Secret Wedding

Secret Wedding
Part 9


__ADS_3

Namaku adalah Chae Eun, tahun ini usiaku menginjak angka 27. Selama duapuluh tujuh tahun hidupku, aku selalu menuruti perkataan keluargaku, bahkan sampai harus melepaskan impianku. Ya, aku akui itu berawal dari kesalahanku yang terlalu cerdas hingga tidak tertarik memikirkan masa depanku, dan membiarkan keluargaku mengarahkanku layaknya layang-layang yang diikat dengan tali. Sejak aku membiarkan mereka melakukan itu, aku tidak pernah sekalipun berhasil memerjuangkan keinginanku walau hanya sekedar menikmati ice cream di tepi pantai. Semua yang kulakukan harus..., sesuai dengan apa yang mereka katakan.


"Eun-ah, seharusnya begini..., Eun-ah, kau harus begini..., Eun-ah, dengarkan kata-kata kami, ini yang terbaik untukmu. Eun-ah—"


Aku merasa frustrasi, aku tertekan, dan tercekik dengan semua titah mereka. Mereka (keluargaku) tentu sangat baik padaku. Namun, tanpa mereka sadari, mereka telah menjadikanku sebagai boneka marionnette. Aku..., kehilangan diriku. Aku..., kehilangan kebebasanku. Aku..., kehilangan segala hal yang kuimpikan.


Tapi..., satu hal yang kusyukuri dari titah mereka adalah..., saat mereka memintaku untuk menikah dengannya.


Satu tahun lalu


Flashback On


"Dia anak dari teman ayah. Dia baik, dan juga bertanggungjawab. Ayah yakin kau akan menyukainya."


Aku hanya bisa menghela napas panjang. Toh, walaupun aku menolak, ayah akan tetap memaksaku untuk menikahi anak temannya itu. Aku malas berdebat jika ujung-ujungnya argumenku tak didengar, hanya membuang tenaga dan waktuku.


"Iya, terserah ayah saja."


"Kalau begitu besok kau temuilah dia. Ayah akan mengirimkan alamat pertemuannya."


"Iya, terserah ayah saja."


●●●


"Kau akan menikah! Dengan siapa?!"


"Anak dari teman ayahku."


"Aku tebak dia pasti pewaris dari perusahaan besar," kata Chun Bong.


Ya, aku juga berpikir seperti itu ketika ayahku menjodohkanku dengannya. Namun..., semua diluar ekspektasiku. Pria itu..., dia terlihat sangat sederhana.


"Nona Chae Eun?" Katanya, sembari menghampiri mejaku.


Aku menutup telepon dari Chun Bong, dan mulai menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Apakah gaya anak pengusaha besar seperti ini? Tanyaku dalam hati. Dia benar-benar sangat sederhana, sangat. Kemeja hitamnya nampak lusuh, dan rambutnya sedikit berantakkan.



Apa mungkin dia mencoba untuk terlihat rendah hati? Pikirku. Sepertinya begitu, mengingat banyak pewaris keluarga kaya yang memakai image rendah hati untuk pencitraan perusahaan mereka.


"Duduklah," aku memersilahkan.


Dia menarik kursi di depanku, dan duduk di sana. Aku memerhatikan wajahnya, dia terlihat sangat tertekan dan seperti banyak sekali masalah yang ditanggungnya. Apa dia juga dipaksa untuk perjodohan ini?


"Kau juga terpaksa?" Tanyaku, membuat dia mengalihkan pandangannya padaku.


"Terpaksa?"


"Iya, terpaksa dengan perjodohan ini," sahutku.


"Maksudmu, kau terpaksa dengan perjodohan ini?" Dia balik bertanya.


Aku menyeruput latte pesananku, kemudian berkata, "maksudmu, kau menerima perjodohan ini karena kau ingin?"


Dia tersenyum ketir, "ya~ menganggapnya sebagai keterpaksaan juga tidak salah. Tapi, kau tidak terlihat seperti wanita yang dapat dipaksa."


Itulah yang aku benci dari diriku. Entah kenapa aku selalu bersikap kokoh bagai dinding saat berhadapan dengan orang lain. Namun, aku menjadi paling mudah diruntuhkan saat berhadapan dengan keluargaku.


"Anggap saja ini sudah takdirku," kataku.


"Takdir? Apakah di dunia ini ada yang namanya takdir?" Pria itu lagi-lagi tersenyum ketir. "Membiarkan mereka menyeretmu dalam keterpaksaan, itu..., adalah pilihanmu, bukan takdir. Kalau kau memang tidak mau, seharusnya kau tolak dengan lantang, tapi kau malah membuat mereka memaksamu. Jika kau terus mengikuti kemauan mereka, maka mungkin di masa depan kau akan menyesal."


Degggg

__ADS_1


Kata-katanya tepat menusuk jantungku, membuatku tertohok. Itu aku! Jelas sekali bahwa itu aku! Aku selalu seperti itu sejak dulu, membiarkan diriku dijadikan sebagai boneka untuk mengikuti keinginan keluargaku.


"Ice americano? Latte? Atau Caramel macchiato?" Kualihkan pembicaraan tak menyenangkan kami dengan menanyakan apa yang mau diminumnya.


Dia beranjak dari tempatnya, dan mengulurkan tangannya padaku. Seraya berkata, "Aku ingin soju. Kau mau minum denganku?"


Aku tertegun barang sejenak. Ini pertama kalinya bagiku menerima uluran tangan seseorang, biasanya orang-orang disekitarku akan menghindariku karena sikap kerasku.


"Tapi ini masih sore, masa kita mau mabuk di sore har—"


"Ayolah, ini bisa menghilangkan stressmu juga."


Dia menarik tanganku, dan mengajakku pergi meninggalkan cafe.


●●●


Dia mengajakku ke sebuah ladang hijau yang terletak dibelakang pabrik tua yang sepertinya sudah tidak produksi lagi.


"Ahhhhh aku suka rasa pahit dari soju," katanya seusai menenggak segelas soju. "Kau tidak minum?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karena kurasa aku akan langsung mabuk jika meminumnya." Jujur saja, aku belum pernah sekalipun mencoba minuman berakohol, jadi aku tidak mau mengambil resiko dengan mencoba meminumnya bersama dengan seseorang yang baru kukenal. Yaaa meskipun dia calon suamiku.


"Benar. Kalau kau mabuk, maka kau tidak akan bisa menikmati pemandangan matahari terbenam," serunya.


"Matahari terbenam?"


"Memangnya kau pikir kenapa aku membawamu ke sini?" Dia balik bertanya. "Kau tidak berpikir aku akan melakukan hal yang aneh padamu, 'kan?"


Aku menghela napas panjang. Sejujurnya memang itulah yang kupikirkan. Aku sudah sering melihat tingkah laku para anak pengusaha yang melakukan trik-trik seperti ini. Itulah sebabnya aku tidak menemaninya minum, takut dia melakukan hal aneh jika aku mabuk.


Dia tersenyum, "tentu saja kau tidak berpikiran aneh, wajahku polos dan baik seperti ini, mana mungkin disalahpahami."


Perkataannya tanpa sadar membuatku mengeluarkan tawa. "Kau narsis sekali."


"Bukan narsis, tapi tampan."


Entah mengapa kami berdua dapat berbincang dengan sangat nyaman, dan ini juga kali pertamaku dapat tertawa selepas ini. Dia pun tidak terlihat tertekan lagi seperti saat pertama aku melihatnya di cafe. Apakah ini karena kami memiliki tekanan hidup yang sama? Mungkin begitu.


Kami berbincang cukup lama, entah apa yang kami bincangkan, aku melupakan semua perbincangan kami karena entah kenapa kenyamanan yang dia berikan padaku lebih mencuri banyak bagian dalam ingatanku.


"Oh, matahari akan mulai terbenam!" Serunya.


Aku mengikuti arah dia memandang —di mana matahari mulai turun dari takhtanya—


"Kau..., masih belum terlambat bagimu untuk menolak perjodohan ini," ucapnya, yang langsung mencuri perhatianku.


Dia menatapku dengan tulus. "Jangan biarkan orang lain memaksamu, dan membuatmu menyesal di masa mendatang. Aku...," dia terdiam, dan perlahan menghindari pandanganku. "Aku sangat tahu rasanya menyesal, karena itu aku..., sebagai rasa terimakasihku karena kau telah menemaniku minum di hari peringatan kematian ibuku ini, aku ingin memberitahukanmu itu." Wajah murung dan tertekan yang dia tampilkan saat di cafe tadi, kembali meliputi wajahnya.


Peringatan kematian ibunya? Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Ini pertama kalinya aku merasa harus menghibur seseorang. Apa yang harus kukatakan untuk menghiburnya?


"Kau..., aku belum tahu namamu?" Bodoh sekali, apakah pertanyaan seperti itu dapat menghibur?


Dia kembali menatapku. Langit jingga, dan cahaya orange yang menyinari wajah murungnya itu membuatku menyadari bahwa pria ini..., telah memprovokasi sesuatu dalam diriku. Aku...,


"Aku, Ji Hyujin."


Sepertinya aku..., jatuh cinta.


●●●

__ADS_1


Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, dengan pria yang dijodohkan denganku. Namun, kesederhanaan yang Hyujin perlihatkan padaku rupanya tidak mewakili hidupnya yang ternyata begitu rumit. Aku baru tahu bahwa Hyujin adalah...,


"Dia adalah Jin Ji, seorang aktor. Seharusnya dia menjadi model pakaian untuk salah satu merk di VVIP Store, dan juga model untuk brand parfume kita tapi, pagi ini berita skandal tentangnya muncul. Jadi, kami, dan pihak VVIP Store membatalkan kontrak dengannya," penjelasan Hyena tentang profil Hyujin yang terpampang di dalam presentasi produk, membuatku tertohok.


Hari ini kami sedang mendiskusikan pergantian model untuk brand parfume kami, karena model terdahulu terkena skandal pagi ini, dan aku tidak pernah tahu bahwa model yang dimaksud oleh bawahanku adalah..., Hyujin. Dia seorang aktor bernama Jin Ji? Skandal? Kenapa bisa begini? Apakah ini hanya orang yang mirip saja? Hyujin itu seharusnya pewaris keluarga kaya. Pikiranku berkecambuk. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mereka bukanlah orang yang sama. Namun, profilnya diinternet menyebutkan nama aslinya. Ji Hyujin.


"Skandalnya tidak terlalu besar, hanya kabar berkencan dengan anak dari sutradara film yang sedang dibintanginya. Namun, karena dia hanya aktor nugu (tidak terkenal) skandal sekecil apapun akan menghancurkan karirnya," Chun Bong mengeluarkan pendapat.


Biasanya aku sangat mendukung pendapat Chun Bong. Namun, kali ini..., hatiku sakit.


"Kita sudahi saja..., rapatnya," titahku. Aku berjalan keluar dari ruang rapat. Aku harus mencaritahu tentang Hyujin yang sebenarnya. Biar bagaimanapun, aku tidak ingin jatuh cinta untuk pertama kalinya pada orang yang salah.


●●●


"Aku pikir kau tidak datang," kata Hyujin.


Chae Eun menarik kursi di depannya dan duduk di sana. Tepat setelah Chae Eun keluar dari ruang rapat pagi ini, Hyujin menghubunginya dan mengajaknya bertemu.


"Aku baru mengetahuinya, bahwa kau adalah seorang aktor," kata Chae Eun, terdengar dingin, berbeda sekali dengan Chae Eun yang ditemui Hyujin saat pertemuan pertama, kedua, ketiga, dan keempat mereka.


Hyujin tersenyum ketir. "Iya, maafkan aku karena tidak mengatakan padamu sebelumnya. Saat itu aku terlalu malu untuk mengakui bahwa aku...,"


"Aku pikir kau adalah pewaris keluarga kaya," sela Chae Eun, seolah tidak mau dengar alasan Hyujin.


"Nde?"


"Aku berpikir kau berpakaian kumuh untuk terlihat rendah hati, mengingat kebanyakan pewaris keluarga kaya selalu melakukannya untuk pencitraan."


Hyujin tertegun. "Berpakaian kumuh? Itukah yang kau pikirkan tentangku saat kita bertemu pertama kali?" Ada sirat kekecewaan dari nada bicara Hyujin.


"Aku...," Chae Eun terdiam barang sejenak. Dia mungkin terlalu terkejut dengan fakta bahwa Hyujin adalah seorang aktor yang terlibat skandal tapi, biar bagaimanapun, Hyujin adalah cinta pertamanya. Chae Eun menghela napas panjang. "Aku akan ke toilet dulu," katanya, kemudian dia beranjak dari tempatnya.


Di dalam kamar mandi, Chae Eun mencoba menenangkan dirinya. Sebenarnya kenapa denganku? Aku marah padanya karena dia bukan pewaris keluarga kaya? Atau karena dia terlibat skandal kencan? Atau mungkin aku marah karena ayah menjodohkanku dengan orang sepertinya? Atau yang lainnya, karena dia adalah cinta pertamaku dan aku merasa dia haruslah orang yang sempurna?


Chae Eun menghela napas panjang. Dia berdiam diri cukup lama di kamar mandi, hingga akhirnya dia merasa sudah cukup tenang, barulah dia kembali ke ruangan restoran yang sengaja Hyujin pesan untuk bertemu. Namun, diambang pintu, Chae Eun menghentikan langkahnya ketika...,


#prakkkk


"Sialan kau! Sudah berbuat onar dan menyusahkanku, kau masih sempat-sampatnya memesan ruangan vip di restoran ini?! Kau pikir kau siapa berani menghamburkan uangku?!!" Taehyung memaki dan memukul pipi Hyujin dengan keras, dan itu membuat Chae Eun tertegun hingga mematung.


"Aku memesan ruangan ini tidak dengan uangmu, direktur."


#prakkkk


Tamparan keras yang kembali melayang ke wajah Hyujin, membuat Chae Eun akhirnya berhenti mematung. Dia hendak masuk dan menolong Hyujin. Namun, tatapan mata Hyujin yang tertaut dengan matanya, membuat Chae Eun kembali mematung. Hyujin nampak begitu sedih saat tahu bahwa Chae Eun melihat keadaannya yang seperti ini.


"Kalau kau punya uang, seharusnya kau gunakan itu untuk menutupi skandal murahanmu itu, sialan!! Mau sampai kapan kau terus menyusahkanku, huh?! Dengar ya! Jika sampai kau terkena skandal lagi, dan menyusahkanku, maka aku akan menghancurkanmu sampai lebur, kau tahu kan bahwa aku dapat melakukannya?!" Ancam Taehyung, sebelum dia pergi, dan meninggalkan Hyujin yang terbaring lemah dilantai.


"Keluarlah," kata Hyujin, lirih.


Chae Eun yang bersembunyi dibalik dinding meremas ujung roknya, apa yang baru saja dilihatnya benar-benar membuat dia tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan Hyujin.


"Tentu, kau tidak perlu keluar, karena aku memang sangat memalukan untuk dilihat." Kembali Hyujin berkata. Dia berusaha berdiri dengan kemampuannya sendiri. "Tapi, beginilah aku. Aku bukan orang sukses, atau bukan seorang pewaris keluarga kaya. Latar belakangku juga buruk. Maaf kalau aku mengecewakanmu. Tapi, kau juga tidak perlu menyalahkan ayahmu yang telah menjodohkanmu dengan sampah sepertiku. Karena..., ayahmu juga terpaksa melakukannya." Hyujin berjalan keluar dari ruangan itu, dan menengok Chae Eun yang bersembunyi dibalik dinding tersebut.


"Chae Eun, walau hanya sebentar, aku sungguh berterimakasih karena kau telah menjadi teman tertawaku. Aku..., sungguh senang. Selamat tinggal."


Chae Eun merasa hancur ketika melihat punggung Hyujin yang semakin menjauh.


Hatiku..., kenapa sakit sekali mendengar kata selamat tinggal darinya? Aku..., tidak mau kehilangannya. Aku..., tidak rela.


Flashback off


Perkataan selamat tinggal itu pada akhirnya membuatku yakin, bahwa aku..., tidak ingin kehilangannya. Karena itulah aku tetap melanjutkan perjodohan kami. Dan untuk melindunginya dari skandal dan dari direktur sialan itu, aku memutuskan untuk merahasiakan pernikahanku dengannya. Bukan tanpa alasan, aku bisa saja menghancurkan direktur itu. Namun, itu pasti akan membuat Hyujin tersinggung karena aku ikut campur dalam urusannya. Aku..., mungkin karena dia cinta pertamaku, jadi aku ingin terus memberikan yang terbaik untuknya tanpa menyinggungnya.

__ADS_1


__ADS_2