Secret Wedding

Secret Wedding
Part 13


__ADS_3

"Direktur, kau terlihat tidak baik. Kau sakit?" Tanya Jessica, sembari meletakkan setumpuk dokumen di meja kerja Chae Eun.


"Tidak."


Jessica mengulurkan tangannya, menyentuh kening Chae Eun untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Oh, kau panas sekali! Yaa! Ayo ke rumah sakit."


Chae Eun menepis tangan Jessica. "Tidak perlu."


Jessica mengeryit, "apanya yang tidak perlu, hah? Cepat bangun! Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Jessica meraih tangan Chae Eun, hendak menariknya ketika Chae Eun dengan cepat menarik tangannya lebih dulu.


"Sudah kubilang tidak perlu. Kau kerjakan saja tugasmu!" Chae Eun membentak, membuat Jessica tercengang. Begitupun dengan Chae Eun. Ini adalah kali pertamanya Chae Eun membentaknya. Biasanya didepan Jessica, Chae Eun hanya akan banyak bergurau, ataupun menjadi anak anjing yang penurut.


"E-ehh..., aku..., Chun Bong, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu..., aku...," Chae Eun berhenti bicara. Dia memijit kecil keningnya. Pernyataan sang kakak ipar tentang dirinya yang hanya anak selingkuhan membuat Chae Eun mengalami moody.


"Kau selalu nampak murung setiap kali habis berkunjung ke rumah orangtuamu, tapi kau tidak pernah kesal. Namun, sekarang..., apa mungkin ini karena berita tentang Jin Ji?" Tanya Jessica hati-hati. Jessica memang tahu bahwa kemarin adalah perayaan hari jadi pernikahan orangtuanya, sehingga pasti Chae Eun berkunjung ke kediaman keluarga besarnya. Jessica sudah terbiasa dengan kemurungan Chae Eun tiap kali habis berkunjung ke sana. Namun, kekesalannya? Pasti disebabkan oleh hal lain. Itulah yang Jessica pikirkan.


Chae Eun mengeryit. "Berita tentang Jin Ji?"


Jessica menghela napas panjang, "haahhh~ aku memang sudah menduga bahwa kau pasti akan mengalami perubahan seperti ini saat kau memberitahuku tentang perasaanmu padanya," dia bergumam.


"Hey, Jessica. Memangnya ada apa dengan Jin Ji?" Tanya Chae Eun. Jika ada sesuatu tentang Jin Ji, maka seharusnya tuan Uhm lah yang mengabarinya, mengingat dia memerintahkan pria paruh baya itu untuk mengawasi Jin Ji.


"Pagi ini media menyebarkan foto-foto perundungan Jin Ji terhadap aktor seniornya, Haejun," kata Jessica. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Chae Eun, dan berbisik, "bahkan ada foto di mana suamimu membuat Haejun berlutut dihadapannya."


"Tidak mungkin! Tuan Uhm tak mengatakan apapun padaku tentang ini."


"Tuan Uhm? Apa hubungannya dengan tuan Uhm...," Jessica diam barang sejenak. Kemudian dia nampak terkejut, "mungkinkah kau menggaji tuan Uhm hanya untuk mengawasi Jin Ji?!"


Chae Eun beranjak dari tempatnya. "Batalkan jadwalku hari ini. Aku harus pergi ke suatu tempat."


Chae Eun pergi meninggalkan kantornya dengan perasaan kesal, dan sembari menghubungi tuan Uhm.


"Hey, kerjamu itu apa? Kenapa Jin Ji bisa sampai terlibat dalam berita perundungan seperti ini?!" Bentaknya setelah tuan Uhm menerima panggilannya.


"Kemarin nona memintaku untuk mencari informasi tentang keluarga nona, ingat?"


Seketika langkah Chae Eun terhenti. Benar, kemarin itu, ucapan Honghwa membuatku amat penasaran, dan akhirnya meminta tuan Uhm untuk menyelidikinya. Aishhh aku lupa.


"Sekarang bagaimana keadaan Jin Ji?"


"Aku belum melihatnya. Karena berita yang mengudara pagi ini, perusahaan agensi Jin Ji di serbu oleh fansnya Haejun."


"Apa?!"


"Situasinya sangat kacau di sini. Ku harap Jin Ji tidak ada di sini. Aku akan mencarinya ke tempat lain yang sering dikunjunginya."


Jantung Chae Eun berdegub kencang, tidak! dia pasti di sana.


Flashback


Pagi ini.


Chae Eun terbangun dari tidurnya yang terasa begitu nyenyak setelah bertahun-tahun dia hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Chae Eun mengingat alasannya, benar, semalam itu aku tidur di dalam pelukkan Jin Ji. Tubuhnya hangat sekali, dan harum..., aku..., Chae Eun terkekeh saat mengingatnya, bahkan wajahnya sampai memerah.


"Astaga Chae Eun, kau pasti sangat menyukai aktor kacangan itu." Chae Eun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia beranjak dari tempat tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 7, yang berarti dia harus segera ke kantor.


Selesai merapihkan diri, Chae Eun bersiap untuk berangkat bekerja. Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat semangkuk sup tauge, dan telur dadar di atas meja ruang tamu.


"Oh, apakah sarapan untukku?" Chae Eun menghampiri sarapannya itu, dan membaca note yang tertempel pada tutup mangkuk nasinya.


Kau tidur nyenyak sekali, sampai-sampai tanganku kram. Kalau saja hari ini aku tidak ke kantor untuk rapat proyek, aku pasti sudah membuat perhitungan denganmu!


Chae Eun tersenyum manis, "dia membuatkan ini untukku. Ahhhh manisnya. Bahkan meninggalkan catatan cinta."


Flashback off


"Hey, Hyujin. Apakah aku boleh memelukmu?"


Wajah Jin Ji memerah setiap kali mengingat perkataan Chae Eun semalam.


"Astaga Ji Hyujin! Sadarlah!" Jin Ji menyadarkan dirinya.


"JIN! JIN!"


Teriakkan Seok Woo membuat Jin Ji terperanjat kaget. "Astaga! Kau mengagetkanku!"


"Jin-ah, gawat. Di luar hhhh. Diluar, banyak hhh, banyak sekali fans Haejun hhhh." Seok Woo terengah-engah usai berlarian untuk menghampiri Jin Ji.

__ADS_1


"Lalu?"


Seok Woo mengeryit. "Kau belum melihat berita Pamm pagi ini?"


"Kak, memangnya sejak kapan aku menonton berita?"


Seok Woo menghela napas panjang. Dia menyodorkan tabletnya pada Jin Ji. Jin Ji hendak menerima tablet itu ketika dia mendapatkan panggilan masuk di ponselnya.


Mata Jin Ji membulat saat mendapati nama yang tertera sebagai panggilan masuk. "Kak, aku harus mengangkat telepon ini. Ini penting."


"Tapi, Jin...,"


Jin Ji sudah lebih dulu pergi sebelum Seok Woo menyelesaikan perkataannya.


"Ayah mertua, bagaimana kabar anda?" Tanya Jin Ji pada sang penelepon yang merupakan ayah Chae Eun.


"Aku baik saja. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik saja. Ayah mertua, apakah ada sesuatu hingga anda menghubungiku?" Tanya Jin Ji hati-hati. Ini adalah pertama kalinya ayah mertuanya menghubunginya. Meskipun Jin Ji sering dihubungi oleh ibu mertuanya.


"Apakah kau sibuk hari ini? Ada yang ingin kubicarakan langsung denganmu."


●●●


Jin Ji hendak menuju mobilnya yang terparkir di baseman ketika segerombolan orang berlari menghampirinya.


"BENAR DUGAANKU!!! SI BRENGSEK ITU MEMANG AKAN KABUR LEWAT SINI!!!"


"TANGKAP SI ******** ITU."


Jin Ji terkejut. "Apa-apaan ini?" Dia secepat kilat langsung masuk ke mobilnya, dan mengunci diri di sana. Dia tidak bisa menlajukan mobil itu karena segerombolan orang itu mengepung mobilnya.


"KELUAR KAU DASAR ORANG TIDAK TAHU DIRI!!"


"HAEJUN OPPA SUDAH BERBAIK HATI MEMBERIKANMU PROYEK, BERANINYA KAU MELAKUKAN ITU PADANYA!!"


"KAU BISA TERKENAL KARENA DRAMA YANG DIBERIKAN HAEJUN OPPA PADAMU, DASAR BRENGSEK!!"


Jin Ji merasa gugup melihat orang-orang yang murka itu. "I-ini sebenarnya ada apa? Ahhhhhhh!!!"


Jin Ji bergetar hebat saat segerombolan wanita yang mengamuk itu menggoyangkan mobilnya, bahkan melempari mobil Jin Ji dengan sampah, dan batu.


"Dasar pembunuh! Kau layak mati!!"


Jin Ji meringkuk ketakutan saat kenangan masa lalunya terlintas dikepalanya.


"B-bukan aku..., bu-bukan aku. Aku ti-tidak tahu apapun. T-tidak. Ibu, tolong aku."


"Dasar iblis, bagaimana bisa kau masih berjalan dengan wajah tak bersalah itu, hah?", "jangan berlagak tak bersalah! Kau adalah iblis!", "****** saja kau, dasar setan!"


"Bukan aku..., bukan aku...," pikiran Jin Ji hanya dipenuhi oleh masa lalunya yang kelam, dia tidak bisa mendengar, ataupun memerhatikan keadaan di sekelilingnya.


Tok


Tok


Tok


"Hey, Ji Hyujin, maaf aku terlambat."


Suara itu?


●●●


Chae Eun melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas batas maksimal yang diperbolehkan. Perasaannya risau setiap kali dia ingat bahwa kantor agensi Jin Ji dikerumuni oleh fans Haejun.


"Haejun sialan! Aku akan membuat perhitungan denganmu!"


Secara asal Chae Eun memarkirkan mobilnya di depan gedung Starscript Intertaiment. Tidak seperti yang dikatakan tuan Uhm, rupanya di depan gedung Starscript tidak ada satupun orang yang berdemo.


"Apakah perusahaannya sudah menghubungi polisi untuk membubarkan fans nya Haejun?" Pikir Chae Eun. Dia hendak bersyukur. Namun, melihat Seok Woo berlarian dengan cemas menuju baseman, membuat Chae Eun merasa gugup. Wanita itu berlari menuju baseman, dan mendapati segerombolan orang tengah mengerumuni sesuatu.


"Itu..., Jin Ji?"


Chae Eun berlari menuju kerumunan. Ingin menerobos kerumunan itu. Namun, dia tak bisa.


"HAEJUN OPPA SUDAH BERBAIK HATI MEMBERIKANMU PROYEK, BERANINYA KAU MELAKUKAN ITU PADANYA!!"


"KAU BISA TERKENAL KARENA DRAMA YANG DIBERIKAN HAEJUN OPPA PADAMU, DASAR BRENGSEK!!"

__ADS_1


Teriakkan orang-orang itu membuat Chae Eun kesal.


"Yaa!!! Siapa kalian berani mengatakan itu, huh? Haejun, oppa kalian yang brengsek itu tidak pernah melakukan apapun untuk Jin Ji, dia..., akhhhh." Chae Eun memekik saat dia terdorong dari kerumunan. Suaranya tak di dengar, dan tak ada yang peduli, maupun memerhatikannya.


"Kau tidak apa-apa, nona Chae?" Tanya Seok Woo yang juga tidak bisa menerobos kerumunan.


"Aku tidak apa-apa, tapi Jin Ji..., dia...,"


Seok Woo membantu Chae Eun berdiri. "Kurasa kita hanya bisa menunggu polisi datang. Semoga mobil itu kuat menahan semua lemparan itu," harap Seok Woo dengan wajah cemas.


"Tidak! Kita tidak bisa menunggu polisi. Jin Ji tidak boleh sendirian dalam situasi seperti ini, dia akan tersakiti seperti waktu itu. Tidak boleh!" Risau Chae Eun. Dia berlarian ke sana ke mari untuk mencari cara. Sampai akhirnya dia mendapati selang air yang besar yang biasanya digunakan memadamkan api secara manual apabila sensor api tidak berfungsi.


Chae Eun menarik selang itu, dan menyalakannya. Selang air itu mengeluarkan air yang sangat besar, hingga semua kerumunan itu terdorong.


"Aahhhhhhhh apa-apaan ini. Hentikan." Mereka semua meneriakkan hal yang sama. Namun, Chae Eun tak mengindahkannya, dia terus menyemprot kerumunan itu seolah-olah mereka hama.


"Ahhhh~" mereka satu persatu berlarian meninggalkan kerumunan, hingga akhirnya Chae Eun bisa membantu Jin Ji.


Dorr


Dorr


Dorr


"Jin Ji-ah, ini aku buka pintunya!" Teriak Chae Eun sembari menggedor jendela mobil Jin Ji. Namun, Jin Ji tak lekas membukanya. Jendela gelap itu membuat Chae Eun tak bisa melihat Jin Ji, dan itu membuatnya khawatir, hingga dia tak sedetikpun berhenti menggedor jendela mobilnya.


"Jin-ah, bukalah, ini aku, Seok Woo." Seok Woo ikut membantu.


"Jin Ji, ku mohon, buka pintunya. Hey, Ji Hyujin, ini aku, maafkan aku karena terlambat."


Perlahan pintu itu terbuka, dan Jin Ji segera menghamburkan diri ke dalam pelukkan Chae Eun.


"Bukan aku..., bukan aku..., aku tidak melakukannya. Kumohon percayalah."


Chae Eun memeluk Jin Ji dengan erat. "Iya, tentu saja aku memercayaimu. Kau adalah orang yang akan selalu aku percayai, Ji Hyujin."


"Jika percaya, maka kau akan terus ada di sampingku, 'kan. Ibu?" Jin Ji terisak, dan itu membuat hati Chae Eun teriris.


"Aku..., bahkan tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkanmu. Aku sangat menyayangimu, Hyujin."


Melihat itu, Seok Woo hanya bisa cemas sekaligus terheran-heran. Dia cemas karena sepertinya Jin Ji mengalami shock berat hingga meracau, dan merasa heran melihat laku lembut Chae Eun pada Jin Ji.


Bukankah mereka hanya menikah kontrak? Tapi sikap nona Chae..., ini seperti hubungan pernikahan yang nyata.


●●●


"Foto ini, kurasa dugaanku saat itu benar," kata Seok Woo, sembari memerlihatkan foto saat Haejun berlutut dihadapan Jin Ji.


"Apa maksudmu?" Tanya Chae Eun. Saat ini mereka berada di rumah yang Chae Eun dan Jin Ji tempati.


"Saat itu tiba-tiba Haejun datang, dan berlutut untuk meminta maaf pada Jin Ji tentang masalah yang terjadi saat shooting. Aku sudah merasa dia akan merencanakan sesuatu, dan rupanya begini. Dia pandai sekali mengambil sudut yang membuat dirinya seperti sedang di rudung Jin Ji. Sialan!" Umpat Seok Woo. Pagi ini media memberitakan bahwa Jin Ji merudung Haejun bersamaan dengan bukti foto-foto yang memang terlihat seperti Jin Ji sedang merudung Haejun. Padahal kenyataannya, tidak begitu. Itu hanya tentang sudut pengambilan foto yang menyebabkan orang-orang yang melihatnya dapat berasumsi buruk.


Chae Eun mengepalkan tangannya, dasar selebritis kacangan! Tidak tahu diri. Lihatlah, aku akan merebut semua yang tidak sepantasnya kau terima!


"Kau jagalah Jin Ji, jika terjadi sesuatu hubungi saja dokter Ahn, paham?" Tukas Chae Eun. Dia hendak beranjak dari tempatnya. Namun, kepalanya tiba-tiba terasa sakit. "Akhhh."


"Nona Chae, anda baik-baik saja? Sepertinya anda tidak sedang sehat," Kata Seok Woo, cemas.


"Tidak apa-apa." Chae Eun beranjak dari tempatnya, dia menahan rasa sakit di kepalanya, dan hendak pergi ketika Seok Woo menahannya.


"Tunggu dulu, nona Chae. Bolehkah aku bertanya?"


"Apa?"


"Itu..., apakah mungkin nona Chae menaruh perasaan pada Jin Ji?"


"Kenapa bertanya?"


Seok Woo menghela napas panjang. "Jin-ah sudah sering mengalami rasa sakit, dan melewati banyak masa sulit. Jadi aku ingin memastikan bahwa dirinya tidak akan pernah terluka lagi, maka dari itu, meskipun aku bersyukur atas sikap pedulimu pada Jin Ji, tapi aku mohon..., kumohon jangan bersikap berlebihan, hubungan kalian hanya sebatas kontrak, jadi kumohon jangan membuatnya berharap lebih dari sekedar mendapatkan rumah ini. Ku mohon," pinta Seok Woo, sembari membungkukkan tubuhnya tiga puluh derajat sebagai bentuk ketulusan.


Chae Eun mencibir. "Cih? Hubungan kontrak? Mendapatkan rumah? Apakah Jin Ji yang mengatakannya padamu? Dia bilang begitu?"


"Itu...,"


"Lupakan saja! Aku tidak peduli apapun yang kau ucapkan tapi,..., kau harus tahu, bahwa kau tidak lebih banyak tahu tentang Jin Ji daripada aku. Kau! Rasa pedulimu terhadapnya juga tidak lebih banyak dari pada rasa peduliku padanya. Dan kau! Keinginanmu untuk melindunginya tidak lebih besar daripada keinginanku untuk melindunginya. Jadi, jangan belagak seolah-olah kau akan menjadi pahlawan dalan hidupnya! Dan jangan mengajariku, Mengerti?" Tukas Chae Eun sebelum dia pergi meninggalkan Seok Woo yang kini tersentak dengan perkataannya.


●●●


"Iya, nona?"

__ADS_1


"Pastikan berita itu mengudara besok. Dan pastikan dia benar-benar akan hancur lebur setelah pemberitaan."


__ADS_2