
Pria berkulit putih tersebut berjongkok saat telah sampai di sepetak tanah ukuran 1,5 x 2,5 meter yang ditumbuhi rumput Jepang segar. Meletakkan sebuket bunga di atas tanah kuburan bertuliskan nama seorang perempuan, pria itu melantunkan doa dalam hati.
Selesai berdoa, pria yang tidak lain adalah Yuda memandangi papan nisan bertuliskan nama ‘Ranum’ dengan hati bergetar. Hati Yuda selalu bergetar setiap kali mengunjungi makam almarhumah istrinya, meskipun kini getaran itu tidak sedahsyat dulu. Mungkin sang waktu yang telah menenangkan hatinya, ataukah karena kehadiran sosok perempuan yang diam-diam kini telah mencuri sebelah hatinya. Yuda pun tidak tahu pasti.
Sebelah hati saja, sebab Yuda masih belum benar-benar merelakan kepergian Ranum--istri yang sangat dicintainya. Bagi Yuda, Ranum adalah sosok wanita sempurna dan belum ada seorang pun wanita yang dapat menyaingi pesona Ranum di matanya.
Jika saja manusia boleh menggugat takdir, ia mungkin orang pertama yang akan menggugat takdirnya. Kami saling mencintai, lalu kenapa harus dipisah secepat ini? Mengapa bukan pasangan bobrok saja yang Kau pisahkan? Suami yang tukang selingkuh, istri yang tukang selingkuh. Begitu mungkin protes yang akan dilayangkan Yuda.
Yuda adalah seorang dokter kandungan subspesialis onkologi ginekologi, yaitu ilmu kedokteran yang mengkhususkan diri dalam mengobati kanker yang menyerang wanita, seperti kanker ovarium, kanker serviks, rahim, ****** dan vulva.
Sejak kecil Yuda adalah sosok anak yang pintar secara akademik. Ia selalu menjadi murid berprestasi dalam setiap jenjang sekolahnya. Karena kemampuan Yuda dalam belajar serta menonjol dalam prestasi akademik, kedua orangtua Yuda mendorongnya untuk masuk fakultas kedokteran selepas tamat SMA. Padahal sejak kecil cita-cita Yuda adalah menjadi tentara. Kalau ditanya mengapa ingin menjadi tentara, Yuda kecil akan menjawab, "biar nantinya bisa jadi presiden."
Yuda menamatkan SMA-nya di usia 17 tahun. Pada usia 28 tahun, ia telah mendapatkan gelar dokter spesialis obgyn atau dokter spesialis kandungan.
Di usia 25 tahun, Yuda menikahi pujaan hatinya yang bernama Ranum—perempuan cantik yang juga berprofesi sebagai dokter. Ranum adalah teman Yuda saat kuliah dulu, namun beda fakultas. Yuda kuliah di fakultas kedokteran umum, sedangkan Ranum kuliah di fakultas kedokteran gigi.
Yuda sangat mencintai Ranum. Dan mereka menjalani pernikahan yang bahagia. Kabar kehamilan Ranum di tahun kelima pernikahan, membuat pasangan itu semakin berbahagia. Namun sayang, kebahagiaan mereka terenggut oleh takdir. Ranum meninggal dunia beberapa jam setelah melahirkan putri pertamanya yang diberi nama Harum.
Kematian istri tercinta membuat Yuda terpuruk. Ironisnya, ia yang adalah seorang dokter spesialis obgyn justru tidak dapat menyelamatkan nyawa sang istri yang sejak awal kehamilan mengalami pre-eklampsia berat.
Yuda terpuruk dalam kubang penyesalan. Ia yang sedari awal mengetahui bahwa Ranum memiliki riwayat hipertensi dan akan menjalani kehamilan dengan risiko tinggi, seharusnya tidak membiarkan istri tercintanya itu hamil. Begitu yang disesalkan Yuda.
Beberapa bulan setelah istrinya tiada, ayah Yuda juga meninggal dunia. Air mata sang ibu lah yang mengembalikan Yuda dalam kehidupannya.
__ADS_1
“Ibu dan Harum hanya punya kamu, Yuda. Kalau kamu terus-terusan terpuruk begini, bagaimana nasib ibu dan Harum? Semua yang terjadi adalah takdir. Dan kita tidak boleh menyesali takdir. Banyak orang yang membutuhkanmu, Yuda. Bahagia itu bukan hanya soal materi dan cinta. Bergunalah untuk banyak orang, dan kamu pasti akan merasakan bahagia.” Kalimat yang diucapkan Bu Yusma begitu meresap hingga ke jiwa Yuda.
Yuda mulai bangkit dari keterpurukannya. Ia yang masih trauma berhadapan dengan proses persalinan, memutuskan untuk melanjutkan pendidikan subspesialis onkologi ginekologi. Yuda juga aktif dalam kegiatan edukasi pencegahan kanker serviks. Dan sudah dua tahun ini, ia bekerja di rumah sakit spesialis kanker.
Hari ini adalah tepat keenam tahun kepergian Ranum, yang berarti hari ini juga adalah hari ulang tahun Harum—putrinya. Yuda selalu begini setiap tahunnya. Alih-alih merayakan ulang tahun putri semata wayangnya, ia lebih suka mengunjungi makam sang istri. Merayakan ulang tahun Harum, berarti merayakan kematian Ranum. Begitu pikir Yuda.
Yuda yang masih dalam posisi berjongkok menyentuh keramik makam bertuliskan nama ‘Ranum’.
“Honey, maaf kalau aku belakangan jarang berkunjung ke sini. Banyak pasien yang harus aku tangani.”
“Honey, kamu tahu bahwa setiap tanggal dan bulan seperti hari ini, Harum anak kita pasti akan ngambek. Dia akan marah karena papinya tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun, tidak pernah merayakan, apalagi memberikannya hadiah.”
“Beruntung sekarang ada Harum. Harum yang sering aku ceritakan itu loh. Harum adalah penawar ngambeknya si Harum. Ah, lucu bukan? Nama mereka aja sama. Makanya mereka lengket banget kayak anak dan maminya.”
Yuda terdiam sejenak. Bayangan sosok Harum yang begitu sabarnya menghadapi putrinya yang tantrum melintas di angan. Kemudian percakapan antara dirinya dan Bu Yusma yang sering dibahas satu tahun terakhir ini terngiang di telinganya.
“Kan ada Harum yang mengurusi Harum, Bu. Harum sangat cocok sama Harum. Dia enggak perlu ibu sambung.”
“Sampai kapan, Yuda? Sampai kapan Harum akan terus mengurusi anakmu? Seperti pengasuh-pengasuh sebelumnya, Harum pun suatu hari akan pergi. Kamu enggak pernah berpikir kalau suatu hari Harum ketemu jodohnya lalu pergi dari kita dan tidak bisa lagi mengurusi Harum anakmu.”
Yuda tercenung mendengar penuturan Bu Yusma kala itu. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal tersebut.
“Yuda, ibu kira yang dibutuhkan kamu adalah perempuan yang bisa menyayangi anakmu setulus hati. Yang mau menyayangi dan mengurusi layaknya seorang ibu kepada anaknya. Ibu lihat, Harum begitu menyayangi anakmu. Dia juga tipikal perempuan sederhana yang lembut dan keibuan. Ibu rasa, Harum cocok untuk menjadi ibu sambung Harum.”
__ADS_1
“Tapi, Harum terlalu muda untuk jadi pendamping Yuda, Bu.”
“Biar usianya masih muda, tapi dia dewasa dan begitu keibuan. Tapi itu sih terserah kamu. Yang pasti kamu harus siap bila suatu hari Harum minta berhenti jadi pengasuh anakmu.”
“Jangan bicara begitu, Bu. Yuda enggak siap kalau Harum pergi dan tidak lagi mengurusi Harum.”
“Kalau begitu, nikahi Harum, Yuda! Biarkan dia menjadi ibu sambung anakmu.”
Sejujurnya Yuda pun telah memiliki ketertarikan pada Harum. Meskipun ia belum memahami apakah ketertarikan yang dirasakannya pada Harum itu sama dengan naksir, suka, cinta, atau apalah namanya. Dan lagi, Yuda tidak yakin, Harum memiliki perasaan istimewa kepadanya. Ia merasa terlalu tua untuk perempuan cantik berjilbab yang baru berusia 23 tahun itu.
Suara notifikasi ponsel membuyarkan lamunan Yuda soal Harum. Yuda berdiri dan mengambil ponsel dari saku bajunya. Sebuah pesan masuk dari kontak bertuliskan ‘Harum oh Harum’. Begitu Yuda menuliskan nama Harum di daftar kontaknya. Yuda telah mendengar kisah hidup Harum yang begitu memilukan dari ibundanya, sehingga ia menuliskan begitu di daftar kontaknya.
[Assalamualaikum, Mas Yuda maaf ganggu]
[Maaf, Mas. Saya mau mengingatkan, Mas sudah berjanji mau mengajak Harum ke restoran burger]
[Ini Harumnya udah nanyain papinya terus 🙏🙏]
Pesan dari Harum langsung dibalas oleh Yuda.
[Oke, siap]
[Setengah jam lagi saya jemput]
__ADS_1
Usai membalas pesan, Yuda kembali berjongkok di bawah pusara almarhumah istrinya.
“Honey, itu tadi pesan dari Harum. Dia memang begitu perhatian dan sayang sama anak kita.” Yuda menjeda ucapannya sejenak. “Honey, apa boleh kalau aku menikahi Harum?”