
Nathan mendengar suara berdering di ponselnya. Ia mengambilnya, dan melihat sebuah pesan dari Diego. Pesan itu berisi sebuah berita mengejutkan: Peletakan batu pertama pada pembangunan hotel di Surabaya akan dilakukan besok, di mana perusahaan Pratama Grup ikut kerja sama dengan Grup Nugraha yang dipimpin oleh Satya Nugraha.
Nathan merenungkan berita itu dalam hatinya. Ia bekerja sebagai CEO di Pratama Group, dan proyek pembangunan hotel itu adalah tanggung jawabnya. Nathan tahu harus mempersiapkan segala sesuatu untuk peletakan batu pertama, tetapi pikirannya terus terganggu oleh satu hal.
"Aku tidak yakin tentang Satya Nugraha. Aku pernah mendengar bahwa perusahaan Grup Nugraha terlibat dalam beberapa kegiatan yang tidak jelas," kata Nathan setelah mereka selesai sarapan.
"Benarkah? Tapi apakah kamu memiliki bukti konkret?" tanya Tama karena selama ia masuk dunia bisnis grup Nugraha lebih maju sejak dipimpin oleh Satya
"Tidak, Yah. Aku hanya mendengar dari beberapa orang yang pernah menjalin kerjasama dengan Grup Nugraha. Tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan mereka." Nathan mengambil handphonenya dan mulai mencari artikel tentang Satya.
"Kamu perlu mencari bukti sebelum membuat kesimpulan. Ini adalah proyek penting, dan kamu tidak ingin ada yang salah," pesan Albert ada putranya.
Nathan setuju dengan papanya, tetapi pikirannya tetap gelisah. Ia masuk ruang kerjanya dan mulai mencari informasi tentang Grup Nugraha di internet. Setelah beberapa jam, ia tidak menemukan sebuah laporan investigasi tentang perusahaan tersebut.
Nathan tersenyum saat menemukan berita jika sang hot duda sudah menemukan tambatan hatinya.
"Ini tidak mungkin. Sial, orang -orang itu sakit hati karena ditolak kerjasama dengan Grup Nugraha karena berbuat curang. Bagaimana bisa Pratama Group bekerja sama dengan perusahaan seperti ini?"
Nathan pun memutuskan untuk memberi tahu mertuanya, kontraktor yang akan bekerjasama dalam pembangunan apartemen.
"Ayah, saya menemukan beberapa informasi yang menunjukkan bahwa kontraktor yang akan kerja sama dengan kita terlibat dalam beberapa skandal korupsi di masa lalu. Apakah agak-riskan untuk bekerja sama dengan mereka?"
Tama diam sejenak, lalu memandang Nathan dengan lembut.
"Nathan, saya tahu kamu takut proyek ini akan gagal. Namun, bagi perusahaan, ini adalah kesempatan yang begitu besar. Kita tidak bisa menolak peluang seperti ini, terlepas dari siapa pun mitra bisnisnya. Selama proyek dijalankan dengan baik dan sesuai dengan rencana, maka Ayah yakin semuanya akan berjalan lancar."
Nathan merasa kecewa dengan jawaban Tama, tetapi ia tahu mertuanya benar. Ia kembali ke ruang kerjanya dan meneruskan persiapan untuk acara peletakan batu pertama.
****
Esok harinya, Nathan dan Tama langsung bertolak ke Surabaya. Setelah satu jam akhirnya pesawat sampai di bandara Juanda Surabaya.
Nathan dan mertuanya keluar dari bandara, keduanya dijemput langsung oleh Ranga asisten dari Satya Nugraha.
"Selamat datang di Surabaya, Tuan Nathan dan Tuan Tama." Ranga membukakan pintu untuk kedua tamunya itu.
"Penyambutan yang hangat, Tuan Ranga." Tama menepuk pundak Ranga.
Setelah semua masuk mobil, Ranga segera mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Mereka langsung ke proyek yang akan di bangun hotel.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam mobil yang di kemudian oleh Ranga sampai lokasi.
Semua persiapan selesai, Nathan dan timnya siap untuk melakukan peletakan batu pertama. Tiba-tiba, Nathan melihat Satya Nugraha datang. Nathan merasa tidak tenang, dan mendekati Satya.
"Tuan Satya, maaf mengganggu. Saya ingin memastikan bahwa semuanya berjalan dengan lancar dan terhindar dari masalah di masa depan."
Satya tersenyum dan memeluk Nathan."Jangan khawatir, Tuan. Saya tidak akan membuat masalah apa pun. Saya ingin memastikan bahwa proyek ini sukses, karena itu akan menguntungkan bagi kedua perusahaan kita."
Nathan merasa lega dengan jawaban Satya, dan memutuskan untuk tidak lagi curiga terhadapnya. Acara peletakan batu pertama berjalan lancar, dan Nathan kembali ke Jakarta dengan perasaan senang.
Namun, beberapa hari kemudian, satu-satunya perasaan yang tersisa bukanlah kebahagiaan, melainkan kecemasan.
Nathan menerima panggilan dari keamanan perusahaan, menginformasikan bahwa Tuan Dika mandor kontraktor ditangkap karena terlibat dalam skandal korupsi.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Jangan khawatir, Nathan. Kita sudah mempersiapkan segalanya dengan tim hukum. Ini akan memperlambat proyek, tetapi itu tidak akan menghentikan kita sepenuhnya. Kita akan menyelesaikan proyek ini tanpa masalah."
Nathan merasa lega dan bersyukur memiliki mertua yang bisa diandalkan seperti Tama.
"Terima kasih, Ayah."
Nathan mengangguk, pria itu membenarkan apa kata papanya. Mertuanya terlihat santai walaupun beberapa investor asing muli menghubunginya atas apa yang terjadi di lahan proyek.
Merasa kepalanya pusing, Nathan keluar dari ruang kerjanya.
Pria itu menuju ke lift, tapi saat pintu lift terbuka ia melihat mertuanya sedang bicara serius dengan seseorang yang baru dilihatnya.
Nathan buka tipe orang yang ingin tahu urusan orang lain, pria itu sudah memperingatkan Tama tentang kontraktor yang bekerjasama dengan perusahaan.
Filingnya jarang sekali melesat, Ia keluar begitu saja tanpa menyapa Tama karena jarak mereka lumayan jauh.
Tanpa Nathan sadari Tama melihat menantunya itu keluar dari kantor, pria paruh baya itu menarik napas dalam.
Mobil yang dikemudikan oleh Nathan keluar dari area kantor, ia melajukan dengan kecepatan tinggi.
Sekarang ia hanya ingin memeluk istrinya, hanya itu yang bisa membuat hatinya lebih tenang.
Setelah tiga puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Nathan sampai di depan rumah Tama.
__ADS_1
Pria itu memarkirkan mobilnya dengan sembarangan, setelah itu segera masuk dan menuju ke lantai atas. Baru saja kakinya memijak undakan, suara yang dirindukannya terdengar memanggilnya.
Nathan segera membalikkan badan, pria itu langsung memeluk Zara hingga membuat wanita itu terpekik karena terkejut akan tindakan suaminya.
"Kamu ini kenapa, Sih, Mas?" Zara mengajak suaminya untuk duduk di di ruang keluarga.
Dania yang memangku Nevan hanya menggelengkan kepala. Dulu putranya itu tidak sampai segitunya dengan Maryam, tapi Saat melihat bagaimana Nathan begitu tergantung dengan Zara ada rasa bahagia karena bukan Maryam yang menjadi menantunya.
"Ajak suamimu makan, Nak!" pinta Dania pada sang menantu.
"Mas belum makan?" tanya Zara dengan mata melotot.
Nathan tersenyum dan mengangguk, hal itu membuat Zara menatap suaminya dengan tajam.
"Apa ada sesibuk itu, Mas. sampai tidak sempat makan!" kata Zara ketus.
Nathan yang paham bagaimana sang istri sejak memiliki anak semakin cerewet, apalagi menyangkut tentang kesehatan.
"Maaf." Nathan duduk di depan sang istri yang sedang mengisi piringnya.
Pria itu makan begitu lahap, sedang sang istri setia menemaninya. Setelah selesai Nathan segera naik ke lantai dua.
Zara hanya menatap punggung suaminya hingga tidak terlihat lagi, wanita ikut bergabung dengan mama mertuanya.
"Sepertinya Nathan sedang ada masalah, Nak?"
"Iya, Mam. Zara juga belum ingin menanyakan apa sebenarnya yang terjadi, tunggu sebentar lagi."
Zara mengambil alih putranya karena sang Omanya akan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Zara segera naik ke lantai dua, wanita itu tersenyum saat Nevan tidur begitu nyenyak jika bersama Omanya.
Dibukanya pintu perlahan, Zara segera membaringkan tubuh putranya di box. Wanita itu melihat sekeliling tidak ada suaminya.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat siluet suaminya di balkon kamar.
Zara membuka menggeser pintu balkon, wanita itu begitu terkejut hingga menutup mulutnya melihat apa yang sedang dilakukan suaminya.
__ADS_1