
Ruang rapat, gedung besar Chae-gu Group.
Rapat Penilaian Kinerja.
Berkat ide cemerlang Chae Eun yang banting stir menjadi produsen perlengkapan kesehatan yang sangat dibutuhkan di tengah pandemi ini, FreshChae kembali stabil, bahkan gaji karyawanpun kembali normal tanpa adanya pemotongan.
"Wahhhh Direktur kita memang sangat cemerlang. Bagaimana anda bisa memikirkan untuk memproduksi perlengkapan kesehatan, Direktur?" Puji para pemegang saham.
"Memangnya kapan aku mengecewakan kalian?" Tukas Chae Eun, dingin.
Para pemegang saham mengulum pujian mereka. Mereka sempat lupa bahwa Direktur dari anak cabang Chae-gu Group itu tudak suka basa-basi, ataupun pujian. —padahal Chae Eun sering sekali memuji dirinya sendiri—
"Iya, Direktur kita ini memang tidak pernah mengecewakan," sang paman, Chae Hyungho, menimpali.
"Itu karena aku adalah anak ayahku. Bayangkan jika aku adalah anak orang lain, pastinya aku akan selalu mengecewakan," cibir Chae Eun, merujuk pada anak pamannya, Chae Su. Chae Su diberikan kepercayaan untuk mengelola anak perusahaan Chae-gu Group yang lain, yaitu, Chae Food. Namun, semenjak dia menjabat sebagai direktur di sana, ditambah lagi masa pandemi, Chae Food lamban laun mulai mengalami krisis.
Chae Su yang juga berada di situ hampir saja tersulut amarah jika bukan karena ayahnya menahannya.
"Diamlah, dia hanya mencoba memancingmu untuk terlihat buruk didepan para pemegang saham," bisik ayahnya.
Chae Su menuruti perkataan ayahnya untuk tidak terpancing amarah oleh Chae Eun. "Mungkin perusahaan mendapatkan banyak laba dan stabil. Namun, alih-alih pujian seperti biasanya yang selalu didapat Chae-gu Group, banyak orang mengkritisi bahwa Chae-gu mengambil keuntungan dari musibah wabah ini, bahkan banyak yang menuliskan komentar buruk di web resmi," hardik Chae Su, mencoba untuk memojokkan Chae Eun.
"Memangnya kau bisa membeli mobil, apartment mewah, dan juga berfoya-foya dengan para model seksi itu, itu semua karena hasil dari pujian?" Chae Eun bersikap dingin. "Bukan, 'kan? Itu semua kau dapat karena laba yang kudapatkan. Jadi, kenapa kau peduli dengan pujian? Ckckck sungguh bicaramu itu bertolak belakang dengan gaya hidupmu, jelas-jelas kau lebih butuh uang daripada pujian."
Perkataan Chae Eun mendapatkan banyak respon setuju dari para pemegang saham.
'Sialan! Apakah dia sengaja memancingku dengan cara ini?' Dengus Chae Su dalam hati.
Chae Eun melirik jam tangannya, astaga! Ini sudah waktunya! Aku terlambat!
"Aku sungguh menyesal harus mengatakan ini tapi, aku sangat sibuk, jadi aku akan pergi lebih dulu." Chae Eun beranjak dari tempatnya, dan pergi meninggalkan ruang rapat.
"Dia jelas-jelas sangat tidak sopan," bisik Park Na Hee, pemegang 5 persen saham Chae-gu Group.
"Tapi tetap saja kinerjanya itu bagus sekali," Han Byul, ikut berbisik. "Untuk apa sopan kalau tidak menguntungkan sama sekali," dia melirik Chae Su. Chae Su memang sopan. Namun, itu hanya kedoknya saja untuk mengambil hati para pemegang saham.
"Ayah, sepertinya perkataan Chae Eun memberikan dampak keras pada para pemegang saham," bisik Chae Su yang merasa dirinya sedang dibicarakan.
Sang ayah hanya diam. Dia merasa bahwa Chae Eun lebih sulit ditangani daripada ayahnya, dan akan sulit baginya untuk mendudukkan Chae Su sebagai presdir di rapat pemilihan presdir lima bulan lagi. 'Dia pasti memiliki celahnya sendiri'. Pikir Hyungho.
●●●
Gedung FreshChae.
"Diektur, bagaimana rapatnya—"
#brakkk
Jessica tertegun barang sejenak ketika Chae Eun melewatinya, dan masuk keruangan kerjanya begitu saja.
"Anak itu kenapa lagi? Apa rapatnya tidak berjalan baik?" Pikir Jessica, dia segera meninggalkan meja kerjanya, dan masuk ke ruang kerja Chae Eun.
"Direktur, kenapa kau terburu-buru sekali? Apa rapatnya tidak berjalan baik?" Tanya Jessica. "Anda mau kemana, direktur?" Pertanyaan Jessica teralihkan setelah melihat Chae Eun mengganti pakaiannya, dan juga sepatunya dengan gaya kasual.
"Nanti saja ceritanya, aku buru-buru," sahut Chae Eun, sembari menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo, kau di mana?" Tanya Chae Eun, pada orang yang sedang diteleponnya, sembari berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
●●●
"Mau pindah ke mana? Memangnya kau punya rumah? Asal tahu saja, apartment yang kau akui sebagai rumahmu itu masih atas namaku loh," tukas sang Direktur, Im Taehyung.
Jin Ji mengepal tangannya dengan kuat hingga buku-buku jemarinya menonjol —berusaha menahan emosinya dengan cara itu—
Sabarlah Jin Ji, sabarlah.
Dengan penuh amarah dalam hatinya Jin Ji terpaksa menampilkan sebuah senyuman diwajahnya untuk sang Direktur.
"Iya, aku tahu kok. Semua yang aku miliki saat ini adalah milik Direktur, aku sadar diri kok. Aku ini apasih? Hanya aktor kacang yang gaakan bisa sukses tanpa bantuan direktur," puji Jin Ji. Namun, dalam hatinya dia mengumpat. 'Sialan! Sialan! Dasar Direktur tidak tahu diri! Penipu! Semuanya milikmu?! Dasar serakah, kau itu bisa punya mobil mewah, dan mendebutkan girl band karena hasil kerja kerasku tahu!'.
"Akhirnya kau tahu diri juga," sahut sang Direktur, membuat Seok Woo yang juga ada di sana merasa kesal. 'Sialan kau Im Taehyung! Dasar pria tidak tahu malu!'. Umpat Seok Woo dalam hatinya.
"Tapi, kau memangnya mau pindah ke mana? Kau tahu kan, akan lebih baik bagimu jika tinggal di officetel," kata sang direktur.
Baik apanya? Baik untukmu, agar kau bisa mengontrolku, dan mengawasiku sesukamu. Pikir Jin Ji.
"Bukan begitu, masalahnya sekarang itu banyak media yang memberitakan bahwa Direktur terlalu meng-anak-emas-kan aku, dan mengabaikan Hae Jun sunbae. Oleh karena itu, demi nama baik Direktur, aku pikir akan lebih baik jika aku meninggalkan officetel, agar media tidak menyebarkan berita yang dapat merusak nama baik Direktur," jelas Jin Ji yang hampir sembilan puluh persen penuh dusta itu, sisanya dia berkata jujur tentang Hae Jun. Sebelum Jin Ji terkenal, Hae Jun merupakan aktor kesayangan sang Direktur. Namun, setelah Jin Ji lebih sukses dari Hae Jun, sang direktur jadi seperti mengacuhkan Hae Jun.
Im Taehyung, sang direktur. Nampak berpikir. 'Jika kubiarkan dia meninggalkan officetel, maka akan sulit untuk mengawasinya tapi, jika aku membiarkan dia di sana, rumor tentang aku mengabaikan Hae Jun pasti akan bertambah buruk. Biarpun kini Jin Ji lebih terkenal dari Hae Jun, tapi fans Hae Jun itu sangat solid, mereka pasti akan melakukan demo padaku'.
"Baiklah, kalau begitu terserahmu saja tapi, jangan pernah sekalipun kau tidak memberikan kabar padaku. Apapun yang akan kau lakukan diluaran sana harus dengan izinku, paham?!" Tukas Taehyung setelah berpikir panjang.
Masih dengan senyum yang dipaksakan, Jin Ji berkata, "tentu saja, Direktur. Kalau begitu aku pergi dulu, masih ada jadwal yang harus kuselesaikan." Jin Ji membungkuk hormat, setelahnya dia pergi meninggalkan ruang kerja Direkturnya bersama dengan Seok Woo.
"Bukankah tadi itu menyebalkan? Kau menahannya dengan baik," kata Seok Woo, yang membuat langkah Jin Ji berhenti, dan senyum terpaksa yang sedari tadi dia pertahankan kini memudar.
Sebelumnya, Jin Ji pernah memutuskan untuk keluar dari agensi milik Taehyung itu. Namun, tanpa terduga Taehyung menjatuhkan pinalti yang benar-benar tidak masuk akal. Jin Ji harus membayar pinalti sebesar sepuluh milyar won jika ingin keluar dari agensi itu.
Seok Woo menghela napas panjang. "Jika itu masalahnya, maka bukankah sebaiknya kita melaporkan Taehyung pada polisi? Harga pinalti itu benar-benar gila! Dia tentunya memerasmu," kata Seok Woo.
"Kau pikir aku tidak memikirkannya, kak?" Jin Ji terdengar lemah. "Aku memikirkannya beribu-ribu kali tapi, kau kan tahu alasan aku tidak melakukannya."
"Tapi itu adalah jebakkan, kau tidak salah sama sekali, Jin-ah. Dan lagi kau tidak ada hubungannya dengan kasus orangtuamu, jadi kau...,"
"Tidak sesederhana itu. Kau juga tahu itu, kak," sela Jin Ji, membuat Seok Woo terdiam.
'Benar! Memang tidak sesederhana itu tapi, sampai kapan Jin harus terus begini?' Pikir Seok Woo.
Seok Woo menghela napas panjang, "kau mau kubantu untuk mengepak barang?" Dia mengalihkan pembicaraan.
"Tidak perlu. Lagipula semua yang ada di officetel itu bukan punyaku," jawab Jin Ji.
"Baiklah, terserah kau saja. Sekarang kita mau ke mana? Jadwalmu untuk hari ini sudah selesai. Apa kau mau ke officetel dulu, atau...,"
"Kak, kau pulang saja. Aku akan pergi sendiri," sela Jin Ji, sembari memakai masker dan topi hitam, kemudian dia berlari pergi meninggalkan Seok Woo."
'Gawat, aku sudah terlambat', bisik hati Jin Ji, sembari melirik jam tangannya.
●●●
TOKO BUKU GRAMY AEDI-YA
Peluncuran buku One Please seri terakhir
__ADS_1
Jin Ji mengedarkan pandangannya, dan mendapati buku yang diidamkannya masih tersisa satu.
'Syukurlah. Itu pasti memang untukku'. Jin Ji berlari menghampiri buku itu, hendak mengambil buku itu ketika orang lain ikut mengambilnya.
"Yaa, aku yang lebih dulu melihat i...," Jin Ji terdiam saat mengetahui siapa yang berebut buku dengannya.
Chae Eun?
"Siapa cepat dia dapat!" Tukas Chae Eun. "Jadi lepaskan tanganmu sekarang juga!" Titahnya.
"Tidak bisa begitu! Aku yang pertama melihat ini, kau siapa memangnya memerintahku!" Sahut Jin Ji.
"Aku? Aku ini anak Presdir Chae, seorang konglomerat! Jadi berikan buku ini padaku!" Tukas Chae Eun.
"Kenapa harus kuberikan, kau ini siapa memangnya, huh?!"
"Sudah kubilang! Aku ini anak presdir Chae, anak konglomerat!"
'Astaga! Wanita ini benar-benar! Apa dia serius akan terus menyebut ayahnya begitu?' Pikir Jin Ji.
"Hanya anak konglomerat, siapa peduli!" Tukas Jin Ji.
"Tentu saja kau harus peduli! Aku ini anaknya presdir Chae, seorang konglomerat yang ikut andil dalam kemajuan perekonomian negara ini, paham?!" Sahut Chae Eun.
'Dia benar-benar serius membawa nama ayahnya. Ckckck'. Dengus Jin Ji dalam hatinya.
"Memangnya kau siapa sampai tidak mau peduli pada statusku, huh? Pakai masker segala lagi, memangnya kau artis?!" Chae Eun menarik masker Jin Ji, yang tanpa sengaja juga membuat topi Jin Ji terlepas.
"Kau...," Chae Eun terdiam barang sejenak ketika tahu bahwa pria yang berebut buku dengannya adalah Jin Ji. Suaminya sendiri.
"Ya! Kau gila ya? Bagaimana jika orang-orang melihatku, huh?" Omel Jin Ji, berbisik.
"Memangnya apa yang terjadi jika mereka melihatmu?" Tanya Chae Eun.
"Tentu saja mereka akan mengerumuniku, dan aku harus segera kabur dari tempat ini," jelas Jin Ji.
"Oh begitu." Chae Eun menghela napas panjang. Kemudian, "SEMUANYA LIHATLAH, ADA AKTOR JIN JI DI SINI!!" Dia berteriak, membuat orang-orang disekitarnya menatap Jin Ji, dan kemudian mulai berlarian menghampirinya.
"Sial sekali kau, nona Chae Eun!!!"
"Siapa suruh berebut denganku?! Sebaiknya kau cepat pergi dari sini," Chae Eun memberi saran.
"Aishhhh." Jin Ji secepat kilat berlari meninggalkan toko buku dengan gerombolan orang yang terus mengejarnya.
"Hahahaha rasakan!" Tawa Chae Eun. Dia berjalan menuju kasir, dan membayar buku one please seri terakhir yang berhasil direbutnya dari Jin Ji.
EPILOGUE
"Halo, kau di mana?" Tanya Chae Eun pada lawan bicaranya di telepon, Gura. Seorang pekerja jasa pengiriman yang jasanya digunakan oleh Chae Eun untuk membeli buku One Please seri terakhir.
"Maaf, bos. Aku tiba-tiba sakit perut."
"Maksudmu?! Kau belum membeli buku one please untukku?" Chae Eun terdengar marah. Padahal sebelumnya Gura berjanji menemui Chae Eun di Cafe untuk memberikan buku pesanannya, sekaligus mendapatkan bayaran untuk bukunya dari Chae Eun.
"Maaf sekali, bos."
"Menyebalkan!" Umpat Chae Eun sebelum dia mematikan teleponnya. Kalau begitu aku harus cepat-cepat ke toko buku sebelum stoknya habis!!
__ADS_1