Satu Biduk Dua Cinta

Satu Biduk Dua Cinta
Bab 102


__ADS_3

Hangga membawa Nata ke rumah sakit spesialis kanker di Jakarta. Sempat mendapatkan rintangan karena prosedur administrasi rumah sakit yang begitu sulit ditembus, namun akhirnya Hangga bisa bernapas lega karena bantuan dokter Yuda. Berkat dokter tampan baik hati itu, Nata bisa cepat mendapatkan kamar di rumah sakit tersebut.


Pada mulanya Hangga merasa heran dengan kebaikan dokter Yuda. Ia sempat menduga bahwa dokter muda itu menyukai Nata. Sebab ia yakin, Nata adalah pasien kanker paling cantik di rumah sakit ini. Tetapi kemudian, dugaannya terbantahkan karena pengakuan dokter Yuda.


“Bu Nata ini pasien kanker pertama saya. Sekaligus pasien kanker pertama saya yang berhasil sembuh. Jadi, saya turut berbahagia dengan kesembuhan Bu Nata.” Begitu yang diucapkan dokter muda itu saat melepas kepulangan Nata yang dinyatakan sembuh kala itu.


Dokter Yuda juga dengan senang hati memberikan nomor ponsel ketika Hangga memintanya agar lebih memudahkan untuk berkonsultasi.


“Bu Nata kenapa bisa sakit lagi?” tanya Yuda saat mengunjungi Nata yang sudah masuk ke ruang perawatan.


Nata hanya tersenyum mendengar pertanyaan dokter termuda dari sederetan dokter yang pernah ia temui selama menjalani pengobatan kanker.


“Saya sudah menjaga istri saya sebaik mungkin, Dok. Saya juga sudah menerapkan pola hidup sehat pada istri saya. Tapi, istri saya kembali kena kanker.” Hangga yang menjawab pertanyaan Yuda.


Dua tahun ini, Hangga benar-benar menjaga Nata. Hari-harinya ia dedikasikan untuk Nata. Menerapkan pola hidup sehat dengan memastikan Nata mendapatkan asupan nutrisi dari sayur dan buah yang baik untuk penderita kanker. Hangga juga tidak pernah lagi melakukan aktivitas sek-sual pada istrinya itu. Terakhir kali pria tampan itu melakukan aktivitas sek-sual adalah saat liburan di Bali bersama Harum dua tahun yang lalu.


Harum.


Hangga selalu memikirkan Harum. Terkadang Hangga berpikir, apakah mungkin istri yang telah ditalaknya itu sudah menikah dengan pria lain? Tetapi, sesaat kemudian logikanya membantah hal tersebut. Bagaimana Harum bisa menikah, sedangkan jika dilihat dari sisi hukum, Harum masih berstatus istrinya sebab mereka belum mengurus perceraian di Pengadilan.


“Tidak apa-apa. Nanti kita akan berjuang lagi untuk memusnahkan kankernya. Yang penting Bu Nata harus semangat dan selalu berpikir positif serta hindari stres,” pesan Yuda.


“Itu yang sulit, Dok,” lirih Nata.


“Harus bisa dong, Bu. Bu Nata harus semangat. Coba lihat suami ibu. Bapaknya sudah memberikan seluruh waktunya untuk ibu. Jadi, jangan sia-siakan usaha Bapak. Bapaknya semangat, Ibu pun harus semangat.” Kemudian pandangan Yuda jatuh pada boneka Barbie dalam pangkuan Nata. “Bonekanya masih setia menemani ya, Bu?"


“Oh, ini. Ini namanya Harum,” sahut Nata diiringi seulas senyum.


“Wah namanya kok sama dengan nama anak saya.”


“Oya, anak Pak Dokter namanya Harum juga?” lontar Nata.


“Iya. Hari ini tepat usianya enam tahun.”


“Jadi, hari ini ulang tahun putri Dokter?” lontar Hangga.


“Ya, begitulah.”


“Kalau begitu, salam untuk putri Dokter yang namanya Harum itu. Selamat ulang tahun semoga selalu sehat dan bahagia. Semoga Harum jadi anak baik dan pintar seperti ayahnya," ucap Hangga yang diikuti ucapan selamat ulang tahun juga dari Nata.


“Amin, amin. Terima kasih doanya, Pak, Bu.”


“Putri Dokter yang namanya Harum itu pasti cantik. Seperti Harum kami yang juga cantik,” ujar Nata bertepatan dengan kedatangan seorang perawat memanggil Yuda.


“Baik, Pak, Bu. Saya permisi dulu. Ada pasien lain yang harus saya tangani,” pamit Yuda.


“Terima kasih banyak, Dok.”


“Sama-sama.”


*

__ADS_1


Hingga terang telah berganti gelap, siang berganti malam, Yuda belum juga pulang ke rumah.


Harum memandangi putri Yuda yang tengah asyik memainkan boneka Barbie pemberiannya.


“Harum suka banget ya, sama bonekanya?” tanya Harum yang tengah menemani putri Yuda bermain usai makan malam dan mengerjakan PR.


“Suka, soalnya ini hadiah ulang tahun aku yang pertama dari Papi,” sahut Harum ceria.


“Tapi, sekarang udah malam. Udah waktunya Harum tidur. Kita tidur yuk!” ajak Harum seraya membelai rambut putri Yuda.


“Aku mau tungguin Papi pulang.”


“Tidur aja yuk, ini sudah malam. Besok Harum bisa ketemu Papi. Kan besok tanggal merah, jadi Papi libur kerjanya,” bujuk Harum.


“Besok Papi enggak kerja?”


“Enggak.”


“Besok aku sekolah enggak?”


“Enggak.”


“Yeay. Besok libur.”


“Makanya sekarang anak cantik tidur ya.”


“Iya. Aku mau tidur sama boneka Cinderella syar’i ini.”


Harum membawa putri Yuda itu ke kamarnya. Setelah mengajak putri cantik itu melakukan ritual sebelum tidur, seperti pipis dan gosok gigi, baru Harum menidurkan putri Yuda itu.


“Mami, bacain cerita lagi dong.”


“Mami ngaji aja, gimana?”


“Iya deh, enggak papa.”


“Sebelum mengaji, anak cantik berdoa dulu ya. Doakan Papi, doakan Oma dan doakan Mami yang ada di surga. Terus habis itu baru deh baca doa tidur.”


Harum kecil yang sudah dalam posisi rebahan, menengadahkan tangan untuk berdoa.


“Amin,” ucap Harum kecil sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan usai berdoa.


“Mami jadi kepo nih, Harum doa apa,” celetuk Harum sebab putri Yuda itu berdoa tanpa suara.


“Mami pengen tahu ya aku berdoa apa?”


“Memangnya Mami boleh tahu?”


“Boleh. Aku tuh tadi berdoa untuk semuanya. Terus, aku juga doakan Papi supaya Papi bisa menikah.”


Harum tertawa kecil. “Memangnya Harum tahu menikah itu apa?”

__ADS_1


“Menikah itu nanti Papi punya teman, enggak sendirian terus.”


Harum tersenyum lebar. “Iya deh, anak pintar. Mami juga akan doakan Papi Harum agar cepat menikah.”


“Terima kasih, Mami.”


“Sama-sama. Sekarang Harum tidur ya. Besok bangun pagi, Harum bisa ketemu Papi deh.” Harum kecil mengangguk patuh.


Harum mulai melantunkan Surah Juz Amma mulai dari Surah An-Nas sembari mengusap-usap punggung putri cantik itu.


“Shodaqollohuladzim.” Harum mengakhiri bacaan Surah setelah melihat putri kecil Yuda itu telah terlelap.


Pelan dan perlahan, Harum beringsut turun dari tempat tidur. Saat membuka pintu kamar hendak keluar, ia dikejutkan dengan keberadaan Yuda yang telah berdiri di depan pintu.


“Harum sudah tidur ya?” tanya Yuda setelah beberapa jenak keduanya mematung karena rasa canggung.


“Sudah, Mas. Alhamdulillah.”


Yuda mangut-mangut. “Makasih ya,” ucapnya.


“Sama-sama, Mas. Saya permisi dulu.”


“Ya, silakan.” Yuda minggir dua langkah untuk memberi jalan kepada Harum.


Harum menundukkan kepala melewati Yuda.


“Rum,” panggil Yuda saat Harum baru berjalan beberapa langkah.


“Ya.” Harum menghentikan langkah dan berbalik badan, menghadap Yuda.


“Besok saya libur. Saya mau ajak Harum jalan-jalan,” kata Yuda.


Harum mengangguk. “Ide bagus, Mas. Harum pasti senang. Hitung-hitung untuk mengobati rasa kecewa Harum hari ini.”


“Saya juga mau ngajak kamu. Kamu ikut ya.”


“Saya?”


“Iya. Bisa kan?”


“Insyaallah, Mas," sahut Harum setelah terdiam beberapa jenak.


“Saya enggak mau insyaallah. Pokoknya kamu harus ikut. Saya ada keperluan sama kamu.”


“Keper-luan?” lontar Harum dengan kening mengerut.


“Ada yang mau saya bicarakan sama kamu. Penting."


“Baik, Mas. Saya permisi dulu.” Harum berlalu meninggalkan Yuda dengan sejuta pertanyaan menyesaki batinnya.


Mas Yuda ada keperluan apa ya? Kelihatannya penting banget.

__ADS_1


__ADS_2