Secret Wedding

Secret Wedding
S.W.37


__ADS_3

"kamu kenapa menggunakan kata kata itu lagi,?' tanya Aiden dengan sorot mata tidak sukanya


"enggak papa, gue hanya mencoba bangun dari mimpi aja, kalau gue bukan putri raja, gue hanya seorang trobel maker," jawabnya. kemudian melanjutkan aksi bersih bersihnya.


Aiden yang melihat itu, segera meraih sikat lantai dan mbersihkanya. membuat Feby yang berada di sana, melongo karena merasa tak percaya.


setelah semua selesai, Aiden membawa Feby untuk keluar dari dalam toilet.


Feby memutuskan untuk ke kelas sendirian. sementara Aiden, laki kaki itu mengikuti dari belakang.


"wah, sampai juga nih, si troble maker," ucap Syafira saat Feby sampai di dalam kelas.


namun, sepertinya gadis itu tak menghiraukan perkataan nenek lampir itu. gadis itu segera duduk di samping Sivia dan mulai membuka buku pelajaranya..


sementara Imelda, gadis itu tampak sibuk menulis catatqn dari temanya.


" Mel, loe nggak kesepian duduk sendiri,?" tanya Sivia secara tiba tiba.


Feby dan Imelda yang sedari tadi hanya sibuk masing masing, menoleh kearah Sivia dengan raut wajah bertanya tanya.


"emang kenapa,?" tanya Imelda dengan raut wajah penasaran.


"katanya, bakal ada anak murid baru sih," Sivia berkata dengan cengiran khasnya.


baru saja Feby akan bertanya lagi, tiba tiba wali kelasnya datang dan membawa seorang anak. yang di perkirakan murid baru.


"anak anak, ada teman baru untuk kalian," ucap Bu Reni pada semua siswa yang ada di sana.


"hai semua, perkenalkan aku Risa. pindahan dari kota B," ucapnya seraya melambaikan tangan pada semua murid.


"halo Risa," sapa mereka semua serempak. dan hal itu di sambut oleh Risa.


"nah sekarang, kamu boleh duduk di,.." Bu Reni tampak meneliti satu persatu tempat duduk di kelas itu.


"di sini saja Bu," tiba tiba Sivia menunjuk bangku kosong swbelah Imelda.


Bu Reni segera mengangguk dan menyuruh Risa untuk duduk di bangku sebelah Imelda.


"hai gue Risa," gadis itu tampak mengulurkan tangannya ke arah Imelda dan yang lainya.


"halo, gue Feby ," Frby tampak mengulurkan tanganya dan menjabat tangan Risa. begitupun dengan yang lain.


"semoga loe betah sekolah di sini," ucao Sivia dengan senyum mengembangnya.


"emang kenapa,?" tanya Risa dengan wajah bingungnya.


"karena ada mak lampir di kelas kita," Imelda tampak menahan tawanya saat berucap demikan.

__ADS_1


Sontak saja, perkataan elda itu membuat Risa menatap sekelilingnya. " loe serius,?" tanya gadis itu dengan mengedarkan pandanganya.


sontak saja, respon dari Risa itu, membuat Feby dan yang lainnya tertawa tetbahak bahak.


"hahaha serius bsnget muka loe Ris," ucap Sivia dengan memegangi perutnya yang merasa kram itu.


Risa yang sedari tadi hanya mendengar, menjadi semakin bingung. " kalian ngerjain gue ya,?"tanya gadis itu dengan wajah cemberut.


"enggak, memang, di sini ada mak lampir, kalau nggak percaya, coba aja lihat tuh di depan sebelah kiri," Imelda berucap dengan menunjuk ke arah Syafira.


Risa dengan patuhnya, mengikuti perintah dari teman teman barunya. sontak saja, Risa memekik keras.


"astaghfirullah," pekik Risa seraya memalongkan wajahnya.


hal itu membuat Feby dan teman temanya menepuk bahu Risa. " loe kenapa,?" tanya mereka panik.


"itu beneran anak SMA, kok wajahnya kayak nenek nenek ke kondangan,?" tanya Risa dengan spontan.


hal itu membuat Feby dan yang lainya, tertawa terbahak bahak.


"haha haha gue sakit perut anjir," tawa Sivia menggema.


"hahaha sama gue juga," sahut Imelda. " eh. loe nggak boleh gitu ya, dia itu gadis paling cantik di kelas ini," ucap Imelda sarkasme.


Risa yang mendengarnya, mencebikan biburnya karena merasa kesal dengan ucapan teman barunya itu.


"eh udah bel kan ya, kita ke kantin aja yuk," ajak Sivia pada yang lain.


"ayo, " ucap mereka serempak dan segera melangkah pergi.


mereka berempat, segera meninggalkan ruang kelas dan hal.itu membuat Syafira menjadi kesal.


"awas saja loe Feb," gumamnya dengan mendudukan dirinya secara kasar.


*******


sentara itu, Feby dan teman temannya, melewati koridor sekolah, dengan masih bersendau gurau. hingga Risa tak sengaja menyenggol saku Feby.


sehingga benda yang ada di dalam sakunya, terjatuh dan berserakan di lantai.


" itu apa Feb, ?" tanya Risa seraya melihat kearah lantai.


dengan cepat, Feby segera menunduk dan seketika janungnya berdegup dengan kencang. ia tidak mau rahasianya terbongkar sekarang.


"eh, nggak Papa kok itu hanya kertas biasa." jawabnya dengan cepat memasukan kembali ke saku roknya.


Risa merasa aneh dengan sikap teman barunya itu. namun, Risa berusaha untuk tidak bisa ikut campur.

__ADS_1


*****


mereka berempat, kini telah sampai di kantin dan mereka segera duduk di tempat biasa.


"huh, akhirnya kita bisa duduk berempat lagi," Imelda berkata dengan wajah sumringahnya.


membuat Risa yang sedang memikirkan kejadian yang baru saja tetjadipun, segera menoleh ke arah Imelda.


"emang kenapa gitu,?" tanya Risa yang memang, tingkat ke kepoanya sangat tinggi itu.


" hmm, dulu kita berempat, tapi dia memilih pergi dan berbalik kearah musuh hanya karena laki laki," jawab Sivia dengan tersenyum tipis.


Risa yang mendengarnya, hanya beroh ria saja.


" makanya, loe nggak usah kayak gitu ya " ucap Imelda memperingatkan.


"tenang aja, gue udah ada pacar kok, dan gue yakin dia bukan tipe kalian," jawabnya tersenyum tipis.


Sivia yang mendengarnya, mendadak menjadi penasaran.


"oh. ya siapa,?" tanya Imelda penasaran. belum sempat gadis itu menjawab, tiba tiba, seseorang telah datang dan bergabung ke arahnya.


" hai maaf lama," ucapnya dengan mendudukan dirinya di kursi sebelah Risa.


hal itu membuat semua yang ada di meja terperangah karena tak oercaya.


"kalian pacaran,?" tanya Sivia dengan ekspresi wajah terkejutnya.


sementara mereka berdua hanya tersenyum tipis. dan saling berpandangan.


"sejak kapan,?" kini giliran Feby yang bertanya.


"hehe, sejak satu bulan yang lalu," jawab orang itu yang tak lain adalah Rangga.


Ya Rangga dan Risa telah berpacaran satu bulan yang lalu. walaupun, hati laki laki setengahnya masih menjadi milik Feby.


dan itu juga di ketahui oleh Risa. gadis itu bertekat akan membuat Rangga melupakan masalalunya.


nsmun, sesungguhnya, Risa tak ada dendam sedikitpun dengan Feby.


"gue tau kalau Rangga belum bisa sepenuhnya move on dari loe," Risa tersenyum tipis.


hal ltu membuat Feby dan yang lainnya saling berpandangan.


"hati hati jsngan sampai kita punya teman seperti Renata," bisik Sivia pada Feby dan Imelda.


Risa yang mendengarnya, menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. " gue janji, akan buat Rangga busa nerima gue tanpa menghilangkan bayang bayang loe Feb," ucapnya dengan mantap

__ADS_1


See You...


__ADS_2