Secret Wedding

Secret Wedding
Part 5


__ADS_3

"Raja neraka itu, siapa namanya?" Tanya Chae Eun.


Jin Ji menautkan alisnya, "bukan raja neraka, namanya adalah Im Seok Woo. Jadi, jangan asal memanggil orang dengan sembarangan!" Tukas Jin Ji.


"Terserah saja. Yang jelas orang itu kenapa lama sekali? Hanya beli bir saja selama ini, aneh sekali dia bisa menjadi manager dari aktor yang sedang naik daun," sindir Chae Eun.


"Astaga, mulutmu itu menyakitkan sekali ya," omel Jin Ji. Namun, Chae Eun mengabaikannya.


Di sisi lain.


Kadar toleransi alkohol rendahnya membuat Seok Woo sekarang terbaring dijalan, membayangkan bahwa jalan beraspal yang dingin itu adalah ranjangnya.


"Akhirnya aku bisa istirahat," racau Seok Woo, dan dia mulai tertidur pulas tanpa mengingat bahwa ada dua orang yang sedang menunggunya membawa bir.


(Kembali ke Jin Ji, dan Chae Eun.)


"Tumben sekali kau ke sini," kata Jin Ji.


Chae Eun mencibir, "tumben? Apa itu berarti kau sering berada di sini, huh?"


Jin Ji terdiam, dia baru menyadari bahwa dia baru saja mengakui bahwasannya dia sering datang ke rumah ini. Mampuslah aku, kenapa aku bisa sebodoh itu? Jin Ji merutuk dirinya dalam hati.


Rumah megah itu mungkin dulunya memang milik keluarga Jin Ji. Namun, setelah Bank melelangnya, rumah megah tersebut sudah secara resmi menjadi milik Chae Eun.


"B-bukan begitu..., maksudku..., aku hanya...,"


"Sudahlah," sela Chae Eun. "Aku benar-benar lelah, sampai-sampai aku merasa kepalaku akan meledak jika harus mendengarkan alasanmu."


Jin Ji menundukkan kepalanya, "maaf ya. Aku sudah lancang dengan masuk ke sini tanpa izinmu. Aku hanya..., hanya merindukan suasana rumah ini, dan juga..., terimakasih karena kau tidak merombak interior rumah ini, sehingga aku bisa bernostalgia dengan ingatan bahagiaku bersama orangtuaku."


Chae Eun mendecih, "cih, bukannya aku tidak mau merombaknya, hanya saja aku tidak punya uang untuk melakukannya," Chae Eun bergumam. Sejak masa pandemi berlangsung, Chae Eun kehilangan banyak pendapatannya, dia bahkan harus menjual rumah mewahnya untuk bisa membayar biaya produksi perlengkapan kesehatan seperti kostum APD, masker, hand sanitizer, dan lainnya. Sebenarnya dia bisa saja meminta uang ayah, ataupun keluarganya, mengingat mereka semua sukses. Namun, Chae Eun tidak mau melakukannya. Dia tidak mau sampai disebut gagal oleh keluarganya. "Hahh, rumah mewahku," gumam Chae Eun. Tapi tidak apa-apa, kudengar keuntungan dari menjual perlengkapan kesehatan itu sangat besar, jadi, aku pasti bisa membeli kembali rumah yang lebih mewah. Pikiran picik yang berputar dikepala Chae Eun.


"Aku sungguh berterimakasih padamu, nona Chae Eun..., aku..., belum bisa move on dari rumah ini," kata Jin Ji lemah. "Kau tahu nona Chae Eun? Aku menjadi aktor untuk bisa mengambil kembali rumah ini. Aku pikir akan mudah bagiku mendapatkan uang banyak dengan menjadi aktor, setidaknya itulah yang kulihat ketika melihat para selebritis di televisi. Namun, ternyata tidak seperti itu. Aku..., tidak pernah sukses. Aku...," Jin Ji terdiam.


Chae Eun menoleh, dan mendapati Jin Ji rupanya sudah terlalu mabuk, hingga dia sudah lebih dulu ambruk.


__ADS_1


"Astaga, dia baru minum beberapa kaleng bir tapi, sudah mabuk? Ckckck, kadar toleransi alkoholnya benar-benar memprihatinkan," ejek Chae Eun yang memiliki kadar alkohol yang tinggi.


Chae Eun beranjak dari tempatnya, dia pergi ke kamar untuk mengambil selimut, kemudian memakaikan selimut itu pada Jin Ji.


"Sleep well..., suamiku," bisik Chae Eun, sebelum dia pergi meninggalkan rumah yang berhasil dia menangkan di lelang itu.


●●●


Jessi terbelalak saat melihat 73 panggilan tak terjawab dari Chae Eun.


"Gawat!!"



"Ada apa?" Hyunwoo terkejut setelah melihat Jessica terkejut.


"Chae Eun menghubungiku sampai 73 kali."


Hyunwoo menghela napas panjang, "kupikir ada apa. Kau membuatku terkejut saja," keluh Hyunwoo.


"Untuk apa? Bukankah kau bilang dia pergi ke kediaman keluarga besarnya?" Hyunwoo mengingatkan. "Lagipula aku tahu betul tentang keluarganya, mereka semua sangat baik dan menyayangi si mulut cabe itu, jadi kenapa kau harus selalu mengkhawatirkannya tiap kali dia kumpul dengan keluarganya, eoh? Sudahlah, ini kan jadwalnya kau bersamaku. Aku sudah merelakanmu padanya lima hari dalam seminggu, jadi dia tidak boleh mengganggumu dua hari dalam seminggu ini!" Tukas Hyunwoo. Meskipun Hyunwoo adalah seorang presdir yang pekerjaannya sangat banyak. Namun, dimata Hyunwoo, Jessica lebih sibuk daripada dirinya. Dia hanya bisa menghubungi kekasihnya itu saat akhir pekan.


'Benar. Keluarga Chae memang sangat baik, akupun juga berpikir betapa anehnya Chae Eun karena tanpa alasan dia merasa tertekan berada di dalam keluarganya. Namun..., pada akhirnya aku bisa mengerti perasaannya, dan merasa wajar bila dia merasa tertekan'. Pikir Jessica.


"Tapi...,"


"Sssttt, jangan bicara lagi, atau aku akan menciummu," sela Hyunwoo, dan itu membuat Jessica menatapnya dengan intens, seolah mencoba menggoda kekasihnya tersebut.



"Kau yakin mau menciumku?"


Wajah Hyunwoo dalam sekejab seolah diberi efek blush-on. Dia sebenarnya hanya bergurau saja. Lagipula, Hyunwoo adalah tipikal pemalu tiap berada didekat Jessica.


"A-aku..., aku..., hanya bergurau saja," kata Hyunwoo pelan.


"Sayang sekali, padahal kalau kau tidak bergurau, aku beneran akan menciummu," goda Jessica. Dia sangat senang tiap kali menggoda Hyunwoo dengan cara seperti itu, dan itu benar-benar menghibur.

__ADS_1


"B-benarkah? Kau sungguh akan menciumku?" Tanya Hyunwoo dengan wajah bak anak kecil yang mengharapkan permen.



"Kemarilah." Jessica menarik tengkuk Hyunwoo, hendak menempelkan bibirnya ketika suara pintu terbuka mengejutkannya.


"YAAAA!!! KAU KENAPA ASAL MASUK SAJA?!" Omel Jessica. Sedangkan Chae Eun —orang yang asal membuka pintu— memandang Jessica dan Hyunwoo secara bergantian tanpa merasa bersalah telah mengganggu intensitas kedua pasangan itu.


"Hey, Chun Bong, aku menghubungimu berkali-kali, kenapa tidak diangkat?" Tanya Chae Eun.


Jessica mendengus kesal, "namaku Jessica!" Tukasnya.


"Terserah saja," sahut Chae Eun, sembari duduk di antara Jessica dan Hyunwoo.


"Hey, kau kan bisa duduk di tempat lain!" Tegur Hyunwoo.


"Chun Bong, kenapa tidak angkat teleponku? Kau kan tahu kalau aku butuh kau tiap kali mengunjungi keluargaku," keluh Chae Eun pada Jessica, seolah dia tidak peduli keberadaan Hyunwoo.


Jessica ingin memprotes ketika Chae Eun memanggilnya dengan nama lama. Namun, melihat wajah sendu Chae Eun, Jessica lebih memilih untuk mentolerirnya.


"Hey, kenapa kau selalu membutuhkan kekasihku setiap habis berkumpul dengan keluargamu, huh?!" Tegur Hyunwoo.


Jessica menghela napas panjang, "hahh, adakah yang terjadi di sana?" Tanyanya pada Chae Eun, seolah dia juga tidak peduli dengan keberadaan Hyunwoo.


"Tidak ada. Mereka nampak selalu bahagia, dan saling menyayangi. Aku..., apakah mungkin aku gila, Chun Bong? Keluargaku seharmonis itu tapi, kenapa aku merasa tertekan?" Tanya Chae Eun lemah.


Jessica menepuk pelan bahu Chae Eun. Keluarga besar Chae memang selalu harmonis. Namun, keharmonisan itu membutuhkan pengorbanan Chae Eun. Chae Eun adalah anak bungsu keluarga itu, sebagai anak bungsu dia harusnya yang paling di manja. Namun, kenyataannya adalah orang tuanya lebih condong memanjakan ketiga kakak Chae Eun. Mereka lebih menuruti keinginan ketiga anak tertuanya itu. Bukan tanpa alasan, semua kakak Chae Eun bukanlah orang serakah yang menginginkan harta orangtuanya, mereka sudah memiliki tujuan hidup mereka masing-masing, sehingga sang ayah dan ibu mereka hanya perlu mendukung tujuan mereka. Kakak pertama Chae Eun, Chae Jung —wanita (37) tahun— sudah dari dulu berminat pada dunia fesyen, sehingga dia belajar tentang design hingga keluar Negeri, dan sekarang namanya telah masuk jajaran designer ternama. Kakak kedua Chae Eun, Chae Hyun —pria (32) tahun— yang sangat senang belajar, akhirnya berhasil menjadi seorang dosen UNS (Universitas Negeri Seoul) yang sangat didambakannya. Sedangkan kakak ketiga Chae Eun, Chae Sun —wanita (29) tahun— hanya bermimpi sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi pekerjaan rumah, dan mimpinya kini terwujud, meskipun suaminya yang seorang pengusaha itu agak tidak perhatian, tapi Chae Sun tetap saja bahagia, bahkan sebentar lagi dia akan punya anak. Akan tetapi, berbeda dengan kakak-kakaknya, karena terlalu cerdas dan bisa melakukan segala yang dikerjakannya dengan sempurnya, orang tua Chae Eun, dan juga semua kakaknya mulai mendikte hidup Chae Eun. Awalnya Chae Eun pikir itu bukanlah masalah, mengingat dia sendiripun tidak tahu tujuan hidupnya. Namun, kebiasaan mereka mendikte hidup Chae Eun membuat mereka tidak pernah mendengarkan pendapat Chae Eun, dan selalu saja menganggap perkataan Chae Eun adalah bualan, atau omong kosong. Hingga akhirnya, saat Chae Eun beranjak remaja dia mulai menyadari bahwa dia telah benar-benar kehilangan dirinya, semua yang dilakukannya adalah atas arahan orangtua, dan juga kakak-kakaknya. Chae Eun tidak pernah sekalipun menang saat mencoba untuk mempertahankan keinginannya, keluarganya dengan hebat selalu bisa menepis argumen Chae Eun. Mungkin itu jugalah yang menjadikan Chae Eun selalu bersikap sarkasme terhadap orang-orang di sekitarnya.


"Iya, kurasa kau memang gila. Kalau tidak gila, tidak mungkin kau merasa frustrasi dengan keluargamu yang sempurna seperti itu," oceh Hyunwoon. Namun, lagi-lagi, dia diabaikan.


"Tidak begitu kok, mana mungkin kau gila. Kalau kau gila aku tidak mungkin berteman denganmu. Sudahlah sebaiknya kita tidur saja, ayo." Jessica menuntun Chae Eun masuk ke kamar, kemudian menutup pintu tersebut, meninggalkan Hyunwoon yang kini menatapnya tak percaya.


"Aku..., diabaikan ya?"



"Menyebalkan!" Gerutunya.

__ADS_1


__ADS_2