
Sebelum lanjut, aku mau sedikit bercerita ya. Sejujurnya aku gemetar menceritakan Nata kena kanker serviks ini. Apalagi aku nulisnya malam-malam. Jadinya gemetar plus merinding.
Setahun setengah yang lalu, tetehku meninggal dunia karena kanker serviks. Tepatnya bulan Juni 2021. Almarhumah ini teteh ipar (istri dari kakak kandung aku yang laki-laki). Tapi justru aku lebih dekat dengan teteh ipar dibandingkan suaminya yang adalah kakak kandung aku. Makanya aku sangat-sangat kehilangan.
Sebelumnya Teteh tidak pernah mengeluh sakit. Awalnya paha sebelah kanan sampai lutut itu bengkak, dan kami mengira itu asam urat. Kemudian selanjutnya yang dikeluhkan nyeri di pinggul. Kalau lagi nyeri, sakitnya luar biasa, duduk enggak bisa, tidur pun enggak bisa. Setiap malam enggak bisa tidur karena terus-terusan nangis, enggak tahan sama rasa sakitnya. Teteh tidurnya sambil berdiri di pelukan suami. Itu pun hanya sekejap dua kejap saja.
Karena tidak sanggup menahan sakit, akhirnya dibawa ke rumah sakit. Awal masuk rumah sakit, hanya beberapa jam langsung pulang. Bila diinfus, rasa sakitnya langsung hilang, makanya langsung minta pulang. Tapi, kalau udah sampai rumah, sakitnya kumat lagi. Selama dua bulan itu teteh keluar masuk rumah sakit.
Awalnya dokter mendiagnosa Teteh itu ada saraf kejepit, sebab yang dikeluhkan itu pinggul dan tulang belakang yang membuat duduk dan tidur (rebahan) pun enggak bisa. Ditambah Teteh bercerita kepada dokter bahwa pernah jatuh dari pohon mangga sepuluh tahun yang lalu. Tetapi anehnya, hasil rontgen tidak ada menunjukkan adanya saraf kejepit.
Sampai akhirnya, entah ke berapa kalinya masuk rumah sakit, dokter melakukan USG. Barulah saat itu diketahui ada tumor di rahim. Dan setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, dokter menyatakan Teteh menderita kanker serviks stadium 3. Kankernya sudah menyebar ke mana-mana, termasuk ke pinggul dan saluran kemih. Kemudian dokter memberi rujukan untuk dirawat di RSCM. Karena di rumah sakit daerah, tidak ada penanganan untuk pasien kanker.
Untungnya atasan di tempat kakakku (suami Teteh) bekerja memberikan dispensasi kelonggaran waktu bekerja agar kakakku bisa fokus menemani pengobatan istrinya. Saat Teteh masuk RSCM, waktu itu virus covid lagi marak-maraknya.
Seminggu di RSCM, kakak masih bisa menunggui Teteh. Di minggu kedua, Kakak udah enggak boleh nungguin karena dokter menyatakan Teteh terpapar covid. Dan beberapa hari kemudian, dokter mengabarkan kabar duka bahwa Teteh meninggal dunia.
Teteh yang baru dua minggu dirawat di RSCM dan tengah berjuang melawan kanker malah dinyatakan meninggal karena virus covid. Mungkin memang ini yang terbaik untuk almarhumah agar tidak berlama-lama merasakan sakit. Jadi, kalau dihitung, Teteh merasakan sakit sekitar tiga bulan saja.
Aku kalau udah inget almarhumah Teteh, merebes mili air mataku.
Allahummagfirlaha warhamha wa afiha wa’fu anha.
Udah segitu aja ceritanya. (Mak othor nih, di depan katanya mau sedikit bercerita, ternyata panjang juga. Ini sih satu bab ceritanya 🙄)
Akhir kata, semoga kita semua, para kaum perempuan dijauhkan dari yang namanya kanker serviks yang katanya adalah pembunuh perempuan nomor satu di Indonesia.
Oke lah mari kita lanjutkan cerita tiga eh sekarang empat anak manusia, yakni Harum, Hangga , Nata dan Yuda.
Meskipun idenya enggak lancar, berusaha untuk tetap lanjut. Karena aku tipe penulis yang enggak suka menggantung cerita.
Ntunizen : Iya, iya. Udah sekarang lanjut aja ya Teh Yeni yang cantik.
Othor : Makasih emak-emak Entunizen (padahal muji dewek wkwkwk).
Aku tuh berasa dikejar dosa kalau udah nulis, tetapi enggak ditamatkan. Meskipun enggak lancar up nya tak apalah ya, mohon maklum. Namanya juga emak-emak anak satu, suami dua. Ups kebalik, suami satu, anak dua. Wkwkwk
Ntunizen: Setoooooop ngocehnya!
Othor : Eh iya, maaf, sorry, hampura.
*
Dua tahun kemudian.
“Mamiiiii!” Anak perempuan yang mengenakan kerudung warna hijau senada dengan seragam sekolahnya itu berlari menghambur memeluk perempuan cantik berjilbab lebar yang tengah menunggunya di teras sekolah Taman Kanak-Kanak Islam.
Anak perempuan yang adalah Harum kecil itu meraih tangan perempuan berjilbab untuk salim.
“Gimana tadi sekolahnya, Sayang? Senang?” tanya perempuan berjilbab biru langit dan mengenakan gamis warna biru tua yang adalah Harum, mantan istri Hangga.
__ADS_1
“Senaaaang,” jawab Harum kecil ceria.
“Ada yang nakal enggak tadi?”
“Enggak ada. Kalau ada yang nakal juga aku gak akan nangis, kan aku udah mau masuk SD.”
“Pintar nih, anaknya Papi. Cium dulu ah. Mmmuach.” Harum mencium gemas pipi gadis kecil cantik berbulu mata lentik itu. “Kok mami enggak dicium? Cium mami juga dong.”
“Mmmuach. Harum sayang Mami,” ucap Harum kecil diakhiri senyum lebar.
“Mami sayang Harum cantik,” balas Harum mengusak puncak kepala Harum kecil yang berkerudung.
“Ayo kita pulang!” Harum menggandeng tangan Harum kecil.
“Kok pulang, Mi? Kita kan mau makan siang sama Papi?”
“Kita pulang dulu, Harum Sayang. Nanti Papi akan jemput kita dan Oma di rumah.”
“Kalau Papi bohong lagi gimana, Mi?”
“Insyaallah Papi enggak akan bohong lagi.”
Kedua perempuan bernama Harum itu mengayun langkah menuju area parkir mobil para wali murid. Mobil Toyota Agya warna putih yang menjadi tujuan langkah mereka.
Harum membukakan pintu penumpang depan untuk Harum kecil. Setelah memastikan gadis kecil itu duduk manis dan menutup pintu mobilnya, baru ia masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi.
“Baca doa dulu dong,” ujar Harum seraya menyalakan mesin mobil.
Kemudian keduanya menengadahkan tangan dan berdoa bersama-sama. “Bismillahirrahmanirrahim. Subhaanalladzii sakkhara lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun. Artinya, Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini. Padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali.”
Selesai berdoa, Harum melajukan mobil, merayap di kepadatan jalan raya kota Jakarta. Begitulah Harum kini. Ia telah mahir mengendarai kendaraan empat roda.
Setelah keluar dari rumah sakit pasca keguguran dua tahun yang lalu, Harum berpikir untuk tetap tinggal di Kota Lampung dan mencari kerja di Pulau Seberang tersebut. Ia ingin menjalani kehidupan yang baru dan meninggalkan semua drama kehidupannya di tempat yang jauh dan tidak terjangkau oleh Hangga, Nata ataupun mantan mertuanya.
Saat itulah Yuda menawarkan pekerjaan untuknya. Mulanya Yuda ragu untuk menawarkan pekerjaan tersebut karena khawatir membuat Harum tersinggung. Di luar dugaan, Harum malah menerimanya dengan senang hati.
“Begini, Harum. Saya ini bekerja di Jakarta, sedangkan ibu dan putri saya tinggal di Lampung dan selalu menolak untuk diajak tinggal di Jakarta. Saya butuh seseorang untuk menemani ibu dan putri saya di sini. Harum tahun ini akan masuk TK dan saya butuh seseorang yang bisa mengantar-jemput Harum ke sekolah. Pengasuh Harum yang dulu sudah resign karena akan menikah, sedangkan asisten rumah tangga yang biasa membantu pekerjaan ibu di rumah, enggak bisa kalau harus mengurusi Harum juga. Saya benar-benar butuh pengasuh untuk putri saya. Saya ingin ....”
“Saya mau, Pak,” jawab Harum cepat kala itu.
“Maaf, Harum. Tapi pekerjaan ini tidak sesuai dengan ijazah kamu. Oya, maaf. Saat kamu pingsan, saya sempat menggeledah tas kamu untuk mencari nomor atau apa pun itu tentang keluarga kamu. Dan saya menemukan ijazah kamu.”
“Enggak apa-apa, Pak. Saya mau. Pendidikan saya juga enggak tinggi.”
Harum menjadi pengasuh putri Yuda. Ia menemani Harum kecil belajar, bermain, serta antar jemput sekolah. Di sela pekerjaannya, ia juga menerima pesanan donat, bolu, dan kue lainnya. Banyak teman Bu Yusma yang sudah menjadi langganannya.
Dalam perjalanannya, hubungan Harum dan putri Yuda itu malah layaknya ibu dan anak.
Suatu hari, Harum menemukan putri Yuda itu menangis. “Harum cantik, kenapa nangis?” tanya Harum kala itu.
__ADS_1
“Aku sedih. Teman-teman aku semuanya punya mama, punya bunda, punya ibu, punya mommy, tapi Harum enggak. Huuu, huuu.”
“Harum kan punya Mami, tapi Mami Harum udah ada di surga,” jawab Harum kala itu.
“Aku ingin seperti teman-teman yang punya mami di dunia. Kakak cantik, boleh enggak kalau aku panggil mami aja?”
Harum yang tidak kuasa menahan haru, mengangguk setuju. Dan mulai saat itu, putri Yuda itu memanggilnya dengan sebutan ‘Mami’.
Yuda juga mengajari Harum mengendarai mobil untuk mempermudah Harum mengantar jemput putrinya. Awalnya Harum menolak keinginan Yuda tersebut.
“Pak, bagaimana kalau motor saja. Insyaallah saya bisa bawa motor,” tawar Harum saat Yuda memaksanya belajar menyetir mobil.
“Ini Lampung, Harum. Kalau bawa motor di sini lebih berbahaya,” kilah Yuda.
“Kok gitu, Pak?”
“Kamu tahu enggak apa yang terkenal dari Lampung?” tanya Yuda.
Harum mengerutkan kening beberapa saat untuk mencari jawabannya. “Yang terkenal dari Lampung itu ... Andika Kangen Band,” jawabnya.
Yuda menahan senyum. “Yang terkenal dari Lampung itu ada dua. Pertama Kangen Band. Yang kedua begal,” sahutnya. (Maaf ya warga Lampung, ini celetukan dari orang asli Lampung sendiri. 🙏🙏)
“Begal, Pak?”
“Hem. Makanya kamu bawa mobil aja untuk antar jemput Harum. Dan saya akan ajari kamu menyetir sekaligus mendaftarkan kamu ke tempat kursus setir mobil."
“Baik, Pak.”
“Oya, satu lagi. Jangan panggil saya Bapak karena saya belum bapak-bapak,” protes Yuda. “Eng, maksud saya, saya memang bapak-bapak, tapi saya belum tua. Umur saya baru tiga lima.”
“Oh. Memang lebih muda dari perkiraan saya sebelumnya,” sahut Harum.
“Memangnya kamu nebak umur saya berapa?”
“34 tahun 11 bulan,” kata Harum tanpa dosa yang sontak membuat Yuda kesal diiringi tawa.
Itu adalah percakapan Harum dan Yuda dua tahun yang lalu. Percakapan yang membuat hubungan keduanya yang semula kaku menjadi lebih cair dan santai.
Setelah satu tahun tinggal di Lampung, Yuda meminta bantuan Harum untuk membujuk ibu dan putrinya agar mau pindah tinggal di Jakarta. Bu Yusma dan Harum kecil yang selalu menolak ajakan Yuda, malah langsung setuju saat Harum yang membujuk.
*
Seorang pria yang mengenakan kemeja abu-abu dengan lengan digulung sampai siku, mengayun langkah melewati barisan batu nisan.
Pria berkulit putih tersebut berjongkok saat telah sampai di sepetak tanah ukuran 1,5 x 2,5 meter yang ditumbuhi rumput Jepang segar. Meletakkan sebuket bunga di atas tanah kuburan bertuliskan nama seorang perempuan, pria itu mulai melantunkan doa dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Potong sampai sini aja ah biar penasaran. Pria itu siapa? Apakah Hangga?