Secret Wedding

Secret Wedding
Nathan cemburu dengan Erlan


__ADS_3

Seminggu kemudian Nathan mengajak Zara untuk berbicara akan rencana yang akan dilakukan oleh Erlan dan dirinya.


Minggu ini Pasada akan transaksi besar, tapi keduanya akan menggagalkan rencana itu agar pria itu rugi. Namun, Nathan harus melibatkan istrinya karena Zara tahu akan IT.


“Tapi ini resikonya besar, Mas.” Zara coba mengingatkan suaminya karena jika gagal akan lebih berbahaya lagi.


“Sayang ini jalan satu-satunya, nanti Erlan akan membantumu dan tolong kamu juga bujuk Rehan untuk berada di pihak kita karena dari info yang didapat kalau Pasada mengajak ITZ bekerja sama,” kata Nathan


Zara diam, ada keraguan dalam hatinya saat ini. Apa lagi ini melibatkan perusahaannya.


Nathan melihat istrinya hanya diam, pria itu tidak ingin memaksa.”Jika sulit bagimu tidak apa-apa, aku akan mencari jalan sendiri.”


Zara menoleh saat suaminya keluar dari kamar, bukan wanita itu tidak ingin membantu suaminya. Ada sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya selama membuka ITZ.


Ia tahu Nathan kecewa padanya, tapi ia tidak bisa banyak bicara sebelum membicarakan dengan Rehan.


Beberapa hari kemudian, Zara memutuskan untuk bicara dengan Rehan mengenai situasi tersebut. Ia menjelaskan rencana Nathan dan Erlan serta bagaimana mereka ingin menggagalkan transaksi Pasada agar pria itu merugi. Zara juga menyampaikan perasaan ragunya dan prinsip yang mungkin bertentangan dengan aksi mereka.


"Rehan, aku bingung. Di satu sisi, aku ingin membantu Nathan dan Erlan, tetapi di sisi lain, aku merasa aksi ini akan bertentangan dengan prinsip ITZ. Apa pendapatmu tentang ini?" tanya Zara.


Rehan terdiam sejenak, berpikir sebelum menjawab, "Zara, terkadang di dalam hidup kita harus mengambil keputusan yang sulit. Yang terpenting adalah kita harus memastikan langkah yang kita ambil itu sesuai dengan hati nurani kita dan untuk kebaikan bersama. Tidak ada yang benar-benar hitam dan putih. Mungkin kamu bisa mencoba untuk mencari jalan tengah agar tidak merugikan perusahaan, tetapi tetap bisa membantu Nathan dan Erlan."


Mendengar saran Rehan, Zara merasa lega dan berbesar hati. Ia memutuskan untuk berbicara lagi dengan Nathan, Erlan, dan Rehan untuk menyusun strategi yang lebih aman dan bertanggung jawab agar mereka dapat mencapai tujuan mereka tanpa merugikan ITZ.


Pada akhirnya, Zara dan Rehan berhasil merencanakan strategi yang lebih baik dengan melibatkan Rehan dan ITZ, yang memungkinkan mereka menggagalkan transaksi Pasada tanpa menciptakan dampak negatif yang besar. Semua pihak merasa puas dan lega, karena mereka telah berhasil mengatasi masalah ini dengan cara yang adil dan bertanggung jawab.


Zara tepat pukul lima minta suaminya menjemputnya di ITZ,setelah menunggu lima belas menit,Mobil yang dikemudikan oleh Nathan sampai.


Zara terkejut karena di dalam mobil bukan hanya suaminya, melainkan ada Eran dan Jhon.


“Sayang kita ke suatu tempat dulu,” kata Nathan.


“Iya, tapi kalau bisa jangan terlalu malam karena aku tidak bisa jauh lama-lama dengan Nevan.”

__ADS_1


“Baik, Sayang.” Nathan mengusap kepala istrinya yang terbungkus oleh hijab warna sage.


Mobil yang dikemudikan Jhon melaju dengan kecepatan sedang, setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit mobil berhenti di sebuah rumah sederhana.


Seorang wanita cantik keluar dari rumah itu dan langsung tersenyum menatap siapa yang datang


“Aku sudah menunggu lama,” kata Carla menyambut tamunya datang.


Zara menatap Jhon karena wanita itu langsung memeluk suami dari sahabatnya itu.


“Zara ayo masuk, di dalam juga ada Meli,” kata Carla.


Zara tersenyum dan mengikuti yang lainnya untuk masuk.Walaupun dalam hatinya bertanya-tanya kenapa harus bertemu wanita itu.


Saat sampai di dalam, Zara tersenyum melihat Meli sedang membuat minum. Rumah itu antara dapur dan ruang keluarga tidak ada dinding, hanya dibatasi dengan kaca bening.


Nathan dan lainnya duduk dengan santai, tidak lama Meli datang dengan membawa nampan berisi cangkir yang berisi kopi.


Zara hanya mengangguk, obrolan keduanya berhenti saat Carla ikut duduk di samping Erlan.


“Kenapa?" tanya Carla saat melihat Zara menatapnya.


Zara tersenyum tipis, tapi ada rasa yang berbeda dalam hati ibu satu anak itu.


Erlan melihat Zara dan Carla seperti itu, pria itu menarik napas panjang karena tidak ingin ada kesalahpahaman.


"Carla ini teman dan sekaligus adik bagiku karena kami sama-sama dibesarkan di markas, tapi saya tidak tahu bagaimana Jhon mengenalnya. Aku harap tidak ada kesalahpahaman." Erlan menepuk bahu Zara.


Tanpa pria itu tahu, ada seseorang menatap tidak suka. Bagaimanapun Zara istrinya.


Nathan beranjak dari duduknya, tanpa bicara apa-apa pria itu duduk di sisi Zara dan Erlan. Hingga membuat Erlan berdecak melihat sikap posesif kembarannya itu.


"Ya ampun, Nathan, rileks lah. Aku hanya sedang berbicara dengan Zara, Iparku," kata Erlan sambil menunjukkan senyum yang penuh dengan jengkel.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya kita berbicara," Zara mencoba menyuarakan pikirannya. Nathan menatap istrinya dengan mata yang melingkar ketatnya.


Nathan menghela napas panjang mencoba menahan amarahnya yang mendidih. "Baiklah, katakanlah aku berlebihan. Tapi sebagai suami, aku harus melindungi istriku dari hal-hal yang dapat merusak hubungan kami."


Semua yang berada di ruang tamu hanya menggelengkan kepalanya, di tempat yang mereka tempati sekarang. Sekelompok pemuda yang diberi misi berbahaya oleh Erlan dengan imbalan menciptakan kegaduhan  yang lebih akan membuat anak buah Pasada kocar-kacir.


Suasana ruangan mulai terasa semakin tegang ketika Nathan dan Erlan saling bertatapan. Sementara itu, Zara memandang mereka bingung tanpa mengetahui alasan sebenarnya di balik pertikaian mereka.


Rintik hujan yang menempel di jendela memecah kesunyian di ruang tamu. Mereka semua duduk di sana tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Hahaha," tawa Carla masuk ke dalam ruangan, membuat ketegangan di udara terisak longgar. "Melihat wajah kalian semua, kelihatannya aku telah melewatkan beberapa drama yang menarik."


Erlan menjawab, "Oh, Carla. Entahlah, Nathan hanya merasa sedikit posesif seperti biasa."


Carla menggoda Nathan, "Wah, kamu cemburu ya melihat Erlan dan Zara sedang berbincang."


Nathan menatap ke arah Erlan dan Zara, "Aku minta maaf, tadi aku..." Namun Carla menginterupsi pertanyaannya, "Lupakan saja! Mari kita bicarakan rencana kita berikutnya."


Mereka semua mulai berkumpul di sekitar meja di mana ada peta, menunjuk sasaran-sasaran yang akan mereka tangani dalam misi  yang akan datang. 


Sebagai pembunuh bayaran, Erlan telah sukses mengeksekusi misi-misi yang rumit dari Pasada dan dari siapapun yang membutuhkan jasanya.


Erlan menciptakan rencana serangan terbaru kepada musuh, terperangkap dalam dunia kekuasaan yang mereka tidak pernah inginkan. Benteng yang kokoh menjaga kehidupan serta rahasianya.


Satu persatu rencana itu terwujud, dan pria  itu semakin percaya diri dengan kemampuannya. Namun, bohong jika dalam hidupnya tak pernah luput dari perhatian. Ketakutan akan pengkhianatan tertanam dalam hati Erlan.


Suatu hari, sebuah surat dari mafia luar mengirimkan pesan Erlan. Berada di ruang pribadi ia membaca pesan itu dengan serius. "Ada informasi bahwa akan ada pemberontakan dalam kelompok mafia di bawah naungan Pasada. 


Erlan  meyakini bahwa salah satu dari anak buah Pasada akan menjadi pengkhianat.


Nathan dengan ekspresi datar, pria itu bertanya," Apa kamu sudah dapat siapa saja yang berkhianat, Erlan?"


"Ini benar? Apa kita harus mulai berpikir bahwa di antara kita ada pengkhianat?"

__ADS_1


__ADS_2