
Harum tersenyum senang menatap Hangga yang tertidur dengan wajah kepuasan. Hasrat Hangga yang menggebu, namun tidak disertai kondisi tubuh yang mumpuni karena kelelahan, hanya menciptakan satu babak permainan cinta saja.
Meskipun begitu, Harum merasa senang luar biasa. Hangga berhasil melambungkannya menuju titik tertinggi puncak suka cita.
Puas memandangi Hangga, Harum beranjak keluar kamar hendak ke kamar mandi. Harum membiasakan untuk membersihkan area sensitif tubuhnya usai berhubungan, selanjutnya berwudu.
Langkahnya terhenti saat melewati kamar sang mertua. Terdengar ayah dan ibu mertuanya tengah berbincang. Yang menarik atensi Harum adalah, karena ia mendengar sang mertua menyebut namanya dalam perbincangan tersebut.
“Ibu senang Hangga sudah bisa menerima Harum.” Suara Bu Mirna terdengar oleh Harum. “Ibu merasa dikejar-kejar dosa sama Harum. Kalau Harum tahu apa yang terjadi dengan kedua orangtuanya, apa Harum mau memaafkan ibu,” tutur Bu Mirna selanjutnya.
Setelah berkata begitu, terdengar suara isakan yang Harum yakini adalah tangisan Bu Mirna.
Harum mengerutkan kening mendengar sang ibu mertua tidak hanya menyebut namanya, tetapi juga menyebut nama orangtuanya. Ia semakin melangkah mendekati pintu kamar tersebut dan menempelkan telinganya di daun pintu agar lebih jelas mendengar obrolan ayah dan ibu mertuanya.
“Jangan begitu, Bu. Kita sudah melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Harum sudah kita jaga dengan baik, menyekolahkannya dan sekarang menikahkannya dengan putra kita. Ibu tidak perlu merasa berdosa lagi. Lupakan semuanya, Bu. Ayah yakin kedua orangtua Harum juga sudah bahagia di sana. Dan ayah yakin mereka sudah memaafkan ibu.” Kini suara Pak Hendra yang terdengar oleh Harum.
“Tapi ibu sudah membunuh orangtua Harum, Yah. Hiks hiks hiks.” Selanjutnya tangisan Bu Mirna terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Harum tercengang mendengar kalimat yang diucapkan Bu Mirna.
Membunuh? Siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh? Apa maksud perkataan Bu Mirna? Rentetan pertanyaan di benak Harum.
“Jangan bilang begitu, Bu! Ibu tidak membunuh orangtua Harum. Semua yang terjadi adalah takdir.”
“Tapi ibu yang menabrak mereka.”
“Ibu tidak sengaja melakukannya. Itu adalah kecelakaan.”
“Ibu yang menabrak mereka. Ibu yang membuat orangtua Harum meninggal sehingga Harum menjadi yatim piatu.” Suara Bu Mirna terdengar bergetar bercampur tangis.
“Tidak, Bu. Itu semuanya adalah ketetapan Allah. Ibu jangan merasa bersalah terus menerus. Ibu harus ikhlas. Ayah yakin orangtua Harum sudah memaafkan ibu. Ibu harus lupakan trauma itu."
__ADS_1
"Tapi, apa Harum akan memaafkan ibu jika mengetahui semuanya?"
"Harum anak yang baik, Bu. Dia juga memiliki hati yang lembut. Ayah yakin Harum juga akan memaafkan ibu."
"Huaaaa ... ibu berdosa sama Harum, Yah. Huaaaa."
Harum berdiri tergugu. Kakinya gemetar mendengar informasi yang baru saja didengarnya. Sejak kecil ia sudah tahu bahwa orangtuanya meninggal karena tertabrak mobil saat berolahraga jalan kaki subuh. Tetapi, Harum tidak mengetahui siapa orang yang telah menabrak orangtuanya.
Harum sering bertanya pada neneknya tentang pelaku penabrakan yang menyebabkan mama dan papanya meninggal. Namun, hingga embusan napas terakhirnya, nenek Harum tidak pernah mengungkap jati diri pelaku penabrakan yang membuat Harum harus kehilangan mama, papa dan calon adiknya yang masih dalam kandungan sang mama.
Nenek selalu mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Gusti Allah. Dan Harum harus sabar dan ikhlas menerimanya. Tidak perlu menyalahkan siapa pun atas kematian orangtuanya.
Harum yang masih berdiri di depan kamar sang mertua, gegas beranjak saat terdengar derap langkah kaki dari dalam kamar. Khawatir kepergok menguping obrolan kedua mertuanya, Harum lekas pergi ke kamar mandi.
Di kamar mandi ia menumpahkan tangis. Tubuh dan kakinya terasa lemas. Informasi yang baru didengarnya benar-benar membuat Harum syok. Setelah puas menangis dan hatinya merasa sedikit lega, Harum membersihkan diri serta berwudu. Setelahnya ia kembali ke kamar.
Pelan dan perlahan, ia melangkah mendekati Hangga yang tengah terlelap. Ia duduk di tepi ranjang sembari menatap wajah tampan suami yang sangat dicintainya itu. Rentetan tanya hadir seketika di benak Harum.
Jika saja fakta kematian kedua orangtuanya diketahui Harum sejak dulu, apakah Harum akan mencintai Hangga seperti ini?
Jika saja fakta tersebut diketahui Harum dua bulan yang lalu, apakah Harum akan bertahan dalam kepedihan rumah tangganya, terlebih setelah kehadiran Nata?
Masih menatap Hangga, tangis Harum pecah juga. Ia berusaha untuk membantah perasaannya pada Hangga, tetapi nyatanya tidak bisa. Perasaannya pada Hangga tidak berubah, meskipun orangtua Hangga lah yang telah menabrak mama dan papanya.
Tiba-tiba Harum merasa rindu mama dan papanya.
Harum ikhlas menerima takdirnya. Ia tidak menyalahkan siapa pun yang telah membuat orangtuanya meninggal. Sebagai seorang yang beriman, ia meyakini bahwa semua yang terjadi adalah ketetapan-Nya. Kejadian seremeh atau sedahsyat apapun di dunia ini adalah karena kuasa-Nya. Hal tersebut juga yang selalu dipetuahkan neneknya sejak kecil.
Kemudian angan Harum beralih pada mertuanya. Bu Mirna dan Pak Hendra memang begitu baik terhadapnya. Bahkan terlalu baik menurut Harum. Ternyata kebaikan itu didasarkan atas rasa bersalah mereka.
Jika saja Bu Mirna bukan pelaku penabrakan orangtuanya, apakah kedua orangtua Hangga akan bersikap sebaik ini kepadanya? Apakah Bu Mirna akan tetap memintanya menjadi istri Hangga? Dan yang paling penting, apakah ia tetap dapat mendapatkan cinta Hangga? Mengingat saat ini, ia merasa Hangga mulai mencintainya.
__ADS_1
“Kok belum tidur?” tanya Hangga yang setengah terjaga. Suaranya terdengar serak.
Harum lekas mengusap jejak tangis di pipinya.
“Belum bisa tidur, Mas,” sahutnya diiringi seulas senyum.
“Kamu nangis, Rum?” tanya Hangga yang kini telah terjaga sepenuhnya. Ia melihat jejak tangis di wajah ayu istrinya.
Harum menggeleng tanpa suara.
“Maafkan Mas, Rum. Maaf kalau Mas salah.” Hangga mengira tangisan Harum adalah karena kesalahannya yang begitu menggunung kepada Harum.
“Enggak, Mas." Harum lekas menggeleng. "Saya hanya sedang kangen mama dan papa,” sambungnya dengan suara bergetar. Selanjutnya Harum tidak dapat menahan isak tangisnya. Air mata Harum kembali meluruh berderai.
Hangga yang masih dalam posisi tidur, lekas bangun kemudian merengkuh tubuh Harum ke dalam pelukannya.
“Kalau kamu kangen mama dan papa, kita doakan mereka ya,” ujar Hangga. Harum menganggukkan kepala dalam pelukan Hangga.
“Yang harus kamu ingat, kamu sekarang enggak sendiri. Sekarang udah ada Mas yang menyayangi kamu.” Hangga mengusap lembut punggung Harum. “Juga ada ayah dan ibu yang sejak dulu sangat menyayangi kamu. Ayah dan ibu itu sama saja orangtua kamu, Rum.”
Air mata Harum semakin berderai mendengar ucapan Hangga.
Merasakan tangis Harum semakin kencang, Hangga mengurai pelukannya.
“Kok makin nangis sih?” lontar Hangga sembari mengusap air mata Harum.
“Udah dong nangisnya, Rum. Kalau kamu nangis terus begini nanti mama papa kamu datang ke sini loh. Nanti Mas malu, belum siap ketemu mereka.”
“Mas Hangga jangan bercanda ih.” Harum mendorong pelan tubuh Hangga.
Hangga tertawa terkekeh kemudian mencubit mesra pipi Harum. “Cantik banget kamu tuh, Hum,” ucapnya.
__ADS_1
“Kok Hum sih?” lontar Harum dengan kening mengerut.
“Karena kamu ... Humairaku,” sahut Hangga kembali mencubit gemas pipi merah merona itu.