
Hangga, Harum dan Nata, ketiganya terkejut dengan kehadiran Bu Mirna di depan pintu.
“Ibu kapan datang?” Harum yang berdiri paling dekat dengan pintu menjadi orang pertama yang menyapa ibunda Hangga itu sembari mencium tangan. Lalu diikuti oleh Hangga dan Nata.
“Ada satu jam yang lalu,” jawab Bu Mirna.
“Kenapa ibu enggak telepon Hangga? Tahu ada ibu, kami akan pulang lebih cepat,” timpal Hangga.
“Udah-udah. Ayo, semuanya masuk! Masak mau mengobrol sambil berdiri,” kata Bu Mirna kemudian melenggang masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh putra dan kedua menantunya.
“Ibu sudah makan? Kalau belum, biar saya siapkan makan malam untuk ibu,” tawar Harum setelah mereka berempat duduk di sofa ruang tengah.
“Enggak usah, Nak. Ibu sudah makan.”
“Ayah mana, Bu?” tanya Hangga saat menyadari tidak melihat keberadaan ayahnya.
“Ayahmu sedang ke Bekasi menunggui uwakmu yang sakit. Jadi, sementara ini ibu akan tinggal di sini bersama kalian,” sahut Bu Mirna.
Nata yang paling terkejut mendengar ucapan ibu mertuanya itu. ‘Tinggal di sini? Berapa lama?’ Ingin sekali Nata bertanya begitu, tetapi tidak berani.
“Ibu boleh tinggal di sini ‘kan?” lontar Bu Mirna menatap raut terkejut putra dan kedua menantunya bergantian.
"Ibu enggak harus bertanya seperti itu. Tentu saja boleh, lagi pula ini rumah ibu,” sahut Hangga setelah syok beberapa saat. Ia sebenarnya tidak keberatan jika sang ibunda tinggal bersama dengannya. Akan tetapi, biduk pernikahan yang rumit membuat Hangga risau. Ia khawatir keberadaan ibunya justru akan semakin memperkeruh hubungannya bersama kedua istrinya.
“Sekalian ibu mau mengawasi kamu, Hangga! Apa kamu sudah bisa berlaku adil kepada kedua istrimu? Ibu dengar selama ini kamu selalu tidur bersama Nata. Jadi sekarang saatnya kamu tidur bersama Harum," ujar Bu Mirna yang mendapat informasi tentang keseharian Hangga dari siapa lagi kalau bukan Bi Jenah--ART kepercayaannya.
Harum, Hangga dan Nata saling berpandangan mendengar ucapan Bu Mirna. Dari ketiganya, wajah Nata yang paling meringis menahan kesal. Niatnya ingin mendekatkan Harum dan Arya malah berbalik arah karena kedatangan sang mertua.
Jika Hangga sering tidur bersama Harum, Nata takut suami yang sangat dicintainya itu akan sungguh-sungguh jatuh cinta pada Harum.
*
“Seneng kamu, Hangga!” Nata melempar baju piyama milik Hangga tepat mengenai wajah tampan Hangga.
“Aku harus bagaimana, Nata? Harum juga istri aku. Kamu harus memahami itu," sahut Hangga setelah memungut pakaian tidurnya.
Nata menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Dengan posisi tengkurap dan membenamkan wajah di bantal, ia menumpahkan tangis sembari memukul-mukul kasur. “Kenapa sekarang jadi begini, Hangga? Kenapa harus ada Harum di antara kita? Kenapa kita enggak bisa seperti dulu?”
Hangga melangkah mendekati perempuan yang dulu menjadi satu-satunya yang bertakhta di hati. Ia pun tidak mengerti dengan perasaannya kini. Mengapa bisa hati dan cintanya terbelah dua begini.
“Nat, mungkin takdir cinta kita memang begini.” Hangga yang duduk di tepi ranjang mengusap lembut kepala Nata. “Mungkin takdir jodoh aku memang begini. Kamu dan Harum sama-sama ditakdirkan untuk jadi jodoh aku. Aku yakin kita bertiga bisa bahagia, asalkan kamu dan Harum mau ikhlas dan bersabar.”
Nata yang tengah membenamkan wajah di bantal langsung bangun mendengar ucapan Hangga.
__ADS_1
“Kita? Kamu doang yang bahagia, Hangga! Aku sama Harum sampai kapan pun enggak akan bahagia!” serunya sembari memukul Hangga dengan bantal berulang-ulang.
"Dasar lelaki!”
*
“Belum tidur, Hum?” tanya Hangga saat masuk ke kamar Harum dan mendapati istri pertamanya itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang sembari membaca buku.
“Belum.” Harum menutup buku yang dibacanya lalu meletakkannya di atas meja samping tempat tidur.
“Nungguin ya,” ujar Hangga sembari mencubit mesra pipi Harum.
“Ish. Apa sih, Mas. Lagi pusing begini malah bercanda.”
“Pusing kenapa, Hum?”
“Kak Nata bagaimana, Mas?” lontar Harum yang sedari tadi memikirkan bagaimana reaksi Nata tentang keputusan ibu mertua yang menyuruh Hangga tidur bersamanya.
“Nata ngomel-ngomel sih.”
“Tuh kan. Mas tidur sama Kak Nata aja deh.”
“Kok gitu? Jangan dong! Nanti malah ibu yang ngomel-ngomelin mas.”
“Enggak.”
“Kasihan Kak Nata.”
"Mas malah kasihan sama kamu, Hum. Mas merasa bersalah karena belum bisa adil sama kamu. Dan mas minta maaf karena belum berani berkata jujur pada Nata tentang perasaan mas sama kamu."
"Enggak usah mikirin saya, Mas. Saya enggak apa-apa. Saya sadar Kak Nata yang lebih dulu mendapatkan hati dan cinta Mas Hangga. Jadi wajar kalau Kak Nata memandang pernikahan kita sebagai sebuah pengkhianatan."
"Maafin mas ya, Rum."
"Sekarang Mas Hangga mending balik lagi ke kamar Kak Nata deh. Nanti subuh sebelum ibu bangun, Mas Hangga balik lagi ke sini."
“Pokoknya enggak. Titik! Udah ah kita tidur aja yuk!” Hangga meraih tubuh Harum lalu mendekapnya erat.
Pasangan suami istri yang terlambat mencinta itu merajut manisnya malam dengan tidur berdua saling berpelukan.
*
Sementara di kamar lainnya.
__ADS_1
Hingga pukul 02.00 dini hari, Nata belum juga dapat memejamkan matanya. Kepalanya terasa mau pecah membayangkan Hangga yang sedang tidur bersama Harum. Hatinya terasa mau meledak memikirkan apa yang tengah dilakukan Hangga bersama Harum.
Baru semalam saja rasanya sudah begitu menyakitkan, apalagi bermalam-malam, berminggu-minggu atau bertahun-tahun. Nata tidak sanggup. Membayangkannya saja sudah sangat menyakitkan apalagi menjalaninya, jangan-jangan bakal mematikan.
Semoga saja ibunya Hangga enggak lama-lama nginep di sini. Kalau dia lama-lama di sini, aku bisa mati berdiri. Batin Nata.
“Aduh.” Nata meringis memegangi perutnya yang terasa sakit.
Belakangan ini Nata memang sering merasakan nyeri di perutnya. Hanya saja, Nata yang sejatinya adalah wanita kuat dan mandiri, tidak terlalu mendramatisir kesakitannya.
Kalau bisa memilih, ia lebih memilih untuk sakit perut dibanding sakit hati ditinggalkan Hangga tidur di kamar Harum seperti ini.
Akan tetapi, malam ini perut Nata terasa lebih sakit dari biasanya. Mungkin karena pengaruh sakit hati, sehingga menyebabkan efek nyeri perutnya jadi berlipat-lipat.
Sembari menahan sakit, Nata keluar dari kamarnya, turun ke lantai satu. Tujuannya adalah ke dapur untuk membuat minuman hangat. Saat melewati kamar Harum, ia berhenti sejenak di depan pintu kamar tersebut. Menatap pintu kamar dengan tatapan meradang, ingin sekali rasanya ia mendobrak pintu kamar tersebut lalu menyeret Hangga keluar.
Dada Nata naik turun membayangkan apa yang sedang dilakukan Hangga di dalam kamar istri pertamanya itu.
Kira-kira Hangga memakai gaya apa saat bercinta dengan Harum?
Sial. Otaknya malah semakin mengompori. Membuat kesakitannya semakin menjadi.
“Ya Tuhan,” lirih Nata yang merasakan kembali kesakitan di perutnya seperti diremas-remas.
Tertatih-tatih Nata melanjutkan langkahnya menuju dapur. Kalau saja tidak ada ibu mertua, pasti ia tidak perlu repot-repot begini membuat minuman. Hangga—pria yang dulu sangat memujanya itu pasti dengan penuh cinta akan membuatkan untuknya. Atau ia tinggal menyuruh Bi Jenah untuk membuatkannya.
Akan tetapi, kehadiran ibu mertua membuatnya terpaksa melakukannya sendiri. Ia tidak mau nilainya di mata sang ibu mertua menjadi lebih turun lagi gara-gara membangunkan Bi Jenah untuk membuatkannya minuman. Nata sadar, ibu mertuanya lebih meninggikan Harum dibanding dirinya.
Nata menarik napas panjang untuk meredam rasa sakit di perutnya yang semakin menusuk hebat.
“Kuat Nata, kuat Nata,” gumamnya pelan. Tangannya terulur hendak meraih gelas, namun gelas itu malah tergelincir dan terjatuh.
Praaang ...
“Kak Nata kenapa?” lontar Harum yang melihat Nata meringis kesakitan sembari memegang perutnya.
Seperti Nata, Harum pun sesungguhnya tidak dapat tidur pulas. Ia yang mendengar suara rintihan Nata saat melewati kamarnya tadi, berinisiatif untuk keluar dan mendapati Nata di dapur tengah meringis kesakitan.
“Kak Nata sakit?” tanya Harum.
“Sakit banget, Rum,” lirih Nata.
“Kak Nata ingin apa? Biar saya yang buatkan.”
__ADS_1
Nata menggeleng pelan. Memangnya kalau ia menjawab ingin Hangga tidur bersamanya, apakah Harum bisa mengabulkan?