Secret Wedding

Secret Wedding
Part 1


__ADS_3

Oktober 2020, Seoul.


"Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertimu selain mengawasi dari kejauhan?!"


Itu benar. Aku..., selama ini hanyalah seseorang yang selalu melihat dari kejauhan.


"Kau bukan tipe orang yang dapat melindungi, kau harus ingat itu!"


Daripada melindungi, aku lebih sering dilindungi oleh orang lain. Itu kenyataan.


"Jadi, jangan berani-beraninya kau berharap untuk berada di sampingnya, ataupun bahagia, paham!"


*Bahkan meskipun tak diingatkan, aku sudah cukup sadar diri, bahwa aku..., tidak pantas bahagia.


#bukkk


#bukkk


#bukkk


Pukulan ini..., aku memang pantas mendapatkannya*.


Hujan yang mendadak turun dari langit seolah ikut bersedih atas keadaan Jin Ji yang terbaring lemah di jalan beraspal usai di hajar habis-habisan oleh Hyang Seo, orang yang pernah menjadi temannya 7 tahun lalu.


"Sekarang..., aku harus bagaimana?" Suara lirih itu dibarengi dengan airmata yang tersamarkan oleh hujan. "Aku tidak bisa mengadukan ini pada direktur, ataupun pada kak Seok Woo, aku juga tidak memiliki teman untuk mengadukan ini. Jadi, aku harus bagaimana? Aku..., tidak punya tempat untuk mengadu, atau bersandar." Lirihan itu berubah menjadi isakkan. Bahkan meskipun dia adalah aktor yang dicintai oleh banyak orang. Namun, nyatanya dia sadar bahwa cinta fansnya hanya cinta yang tumbuh karena rasa bosan. Well, gelombang budaya Korea memang sedang marak diperbincangkan dunia di masa pandemi wabah Korona. Karena harus stay-home selama berbulan-bulan, masyarakat dunia menjadikan drama-drama Korea sebagai preferensi di tengah kebosanan stay-home. Nama aktor Jin Ji pun mulai terangkat berkat drama bertema keluarga yang dimainkannya. Awalnya dua juta, kini fans Jin Ji bertambah duapuluh kali lipat —sungguh musibah membawa berkah baginya— tapi, tetap saja, meskipun dia mendapatkan berpuluh-puluh kali lipat cinta, dia tetap tidak memiliki tempat di manapun untuk mengadu kesulitan yang dialaminya, untuk bersandar atas hari berat yang dilaluinya, ataupun untuk bernaung dari kerasnya dunia. Dia...,


"Aku..., tidak punya siapapun."


"Hey, Jin-ah. Kalau kau lelah, dan ingin beristirahat, kau boleh datang kapanpun ke sini, paham? Karena ini adalah rumahmu."


"Dia!!" Seketika Jin Ji berhenti terisak. Dia beranjak dari tempatnya, dan mulai berjalan di bawah derasnya hujan dengan langkah gontai.



Dia..., akan menerimaku, 'kan?


●●●


Maret 2020, Seoul.


"Direktur! Direktur!"


Chae Eun menyemburkan kopi yang sedang diminumnya karena terkejut oleh kedatangan sang sekretaris ke ruangannya dengan cara heboh.


"Arghhhh! Menyebalkan sekali kau, Chun Bong!!" Omelnya, sembari menghapus sisa kopi di bibirnya.


Dengan tidak menunjukkan rasa bersalah, sang sekretaris malah menyahuti begini, "berapa kali harus kukatakan, namaku adalah Jessica, bukan Chun Bong!!!"


"Berapa kali juga harus kuatakan? Aku tidak mau memanggilmu Jessica! Lagipula wajahmu itu tidak ada pantas-pantasnya dipanggil Jessica!"

__ADS_1


"Hey, Direktur yang hampir bangkrut! Jika berani-beraninya tak menuruti perkataanku, maka akan kupastikan hari ini kau menerima surat pengunduran diriku!" Ancam sang sekretaris, Chun Bong, yang telah mengubah namanya menjadi Jessica dua tahun lalu.


Seketika Chae Eun kehilangan wibawa dari statusnya sebagai Direktur. "Eihh, jangan begitu dong, Jessica. Aku selalu menuruti perkataanmu kok." Dan dia menjadi seperti anjing penurut.


Huh! Pasti aku adalah satu-satunya Direktur yang diperlakukan seperti ini oleh sekretarisnya. Menyedihkan. Tapi, aku benar-benar tidak bisa kehilangan Chun Bong. Maksudku..., Jessica. Ini sungguh ironi diatas ironi T_T


"Jadi, Chun Bo..., ehm. Jessica, ada apa mencariku? Sampai membuat aku, DI-REK-TUR-MU ini terkejut," tanya Chae Eun, sembari menekankan kata direktur, dengan tujuan mengingatkan Jessica atas statusnya.


Tapi, Jessica sepertinya tidak peduli. "Bulan ini lagi-lagi perusahaan tidak mendapatkan laba, kalau terus seperti ini, kita benar-benar bisa bangkrut karena yang kita lakukan hanya membayar biaya produksi tanpa adanya pemasukkan."


Chae Eun menghela napas berat, "mau bagaimana lagi? Ini adalah masa pandemi, daripada membeli parfume yang tidak ada gunanya juga dipakai dalam rumah, lebih baik membeli kebutuhan pangan, atau...,"


#BRAKKKKK


Chae Eun terkejut bukan main saat Jessica memukul keras meja kerjanya. Jantungnya hampir melompat keluar seperti halnya beberapa dokumen di atas meja kerjanya yang ikut melompat sejenak karena kekuatan pukulan itu.


"Si-sialan, k-kau mengejutkanku."


"Kau ini benar-benar statusnya saja ya Direktur! Tapi sama sekali gak punya kebijakkan, ataupun kewibawaan seorang direktur!" Tukas Jessica.


Chae Eun mendelik, "ya~ aku juga tidak pernah meminta jabatan Direktur ini...,"


#plakkkk


Ini adalah pukulan Chun Bong yang ke 19 kali dalam tiga hari ini, Chun Bong jahat sekali T_T. Hati Chae Eun meringis, sembari mengelus bekas pukulan Jessica di kepalanya.


Wajah Jessica berubah serius.



"Iya, iya, aku tahu," sahut Chae Eun, masih dengan mengelus kepalanya yang sakit.


"Lantas, apa solusi darimu?" Tanya Jessica, serius.


Chae Eun terdiam barang sejenak. Dia sudah mem-work from home-kan beberapa karyawannya, memotong gaji hingga dua puluh persen, dan juga pindah ke kantor yang harga sewanya lebih murah. Jadi, apa lagi solusinya? Pikirnya.


"Kau tidak berpikir akan melakukan phk besar-besaran, 'kan?" Jessica terlihat cemas. Sedangkan, Chae Eun kini terlihat kesal karena dia merasa begitu di-negative thinking-kan oleh sang sekretaris.


"Hey, Chun Bong...,"


"Jessica!" Sela Jessica penuh penekanan.


"Iya, maksudku Jessica. Kau pikir aku ini orang yang akan berpikiran egois seperti itu ya?" Tanya Chae Eun. "Biarpun terkadang aku suka bertindak semauku...,"


"Sebenarnya bukan terkadang, kau memang sering bersikap semaunya," sela Jessica.


"Yaa! Jangan menyela perkataanku dong!" Tukas Chae Eun.


"Iya, kudengarkan."

__ADS_1


Chae Eun menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, "biarpun aku begini, aku tidak akan pernah membuat orang lain dalam kesulitan. Jika aku melakukan phk di tengah pandemi ini, mungkin bisa menstabilkan perusahaan tapi, bagaimana dengan para karyawan? Mereka..., hanya akan tambah menderita di tengah pandemi ini."


Alih-alih terkesan, Jessica justru memandang Direkturnya itu dengan tatapan curiga. "Apakah ini sejenis ketenangan sebelum badai? Kau merencanakan sesuatu, 'kan?"


"Astaga Chun Bong...,"


"Jessica!" Lagi-lagi Jessica menyela.


"Iya, Jessica. Memangnya aku ini tidak ada baik-baiknya ya dalam otakmu itu?!"


"Tepat sekali." Jessica menyeringai, membuat Chae Eun tertegun sekaligus kecewa.


"Astaga, kau jahat sekali Chun Bong."


"Jessica!" Jessica menegaskan. "Sekali lagi memanggilku Chun Bong, aku benar-benar akan melemparkan surat pengunduran diriku diwajahmu."


"Astaga, kejamnya."


Di sisi lain. Di luar ruang kerja Chae Eun.


"Kau lihat itu? Jessica memukul kepala Direktur, apakah dia tidak takut?"


Para karyawan yang menyaksikan perilaku Jessica terhadap Chae Eun —ruang kerja Chae Eun hanya dibatasi oleh kaca transparan hingga pemandangan dari dalam bisa terlihat dari luar— benar-benar terkejut sekaligus tak habis pikir dengan kelancangan Jessica.


"Dia sudah sering melakukan hal kasar pada Direktur, apakah mungkin Direktur kita itu tidak berwibawa sampai-sampai sekretarisnya berlaku begitu padanya?"


"Kalian sedang apa?" Sang manager, Kang Namjoon, yang baru saja datang, bertanya.


"Ituloh, tadi kami melihat Jessica memukul kepala Direktur, benar-benar gila! Dan lagi, Direktur hanya diam saja."


"Apakah Direktur kita itu sangat tidak berwibawa sampai-sampai dia diperlakukan seperti itu?"


"Apakah kita juga boleh berlaku seperti itu pada Direktur?"


Namjoon menghela napas panjang, dan menjawab pertanyaan para karyawan di ruangan itu dengan tegas, "kalian baru satu tahun bekerja di sini, 'kan? Jadi, jangan berpikiran macam-macam, dan lakukan saja pekerjaan kalian. Paham?!"


"Iya, manager," dengan kompak para karyawan menyahuti.


Dulu aku juga berpikir begitu. Bisik Namjoon dalam hatinya. Seketika dia teringat masa lalu.


(Dalam ingatan Namjoon. Saat Namjoon memerlakukan sang Direktur dengan cara yang sama seperti Jessica memerlakukannya)


"*Direktur, seharusnya anda lebih bijaksana lagi, kenapa anda berinvestasi pada proyek yang tidak pasti? Begini deh jadinya, uang investasi kita hilang begitu saja."


"Hey, Manager Kang, ambillah kertas dan pena, kemudian tulislah surat pengunduran dirimu dihadapanku*."


"Hah?! D-Direktur."


(Ingatan Namjoon berhenti di sini)

__ADS_1


"Jika saja aku tidak berlutut seharian, maka pasti aku sudah dipecat waktu itu," gumam Namjoon.


Laku Jessica terhadap Chae Eun tentu tidak bisa diikuti oleh karyawan lain. Bukan tanpa alasan, itu semua karena Jessica adalah orang yang paling berharga bagi Chae Eun, sehingga Chae Eun mampu mentoleransi setiap laku kasar Jessica. Namun, dengan orang lain..., Chae Eun adalah orang yang sangat sarkasme.


__ADS_2