
Pernyataan Nata sungguh membuat Arya terkejut. Bagaimana bisa Nata berpikir menjodohkan dirinya dengan Harum. Sementara yang ia tahu Harum sudah bersuami.
Yang ia belum tahu adalah siapa sosok suami Harum.
Seingat Arya, ini adalah kali kedua Nata mengatakan ingin menjodohkannya dengan Harum.
Setelah pertemuan tidak sengaja di sebuah resto lokal mal bersama Nata dan Hangga yang saat itu juga membawa Harum, Nata mengiriminya pesan. Arya masih ingat pesan itu, bahkan riwayat chatnya belum terhapus.
[Mau enggak gue comblangin sama Harum]
Arya yang memang menyukai Harum sejak pandangan pertama, langsung semringah menanggapinya. Namun, beberapa hari kemudian Arya mendapatkan informasi dari Nina bahwa Harum sudah menikah.
Arya lumayan kecewa. Ia merasa kena prank Nata. Jika saja yang nge-prank itu bukan Nata—teman kuliahnya yang cantik dan baik hati, pasti sudah didamprat habis-habisan olehnya.
“Harum itu bukannya udah bersuami, Nat?” Pertanyaan yang dilontarkan Arya berbarengan dengan datangnya pelayan mengantarkan pesanan.
Pelayan laki-laki yang memakai kemeja putih, celana jeans biru serta apron yang menutup tubuh bagian depannya itu pergi sembari mengulas senyum ramah usai menyajikan kopi susu gula aren pesanan Arya serta cassava cake cheese roll pesanan Nata.
“Apa Hangga cerita sesuatu tentang Harum?” Nata balik bertanya.
Arya menggelengkan kepala.
“Jadi, lu mau ya sama Harum?” cecar Nata.
“Kalau Harum itu singel, dan mau sama aku, pasti aku juga mau. Tapi ini Harum sudah bersuami toh.”
“Harum enggak bahagia sama pernikahannya.”
“Bahagia atau ndak, Harum itu tetap istri orang.”
“Tapi lu suka dia ‘kan?”
“Kalaupun iya, aku tetap ndak bisa dekati dia," tegas Arya.
Nata tidak berbicara lagi. Ia mencomot cassava roll dan melahapnya. Mulutnya bergerak mengunyah, tetapi hatinya justru tengah dilanda bimbang.
Apakah harus jujur pada Arya atau tidak. Mengingat sampai saat ini belum ada satu pun teman, sahabat, bahkan keluarga Nata yang mengetahui kisah pernikahannya.
Belum ada seorang pun yang mengetahui posisinya sebagai istri kedua. Istri kedua dari pria yang bertahun-tahun menjadi kekasihnya.
Arya ikut mencomot panganan pesanan Nata itu sembari matanya memandang Nata keheranan. Wajah Nata seperti mengguratkan sebuah permasalahan.
“Kalau aku mau minta tolong kamu dekati Harum bagaimana?” lontar Nata.
Kali ini Arya yakin jika Nata memang serius tengah bermasalah. Jika perempuan cantik mirip artis Korea itu ber aku-kamu, artinya ia memang serius. Karena biasanya Nata selalu ber gue elu jika berbicara dengan Arya.
“Kenapa aku harus dekati Harum? Ghue bisa dicincang suaminya.” Arya mengangkat cangkir dan mendekatkannya ke bibir hendak menyeruput kopi.
“Suami Harum itu ... Hangga.”
Arya terkejut. Beruntung cangkir kopinya tidak sampai jatuh ke lantai. Meskipun pengakuan Nata itu sukses membuatnya terbatuk-batuk karena tersedak.
“Hangga siapa?” tanya Arya masih kurang yakin dengan informasi yang didengarnya.
__ADS_1
Nata berdecak. “Memangnya ada berapa Hangga yang lu kenal?”
Lah, bukannya Hangga itu suami Nata. Batin Arya.
“Harum itu istri pertama Hangga, dan aku istri kedua,” ungkap Nata seolah tahu apa yang dipikirkan Arya.
“Moso sih?” sahut Arya masih tidak percaya.
“Lu sendiri tahu ‘kan hubungan gue sama Hangga terhalang perbedaan dan restu.”
Arya mengangguk paham. Yang ia tidak paham adalah jika Harum istri pertama, apakah artinya Hangga mengkhianati Nata. Padahal Arya tahu betul bagaimana Hangga sangat mencintai Nata.
Sepanjang pertemanannya bersama Hangga, Arya tidak pernah melihat Hangga dekat dengan perempuan mana pun selain Nata. Dan katanya, bahkan Nata adalah pacar pertama Hangga.
Hal tersebut ia ketahui dari gibahan para perempuan teman kuliahnya. Dan Arya mempercayainya.
Sosok Hangga yang pendiam, tidak banyak bicara dan religius—menurut pandangan Arya—serta tampan tentu saja, membuat Hangga menjadi idola para mahasiswi. Tetapi, Arya bisa merasakan cinta Hangga hanya untuk Nata seorang.
Dunia Hangga adalah Natalia Friska Wayong.
“Hangga dijodohkan dengan Harum oleh orangtuanya. Tanpa sepengetahuan gue, diam-diam Hangga sudah menikah dengan Harum. Gue marah. Gue kecewa. Gue enggak rela Hangga mengkhianati gue.” Nata mulai bercerita.
“Gue datang ke rumahnya dan di sana gue ketemu Harum dan orangtua Hangga. Hangga bilang kalau menikahi Harum juga bukan keinginannya. Pernikahan itu semata untuk menyenangkan ibunya. Sampai akhirnya, di luar dugaan, Harum mengatakan kalau dia mengizinkan Hangga menikahi gue. Dan akhirnya kami pun menikah,” tutur Nata.
“Apa Hangga mencintai Harum?” tanya Arya.
Nata mengedikkan bahu. “Gue enggak tahu pasti perasaan keduanya. Mereka kan dijodohkan. Tapi Hangga bilang, kalau dia tidak mencintai Harum. Kalau memang tidak cinta, bukankah sebaiknya Hangga melepaskan Harum, dari pada membuatnya terluka. Dan kami bertiga sama-sama terluka.”
“Terus apa yang kamu mau, Nat?”
*
Hangga duduk melamun di kursi kerjanya dengan kedua tangan saling bertaut dan diletakkan di bawah dagu. Angannya melayang pada perdebatannya bersama Nata semalam.
“Kamu cinta sama Harum?”
“Harum juga istriku, Nat.”
“Kamu cinta sama Harum?” Nata terus mendesak.
“Cinta atau enggak, aku harus memperlakukan Harum dengan baik karena Harum istriku.”
“Aku enggak nyuruh kamu untuk memperlakukan Harum dengan buruk, Hangga! Aku Cuma mau kamu hanya mencintai aku. Seperti aku juga yang hanya mencintai kamu.”
“Aku mencintai kamu, Nata. Kamu tidak perlu meragukannya. Kamu pun tahu itu.”
“Jika kita saling mencinta, lalu kenapa harus ada Harum?”
Sejenak keduanya sama-sama diam.
“Aku mau kamu melepaskan Harum,” pungkas Nata di akhir perdebatan itu.
Suara gaduh teman-teman kerja yang tengah bercanda, membangunkan Hangga dari lamunan. Kemudian ia meraih gawai di meja kerjanya. Ada pesan Arya yang sudah dibaca sejak pagi, namun belum dibalasnya.
__ADS_1
[Ada urusan apa Nata ingin ketemuan sama lu?]
[Boleh, tapi kabari gue kalau udah tahu untuk urusan apa Nata ketemu sama lu]
Dua pesan itu selesai diketik dan langsung dikirimkan kepada Arya.
Hangga pulang lebih awal. Sebelum pukul empat sore, ia sudah keluar kantor.
Kali ini Hangga tidak menjemput Nata seperti yang biasa dilakukannya sepulang kerja. Istri keduanya itu telah mengirim pesan dan memberitahukan bahwa tidak perlu menjemput dan akan pulang terlambat.
Meskipun Nata tidak mengemukakan alasannya, Hangga sudah tahu jika “pulang terlambat” yang dimaksud Nata adalah karena janjian bertemu dengan Arya.
Informasi tersebut diterima Hangga dari Arya sejak pagi tadi.
Mobil SUV putih yang dibeli Hangga dua tahun lalu dengan cara kredit itu membawanya ke kedai. Ia ingin menemui Harum. Ia belum pernah lagi mengobrol intens bersama Harum sejak “pulang kampung” seminggu yang lalu.
Meskipun tinggal serumah, Hangga kesulitan untuk bisa leluasa mengobrol dengan Harum dikarenakan khawatir membuat Nata marah.
Menyambangi Harum di kedai juga sulit dikarenakan saat jam istirahat, ia selalu ada agenda makan siang bersama Nata. Saat jam pulang kerja pun, ia selalu menjemput Nata.
“Harum lagi salat Asar, Mas, di mes kamar saya,” sahut Nina ketika Hangga menanyakan keberadaan Harum yang tidak ditemukannya di dalam kedai.
“Samperin aja, Mas, ke sana,” usul Nina. "Kamar saya yang paling depan, yang pintunya ada gambar Spongebob.”
“Oh, gitu. Makasih ya, Nin.”
Hangga mengayun langkahnya menuju mes karyawan dari pintu belakang kedai. Ada tiga bangunan yang berada di belakang kedai, yaitu gudang, mes untuk perempuan dan mes untuk laki-laki. Mes karyawan yang didirikan Bu Mirna adalah rumah sederhana yang di dalamnya terdapat beberapa kamar.
Mes tampak sepi. Hangga melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 15.30. Pantas saja mes sepi. Di jam “middle” para karyawan memang tengah sibuk di kedai. Karyawan shif pagi belum pulang dan karyawan shif siang sudah pergi bekerja di jam tersebut.
“Rum,” panggil Hangga sembari mengetuk pintu kamar paling pertama yang bergambar Spongebob seperti yang dijelaskan Nina.
Rupanya Hangga mengenal Spongebob juga.
Setelah tiga kali ketukan, baru terdengar suara Harum menyahut.
“Iya, Mas.” Harum yang baru selesai salat Asar, membuka pintu dengan masih mengenakan mukena.
Hangga tertegun memandang Harum. Ada desiran terasa entah di bagian tubuh yang mana. Di mata Hangga, Harum selalu terlihat lebih cantik berkali-kali lipat setiap akan atau usai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Hangga suka melihat wajah Harum yang basah karena air wudu.
Hangga suka melihat Harum yang mengenakan mukena.
Hangga suka melihat wajah Harum yang teduh dan menyejukkan.
“Sudah selesai salatnya, Rum?” Hangga bertanya setenang mungkin. Padahal, sesungguhnya ia sedang menahan sesuatu yang bergejolak sembarangan, tidak tahu tempat dan waktu.
“Sudah.”
“Mas boleh masuk?”
Harum terdiam karena bingung mau menjawab apa. Hendak menolak sebab kamar tersebut adalah kamar Nina, tetapi faktanya mes ini milik orangtua Hangga.
__ADS_1
“Mas masuk aja ya,” kata Hangga sembari merangsek masuk.
Bersamaan dengan merangseknya gairah yang tiba-tiba hadir tanpa permisi.