Secret Wedding

Secret Wedding
Part 3


__ADS_3

"JIN JI!!! JIN JI!!! KAK JIN JI!!"


Teriakkan itu sudah terdengar sampai ke dalam gedung.


"Jin Ji, senyumlah," Seok Woo mengingatkan. Namun, Jin Ji terlalu lelah sampai-sampai dia tidak sanggup melengkungkan senyuman.


"Aku lelah sekali, lagipula ini kan masa pandemi, jadi mereka pasti tidak akan protes meski aku memakai masker," kata Jin Ji, sembari memakai masker hitamnya.


"Tapi, Jin Ji...," Seok Woo, sang manager. Hanya bisa mengulum perkataannya saat sang artis sudah lebih dulu keluar dari hotel.


"AAAAHHHHHHHHH JIN JI!!! KAK JIN JII!!" Teriakkan itu semakin keras saat Jin Ji berjalan melewati kerumunan untuk menuju mobil yang sudah disiapkan untuk menjemputnya.


"Tolong minggir, maaf tolong minggir." Seok Woo, dan beberapa bodyguard melerai kerumunan itu hingga Jin Ji sampai di dalam mobil dengan aman.


"Huhhh, kerumunan ini menakutkan sekali. Padahal aku hanya seorang aktor, aku jadi penasaran bagaimana dengan para idol ya?" Gumam Jin Ji. Namun, masih terdengar jelas ditelinga sang manajer.


"Kerumunan untuk para idol lebih menakutkan dari ini, kau harus lihat dengan mata kepalamu sendiri, baru kau sadar bahwa kau lebih beruntung daripada mereka," tukas Seok Woo.


"Hahhh, terserah sajalah." Jin Ji menyamankan posisi duduknya. "Setelah ini kita ke mana, kak?"


"Setelah ini kau tidak ada jadwal," jawab Seok Woo, membuat Jin Ji yang sebelumnya nampak lelah kini terlihat sangat bersemangat dengan senyum cerahnya.



"Akhirnya, bisa istirahat juga."


Seok Woo menghela napas panjang ketika melihat senyum Jin Ji. "Huhh, dasar kau ini." Seok Woo menyampirkan selimut ditubuh Jin Ji, sembari berkata, "kalau begitu istirahatlah, aku akan bangunkan kau setelah kita sampai di officetel."

__ADS_1


"Officetel? Aku tidak mau ke sana!" Tukas Jin Ji.


"Lalu kau mau ke mana?"


"Antarkan aku ke rumahku saja."


"Rumahmu...," Seok Woo terdiam barang sejenak. "Maksudnya apartment?"


"Bukan. Tapi, rumah yang dulu aku dan orangtuaku tinggali," jawab Jin Ji pelan.


"Rumah itu bukannya..., kau!! Mungkinkah kau..., emphhhhh—"


Jin Ji segera membungkam mulut Seok Woo. "Nanti saja bicaranya, sekarang aku mau istirahat dulu," kata Jin Ji sembari memberi isyarat pada Seok Woo dengan melirik sopir suruhan direktur managmentnya.


Diamlah! Ada orang lain di sini! Arti isyarat Jin Ji.


"Aku istirahat dulu, kak." Jin Ji memejamkan matanya. Sedangkan Seok Woo kini merasa gusar karena pikiran yang tak karuan tentang keputusan Jin Ji.


Bocah ini benar-benar! Matilah aku kalau sampai direktur tahu.


Berbeda dengan Jin Ji yang dapat tidur dengan nyenyak, sepanjang perjalanan Seok Woo terus saja gusar.


Butuh waktu satu setengah jam dari hotel tempat Jin Ji pemotrettan hingga ke rumahnya, rumah megah yang dulunya dia tinggali bersama ayah dan ibunya sebelum akhirnya rumah itu di sita oleh bank 7 tahun lalu.


Jin Ji mengajak Seok Woo untuk masuk, lantaran sebelumnya Seok Woo nampak kaget dan terlihat sangat ingin tahu dengan apa yang terjadi.


Di Dalam Rumah Jin Ji

__ADS_1


"Siapa lagi yang tahu tentang ini?" Tanya Seok Woo.


Jin Ji diam dan berpikir, "kau, aku, dia, dan temannya yang hanya satu-satunya itu."


Seok Woo menghela napas berat. Dia nampak gusar, sampai-sampai menenggak habis bir kaleng yang Jin Ji berikan padanya.


"Jin-ah, kenapa kau melakukan ini padaku, eoh?! Jika sampai Direktur tahu tentang ini, maka aku akan habis olehnya," risau Seok Woo. "dan lagi, bukankah kau bilang akan mengambil kembali rumahmu ini dari bank dengan usahamu sendiri, tapi kenapa kau..., aishhh." Seok Woo mengacak rambutnya, dia benar-benar terlihat Frustrasi.


Jin Ji terdiam, meskipun dia bersikap baik-baik saja. Namun, kenyataannya dia juga risau kalau-kalau rahasianya ini terbongkar. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Dia menjadi aktor supaya bisa melunasi hutangnya di bank. Namun, ternyata profesi aktor itu tidaklah mudah. 7 tahun Jin Ji menggeluti profesi itu, tapi dia tak kunjung terkenal, tawaran dramanya pun sangat sedikit, dan dia selalu menjadi pemeran pendukung, ditambah lagi perusahaan mengambil 60 persen dari penghasilannya. Tidak ada harapan baginya untuk melunasi hutang dan menyelamatkan rumah penuh kenangan itu. Meskipun beberapa bulan ini, selama masa pandemi akhirnya Jin Ji berhasil terkenal hingga mendunia. Namun, itu semua sudah tidak berguna lagi, karena pihak bank memberitahunya bahwa perpanjangan penangguhan hutang Jin Ji ditolak. Sebenarnya pihak bank sudah memberitahukan itu padanya satu bulan lalu, tapi, karena jadwal Jin Ji yang mulai padat, dia sampai tidak memerhatikan pesan masuk di ponselnya sehingga rumah penuh kenangan itu akhirnya dilelang, dan terjual.


"Memangnya kau saja yang akan habis oleh Direktur? Aku juga akan habis olehnya," sahut Jin Ji, sembari menenggak bir kalengnya. "Lagipula sudah sangat terlambat bagiku untuk mengambil kembali rumah ini dari bank. Oleh karena itu, aku...,"


~Tri ri ri ring


Jegrekkk


Jin Ji tertegun ketika mendengar suara kunci pintu digital yang terbuka itu.


"Kak, cepat sembunyi!!" Risaunya, dia merapihkan semua kaleng bir di atas meja, kemudian menarik tangan Seok Woo untuk bersembunyi dibalik sofa.


"Jin-ah, kenapa kita sembunyi? Bukankah ini sudah menjadi rumahmu?" Bisik Seok Woo.


"Kapan aku bilang begitu?" Sahut Jin Ji, berbisik juga.


Seok Woo membulatkan matanya, "jadi, kita ini sedang sebarangan masuk ke rumah orang?!"


"Ssstttt, diamlah kak."

__ADS_1


__ADS_2