Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 121


__ADS_3

Sementara Harum malah tidak bisa tidur. Berkali-kali ia mengarahkan jari telunjuknya di bawah hidung Nata agar bisa merasakan embusan napas madunya itu. Berkali-kali juga ia mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Nata, memastikan denyutnya masih ada. Hingga kemudian, lelah dan kantuk yang teramat sangat tidak dapat lagi membuatnya terjaga.


Sayup-sayup kumandang azan subuh membangunkan Hangga yang tengah terlelap. Hangga mengerjapkan mata beberapa kali. Mulutnya berdesis seiring dingin yang menyergap tubuhnya. Kedua tangannya bersilangan di depan dada dan bergerak mengusap lengan kokohnya untuk memberikan rasa hangat.


Beberapa menit selanjutnya, pria tampan itu bergerak bangun. Dalam posisi duduk, ia menoleh ke sisi kanan dan melihat kedua istrinya masih terbuai dalam lelap. Beruntung otaknya tidak nge-blang, ia belum lupa bahwa petang kemarin dirinya berhasil membawa Harum kembali ke kehidupannya.


Hangga beringsut turun lalu berpindah ke sisi lain tempat tidur mendekati Harum. Tangannya meraih tangan Harum lalu digenggamnya erat dengan kedua tangan.


“Hum,” bisiknya di telinga Harum.


Harum terjingkat bangun karena merasa ada sesuatu yang menggelitiki telinganya. “Ish, Mas ....”


“Sssst.” Hangga mengarahkan telunjuknya di bibir, ekor matanya melirik Nata yang tampak terlelap di samping Harum. Memberi isyarat agar jangan berisik.


“Mau salat subuh berjamaah?” tanya Hangga.


“Mas Hangga salat di masjid aja. Saya mau berjamaah sama Kak Nata,” jawab Harum.


“Ya udah kalau gitu mas duluan ya.” Harum mengangguk.


“Hum.” Hangga mengulurkan tangan. Harum menyambut uluran tangan suaminya dengan canggung, lalu mencium takzim punggung tangan Hangga.


Kapan ya terakhir mereka melakukan ini?


Hangga mendekatkan wajahnya pada Harum. Namun, sebelum wajah tampan yang sangat dirindukannya itu bergerak lebih dekat, Harum lebih dulu menahannya. “Jangan, Mas. Ada Kak Nata,” kata Harum.dengan isyarat mata.


Hangga mengangguk paham. Setelahnya, ia beranjak keluar kamar untuk pergi ke masjid.


Harum ingin membangunkan Nata untuk mengajaknya salat berjamaah. Namun, melihat Nata yang begitu lelap, ia mengurungkan niatnya. Harum memutuskan untuk salat duluan, baru setelahnya ia akan membangunkan Nata dan membimbingnya salat. Begitu rencananya.


Harum beranjak keluar kamar untuk mengambil wudu. Setelahnya ia masuk lagi ke kamar untuk melaksanakan kewajiban dua rakaatnya.


“Kak Nata mau salat berjamaah enggak?” lontar Harum yang sudah memakai mukena lengkap. Karena tidak ada sahutan dari Nata, Harum pun segera menunaikan salat.


Selepas menunaikan dua rakaat sebelum subuh dan dua rakaat fardu subuh, Harum melanjutkan dengan mengaji seperti kebiasaannya. Karena tidak menemukan mushaf Al-Qur’an di kamar tersebut, Harum memilih untuk mengaji surah yang ia hafal saja. Surah Al-Mulk, Surah Yaasin dan Surah Al Waqiah adalah tiga surah panjang yang dihafal Harum.


Masih mengenakan mukena, Harum duduk di tepi ranjang di samping Nata. Lalu ia mulai melantunkan ayat-ayat surah Yaasin. Selama mengaji, Harum terus memperhatikan Nata dan ia mulai menyadari tidak ada pergerakan Nata sedikit pun.


“Shodaqollohul adzim.” Harum menyudahi kegiatan mengajinya.


“Kak, Kak Nata.” Harum menyentuh tangan Nata. “Kak Nata, bangun!”


“Kak, salat dulu yuk! Nanti habis salat, Kak Nata boleh tidur lagi.” Kali ini Harum berbicara sembari mengusap puncak kepala Nata.

__ADS_1


“Kak, bangun yuk.” Jantung Harum mulai berdebar gelisah karena Nata tidak juga menyahut apalagi bangun.


Harum mengarahkan telunjuknya di bawah hidung Nata, berusaha merasakan embusan napas Nata. Ia refleks menjauhkan tubuhnya dari Nata saat tidak merasakan embusan napas perempuan yang berbaring dengan tangan bersidekap seperti tengah salat itu.


“Kak Nata. Huuu, huuu.” Harum menangis meraung. Tubuhnya melungsur di bawah tempat tidur. “Kak Nata ... Huuu ...”


Hangga yang baru pulang dari masjid, langsung berlari masuk ke kamar karena mendengar tangisan Harum. Dan ia terkejut mendapati mantan istri yang baru dirujuknya kemarin tengah menangis pilu di bawah tempat tidur, masih dengan memakai mukena lengkap.


“Hum, kamu kenapa? Ada apa?” lontar Hangga panik.


Harum menghambur memeluk Hangga dan menangis terisak di dada suaminya.


“Kak-Kak-Kak Nata,” ucap Harum terisak-isak di pelukan Hangga.


Hangga mengusap punggung Harum yang tertutup mukena. “Tenang, Hum. Tenang dulu.”


Hangga melepaskan pelukannya dari Harum kemudian naik ke tempat tidur untuk mengecek kondisi Nata.


“Nat,” panggilnya sembari memegang tangan Nata yang terasa dingin. Kemudian ia mengecek nadi di pergelangan tangan Nata.


“Nat.” Kali ini Hangga mengarahkan telunjuknya di bawah hidung Nata.


“Nat.” Menggoyang-goyang tubuh Nata, Hangga kembali memanggil nama Nata. Kali ini suaranya terdengar bergetar pilu.


“Mas, Kak Nata enggak kenapa-kenapa kan?” lontar Harum dengan wajah yang telah basah bersimbah air mata


“Saya telepon Mas Yuda aja.”


Dengan tangan gemetar, Harum menghubungi Yuda. Harum menceritakan perihal Nata yang tidak ada pergerakan atau reaksi. Tiga puluh menit kemudian, terdengar deru mobil Yuda berhenti di depan rumah.


Harum dan Hangga lekas menemui Yuda.


“Sejak kapan Mbak Nata enggak ada reaksi?” tanya Yuda begitu sampai di depan rumah dan bertemu Harum dan Hangga.


“Semalam kami masih mengobrol, Mas," sahut Harum.


Yuda masuk ke kamar lalu mengecek kondisi Nata. Harum dan Hangga berdiri di belakang Yuda.


“Gimana Kak Nata, Mas?” Harum bertanya cemas.


Yuda menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Harum. “Mbak Nata udah enggak ada. Mbak Nata sudah meninggal dunia.”


“Kak Nata. Huuu, huuu.” Harum menangis histeris. Meskipun sejak tadi, dugaannya adalah sama persis seperti yang baru saja diucapkan Yuda, tetap saja tangis Harum meledak.

__ADS_1


Harum hendak menghambur memeluk Nata, namun ditahan oleh Hangga.


“Jangan menangis di depan jasad Nata,” katanya sembari memeluk erat Harum.


Lalu tangis keduanya pecah. Menangis bersama dalam pelukan. Mengiringi kepergian teman, sahabat, istri, madu, Natalia Friska Wayong.


Baru saja kita berbagi cerita. Kau pergi tanpa sepatah kata. Damailah kau di sana. Tersenyum menyambut bahagia. Selamat tinggal. Selamat jalan ... Nata.


Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun.


.


.


.


.


Tamat


Alhamdulillah akhirnya tamat juga. ☺️☺️


Untuk sahabat aku semuanya. Terima kasih banyak atas supportnya selama ini. Mohon maaf jika author-authoran ini sangat banyak kekurangannya. Mohon dimaklumi ya.


Mohon maaf juga jika endingnya tidak sesuai harapan kalian, terutama pada pendukungnya Yuda. Aku tahu, pendukung Yuda ini lebih banyak ketimbang Hangga, tetapi hal itu tidak serta merta membuat aku mengubah ending cerita yang memang sudah aku konsep sedemikian rupa sebelum aku mulai menulis cerita ini.


Penulis yang baik tidak boleh terintervensi oleh komentar pembaca dan hal lainnya. Menulislah sesuai apa yang kita inginkan. Hal itu mutlak. Begitu nasihat para suhu.


Oya, ini adalah karya keempat aku. Dan ini karya pertama yang mengusung genre rumah tangga poligami. Yang belum baca karyaku yang lainnya, boleh dong dibaca. Ketiga karyaku yang lainnya sih insyaallah enggak bikin hati meradang karena ceritanya lebih ringan.


Akhir kata hanya doa yang bisa aku fedback untuk semua sahabat yang sudah membaca cerita ini. Semoga sahabat sekalian sehat selalu, murah rezekinya dan selalu diberikan kebahagiaan. Amin yang banyak.


Amin


Amin


Amin


Amin


Amin


Amin

__ADS_1


Amin


Amin


__ADS_2