
Untuk hari ini Jin Ji tinggal di officetel, dia terlalu malu untuk pulang dan bertemu dengan Chae Eun. Menurutnya, menghindari Chae Eun adalah pilihan terbaik.
"Aku masih tidak setuju dengan ide Taehyung sialan itu!" Umpat Seok Woo yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa minuman hangat untuk Jin Ji. "Bagaimana bisa dia berpikir untuk mengorbankanmu? Sialan sekali!"
"Seharusnya kau tidak terlalu kesal, kak. Memang kenyataannya aku adalah anak ayahku, dan dia adalah seorang tersangka asusila. Jadi, tidak sepatutnya kita marah karena alasan ini."
"Kau gila, hah?! Bukankah kau bilang ayahmu tidak bersalah?!"
Jin Ji terdiam barang sejenak. Ia menghela napas agak panjang. Kemudian berkata, "meskipun benar, toh aku tidak bukti. Lagipula sekarang ayahku sudah meninggal, jadi semuanya akan sia-sia saja." Benar! Sebenarnya selama ini ayah Jin Ji mendekam dipenjara. Namun, setelah berita tentang kasusnya kembali ke permukaan dan melibatkan putranya, ayah Jin Ji mengalami stress berat dan memutuskan untuk bunuh diri. Jin Ji tidak bisa melihat jasad ayahnya, orang dari lapas hanya mengirimkan video dari proses kremasi dan juga memberikan abunya pada Jin Ji.
"Hey, tidak ada yang sia-sia. Ayahmu mati dalam keadaan tertuduh, dia pasti merasa tidak tenang, begitupun dengan ibumu!"
Ibu? Sudah lama sekali aku tidak mengunjunginya. Pikir Jin Ji. Sudah sekitar dua bulan Jin Ji tidak mengunjungi rumah abu ibunya. Sebenarnya dia bisa saja mengunjungi sembari melatakkan guci abu ayahnya di rumah abu ibunya. Namun, karena pemberitaan yang ada belakangan ini, Jin Ji jadi tidak bisa pergi ke manapun, sehingga Seok Woo lah yang meletakkan guci abu ayahnya di samping guci abu ibunya.
"Kak, aku lelah, mau istirahat," kata Jin Ji lemas. Dia beranjak dari tempatnya, dan pergi ke kamarnya, meninggalkan Seok Woo yang menatapnya dengan cemas.
Di saat sedang merasa cemas, telepon Seok Woo berdering. Dia hendak mematikannya karena berpikir bahwa itu adalah dari Direktur agensinya. Namun, itu tidak jadi dilakukannya saat melihat nomor yang menghubunginya tidak memiliki nama, alias tidak tersimpan di kontaknya.
Mungkinkah kreditur? Tapi aku sudah membayar semuanya. Seok Woo menerima panggilan itu, takut kalau dia tidak angkat krediturnya akan menganggapnya belum melunasi hutang.
"Yoboseo?"
"Tuan Seok Woo, bisakah kau ke sini? Aku ada di depan gedung officetel."
"Ini siapa?" Seok Woo terheran, dia pikir yang menghubunginya adalah kreditur.
__ADS_1
"Chae Eun."
Mata Seok Woo membulat. "Direktur Chae Eun?!"
"Ya, cepatlah turun!"
●●●
"Hey, Jessica. Apa menurutmu si mulut pisau itu akan baik-baik saja?" Tanya Hyunwoo, terdengar khawatir.
Jessica menatap Hyunwoo curiga. "Ada apa ini? Sejak kapan kau merasa khawatir pada Chae Eun? Bukankah kalian selalu bertengkar?"
"Eihhh, biarpun begitu tapi, tetap saja kami ini adalah mitra sudah sejak lama, jadi wajar saja jika aku menunjukkan kekhawatiran. Lagipula, banyak sekali komentar kejam tentang Chae Eun dilingkungan pebisnis, jadi ... aku agak cemas."
"Oh, jadi kau cemas karena kau adalah mitra kerjanya jadi berita tentang Chae Eun akan memengaruhi kredibilitas perusahaanmu, begitu?! Kau ingin seperti perusahaan lain yang secara sepihak memutuskan kerjasama dengan Chae Eun agar tidak terkena dampak dari pemberitaan ini, huh?!" Tanggas Jessica, membuat Hyunwoo tertegun.
"Oh jadi benar ya kau itu mencemaskan Chae Eun? Ada apa ini? Apa kau mencoba untuk terlihat perhatian di matanya, huh?" Terka Jessica, membuat Hyunwoo salah tingkah.
"B-bukan begitu..., aku..., aku hanya..., sudahlah." Hyunwoo pasrah. Wanita benar-benar menakutkan, maksud hati ingin menanyakan keadaan Chae Eun tapi, malah berujung dugaan selingkuh.
"Chae Eun itu tidak perlu kau khawatirkan. Dia itu adalah orang yang kolot dan tukang tindas, jadi dia tidak akan membiarkan dirinya ditindas! Paham?" Jelas Jessica. Meskipun sebenarnya Jessica juga mencemaskan sahabatnya itu. Namun, Jessica tahu kalau Chae Eun pasti bisa mengatasinya. "Dia bahkan melawan presdir Hwang untuk membelaku," gumam Jessica.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada, hanya teringat masa lalu," jawab Jessica. Presdir Hwang? Bisa dibilang pria 50 tahun yang merupakan presdir dari perusahaan kontruksi itu adalah alasan hubungan Chae Eun dan Jessica. Saat itu, Jessica masihlah Chun Bong, dan dia adalah karyawan di perusahaan Presdir Hwang. Pria tua bangka itu sering sekali melakukan pelecehan terhadap Jessica. Hingga suatu hari Jessica mulai lelah, dan akhirnya melaporkan tindakan asusila itu kepada pihak berwajib. Namun, entah kenapa, setelah laporan itu terjadi, polisi malah menetapkan Jessica sebagai tersangka pencemaran nama baik. Jessica yang kesal akhirnya menuntut keadilan pada presdir Hwang di saat presdir Hwang sedang melakukan rapat dengan beberapa koleganya.
__ADS_1
Sebagian besar koleganya menganggap Jessica hanya ingin cari perhatian, dan mendapatkan uang dari presdir Hwang. Namun, Chae Eun yang juga ada di sana, berpendapat lain. Dia mengulurkan tanganya kepada Jessica, dan mulai menghardik presdir Hwang, bahkan kata-kata Chae Eun sungguh mempermalukan presdir Hwang. Padahal saat itu Chae Eun masihlah baru dalam dunia bisnis, dan dia membutuhkan dukungan presdir Hwang. Namun, karena membela Jessica saat itu, semuanya hancur. Jessica merasa bersalah saat itu tapi, Chae Eun selalu berkata padanya bahwa dia akan baik-baik saja tanpa dukungan dari pria tua bangka yang mesum seperti presdir Hwang. Namun, Chae Eun bilang bahwa jika Jessica tetap mau bertanggungjawab, maka dia harus bekerja untuknya. Akhirnya Jessica pun memutuskan untuk bekerja dengan Chae Eun, dan dia juga mengganti namanya menjadi Jessica untuk melupakan masa lalunya.
Saat itu dia bilang dia akan baik-baik saja, dan dia telah membuktikannya. Jadi, kurasa kali inipun dia akan baik-baik saja. Aku tahu itu. Pikir Jessica.
●●●
Seok Woo masuk ke mobil Chae Eun. Di sana dia langsung disodori sebuah bingkisan oleh Chae Eun.
"Untukku?" Tanya Seok Woo.
"Untuk Jin Ji." Tukas Chae Eun. Membuat Seok Woo merasa malu.
"Jadi, direktur Chae ke sini hanya untuk memberikan ini?" Tanya Seok Woo.
"Tolong jaga Jin Ji. Aku sedang berusaha untuk memperbaiki semuanya, jadi, pastikan untuk selalu menjaganya. Jangan biarkan dia merasa sendirian. Pokoknya kau harus selalu ada bersamanya. Kalau kau butuh apa-apa, kau bisa menghubungiku, aku akan mengirimkan semua yang Jin Ji butuhkan," jawab Chae Eun panjang lebar, membuat Seok Woo terdiam seribu bahasa.
Jadi, dia kesini hanya untuk minta tolong padaku ya? Ini semakin aneh, bukankah mereka hanya menikah kontrak? Tapi kenapa dia sangat peduli? Ahhh bodoh! Berita itu kan juga melibatkan namanya, jadi tentu saja dia harus peduli. Ya, pasti begitu. Pikir Seok Woo.
"Tentu saja tanpa Direktur Chae mintapun aku pasti akan melakukan itu untuk Jin Ji." Berkat Jin Ji, keluargaku terbebas dari kreditur, dan kehidupan keluargaku menjadi lebih baik, jadi tentu saja aku harus membalas budinya.
Sebelum bertemu Jin Ji, Seok Woo hanyalah seorang pelayan, dan ayahnya memiliki masalah dengan kreditur sebelum pergi meninggalkan rumah. Sehingga keluarganya yang tak tahu apa-apa menjadi ketumpuan. Seok Woo melakukan banyak sekali pekerjaan, salah satunya adalah menjadi manager Jin Ji, saat itu Jin Ji belum terkenal, jadi mudah bagi Seok Woo untuk melakukan 3 pekerjaan sekaligus. Namun, suatu hari Seok Woo pingsan karena kelelahan, maka dari itu Jin Ji meminta Seok Woo untuk berhenti dari pekerjaannya yang lain, sebagai gantinya Jin Ji bilang dia akan berusaha keras untuk sukses agar Seok Woo bisa ikut merasakan keberhasilannya secara materi.
"Begitukah? Kalau begitu..., terimakasih, tuan Seok Woo."
"Heh?!" Seok Woo terkejut ketika mendengar ucapan terimakasih itu dari mulut Chae Eun.
__ADS_1
Dia tidak sekasar penampilannya. Pikir Seok Woo.