Secret Wedding

Secret Wedding
Permintaan Maaf Zara


__ADS_3

Zara hari ini pertama kalinya mendatangi kantor ITZ sejak ia melahirkan. Tujuan wanita itu hanya satu ingin mengambil hasil tes DNA yang dibutuhkannya. jantung wanita itu berdetak kencang saya akan membuka hasilnya.


apakah Erlan benar putra dari Albert?


Sesampainya di depan kantor ITZ, wanita itu tersenyum.


Ia mendatangi resepsionis." Apa Tuan Rehan ada di ruangannya?" 


 "APa Anda sebelumnya sudah membuat janji dengan  CEO Kami, Nona?" tanya resepsionis kantor ITZ.


"Iya saya sudah membuat janji," jawab Zara.


"Maaf dengan Nona siapa?" tanya resepsionis itu dengan ramah.


"Saya Zara."


"Baik, silakan ikuti saya," jawab resepsionis tersebut lalu membuka pintu ruang tunggu.


Zara masuk ke dalam ruang tunggu dan melihat ke sekelilingnya. 


Di sana ada beberapa orang yang sedang menunggu giliran mereka. Zara merasa cemas dengan hasil tes DNA itu.


Saat itu, seorang pria memanggil Zara.


" Nona Zara, Anda kenapa menunggu tidak langsung saja ke ruang Tuan? Ayo ikuti saya," kata pria itu.


Zara mengikuti pria tersebut dan masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu gelap dan sepertinya belum lama ini dipoles kembali. 


Setelah lampu menyala, Zara melihat ada kursi khusus yang harus Zara duduki dan sejumlah berkas ada  di atas meja.


"Perasaan kamu tentu begitu campur aduk sekarang, Zara," kata pria yang baru masuk.


"Ya, saya sangat ingin tahu apa hasil tes ini," kata Zara.


Rehan terkekeh, pria itu memberikan amplop warna coklat pada sepupunya.


"Apa rencanamu?" tanya Rehan.


"Saya harap tidak ada masalah dengan hasil tesnya karena melihat keluarga suamiku begitu bahagia," jawab Zara, suaranya terdengar gemetar saat membuka amplop itu.


"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja," kata Rehan itu sambil mulai bekerja.


Zara duduk diam dan diam-diam berdoa agar hasil tes DNA-nya menunjukkan bahwa Erlan benar-benar adalah putra Albert. 


Selama ini, Zara merasakan bahwa  keluarga suaminya tidak tahu kalau ia ingin membuktikan bahwa Erlan anak mereka yang hilang kontak selama bertahun-tahun.


Zara memejamkan matanya, perlahan ia membuka dan matanya seketika membola melihat hasil akhir jika Erlan benar-benar anak dari Mertuanya. Itu artinya Nevan Erlangga sudah kembali.


Zara yang asik dengan pikirannya sendiri dikejutkan dengan suara handphonenya.


"Suami posesifmu sedang sibuk mencari istrinya," kata Rehan dengan mencibir ke arah ponsel sepupunya itu.


"Itu karena Nathan mencintaiku," kekeh Zara dengan mengerlingkan matanya pada Rehan.


Setelah menerima telepon suaminya, Zara segera pamit dan wanita itu meminta pada sepupunya untuk menyimpan hasil tes DNA.


"Apa keluargamu sudah tahu kalau Erlan seorang pembunuh bayaran?" tanya Rehan.


"Hem." 


Rehan menarik napas panjang."Lalu apa reaksi mereka?"

__ADS_1


Zara menaikkan kedua bahunya dan segera masuk mobil di mana suaminya sudah berada di lobby untuk menjemputnya.


Zara melambaikan tangan pada sepupunya dan hanya dibalas dengan senyuman tipis oleh Rehan.


Sementara mobil yang ditumpangi oleh Zara langsung keluar dari kantor ITZ. 


"Ada urusan apa?" tanya Nathan dingin.


"Ada sesuatu yang harus aku bahas dengan Rehan, Mas."  Zara memeluk lengan suaminya karena ia tahu suaminya itu sedang cemburu.


"Bisa lewat telepon."


Zara hanya menarik napas panjang, jujur ia tidak suka dengan cara Nathan yang begitu posesif padanya.


Mobil yang dikemudikan oleh Nathan sampai di depan mansion. Pria itu langsung keluar tanpa menunggu istrinya.


Zara hanya diam, wanita itu tersenyum saat melihat Mama Dania sedang mengobrol dengan Erlan.


"Zara," panggil Dania dengan lembut.


"Iya, Ma." Zara membalikkan badannya dan kini ikut bergabung dengan mertua dan iparnya itu.


"Erlan rupanya lulusan IT , di kantor kamu apa ada membuka lowongan?" tanya Dania.


Bingung harus jawab apa, tidak berselang lama Nathan duduk di samping Erlan.


"Erlan bisa kerja di kantorku saja, Ma." Nathan menepuk bahu. kembarannya sambil tersenyum.


Zara  meremas ujung jilbabnya, ia merasa suaminya sedang tidak ingin bicara dengannya.


Dania segera pamit pada Zara dan Nathan karena ia akan keluar dengan Erlan.


Setelah mama dan kembaran keluar Nathan menatap istrinya dengan tatapan tajam." Puas kamu!"


"Kamu pikir Erlan tidak tahu kalau kamu menyuruh Rehan yes DNA. Mau kamu apa, Hah?"


Mendengar suara keras suaminya dada Zara berdenyut nyeri, dari mana Erlan tahu. Siapa sebenarnya iparnya itu.


Zara memejamkan mata sejenak, merasakan denyutan sakit di dadanya semakin membesar. Ia tak pernah mengira bahwa rencana kecilnya untuk memastikan kebenaran hubungan antara ipar dengan ayah mertuanya akan menyebabkan masalah yang lebih besar.


"Maafkan aku, Mas. Aku hanya ingin memastikan ayah kandungnya Erlan siap," cicit Zara lirih, mencoba menjelaskan.


Nathan  hanya menggelengkan kepala dengan kesal. "Kita bisa saja mengajak Erlan test sendiri tanpa harus mengurusi melibatkan orang asing. Sekarang, siapa yang tahu sampai di mana Rehan akan membawa cerita ini?" tanya  Nathan sambil merenung.


Zara diam, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.  ia mencari-cari kata-kata yang tepat untuk mengatasi situasi ini, tetapi tidak dapat menemukan satu kata pun.


"Mas, aku tidak bermaksud membuat masalah," ucap Zara pelan, "Aku hanya ingin yang terbaik untuk keluarga ini."


"Tapi penyelesaiannya tidak seperti itu, Zara," balas Nathan, "Kita harus berbicara dengan ayah  dan menyelesaikan masalah ini dengan baik."


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Zara, mencoba mencari solusi terbaik pada situasi yang rumit ini.


Nathan  mendesah dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, kita harus menghadapi konsekuensi dari apa yang sudah terjadi kamu meminta maaf."


Zara mengangguk, menyetujui ucapan suaminya.


 "Aku akan bicara dengan Erlan nanti dan mencoba meminta maaf akan  apa yang aku lakukan. Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab atas tindakanku."


"Kamu  pikir itu semua akan mudah dan bisa diselesaikan begitu saja," ujar Nathan  dengan nada tidak percaya.


"Saya tahu saya membuat kesalahan, Mas. Tapi saya harus memperbaikinya," jawab Zara dengan mantap.

__ADS_1


Nathan  diam sejenak, kemudian menatap istrinya dengan lembut. "Kamu selalu ingin menjadi yang terbaik, kan, Zara? Tapi ingatlah bahwa tindakanmu memiliki konsekuensi yang harus kamu tanggung."


Zara tersenyum tipis, merasakan kehangatan dalam hatinya ketika melihat suami yang mencoba memahami situasinya. "Saya tahu itu, Mas. Tapi saya siap mengambil tanggung jawabku."


Nathan mengangguk , pria itu mengaitkan tangan Zara, menariknya mendekat. "Kita akan hadapi itu bersama-sama, Aku akan menemanimu untuk meminta maaf pada Erlan, maaf sudah membentakmu," ucap Nathan dengan lembut, "Tidak perlu merasa sendirian."


Zara merasa tentram dalam pelukan suaminya, merasa bahwa mereka berdua bisa menghadapi semua konsekuensi dari tindakannya. 


Ia menatap wajah Nathan  dengan rasa syukur, bahwa ia memiliki suami yang selalu berdiri di sisinya.


"Erlan pasti akan  memaafkan, Zara," ucap Nathan, sambil mengusap punggung istrinya.


Zara menghela napas, berharap semuanya akan baik-baik saja. ia tidak pernah menyadari bagaimana rencananya yang masuk akal bisa memicu masalah seperti ini.


Keduanya menghabiskan malam itu dengan mengobrol tentang masa lalu  Erlan, dan merenungkan apa yang selanjutnya akan terjadi. 


Zara merasa terusik oleh pembicaraan tadi, dan terus merenungkan bagaimana ia bisa memperbaiki situasi ini. Wanita itu merasa  pikirannya  sedang kalut hingga akhirnya ia pun tertidur.


Pagi harinya, Zara memutuskan untuk menghubungi Rehan untuk berbicara. Setelah beberapa kali menekan nomor ponsel Erlan, akhirnya ia bersuara dengan gemetar, "Erlan bisa aku bicara denganmu?"


"Mmm, tentu saja, Zara. Ada apa? Apakah ada masalah dengan Nathan?" jawab Erlan sambil menguap.


Zara menggelengkan kepala walaupun iparnya tidak melihatnya."Tidak, ini bukan tentang Nathan. Ini tentang yang lain. Bisakah kita berbicara?"


Sejenak terdengar kesunyian di sisi lain telepon, dan Zara merasa cemas. Akankah Erlan  memaafkan apa yang telah terjadi jika dirinya  diam-diam melakukan tes DNA?


"Baiklah, kita bisa bertemu di kafe dekat kantor  Nathan  setelah jam kerja. Bagaimana dengan pukul 6 malam?" tanya  Erlan akhirnya.


"Baik, aku akan ada ke sana," ujar Zara, merasa lega karena Erlan setuju untuk menemuinya.


Zara merasa gugup dan gemetar ketika menelepon Erlan, dan semakin gugup ketika ia akan bertemu dengan iparnya nanti. Ia berdoa agar semuanya bisa teratasi dengan baik.


Di kafe, Zara merasa takut saat melihat Erlan. ia menatap iparnya dengan mata lekat, mencoba mencari tanda ketidaknyamanan dari pria  itu. Tetapi Erlan hanya tersenyum lembut.


"Terima kasih untuk mengambil waktu untuk bertemu dengan saya, Erlan," ujar Zara ketika mereka memesan minuman untuk dihidangkan.


"Tentu saja, Zara. Ada  apa yang harus kita bicarakan?"


Zara menghela napas, merasa berat untuk memulai pembicaraan. "Ini tentang apa yang saya lakukan padamu. Saya... saya melakukan tes DNA tanpa memberitahumu."


Erlan terdiam sejenak. "Oh." Itu saja yang iparnya ucapkan.


Zara merasa takut, menunggu reaksi selanjutnya dari iparnya itu. "Aku tahu itu salah, Erlan," lanjutnya, "Aku berharap bisa memperbaikinya."


Erlan akhirnya mengangguk dan paham akan apa yang dikhawatirkan Zara.


 "Aku tahu kamu hanya ingin yang terbaik untuk keluarga," kata Erlan lembut, "Tapi kamu tahu kalau kamu melanggar kepercayaanku  dan membuat situasi yang tidak nyaman untuk berinteraksi"


"Aku tahu. Dan aku bersedia bertanggung jawab atas tindakanku," ujar Zara dengan tegas.


Erlan memberikan senyuman lembut, "Baiklah. Saya akan memaafkan kamu, Zara. Tapi kamu harus berjanji untuk tidak pernah melakukan hal yang sama lagi."


Zara mengangguk, merasa lega. Ia tidak pernah berpikir bahwa masalah ini bisa terpecahkan dengan cara yang begitu sederhana.


Setelah pembicaraan itu, Zara merasa seperti beban di dadanya telah hilang. Wanita itu tahu bahwa tindakannya memiliki konsekuensi, tetapi sekarang  merasa lebih siap untuk menghadapi apa pun yang terjadi di masa depan.


Dan dengan Nathan di sisinya, ia merasa aman dan dilindungi dari semua masalah yang mungkin datang.


Mereka bisa menghadapi segala sesuatu. Dan Zara tahu bahwa suaminya selalu akan ada untuknya, tak peduli seberapa sibuk suaminya itu..


Zara segera keluar dari kafe, walaupun tadinya Erlan ingin mengantarkan pulang, tapi karena ia membawa mobil akhirnya iparnya itu hanya mengantar sampai di parkiran.

__ADS_1


Setelah mobil yang dikemudikan oleh Zara tidak terlihat lagi, seseorang menepuk bahu Erlan." Bagaimana aman? Aku harap kamu profesional karena keluarga Iparmu yang sudah membunuh anak dari seseorang yang telah membayarmu dua kali lipat untuk membalas dendam, jika orang itu kehilangan anaknya, maka Tama harus kehilangan anaknya juga."


Setelah mengatakan itu pria yang memakai masker itu pergi meninggalkan Erlan begitu saja.


__ADS_2