
Harum hanya bisa pasrah saat Hangga merangsek masuk sebelum mendapat persetujuannya. Ia mencelikkan mata saat melihat Hangga gegas mengunci pintu begitu masuk kamar.
Mau ngapain dia?
Hangga duduk di tepi kasur berukuran 90 cm X 200 cm yang muat untuk satu orang saja. Matanya memperhatikan Harum yang melipat sajadah, kemudian melepas mukena.
Tujuan semula Hangga mendatangi Harum adalah untuk mengobrol. Ia merasa perlu untuk berbincang intens dengan Harum. Apalagi karena sikap Nata yang kurang bersahabat seminggu terakhir ini.
Hangga tahu, hati Nata sebenarnya baik. Kalau tidak baik, tidak mungkin Hangga bisa jatuh cinta, mencintai wanita cantik itu sedalam-dalamnya, dan menjadikan kekasih satu-satunya sebelum menikahi Harum.
Akan tetapi, sama seperti kebanyakan perempuan lainnya, Nata juga kadang dilanda cemburu yang berlebihan. Cemburu yang cenderung posesif.
Hangga memperhatikan Harum yang tengah menyisir rambut indahnya di depan cermin yang menggantung di dinding. Ia semakin gelisah. Rambut hitam ala sunsilk milik istri pertamanya itu seakan melambai minta dibelai. Hangga sangat suka rambut Harum yang hitam, lebat, panjang dan juga ... harum.
Harum itu cantik dengan berjilbab. Dan semakin cantik juga memesona saat menampakkan mahkotanya.
Bukankah awal Hangga terpikat pada Harum adalah saat pertama kali melihat Harum tanpa jilbab dan menampakkan mahkotanya yang elok.
“Mas.” Harum terkejut karena tiba-tiba Hangga memeluknya dari belakang.
Sejujurnya, Harum sedari tadi sudah deg-degan. Apalagi melihat sorot mata Hangga yang tampak “mendambakannya”.
Harum memang selalu deg-degan saat berdua sekamar dengan pria yang telah menjadi suaminya itu. Mungkin karena berduaan bersama Hangga terhitung jarang.
Seingat Harum ini adalah yang ketiga kalinya. Pertama adalah saat malam pertamanya dan yang kedua adalah saat pulang kampung dua minggu yang lalu. Dan sekarang suaminya itu tengah memeluknya dari belakang.
Hangga menyibak rambut panjang, indah, bersinar dan wangi itu ke bahu Harum yang sebelah kiri, sementara tangan yang satunya masih melingkar erat di perut rata istri pertamanya itu. Harum bisa merasakan napas Hangga yang meniup-niup tengkuk sebelah kanannya. Menimbulkan desiran yang menjalar hangat ke sekujur tubuh.
“Mas!” protes Harum saat Hangga mulai menciumi tengkuk mulusnya dengan lembut.
“Mas kangen, Rum,” bisik Hangga di belakang telinga Harum yang membuat Harum menggeliang kegelian.
Setelah bertemu Harum dalam situasi “mendukung” seperti ini, ternyata Hangga bukan hanya merindukan mengobrol intens dengan istri pertamanya itu. Seluruh tubuh Hangga juga ternyata sangat merindukan Harum.
Harum berdiri keki menahan geli karena bibir Hangga terus memberikan kecupan di tengkuk, leher dan telinganya. Ia mengerti apa yang diinginkan Hangga, tetapi ... ini ‘kan kamar Nina.
Baru saja Harum berpikir seperti itu, Hangga sudah menggiringnya menuju tempat tidur yang sempit itu.
Dan setelahnya Harum hanya bisa pasrah diombang-ambing oleh gairah suaminya yang salah tempat, sembari berharap si empunya kamar tidak datang saat ini.
Harum tidak bisa menolak. Karena menolak ajakan suami itu berdosa.
Meskipun hatinya merasa berdosa karena sudah berbuat kurang ajar. Bercinta di kamar sahabatnya, yang masih perawan pula.
Nina, maafkan Harum ya. Bukan salah Harum sih, tapi Mas Hangga.
“Mas mandi gih,” titah Harum saat mata Hangga hampir terpejam karena rasa kantuk setelah lelah bercinta. Percintaan satu babak yang penuh sensasi karena khawatir kepergok sang pemilik kamar.
__ADS_1
“Merem sebentar boleh ya, Rum,” sahut Hangga yang masih mengenakan pakaian atasnya lengkap, sementara tubuh bagian bawahnya ditutupi selimut gambar Spongebob milik Nina.
Pasangan suami istri itu tadi memadu cinta tanpa melepas pakaian atas sebagai antisipasi jika terjadi gangguan eksternal. Seperti kehadiran si empunya kamar misalnya.
“Jangan tidur di sini, Mas! Nanti kalau Nina datang bagaimana?”
Ucapan Harum membuat Hangga mau tidak mau bangkit. Lalu memungut celananya yang berserak di lantai.
“Mandi di rumah aja lah. Gak haram ‘kan?” sahut Hangga sembari memakai celananya.
“Memang tidak ada hadis yang menerangkan larangan menunda mandi wajib. Meskipun begitu, alangkah baiknya jika kita menyegerakan mandi wajib agar tidak dijauhi malaikat. Mas tahu enggak? Kata Rosul ada tiga orang yang tidak mau malaikat rahmat mendekati mereka. Salah satunya adalah orang-orang yang habis berjunub dan tidak segera melakukan mandi besar,” tutur Harum.
“Iya kah?”
“Hem.”
Hangga tersenyum. Tangannya meraih tangan Harum lalu menariknya hingga istri ayunya itu terduduk di pangkuan.
“Pinter banget sih istri mas.” Hangga mencium pipi merona merah tanpa blush on itu.
“Tapi kalau mandi di sini, khawatir anak-anak kedai datang dulu. Sebentar lagi jam pulang kerja. Mana ini mes perempuan lagi,” ujar Hangga.
“Salah mas sih, enggak tahu tempat,” sahut Harum.
Hangga tertawa. “Habisnya kamu cantik sih,” katanya seraya mencium pipi Harum lagi.
Bukankah Nata juga cantik? Bahkan lebih cantik. Begitu menurut penilaian Harum.
“Kalau Mas enggak mau mandi sekarang, yang penting wudu ya.”
“Iya, Sayang.”
“Ya sudah, saya mau mandi dulu ya, Mas,” pungkas Harum lalu melepaskan diri dari pangkuan suaminya dan beranjak keluar kamar.
*
“Rum.” Seruan Nata menghentikan langkah Harum yang hendak masuk ke kamar.
“Iya, Kak.” Harum tersenyum hangat memandang Nata. Setelah tidak mengacuhkannya selama berhari-hari, Harum merasa senang sekali madunya itu kini mau menyapanya lagi.
Nata membalas senyum. “Ini ada hadiah buat kamu,” katanya seraya menyodorkan paper bag yang Harum belum ketahui isinya.
“Buat saya?” Wajah Harum berbinar cerah. Bukan hadiahnya yang membuat semringah, tetapi perlakuan hangat madunya.
“Iya.” Nata mengangguk. Dan paper bag berpindah tangan ke tangan Harum. “Aku tadi sore ke mal dan nemu baju bagus. Kayaknya cocok buat kamu, Rum,” katanya lagi.
“Terima kasih banyak, Kak Nata.”
__ADS_1
“Sama-sama, Rum. Dipakai sekarang ya,” pesan Nata.
“Sekarang?”
“Iya. Kamu pakai sekarang ya, Rum. Aku tunggu di sini.” Tidak mau mendengar penolakan dari Harum, Nata segera beranjak menuju sofa tv yang berhadapan dengan pintu kamar Harum dan duduk di sana.
Sejujurnya Harum ingin menolak sebab ia tidak terbiasa memakai pakaian baru. Biasanya Harum akan mencucinya dulu sebelum dipakai. Akan tetapi, Harum tidak ingin menyinggung perasaan Nata.
Harum tidak mau membuat mood madunya turun lagi.
Harum tidak mau membuat hubungan yang baru mulai hangat, menjadi dingin lagi.
Harum menuruti kemauan Nata. Di dalam kamar, ia mengeluarkan hadiah dari dalam paper bag yang benar isinya adalah dress muslimah yang sangat cantik. Ia segera memakai dress berbahan satin warna marun tersebut. Seketika Harum memandang takjub bayangannya sendiri di cermin.
Kalau boleh narsis, ia merasa dirinya sangat cantik mengenakan dress pemberian Nata itu.
“Tuh ‘kan kamu cantik banget, Rum.” Nata masuk ke dalam kamar saat Harum tengah mematut dirinya di cermin.
“Terima kasih banyak, Kak. Dressnya cantik, saya suka,” sahut Harum.
“Syukurlah. Aku senang kalau kamu suka, Rum.” Nata melempar senyum.
“Oya, saya juga ada hadiah buat Kak Nata.” Harum membuka lemari, lalu mengambil paper bag berisi dress cantik yang dibelinya dua minggu lalu bersama Hangga.
“Apa nih?” tanya Nata sembari berusaha membuka paper bag yang sudah berada di tangannya. “Wah cantik banget dress-nya. Buat aku?”
“Iya, Kak.”
“Beli di mana ini, Rum?”
“Udah lama belinya, waktu tempo hari pulang sama Mas Hangga itu.”
“Ooh.” Nata mangut-mangut. “Oya, aku dandanin kamu sekalian ya,” ujar Nata.
Kening Harum mengerut penuh tanya. Disuruh memakai dress lalu didandani. Mau apa memangnya?
“Sebentar lagi ada tamu. Kamu harus tampil cantik, Rum,” terang Nata seolah mengetahui pertanyaan dalam benak Harum.
“Terus nanti kita makan malam di luar ya,” sambungnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya untuk dua hari ini ceritanya gak penting. Muter-muter dulu sembari nyari ide untuk lanjutin ceritanya 😅