
Sejujurnya Hangga malas menuruti ajakan Nata untuk makan malam di luar. Tubuhnya terasa letih. Pekerjaan hari ini lumayan banyak, namun ia selesaikan dengan cepat demi untuk bisa menemui Harum. Tidak lupa, hasrat berkalang rindu yang juga telah dituntaskan sore tadi bersama Harum membuatnya semakin malas keluar rumah.
Namun, Nata malah mengajaknya makan malam di restoran. Bersama Arya pula. Dan yang membuat Hangga semakin tidak mengerti, justru kemudian Nata mengajak pergi dari restoran pertama, lalu pergi ke restoran pizza kesukaan istri keduanya itu.
'Ada apa ini? Batin Hangga bertanya-tanya.
"Kenapa kita malah makan di sini, Yang?” lontar Hangga saat telah duduk di sebuah restoran pizza bersama Nata.
“Aku ingin makan pizza,” sahut Nata.
“Kalau begitu, kenapa enggak dari tadi kita ke sini aja? Kenapa harus ke restoran tadi?”
Nata tidak menggubris ucapan Hangga. Makanan khas Italia di depannya lebih menarik ketimbang menjawab pertanyaan suaminya.
“Terus Harum bagaimana?” cecar Hangga.
“Enggak usah khawatir, ‘kan ada Arya,” sahut Nata dengan enteng.
“Tapi Arya ‘kan ....”
“Aku sengaja meninggalkan mereka berdua,” potong Nata cepat.
Nata melihat kening Hangga mengerut penuh tanda tanya.
“Kalau kamu enggak bisa melepaskan Harum, kenapa enggak kamu saja yang biarkan dia pergi. Biarkan Harum menemukan laki-laki lain yang akan menjadi jodohnya. Arya itu laki-laki baik, aku rasa Arya cocok sama Harum.”
“Maksud kamu, kamu mau menjodohkan Arya dengan Harum?”
“He’em.”
“Ya enggak bisa begitu, Nat!”
“Kenapa? Kamu keberatan?”
“Jelas aku keberatan.”
“Kenapa? Jangan-jangan kamu mencintai Harum?” tukas Nata yang seketika membuat Hangga membeku.
“Aku ....” Hangga tidak melanjutkan kalimatnya.
Hangga belum berani berterus terang pada Nata tentang perasaannya pada Harum. Ia takut Nata akan marah lalu pergi meninggalkannya. Lantas Nata akan pergi ke mana jika kenyataannya istri kedua Hangga itu telah dibuang oleh keluarganya.
Sungguh, Hangga tidak tega.
Setiap membayangkan hal tersebut, nyali Hangga selalu menciut untuk berkata jujur di hadapan Nata tentang perasaannya pada Harum.
Apakah itu artinya rasa takut kehilangan Nata lebih besar dari rasa cintanya pada Harum?
Entah, Hangga juga tidak meyakini hal itu.
Yang jelas ia tidak ingin kedua istrinya pergi meninggalkannya. Saat ini yang diinginkan Hangga adalah kedua istrinya itu tetap akur dan ia bisa menjalani pernikahan spesial ini dengan baik dan adil. Lalu mereka bertiga akan hidup bahagia. Kalau sudah begitu, yakin surga dunia adalah milik Hangga.
__ADS_1
“Bukan begitu, Nat. Harum itu ‘kan perempuan bersuami. Tidak seharusnya berduaan dengan laki-laki lain," kilah Hangga.
“Kalau laki-laki lain itu yang akan menjadi jodohnya kelak, aku rasa enggak masalah," timpal Nata.
Meskipun Arya telah dengan tegas menolak rencana Nata yang ingin menjodohkannya dengan Harum, Nata yakin bahwa sesungguhnya Arya menyukai Harum.
"Aku yakin Arya itu menyukai Harum. Tinggal kita buat agar Harum menyukai Arya,” pungkas Nata kemudian melahap sepotong pizza di tangannya.
Hangga menghela napas berat. Percuma juga rasanya mendebat Nata. Perempuan yang cinta mati pada Hangga itu belum bisa memahami serta menerima pernikahan poligami yang dijalaninya.
"Terus kalau kamu boleh beristri dua, berarti aku juga boleh bersuami dua?" Begitu yang dilontarkan Nata saat Hangga berusaha menjelaskan bab poligami.
Hangga menatap potongan pizza itu tanpa selera. Membayangkan Harum yang tengah makan malam berdua dengan Arya membuat hatinya tidak tenang. Ia takut Harum akan benar-benar jatuh cinta pada Arya.
*
“Rum,” panggil Arya saat Harum hendak masuk ke rumah.
“Ya.” Harum menoleh pada Arya yang berdiri di carport bersama motornya.
“Aku lupa. Ini ada kue.” Arya yang hendak menaiki motor menemukan kotak kue yang masih terikat di jok belakang. Tadi ia sempat melupakan kue itu saat bertamu ke rumah Hangga. Untung saja kuenya tidak diambil kucing.
“Sebelum ke sini tadi, aku mampir ke toko kue,” kata Arya seraya membuka tali yang mengikat kardus berisi kue itu, lalu membawanya kepada Harum.
Harum menerima kotak kue itu lalu membukanya. “Wah, cantik banget kuenya,” pujinya antusias.
Harum terpukau melihat tampilan cake cantik berbentuk hati dengan toping coklat glaze yang mengkilap. Di bagian pinggir ada hiasan butter cream warna hijau berbentuk bunga-bunga kecil yang sayangnya bentuknya sudah tidak karuan. Creamnya belepotan ke mana-mana.
“Maaf ya, Rum,” ujar Arya yang masih berdiri di hadapan Harum.
“Kuenya berantakan, kayak hati aku," gurau Arya.
Mendengar gurauan Arya, Harum tertawa lepas hingga menampakkan deretan giginya yang putih, rapi dan kecil-kecil. Wajahnya pun turut bersemu merah karena tawa.
Arya terpaku sesaat. Baru kali ini ia bisa melihat Harum tertawa dalam jarak yang begitu dekat. Harum terlihat sangat cantik jika tengah tertawa lepas seperti itu. Apalagi wajahnya yang bersemu merah, sangat memesona Arya.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan para ahli, orang yang mudah memerah pada bagian wajah adalah orang yang dianggap dapat dipercaya dan lebih murah hati. Arya pernah membaca artikel tersebut, dan seketika ia teringat pada Harum.
Sepertinya riset itu benar adanya.
Contohnya ya ... Harum ini.
Tin ... Tin ...
Saat Arya masih terpaku mengagumi sosok ayu di hadapannya, terdengar bunyi klakson mobil yang dibunyikan beberapa kali. Dari cara membunyikannya, Arya tahu si pengemudi pasti tengah kesal.
Arya dan Harum sontak melayangkan pandangan ke arah mobil yang kini kacanya sudah diturunkan tersebut. Si pengemudi yang tidak lain adalah Hangga itu tampak tengah menahan kesal.
“Motor lu awas! Mobil gue susah masuk,” seru Hangga yang masih duduk di belakang kemudi.
Arya semakin yakin Hangga tengah kesal karena nada bicaranya yang seperti orang marah-marah. Sementara Nata memilih turun dari mobil, lalu gegas menghampiri Arya dan Harum yang berdiri di teras.
__ADS_1
“Gimana tadi makan malamnya?” tanya Nata antusias.
Harum hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan madunya itu.
“Ya ampun, kuenya cantik sekali. Ini dari lu kan, Ya?”
“Hem,” sahut Arya.
“Pasti buat Harum ‘kan? Co cwit banget cih lu.”
Arya lekas menggelengkan kepalanya.
“Kalau bukan buat Harum, lalu buat siapa? Buat ghue?” Nata menirukan cara bicara Arya dengan dialek yang sangat kental.
“Buat Hangga. Hahahaha," sahut Arya diakhiri tawa.
Sementara Nata dan Harum hanya bergeming memandangi Arya yang tertawa sendiri.
“Ndak lucu toh?” lontar Arya saat menyadari yang tertawa ternyata hanya dirinya.
“Yo wes lah, aku pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” sahut Nata dan Harum bersamaan.
“Mase, aku pulang ya.” Arya melambaikan tangan pada Hangga setelah mengeluarkan motornya dari carport.
Hangga balas melambaikan tangan pada Arya masih dengan wajah kesalnya. Setelahnya, ia melajukan pelan mobilnya masuk ke carport.
Sementara, kedua wanita cantik itu masih berdiri di teras untuk melepas kepergian Arya.
Hangga turun dari mobil dan menghampiri kedua istrinya tepat setelah motor sport Arya melesat pergi.
Melihat Hangga di dekatnya, Harum jadi teringat ponsel suaminya itu.
“Hape Mas Hangga ada sama saya,” ujar Harum.
"Oh ya? Mas malah baru sadar hapenya ketinggalan," sahut Hangga. Nata mencebik mendengar Hangga masih saja ber-Mas-Mas pada Harum.
Harum hendak mengambil ponsel Hangga dari dalam tasnya, tetapi kesulitan. Tangan kirinya berusaha membuka tas, sedangkan tangan kanannya memegang dus cake.
“Sini, mas pegangin dulu.” Hangga yang peka terhadap kesulitan Harum, berinisiatif mengambil dus cake dari tangan Harum.
“Yang, coba lihat deh cake-nya,” ujar Nata sembari membuka dus cake yang sudah berada di tangan Hangga. “Cantik ya cakenya?”
“Hem.”
“Ini cake nya dari Arya buat Harum.”
“Oh.” Hangga menyahut dengan malas.
Saat ketiganya tengah disibukkan dengan perasaan hati masing-masing, Nata yang antusias menjodohkan Arya dan Harum, Hangga yang kesal melihat Harum pulang berdua dengan Arya, serta Harum yang tengah berbunga karena perlakuan manis Hangga lewat jejak ponselnya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pintu rumah yang dibuka dari dalam.
__ADS_1
“Kalian dari mana?” tanya seseorang yang berdiri di gawang pintu.
“Ibu??” sahut ketiganya dengan kompak.