kembali dan melanjutkan menanam pohon cinta bersama mas. Terima kasih karena sudah menghadiahkan ini.” Hangga berlutut di bawah Harum dan mencium perut buncit sang istri tercinta dan satu-satunya. “Terima kasih karena sebentar lagi mas akan jadi ayah dan kita akan jadi orang tua. Terima kasih untuk semuanya, Harum Humairaku sayang. Terima kasih,” sambungnya penuh haru sehingga membuat mata Hangga berkaca-kaca.
Harum mengusap kepala Hangga dengan hati yang berdesir haru karena rasa bahagia. Tidak menyangka segala kepahitan dalam setiap episode kehidupannya dibalas dengan kebahagiaan yang sedemikian besarnya oleh Sang Pemilik Kehidupan. Menjalani rumah tangga dengan imam idamannya sejak kecil, satu-satunya pria yang membuatnya jatuh cinta dan selalu terjaga cintanya hingga kini.
__ADS_1
“Semoga Allah memberikan waktu yang panjang dan lama untuk kita bisa selalu bersama-sama. Berbahagia bersama selamanya hingga maut memisahkan," sahut Harum masih mengelus kepala suami tercinta.
Hangga berdiri, lalu mendekap tubuh Harum cukup lama. Setelahnya, ia menghadiahkan kecupan sayang di kening, mata, hidung, pipi, dagu dan terakhir bibir. Baru saja Hangga hendak melu-mat bibir sang istri yang ranum menggemaskan itu, terdengar suara cempreng Harum kecil berseru.
“Papi, Mami, aku udah siap berangkat sekolah!”
Seruan putrinya Yuda refleks membuat tangan Harum terangkat dan menahan bibir Hangga yang hampir mendarat di bibirnya. Hangga hanya bisa mendesah kecewa.
"Awas ya, nanti dirapel ciumnya," protes Hangga. Harum mengulum senyum mendengar protes sang suami.
Bersama Hangga, Harum mengantar putrinya Yuda ke depan teras. Harum kecil kini sudah lebih mandiri, sudah bisa mandi sendiri, sarapan sendiri dan memakai seragam sekolah sendiri. Tugas Harum kini lebih ringan. Hanya memasak untuk bekal Harum kecil, menemani belajar di rumah, dan mengantarkan tidur saat malam dengan membacakannya dongeng-dongeng. Sekali-kali Harum dan Hangga juga mengajak putrinya Yuda jalan-jalan. Sementara tugas mengantarkan Harum kecil ke sekolah, kini diambil alih oleh Hangga.
“Ini bekalnya, Sayang. Nanti dimakan ya.” Harum memasukkan kotak makan ke dalam tas bergambar Minnie mouse--kartun kesukaan putrinya Yuda.
“Siap, Mami.”
“Sudah pamit sama Papi dan Oma?”
“Sudah dong.”
“Oke, Harum Mahendra, kita berangkat!" seru Hangga sembari membukakan pintu mobil untuk Harum kecil.
“Kakak Harum berangkat dulu ya Dede Utun.” Harum kecil mengusap perut perempuan yang dianggap maminya itu. “Jangan nakal di dalam perut Mami ya. Jangan bikin Mami kecepean. Kayak kakak nih sekarang udah bisa apa-apa sendiri," sambungnya.
Bibir Harum tersenyum mendengar ucapan putrinya Yuda. “Iya Kakak Harum cantik, aku enggak akan nakal,” sahutnya menirukan suara anak kecil. Lalu ia mengecup sayang kepala gadis kecil yang tertutup kerudung itu.
Setelah Harum kecil masuk ke dalam mobil, giliran Hangga yang berpamitan pada sang istri. Harum mencium takzim punggung tangan Hangga dan Hangga membalas dengan memberikan kecupan sayang di kening dan kedua pipi Harum. Hangga sempat mau mengecup bibir istrinya, namun segera ditahan oleh Harum. “Jangan ah, takut ada yang lihat.”
Benar saja. Tanpa Harum dan Hangga menyadari, dari balik jendela rumah Yuda, papinya Harum kecil itu tengah memandangi interaksi pasangan suami istri tersebut bersama sang putri.
“Dadah, Mami. Assalamualaikum.” Harum kecil melambaikan tangan ceria.
“Waalaikum salam. Hati-hati, Sayang. Hati-hati, Mas.”
Memandangi Harum melepas keberangkatan sang suami dan putrinya, hati Yuda mencelus gamang. Jika melihat kebahagiaan Harum dan Hangga, terbesit keinginan di hati Yuda untuk merasakan kembali manisnya kebahagiaan pernikahan. Namun, apabila mengingat almarhumah sang istri, hatinya sontak menolak untuk menikah lagi. Yuda tidak sanggup mengkhianati Ranum sebab ia merasa bayangan Ranum selalu berada di sisinya, menemani dirinya di setiap aktivitasnya.
Saat dokter tampan itu masih merenungi kegamangannya, ia merasakan getaran ponsel menggelitiki pahanya. Yuda lekas meraih ponsel dari saku celananya. Senyumnya terbit seketika manakala mengetahui seseorang yang meneleponnya.
__ADS_1
Josh calling.
“Ya. Apa, Josh?” Begitu kalimat yang pertama terucap saat panggilan mereka terhubung. Intonasi suaranya sok jual mahal, padahal hatinya gembira tidak terkira mendapatkan telepon dari sang gadis. Ya, akhirnya Yuda mengetahui jika Josh, maksudnya Jocelyn Inara adalah masih berstatus lajang alias belum pernah menikah.
“Jemput kamu?” Yuda masih anteng dalam mode jual mahal, padahal hatinya bersorak riang.
“Dasar manja!” Yuda pura-pura ketus. Setelahnya ia terkikik tanpa suara.
“Oke, saya jemput kamu, Josh. Tapi enggak pake lama. Saat saya sampai, kamu harus sudah siap.”
“Josh, tunggu dulu! Jemputan ini enggak gratis ya, ada harga yang harus dibayar.”
“Bayarannya apa, nanti aja. RA-HA-SI-A." Yuda menekankan kata terakhir dengan mengejanya.
"Pokoknya sesuatu yang membuat saya senang." Yuda tertawa tanpa suara setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Sementara dari balik dinding ruang tamu, Bu Yusma mengelus dada dengan raut tegang.
Josh? Siapa Josh? Astaghfirullah kenapa tingkah Yuda begitu sama laki-laki? Bu Yusma beristighfar berkali-kali dalam hati.
Ya Allah lindungi putra Hamba dari kelakuannya golongan kaum Luth yang kena azab.
Yuda, rupanya begini alasan kamu enggak mau menikah lagi sampai sekarang. Ibu enggak akan biarkan kamu jadi pria belok, Yuda!! Ibunda Yuda itu mengepalkan tangan geram.
.
.
Itu sekilas kisah cerita Yuda.
Kapan dong cerita Yuda dong, Thor?
Belum tahu nih. Aku masih belum mood untuk nulis. Masih betah bertahan di extra part yang enggak dikejar-kejar update.
Tapi bayangan seperti apa kisah romansa Yuda dan Inara udah berkelebat tipis di pikiran sih. Hanya saja karena Yuda dan Inara ini berprofesi sebagai dokter, aku harus banyak baca referensi tentang dunia dokter dulu seperti apa. Nah, ini yang berat dan cukup sulit.
Btw Terima kasih banyak ya atas dukungannya selama ini. Lope U semuanya. ❤️❤️❤️
__ADS_1
Oya, yg belum kasih rate bintang, ayo kasih rate dong, bintang 5 ya. Kumohon please 🙏🙏🙏.
Ah, melas banget nih Othor-othoran. 😂😂