
Sopir mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, sedangkan Zara merasa perutnya kian sakit.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi Zara sampai di depan rumah sakit.
Nathan dan Tama melihat mobil yang tak asing bergegas menuju mobil, dua orang perawat datang.
Zara dibantu Nathan keluar dari mobil dan didudukkan kursi roda. Selanjutnya perawat membawanya ke ruang bersalin.
"Anda suaminya?" tanya perawat itu.
Nathan hanya mengangguk saat seorang perawat memintanya masuk.
Dilihatnya istrinya sedang diperiksa, seorang dokter wanita menatap Nathan dan berkata,” Air ketubannya masih sudah keluar, sedangkan bukaannya belum lengkap.”
“Saya mau apa pun asal anak dan istri saya selamat, Dok.”
“Pasti kami akan mengusahakan,” jawab Dokter itu.
Zara tiba-tiba merasa lemas, Dokter langsung mengecek kondisi Zara dan janin dalam perutnya. Wanita berjas putih itu menatap Nathan.”Nona Zara harus segera dioperasi karena detak jantung anak Anda kian lemah.”
__ADS_1
“Mas,” kata Zara lirih.
“Semua akan baik-baik saja, Sayang.” Nathan mengecup kening Zara dan setelah istri istrinya dimasukkan ke ruang operasi.
Tama menatap Nathan yang keluar dari ruang bersalin, tidak lama seorang perawat segera memberikan berkas pada Nathan agar segera ditandatangani.
“Bagaimana bisa operasi?” tanya Tama menatap anak menantunya itu.
Nathan menceritakan kondisi istrinya yang sebenarnya, mendengar itu wajah Tama langsung berubah. Pria itu duduk dengan pikiran tidak tentu.
Nathan bentar duduk dan berdiri, kedua pria itu saling diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Setelah hampir satu jam , lampu yang berada di atas pintu ruang operasi mati. Tidak berselang lama seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Alhamdulillah, semua selamat baik anak dan istri Anda," kata Dokter itu dengan tersenyum.
Nathan dan Tama bernafas lega, saat keduanya ya hendak masuk dilarang oleh Dokter itu karena sebentar lagi Zara akan dipindahkan ke ruang rawat.
Tama dan Nathan akhirnya mengangguk setuju, lima belas menit kemudian jarak sudah dipindahkan ke ruang rawat.
Kenapa lihat istrinya dipindahkan , pria itu menatap wajah cantik Zara sedikit pucat. Namun, Dokter bilang tidak apa-apa.
__ADS_1
Nathan begitu bahagia karena anaknya yang lahir berjenis kelamin laki-laki, pria itu diam-diam sudah memberikan nama untuk anaknya.
Nathan meminta anaknya untuk dibawa ke ruang rawat, walaupun awalnya perawat tidak setuju karena takut Zara terganggu istirahatnya. Akan tetapi bukan Nathan jika apa yang dimintanya tidak dikabulkan.
Akhirnya putranya diantar ke ruang rawat Mamanya, tapi pria itu ingat jika Zara ingin dipanggil Bunda oleh anaknya kelak.
Tama dan Nathan melihat bayi mungil yang sedang tidur di box bayi itu, tanpa terasa air mata pria paruh baya itu mengalir membasahi kedua pipinya. Rasa haru dan bahagia yang dirasakannya, tiba-tiba ia mengingat bagaimana istri menginginkan cucu.
Andai saja Zeni masih ada, sang istri pasti akan bahagia.
Nathan segera mengambil anaknya untuk diadzani, setelah selesai pria itu membaringkan tubuh mungil itu dalam bok.
Tepat pukul delapan pagi, Zara membuka matanya. Wanita itu tersenyum tipis saat melihat suaminya sedang menggendong putranya.
"Mas," panggil Zara dengan suara lirih.
Nathan langsung menoleh mendekatkan putranya pada istrinya." Sayag, lihat Bunda sudah bangun."
Zara tersenyum, wanita itu sedikit meringis saat menggerakkan tubuhnya.
Nathan segera meletakkan putranya lagi dalam bok, pria itu segera kembali menghampiri sang istri." Sayang mana yang sakit?"
__ADS_1
"Mas perutku rasanya disayat," aku Zara dengan air mata yang berlinang.
Nathan mengecup kening istrinya, ia bisa melihat bagaimana sang istri ingin melahirkan normal, tapi sayang Dokter bilang bukannya tidak juga bertambah, hingga detak jantung putranya kian melemah.