Secret Wedding

Secret Wedding
Part 16


__ADS_3

"Apa kita tidak apa-apa di sini?" Tanya Jin Ji tak enak hati. Usai memergoki Hyunwoo dan Jessica. Jessica tak sekalipun keluar dari kamarnya.


"Tidak apa-apa, lagipula ini adalah tempat teraman untukmu daripada hotel atau rumah sakit!"


"Tapi...,"


"Tenang saja, aku sering memergoki mereka. Jadi, seharusnya mereka sudah terbiasa," jawab Chae Eun seenaknya, dan itu membuat Jin Ji terkejut.


"Kau sering memergoki mereka? Yaa! Tidakkah kau merasa canggung sama sekali?"


"Itu urusanku mau canggung atau tidak. Yang menjadi urusanmu adalah wajahmu ini. Aishhh bagaimana kau bisa menghasilkan uang, dan membayar uang sewa rumah kalau wajahmu babak belur begini? Ck!"


Jin Ji tersenyum pahit. Bodoh sekali! Ji Hyujin, apa yang kau harapkan?


"Semua ini salahmu! Kenapa kau melupakan sandi pintunya?! Bodoh!" Umpat Jin Ji.


"Yaa! Seumur hidupku ini pertama kalinya ada yang mengataiku bodoh! Kau cari mati?"


"Memangnya kau bisa apa? Dada saja tidak punya malah mau berlagak membunuh orang," ejek Jin Ji.


"Ya-a, apa hubungannya dengan dadaku?! K-kau, pi-pikiranmu mesum sekali!"


"Bukan mesum! Aku hanya bicara fakta!"


"Memangnya kau tahu faktanya, huh? Dadaku ini terlihat rata karena aku suka memakai baju yang longgar, jika aku membukanya kau..., kau..., akan melihat...," Chae Eun seketika terdiam, wajahnya memerah begitupun dengan Jin Ji.


"Uhukk..., uhukk. Omong-omong, bagaimana kita akan menangani pintu rumah?" Jin Ji mengalihkan pembicaraan.


"Terpaksa harus panggil tukang kunci lagi, dan mengganti kuncinya dengan yang baru lagi."


"Huhhhh~" Jin Ji menghela napas panjang.


#brakkk


Chae Eun dan Jin Ji terperanjat ketika Jessica keluar dari kamarnya, dan menghampiri mereka yang sedang duduk di ruang tamu.


"Kau sudah bangun?" Tanya Chae Eun seolah tak pernah ada yang terjadi.


Jessica nampak kesal. "Kalian kenapa ke sini?! Kalian pikir ini hotel, hah?!"


"Itu, n-nona Chun Bong. Kami...,"


"JESSICA! PANGGIL AKU JESSICA!" Jessica memarahi Jin Ji, membuat Jin Ji tertegun.


"Yaa! Kenapa kau memarahi Jin Ji, huh? Namamu kan memang Chun Bong!" Tukas Chae Eun.


"Kau!" Jessica menarik kerah baju Chae Eun, dan keduanya pun mulai adu tinju. Sedangkan Jin Ji kini kebingungan harus bagaimana memisahkan dua macan betina yang sedang bertarung.


"H-hey, hentikan. Jangan bertengkar." Jin Ji berusaha untuk melerai. Namun, yang ada dia justru terdorong hingga tubuhnya membentur meja.


"Hyujin-ah, kau tidak apa-apa?" Chae Eun, dan Jessica segera mengakhiri perkelahian mereka, dan menghampiri Jin Ji yang kini meringis kesakitan.


"Astaga, kau tidak akan mengadu pada fansmu tentang ini kan?" Jessica khawatir, dan itu mengalihkan pandangan Chae Eun.


"Bukan saatnya kau mengkhawatirnya itu, bodoh!" Cibir Chae Eun.


"Memangnya kenapa kalau aku mengkhawatirkan itu, eoh?"


"Yaa kau!"


Chae Eun dan Jessica kembali berkelahi. Sedangkan Jin Ji kini hanya diam saja lantaran dia merasa percuma saja untuk melerai kedua macan betina itu.


●●●

__ADS_1


Meskipun penampilan keduanya menjadi kacau setelah perkelahian. Namun, Chae Eun dan Jessica duduk di meja yang sama seolah perkelahian tadi tidak pernah terjadi.


"Jadi kau belum berhasil mengajak oppa tampanmu itu naik ke ranjang?" Tanya Chae Eun.


Jessica menghela napas panjang, kemudian menenggak habis air yang ada di gelasnya. "Tadi itu hampir berhasil tapi, kalian datang tiba-tiba dan menghancurkan momen kami."


Jin Ji yang juga ada di sana merasa tak enak hati. "Maaf ya, nona Chun. Aku sungguh tidak bermaksud mengganggumu. Karena seseorang melupakan kata sandi rumah, jadi mau tidak mau kami ke sini."


"Sandi rumah kalian?" Jessica terheran.


"Iya, kebodohan orang itu membuat kami pada akhirnya tidak bisa masuk ke rumah." Jin Ji menatap Chae Eun dengan tatapan menghina. Sedangkan Chae Eun kini ikut menenggak habis minumannya.


"Tunggu! Maksudnya kalian tinggal bersama?!" Jessica nampak terkejut.


"Iya," jawab Jin Ji sekenanya.


Jessica mengalihkan pandangannya pada Chae Eun. "Yaa! Kupikir kau akan tinggal di hotel setelah keluar dari rumahku, rupanya kau..., emphhhh."


Chae Eun segera membungkam mulut Jessica. Ya! Jessica memang sempat berpikir bahwa Chae Eun tinggal di hotel lantaran rumahnya telah di sewakan pada Jin Ji, sedangkan rumahnya yang lain berada jauh dari Seoul.


"Kami hanya akan di sini untuk malam ini. Aku sudah menghubungi tukang kunci, dan semuanya akan beres besok," kata Chae Eun, sembari melepaskan bekapannya pada mulut Jessica.


Jessica memandang Chae Eun penuh curiga. "Wwaahhh~ aku tidak tahu kalau kau akan menggunakan cara ini untuk bisa tinggal dengannya," bisik Jessica.


Chae Eun sebelumnya memang pernah mengatakan bahwa jika Jessica tidak menerimanya untuk tinggal di rumahnya, maka dia akan dengan suka rela pergi. Rupanya itu hanya alasan agar dia bisa tinggal satu atap dengan Jin Ji. Licik sekali! Pikir Jessica.


"Omong-omong, tuan Jin, kenapa wajahmu lebam begitu?" Tanya Jessica. Dia tidak mau lagi ikut campur dalam urusan rumah tangga temannya.


"Oh ini. Aku..., hanya terjatuh saat sedang shooting," jawab Jin Ji, dengan memasang senyuman. Sedangkan Chae Eun terdiam, dan memutuskan untuk beranjak pergi.


"Mau ke mana?" Tanya Jessica.


"Keluar sebentar. Tolong jaga dia ya," jawab Chae Eun, sebelum dia pergi meninggalkan Jin Ji dan Jessica.


●●●


"Maafkan saya, nona. Saya hendak menolongnya tapi, ...," tuan Uhm terdiam.


"Tapi apa?"


Tuan Uhm masih terdiam, dan tengah menimbang apakah dia harus memberitahu Chae Eun bahwa alasan Jin Ji dipukuli adalah karena seorang wanita? Chae Eun mungkin akan sakit hati jika mengetahui itu tapi, jika tuan Uhm hanya diam saja, maka itupun tidak baik untuknya mengingat tabiat Chae Eun cukup mencenangkan bila kecewa.


"Apa?" Desak Chae Eun.


Sepertinya memang harus diberitahu. "Tuan Ji, dia berkelahi karena seorang wanita."


Chae Eun tersentak. "Karena wanita?!"


"Iya."


"I-itu, itu mungkin dia sedang membantu wanita itu dari orang jahat," Chae Eun memaksakan pendapatnya.


Tuan Uhm menggeleng. "Tidak, nona. Mereka saling kenal. Tuan Ji dan pria yang memukulnya memperebutkan wanita tersebut."


"Itu...," Chae Eun terdiam. Dia merasa hatinya sakit sekali mendengar hal tersebut. Aku sudah cukup kesulitan untuk mendekati Jin Ji, dan sekarang muncul seorang wanita. Jin Ji, sebenarnya aku harus melalui berapa kesulitan lagi agar aku bisa meraihmu?


"Ya sudah, kalau begitu tuan Uhm boleh kembali," kata Chae Eun, lemah.


"Bagaimana dengan nona?"


"Aku akan di sini dulu."


"Baiklah." Tuan Uhm beranjak dari tempatnya, dan meninggalkan Chae Eun di bar.

__ADS_1


Chae Eun menghela napas begitu berat, dan kemudian menenggak habis winenya. Padahal dulu dia tidak bisa minum alkohol tapi, karena Jin Ji bilang itu dapat menenangkannya, Chae Eun pun jadi mulai mengkonsumsinya.


"Ini melelahkan. Jin Ji nampak sederhana tapi, kenapa semua hal disekitarnya begitu rumit?" Gumam Chae Eun.


"Akhirnya aku menemukanmu."


Suara dari balik tubunya itu, membuat Chae Eun menoleh.


Haejun?


Haejun menghampiri Chae Eun yang duduk di meja bartander. "Kau tahu? Aku mencarimu ke mana-mana."


"Mencariku? Seperti ada hal penting saja yang bisa kau bicarakan denganku," cibir Chae Eun, sembari menuang wine ke dalam gelasnya, dan meminumnya sekali tenggakkan.


Haejun mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jemarinya menonjol. "Kau sudah menghancurkan hidupku, kau tahu?!" Maki Haejun.


"Dan kau hampir membuat hidup Jin Ji hancur," sahut Chae Eun.


#Brakkk


Haejun menggebrak meja Chae Eun dengan keras. "Sialan! Sebenarnya apa yang membuatmu begitu melindunginya?!"


"Itu bukan urusan orang asing sepertimu!"


"Yaa!!!"


"Apa? Mau protes? Seharusnya kau indahkan perkataanku jika tahu kau akan menyesal dan merengek seperti ini, bodoh!"


Haejun tersulut amarah, dia meremas kerah baju Chae Eun dengan kuat.


"Kau! Sebenarnya apa hubunganmu dengannya, huh? Kenapa kau sampai seperti ini padaku?! Kau membuatku harus merelakan banyak proyek hanya untuk diberikan padanya, kenapa?! Apa dia mainanmu? Jika iya, maka kau bisa menjadikanku mainanmu juga! Kau tahu? Aku lebih baik dari Jin Ji. Apa kau tidak tahu bagaimana masa lalu Jin Ji? Dia adalah seseorang yang menjual dirinya pada sponsor!"


Chae Eun bergeming barang sejenak. Kemudian berkata, "kau sudah selesai mengeluh? Jika sudah, maka sebaiknya kau lepaskan aku, karena banyak orang yang melihatnya. Kau pasti akan semakin terpuruk kalau media menemukan ini."


Haejun melihat ke sekeliling, hampir semua pengunjung bar memandangi mereka dan bebera bahkan ada yang mengabadikannya dengan kamera.


"Sial!" Umpatnya. "Temui aku di hotel Starup jika kau ingin tahu tentang masa lalu mainanmu itu." Haejun merapatkan hodienya, dan berlari pergi meninggalkan Chae Eun yang kini menatap kepergian Haejun dengan kesal.


●●●


Di ruang tamu. Jin Ji masih menunggu Chae Eun kembali, dan itu membuat Jessica menghela napas panjang.


"Kau masih menunggunya? Sebaiknya tidak perlu, Chae Eun itu orang yang memiliki banyak sekali pekerjaan, jadi dia tidak akan pulang jam segini, pasti pulang larut atau dini hari," kata Jessica. "Sebaiknya kau tidur saja, ini sudah larut, lagipula tubuhmu itu terluka, jika tidak beristirahat kau bisa sakit." Dan Chae Eun akan memakiku. Bisik hati Jessica. Sebelumnya Chae Eun mengirimi Jessica pesan untuk menjaga Jin Ji.


"Apa dia sesibuk itu?"


"Sangat! Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya, dan juga sibuk mengawasimu."


"Eh?"


Jessica tertegun. Sial! Apa aku salah bicara? Aishhh.


"Chae Eun biasa menggunakan kamar itu, kau masuklah ke sana jika sudah mau tidur, ok? Selamat malam." Jessica segera masuk ke kamarnya, meninggalkan Jin Ji yang masih tak mengerti dengan perkataan Jessica baru saja.


Ddrrrtttt ddrrrttt ddrrrttt


Jin Ji terdiam ketika menatap layar ponselnya yang ada di atas meja. Sang direktur meneleponnya, pasti untuk memakinya karena dia menghancurkan acara ulang tahun putri bungsi Sungsung elektronik.


Sebaiknya abaikan saja. Aku malas mengurusi Direktur sialan itu.


Jin Ji hendak menonaktifkan ponselnya ketika panggilan masuk itu berganti menjadi nomor ayah mertuanya.


"Oh, ayah mertua?"

__ADS_1


__ADS_2