Secret Wedding

Secret Wedding
Kemarahan seorang istri


__ADS_3

Kemudian Nathan menelan ludah, mencoba menenangkan hatinya. "Zara, aku benar-benar mengerti perasaanmu. Tapi situasi saat ini begitu sulit, kita harus menghadapi kenyataan. Tuan Pasada adalah satu-satunya orang yang ingin aku dan ayah hancur, Mas."


Zara menghela napas, berusaha menenangkan diri. "Tapi Mas, kita tak tahu niat sebenarnya Tuan Pasada. Bagaimana jika ia kembali mencelakakan keluarga kita?"


"Aku akan memastikan bahwa hal itu tidak terjadi, Zara. Kita harus percaya satu sama lain. Kita bisa melewati masalah ini seperti kita menghadapi masalah-masalah sebelumnya," Nathan meyakinkan istrinya.


Zara akhirnya mengangguk, setuju dengan rencana Nathan. "Baiklah, Mas. Aku percaya padamu. Mari kita temui Tuan Pasada dan memberitahu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya."


 Mereka berjalan menuju rumah Tuan Pasada, yang terletak di pinggiran kota. Daerah ini tenang dan hijaunya pohon. Matahari terbenam perlahan, memberikan langit berwarna oranye.


Saat sampai di rumah Tuan Pasada, mereka berdua menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Nathan menekan bel, dan tak lama kemudian seorang pelayan membuka pintu.


"Selamat malam, Tuan Nathan dan Nona Zara. Tuan Pasada sudah menunggu Anda di ruang tamu. Silahkan masuk," kata pelayan itu, dengan sapaan hormat.


Mereka memasuki rumah yang luas dan elegan ini, Nathan dan Zara saling menatap. Mereka seperti pendatang baru yang baru pertama kali menginjakkan kaki di dunia mewah. 'Tugasku adalah meyakinkannya,' pikir Nathan saat ia meraih tangan Zara yang gemetar sedikit.


Ketika mereka masuk ke ruang tamu, Tuan Pasada — seorang pria paruh baya dengan rambut putih dan jas yang mengkilap — tersenyum menyambut mereka. "Nathan, Zara! Apa kabar? Silahkan duduk."


Mereka duduk di sofa yang empuk, berusaha merasa nyaman. Nathan langsung menuju pada poin yang ingin ia bicarakan. "TuanPasada, kami ingin mengucapkan terima kasih karena sudah diizinkan datang ke mansion Anda. Namun, kami ingin memberitahu apa yang dilakukan putra Anda."


Tuan Pasada tertawa kecil. "Sejujurnya, saya hanya ingin Mike Ikhlas. Saya tahu Anda telah mengalami banyak kesulitan akhir-akhir ini, Nathan. Mike sebenarnya begitu mencintai Zara, tapi." 


"Tapi apa, Tuan?"


Tuan Pasada menatap Zara dan akhirnya menjawab," Zara anak rival saya."


Zara mengepalkan kedua tangannya, wanita itu begitu kesal akan jawaban pria paruh baya itu.


"Asal Anda tahu dengan batalnya pernikahan saya dan anak Anda, tandanya Allah masih sayang pada saya dari pria yang suka selingkuh." Zara tersenyum tipis menatap pria paruh baya yang menatapnya dengan tajam.


Di satu sisi, Nathan merasa lega. Namun di lain sisi, ia masih memiliki keraguan. Sementara itu, Zara hanya bisa menahan diri dan mencoba menyembunyikan emosinya karena sebentar Pasada hanya ingin melihat kelemahannya.

__ADS_1


"Zara, apa kamu Zara, Nak?" Diana menatap Zara dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


Hal itu membuat Zara dan Nathan saling pandang, sedangkan Pasada menatap istrinya dengan tajam.


"Pelayan bawa Nyonya ke kamarnya!" titah Pasada.


"Tidak, aku hanya ingin melihat wanita yang begitu dicintai oleh Mike!" seru Diana langsung menghindar dari pelayan itu.


"Apa yang harus kami lakukan sebagai, Tuan?" tanya pelayan itu akhirnya.


Tuan Pasada menghela napas, menatap dua pelayan itu, Setelah itu mengibaskan tangannya untuk mengusirnya.


"Zara saya sebagai Mamanya Mike minta maaf, atas apa yang dilakukan putraku padamu di hati pernikahan kalian," kata Diana lembut.


"Cukup Diana, karena wanita itu putra kita sudah meninggal!" seru Pasada sinis.


Zara tersenyum tipis, sedangkan Nathan diam. Pria itu  tahu istrinya bukan wanita bodoh yang akan takut pada sosok  yang sudah membuat keluarganya harus jauh dari Erlan.


"Tidak, tidak mungkin Mike melakukan itu, Zara." Suara Diana serak karena rasa sedihnya mengingat putranya yang pamit untuk memperjuangkan cintanya.


Nathan yang melihat istrinya tubuhnya bergetar, pria itu langsung menggenggam tangan Zara.


"Biarlah saya yang menjelaskannya, Sayang," Nathan melihat istrinya mencoba menenangkan nafasnya yang tersengal-sengal sebelum melanjutkan, "Sebenarnya, kejadian itu bukan seperti yang Anda duga, Nyonya Diana. Kami baru mengetahui keterlibatan Mike atas kematian ibu Zara beberapa bulan setelah kejadian itu."


Diana menghela nafas panjang, mencoba menahan air matanya. "Tolong, jelaskan pada saya, Nathan. Anak saya tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun, saya yakin itu."


Nathan menunduk sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi rumit yang telah melibatkan keluarga mereka semua. "Sebelumnya, kami mengira bahwa Bunda Zeni telah menjadi korban penculikan atau kejahatan lainnya. Tapi setelah menemukan buktinya, kami menyadari bahwa Mike  terlibat dan tersangka utama," Nathan berusaha menahan emosinya sendiri. "Tapi kemudian, kami menemukan bahwa Mike juga yang menyuruh anak buahnya menggilir mertua saya."


"Apakah... apakah ada yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan ini?" tanya Diana, wajahnya penuh keputusasaan.


Zara menatap Diana dengan tatapan sedih, tetapi juga penuh tekad, "Bahkan jika Anda mau melakukan apapun, itu tidak akan menggantikan rasa sakit dan penghancuran yang telah ditimbulkan dalam hidup kami. Saya tidak pernah membayangkan bahwa putra Anda akan merenggut ibunda saya, dan menciptakan dunia yang lebih buruk dari sebelumnya."

__ADS_1


Nathan merasakan istrinya mulai menangis. Pria itu merasa terbelenggu dalam keadaan yang begitu sulit, tapi  ia tahu bahwa  harus tetap tegar demi mereka semua. 


"Saya telah berbicara dengan Mike sebelum anak Anda meninggal," kata Nathan secara mantap, "Putra Anda  mengaku bahwa perbuatannya salah dan dia akan melakukan apapun yang diperlukan untuk mengembalikan keadaan seperti semula, tapi sayang apa pun yang akan dilakukan oleh putra tidak akan bisa mengembalikan keadaan." Nathan mengusap bahu Zara yang bergetar.


Diana merasa seperti berada di ambang kehancuran, "Tapi apa yang bisa saya  lakukan, Nathan? Bagaimana kita bisa memulai proses diperbaiki, menyatukan kembali apa yang sudah hancur oleh perbuatan putra saya?"


"Itu adalah proses panjang, Nyonya Diana. Dan itu bukan hanya tentang Mike," Nathan menarik napas.


"Suami Anda tega menjauhkan seorang anak dan kini akan membuat anak itu untuk membunuh Keluarga kandungnya sendiri, tapi sayang itu tidak akan terjadi karena Elan sudah saya amankan." Nathan beranjak dari duduknya menatap tajam pada pria paruh baya itu yang tidak lain Pasada.


Mendengar apa yang dikatakan Nathan Diana begitu terkejut, wanita itu menghampiri suaminya dan satu tamparan mendarat di pipi keriput Pasada."Karena egois dan keserakahanmu aku harus kehilangan anak."


Zara Nathan begitu terkejut dengan apa yang dilakukan wanita yang begitu lembut tutur sapanya itu.


Nathan dan Zara akhirnya keluar begitu saja  karena tidak ingin melihat drama dari pasangan itu.


Nathan membukakan pintu mobil untuk istrinya, setelah Nathan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Apa kita akan diam saja setelah ini, Mas?"


"Kita lihat perkembangan, Ayah dan Papa tidak akan diam saja. Jika mengingat bagaimana Mike curang dengan melalui Maryam itu karena anak dari orang licik juga," ujar Nathan.


Zara diam, ia tidak ingin mengingat pria itu kembali. Setelah empat puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Nathan sampai Mansion.


Pintu utama terbuka, Dania menatap anak dan menantunya dengan cemas." Apa kalian tidak apa-apa?"


Zara dan Nathan saling pandang, mereka masuk. Mata ibu satu anak itu membola melihat apa yang di depannya.


Ayahnya babak belur dan begitu juga dengan mertuanya. Papa Albert lukanya lebih parah.


Zara menatap nanar semua yang berada di ruang keluarga itu." Siapa yang melakukannya, Ayah?"

__ADS_1


__ADS_2