
Kondisi psikologis pasien sangat berdampak pada pengobatan suatu penyakit dan proses penyembuhannya. Seperti itu pula yang terjadi pada Nata. Kondisi Nata semakin membaik pasca perjumpaannya dengan Harum, meskipun sel kanker masih bersarang di tubuhnya. Setelah bertemu Harum, Nata belum pernah mengalami penurunan hemaglobin yang membuat kondisi tubuhnya ngedrop lagi.
Berbaring di tempat tidur, Nata mengenakan bergo yang menutupi kepalanya sampai perut, serta selimut yang menutupi perutnya hingga ujung kaki. Bibir Nata bergerak mengikuti setiap bacaan salat yang dilantunkan Harum.
“Assalamualaikum warahmatullah.” Nata menolehkan ke kanan.
“Assalamualaikum warahmatullah.” Nata menoleh ke kiri, lalu diakhiri dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Usai salat, Harum lanjut membaca bacaan setelah salat dan Nata ikut merapalkan setiap kalimat yang diucapkan Harum.
“Astaghfirullah hal’adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih.” Di mulai dari membaca istighfar, Nata mengikuti setiap kalimat yang diucapkan Harum. Dilanjutkan membaca tahlil dan bacaan zikir lainnya dan ditutup dengan doa-doa.
“Alhamdulilah,” ucap Harum usai menuntun Nata salat sampai akhir.
“Makasih, Rum,” kata Nata sembari tersenyum menatap Harum.
“Sama-sama, Kak.” Harum balas tersenyum. Kemudian tangannya bergerak hendak membuka bergo yang menutupi kepala Nata, namun ditahan oleh Nata.
“Enggak usah dibuka, Rum. Biar begini aja.”
“Kak Nata mau pakai jilbab begini?” lontar Harum yang dijawab anggukan oleh Nata.
“Nanti besok, insyaallah saya bawakan jilbab untuk Kak Nata. Mau?” Nata lekas mengangguk menjawab tawaran Harum.
“Kalau pas saya enggak ada, Kak Nata solat juga ya ditemani Mas Hangga,” pesan Harum.
Setiap hari Harum berusaha mengunjungi Nata. Kadang pagi setelah mengantar Harum kecil ke sekolah, terkadang sebelum Zuhur sembari membawakan makan siang untuk Hangga, kadang juga petang hingga malam seperti saat ini. Nata minta diajarkan salat, namun kondisi Nata yang tengah sakit tidak memungkinkan untuk menghafal bacaan salat sehingga Nata salat dengan cara dibimbing oleh Harum.
“Insyaallah,” jawab Nata lirih.
Harum dan Nata tengah berbincang akrab saat terdengar suara tirai dibuka, lalu muncul sosok Hangga. Suami Nata sekaligus mantan suami Harum itu menenteng sebuah rantang kosong dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
“Makasih ya, Rum. Nasi gorengnya sudah mas habiskan,” ujarnya sembari melirik Harum.
“Sama-sama, Mas,” jawab Harum tanpa melirik apalagi menatap Hangga. Ia takut tidak dapat mengendalikan hati. Sebab dari ruang hati terdalam, desiran cinta itu masih sangat terasa. Apalagi kini, harus Harum akui bahwa Hangga semakin tampan dengan penampilan berewok tipisnya.
Akan tetapi, Harum telah bertekad akan berjuang keras memusnahkan perasaannya pada Hangga. Maka dari itu ia begitu yakin menerima lamaran Yuda dan tidak pernah terbesit sedikit pun dari pikirannya untuk membatalkan keputusannya tersebut.
“Kalau kamu repot, enggak usah bawakan mas makanan lagi, Rum. Mas jadi merasa enggak enak, khawatir merepotkan kamu,” ucap Hangga lagi.
“Sama sekali enggak merepotkan kok, Mas,” sahut Harum melirik Hangga sekilas.
Dari obrolannya bersama Nata, Harum mengetahui status Hangga kini yang tidak bekerja, sehingga ia berinisiatif membawakan makanan untuk Hangga setiap hari untuk meringankan beban Hangga.
“Enggak apa-apa sih, memangnya kamu enggak kangen sama masakannya Harum,” timpal Nata.
Kangen lah. Sama masakannya kangen, sama orangnya juga kangen. Hangga membatin seraya mengambil posisi duduk di kursi di sisi kiri tempat tidur Nata, sedangkan Harum duduk di kursi di sisi kanan tempat tidur Nata. Dari tempatnya duduk, Hangga bisa melihat dengan jelas wajah ayu Harum yang sangat dirindukannya. Sayangnya, mantan istri yang masih sangat dicintainya itu sama sekali tidak mau meliriknya apalagi menatapnya.
“Hangga, ambilkan Harum aku dong,” pinta Nata. Kening Harum mengernyit bingung mendengar ucapan Nata.
Raut wajah Harum berubah tegang saat melihat boneka Barbie milik Hangga itu. Ia merasa khawatir dengan reaksi Nata jika tahu bahwa boneka tersebut adalah kenang-kenangannya saat liburan di Bali bersama Hangga.
“Aku selalu peluk boneka ini saat aku kangen sama kamu, Rum,” kata Nata sembari memeluk boneka. “Aku yang minta boneka ini dari Hangga. Soalnya boneka ini mirip banget sama kamu,” sambungnya.
Perkataan Nata di luar perkiraan Harum. Harum melirik pada Hangga lalu menatapnya dengan penuh pertanyaan. Hangga yang seolah mengetahui pertanyaan di benak Harum, menjawab dengan menguntai senyum.
Melihat Hangga tersenyum, Harum lekas memalingkan tatapannya dari Hangga. Ia tidak mau terbuai oleh senyuman Hangga yang selalu mempesona itu.
Nata mengambil gelang Tridatu khas Bali yang terlilit di leher boneka Barbie, lalu menyodorkannya pada Harum. “Dipakai, Rum. Aku sama Hangga juga udah pakai gelang ini.”
Harum kembali dibuat terkejut dengan ucapan Nata. Saat awal perjumpaan mereka, Harum memang telah melihat gelang tersebut kompak melingkar di tangan Hangga dan Nata, tetapi Harum tidak tahu perihal apakah Nata mengetahui tentang gelang kenang-kenangan dari Bali itu.
“Sini tangan kamu, aku pakein gelangnya,” kata Nata. Harum menurut saja, ia mengulurkan tangan lalu Nata memakaikan gelang tersebut di tangan Harum.
__ADS_1
“Kalau begini kita bertiga jadi kompak,” ujar Nata usai memasangkan gelang di tangan Harum.
“Hangga sini tangan kamu.” Hangga menurut, ia mengulurkan tangannya kepada Nata.
Tangan kiri Nata menggenggam tangan Hangga, sementara tangan kanannya menggenggam tangan Harum. Kedua tangan Nata bergerak menyatukan tangan Hangga dan Harum hingga pasangan mantan suami istri itu saling bersentuhan tangan.
Harum refleks menarik tangannya saat tangan Hangga menyentuh tangannya. Gerakan Harum yang tiba-tiba, sontak membuat Hangga dan Nata kompak menatap Harum.
‘Kenapa, Rum?’ Nata ingin bertanya seperti itu, tetapi urung karena kehadiran dokter Yuda.
“Bagaimana kabar Bu Nata?” tanya Yuda yang telah berdiri di samping Harum.
“Alhamdulillah lebih baik, Dok,” sahut Nata menguntai senyum.
“Syukurlah. Saya ikut senang dengarnya.”
“Ini berkat kehadiran Harum. Kami sudah lama mencari Harum. Saya bersyukur akhirnya bisa bertemu dengan Harum di hari-hari sisa hidup saya.”
“Oya?” sahut Yuda yang belum mengetahui ada hubungan apa antara Harum, Nata dan Hangga.
Yuda enggan bertanya saat perjumpaan Harum dengan Nata waktu itu. Ia menunggu Harum yang akan bercerita dan menjelaskan semuanya. Akan tetapi, hingga detik ini Harum belum juga bercerita. Yuda tidak tahu saja bahwa sesungguhnya Harum justru menunggu Yuda menanyakannya.
“Kalau saja dari dulu Bu Nata dan Pak Hangga cerita sama saya. Padahal Harum ini tinggalnya sama saya loh.”
Harum memang tidak banyak bercerita tentang kehidupannya pasca kepergiannya dua tahun lalu. Saat Nata bertanya di mana Harum tinggal sekarang, Harum menjawab bahwa dirinya tinggal di rumah kerabat.
“Harum tinggal sama dokter Yuda?” lontar Nata dan Hangga dengan raut terkejut. Bedanya, jika Nata melontarkan pertanyaan itu secara langsung, sedangkan Hangga hanya bergumam dalam hati.
“Iya. Dan Harum ini adalah calon istri saya,” terang Yuda yang seketika membuat Nata dan Hangga syok.
Terutama Hangga, penjelasan Yuda bagai ribuan petasan yang meledak serentak di dekatnya. Sangat mengagetkan dan membakar hatinya.
__ADS_1