Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 23


__ADS_3

Harum sama sekali tidak menyangka takdir pernikahannya akan seperti ini. Dimadu saat usia pernikahannya belum genap satu bulan. Saat manisnya madu berumah tangga belum pernah disesapnya.


Drama pagi menjelang siang tadi, akhirnya ditutup dengan keputusan Harum yang mengikhlaskan sang suami menikahi kekasihnya.


Meskipun Bu Mirna awalnya menolak keputusan Harum, namun pada akhirnya menyerahkan keputusan tentang takdir pernikahan putranya pada Harum sendiri.


Bukankah cinta itu tidak dapat dipaksakan? Sekuat apa pun engkau memaksakan sebuah rasa cinta, maka semakin kuat luka yang akan engkau raih nantinya.


Harum melihat cinta yang begitu besar dari sorot mata Hangga dan Nata. Bahkan, ia merasa cinta Nata kepada Hangga jauh lebih besar dari rasa cintanya sendiri pada Hangga.


Jika kebahagiaan tidak dapat diraih dalam pernikahannya, setidaknya ia bisa mendapatkan pahala dalam pernikahan karena keikhlasannya dimadu. Begitu pikirnya.


Ia merasa keputusannya telah tepat.


Harum menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Sorot matanya menatap nanar pada koper dan tas besar berisi pakaian serta perlengkapan miliknya yang tadi pagi dibereskannya bersama Hangga.


Barang-barang yang semula akan dibawa ke kamar Hangga, namun pada akhirnya kembali ke tempatnya semula, di kamar tamu, tempat tidurnya selama ini.


Tubuhnya teramat lelah untuk membereskan kembali barang-barang itu ke tempatnya. Hari ini rasa lelah begitu mendera lahir dan batinnya.


Siang tadi, Hangga membawa Nata ke sebuah pesantren milik seorang ustaz kenalan Pak Hendra. Dengan didampingi sang ayah, Hangga menikahi Nata setelah kekasihnya itu memutuskan untuk menjadi mualaf dan mengucap kalimat syahadat. Sedangkan yang menjadi wali nikah Nata adalah tokoh agama setempat, sebab seluruh keluarga Nata adalah non muslim.


Sementara Harum bersama Bu Mirna sibuk menyiapkan acara selamatan pernikahan Hangga dan Nata. Bukan pesta, hanya selamatan biasa dengan memanggil para tetangga dan ketua RT setempat. Menu makanannya pun hanya nasi box yang dipesan melalui jasa katering.


Warga sekitar tentu harus tahu tentang pernikahan Hangga dan Nata agar tidak menimbulkan fitnah. Meskipun kabar pernikahan kedua Hangga dipastikan akan menjadi tema gibah terkini di kawasan perumahan tempat tinggalnya.


“Menjalani pernikahan poligami itu tidak mudah, apalagi untuk kita sebagai seorang perempuan. Apakah kamu yakin dengan keputusan ini, Rum?” Pertanyaan yang dilontarkan ibu mertuanya sebelum berpamitan pulang pada Harum.


“Tentu tidak akan ada perempuan yang merasa yakin saat dihadapkan dengan pernikahan poligami. Tidak ada satu pun perempuan yang ingin dimadu. Tetapi, ini adalah keputusan terbaik menurut saya, Bu,” sahut Harum bijak.

__ADS_1


Harum justru mengkhawatirkan Hangga. Khawatir cinta sang suami pada sosok perempuan cantik itu akan menjerumuskannya ke dalam perbuatan dosa. Dari pada suaminya itu terlibat cinta terlarang dengan perempuan yang tidak halal. Itu salah satu yang menjadi alasan Harum memutuskan untuk merelakan Hangga menghalalkan kekasihnya.


Selingkuh, No. Poligami, Yes.


Begitu kata sebagian orang. Dan Harum tidak menyangka, ia akan menjadi bagian orang yang mendengungkan hal tersebut.


“Kalau kamu merasa tidak sanggup untuk menjalani pernikahan ini, kamu jujur sama ibu ya. Ibu tidak akan memaksa kamu untuk bertahan bersama Hangga. Kalau pernikahan ini ternyata menyakitkan buatmu, jangan pernah memaksakan diri untuk kuat. Yang harus Harum ingat, ibu sudah menganggap Harum seperti anak sendiri dengan atau tanpa adanya pernikahan ini,” tutur Bu Mirna.


“Terima kasih banyak, Bu.” Harum memeluk sang ibu mertua dengan penuh haru. Meskipun pernikahannya tak seindah yang diharapkan, namun ia patut bersyukur karena memiliki mertua yang baik dan memperlakukannya seperti anak sendiri.


Bu Mirna dan Pak Hendra yang semula berniat untuk menginap, akhirnya memutuskan untuk pulang. Sedangkan Jenah tidak ikut pulang, ART yang sudah lama bekerja bersama Bu Mirna itu akan bekerja di rumah Hangga.


Tidak perlu menunggu malam semakin larut, Harum merebahkan tubuhnya, melepaskan rasa lelah dan penat yang mendera. Sebelum memejamkan mata, tidak lupa gadis berparas ayu itu memanjatkan doa.


Doa pengantar tidur kali ini lebih panjang dari biasanya. Selain meminta perlindungan kepada Allah saat tidur, ia berharap dapat menjalani hari esok dengan ikhlas dan penuh kebaikan dengan status baru pernikahannya sebagai istri pertama.


Sementara di kamar lain, tepatnya di lantai dua, kamar yang ditempati Hangga bersama Nata yang kini telah menjadi istrinya, kedua insan itu baru selesai bercumbu mesra.


Hangga mendekap erat tubuh polos Nata dengan penuh cinta. Impiannya untuk menikahi sang pujaan hati akhirnya terwujud juga.


Pada akhirnya kisah mereka berujung dalam bahagia. Setidaknya sampai saat ini.


Di atas tempat tidur berseprai putih itu, mereka merayakan cinta. Ini adalah menjadi malam pertama bagi Hangga, tetapi bukan hal pertama bagi Nata.


Sebelum mengenal Hangga, Nata pernah menjalin hubungan bersama pria lain. Hubungan yang dijalani dulu bersama sang mantan layaknya hubungan bebas seperti kebanyakan anak muda perkotaan.


Setelah mengenal Hangga, kehidupan Nata menjadi lebih positif. Hangga bukan seperti pria kebanyakan yang melumrahkan hubungan bebas dengan berdalih cinta. Itulah sebabnya Nata sangat mengagumi dan mencintai pria ganteng khas Indonesia itu.


“Sayang.” Nata mengusap titik-titik peluh di kening Hangga.

__ADS_1


“Hmmm.” Hangga membalas dengan menyelipkan rambut Nata ke daun telinga.


“Kamu serius belum pernah tidur sama Harum?” tanya Nata to the point.


“Iya,” jawab Hangga sembari memandang wajah cantik Nata yang tidak pernah membosankan untuk dipandangi.


Perempuan berdarah Manado itu memang sangat cantik. Konon, penduduk asli Manado berasal dari ras Mongolia yang kemudian kawin-mawin dengan bangsa Jepang dan Portugis. Itulah sebabnya perempuan Manado kebanyakan memiliki kulit yang putih bening dan paras yang cantik-cantik.


“Kenapa? Harum ‘kan cantik?” cecar Nata.


“Karena aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai kamu, Yang,” sahut Hangga sembari mengusap lembut pipi mulus nan putih milik Nata.


“Sayang.”


“Hemm.”


“Bisakah kamu berjanji?”


“Berjanji apa?” tanya Hangga dengan kening mengerut.


“Jangan pernah sekalipun tidur dengannya. Jangan pernah melakukan dengannya. Aku tidak mau berbagi,” pinta Nata.


“Aku tidak akan pernah bisa melakukannya dengan perempuan yang tidak aku cintai,” sahut Hangga yang memang tipikal pria setia.


Nata tersenyum mendengar jawaban Hangga, lalu memeluk tubuh pria yang dicintainya itu lebih rapat lagi. “I love you,” ucapnya.


Hangga balas memeluk dan mengusap punggung Nata. “I love you too.”


Sentuhan tubuh mereka sontak membangkitkan kembali ga-i-rah dalam jiwa. Kedua insan itu kembali memadu cinta, menghabiskan malam panjang yang tidak akan pernah terlupa.

__ADS_1


__ADS_2