Secret Wedding

Secret Wedding
Mulai terungkap


__ADS_3

Kini hanya tinggal Erlan dan Nathan yang duduk di ruang keluarga. Melihat saudara kembarnya menatapnya, pria itu tersenyum dan bertanya," Ada apa?" 


"Kamu bekerja untuk siapa, Erlan?"


Erlan menatap Nathan dengan serius, sepertinya saudara kembarnya itu berpikir keras sebelum akhirnya menjawab, "Nathan, aku tahu bahwa kamu ingin tahu, tapi aku tidak bisa memberitahumu lebih lanjut. Bosku adalah orang yang sangat berkuasa dan memiliki banyak musuh dan kekuasaan. Jika aku membocorkan informasi ini, bukan hanya nyawaku yang akan terancam, tetapi juga nyawamu dan keselamatan keluarga kita."


Nathan merasa semakin bingung dan frustasi. Ia tidak mengerti mengapa Erlan harus melibatkan diri  dalam dunia kejahatan ini dan mengapa ia merahasiakan targetnya, tapi dalam hati Nathan, ada juga kekhawatiran untuk keamanan saudaranya.


"Sepertinya aku tidak bisa memaksamu untuk memberitahuku, Erlan," kata Nathan dengan suara lemas. 


"Tapi, setidaknya berjanjilah padaku bahwa kamu akan berhati-hati dan menjaga keselamatan kita semua," lanjutnya lagi.


Erlan menatap Nathan dengan raut wajah yang penuh penyesalan. "Tentu, Nathan. Aku berjanji untuk menjaga keselamatan kita semua. Kamu harus percaya padaku."


Nathan merasa hatinya berdebar-debar. Ia tahu bahwa ini adalah saat-saat penting yang bisa mengubah hidup mereka. 


Akan tetapi, ia  juga tahu bahwa  harus mempercayai saudaranya, sekalipun itu berarti harus melepaskan keinginannya untuk mengetahui lebih banyak.


"Mudah-mudahan semua ini akan berakhir dengan baik, Erlan," ucap Nathan dengan keraguan dan harapan dalam suaranya.


Keduanya menghela nafas panjang, saling melihat dengan rasa penasaran dalam hati keduanya. Nathan tahu bahwa keputusan Erlan akan berdampak besar pada masa depan pria itu, hanya waktu yang akan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.


Nathan segera pamit, pria itu merasa lelah dan akan selalu istirahat. Sedangkan Erlan keluar dari mansion keluarganya, pria itu berjalan santai. Namun, selalu waspada.


*"""


Pagi harinya Zara dan Dania sedang duduk di ruang keluarga, wanita sedang mengobrol dengan mama mertuanya. 


"Kenapa Erlan tidak menginap, Nak?"  tanya Dania.


"Sepertinya tidak, Ma." Zara mengambil handphonenya karena ada pesan masuk dari Erlan melarang iparnya itu untuk keluar sendiri.


Zara menarik napas panjang, ada rasa was-was. Kenapa saudara kembar suaminya itu seperti sedang menjaganya. 


Entah kenapa terbesit dipikirannya Kalau target yang tidak bisa dibunuh oleh Erlan adalah dirinya, tapi siapa yang memberikan perintah itu?


Banyak rahasia dan misteri yang dirasakan wanita itu. Zara dan Dania, rasa was-was yang muncul di hatinya.


Zara mengambil remot televisi berharap ada acara bagus. Wanita itu mencari channel berikutnya, tapi tidak ada yang menarik.


Ruangan itu dipenuhi cahaya matahari yang berkilau, berpendar melalui jendela besar dan mampu mempertajam setiap detail dari wajah mereka. Dania, seorang wanita berusia akhir 50-an dengan rambut keriting seperti kemuning dan mata cemerlang, tampak tidak biasa khawatir.


 Sebaliknya, Zara, wanita muda berkulit zaitun dengan rambut ditutup hijab hitam dan mata besar seperti kupu-kupu, tampak tenang dan berfokus pada ponselnya, di mana Erlan, saudara kembar suaminya kembali mengirimkan pesan.


Dania dengan lembut menempatkan gelas jus tomatnya di meja dan berkata, "Apakah ada masalah, Zara?"


Suaranya yang kecil menjauh. Zara menatapnya sekilas dan segera kembali ke ponselnya, tangannya sedikit bergetar. "Saya tidak yakin, Ma... Erlan sedikit berbeda belakangan ini, sepertinya  ikut ambil bagian dalam masalah yang tidak kita ketahui."


Setelah beberapa detik berlalu, Zara mengangkat wajahnya dan menatap Dania, air matanya berkelip dalam netra indah itu. “Apa Erlan  sedang berada dalam masalah, Ma?”


Dania duduk tegak, merasakan denyut jantungnya biasa kencang saat ini. “Kenapa Erlan? seharusnya tidak berada dalam masalah? Putra mama  laki-laki baik, selalu menjaga.”  


Suara Dania  bergetar pelan, mirip dengan yang bocah berusia 7 tahun yang berusaha meyakinkan bahwa setan tidak ada di bawah tempat tidurnya.


"Ya, tetapi ..." Zara menggigit bibir bawahnya, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya.


"Suasana belakangan ini sungguh aneh. Saya merasa seperti diawasi, Ma. Bahkan Erlan mengirim pesan padaku untuk tidak keluar sendiri. Haruskah aku khawatir?" tanya Zara sepertinya mertuanya tahu sesuatu.


Dania memandangi Zara dengan lekat, hatinya merasa tergelitik oleh ketakutan yang semakin menjadi kegelisahan. 


Setelah  diam, Dania berdiri dan berjalan ke arah Zara. Dengan perlahan, ia menempatkan tangannya yang hangat di bahu anak menantunya itu.

__ADS_1


"Tidak, Nak," balasnya dengan suara yang lembut namun jelas.


 "Mungkin Erlan hanya khawatir tentang sesuatu dan belum siap membahasnya. Kalian  masih muda; ada banyak hal yang kalian tidak ketahui tentang apa yang sedang dilakukan Iparmu. Jangan khawatir, berikan waktu padanya." Dania mengusap bahu menantunya lembut.


Zara tampak lega, ia menganggukkan kepala dan berdiri.


 “Terima kasih, Ma. Aku akan menunggu, hanya saja-." Zara menghentikan ucapannya saat mendengar suara yang tidak asing.


Zara langsung berdiri dari duduknya dan berhambur memeluk sosok yang dirindukannya." Ayah."


Tama datang karena sudah beberapa kali bermimpi Zara meminta tolong padanya, hingga pria itu memutuskan untuk terbang ke Turki. 


Seruan yang lembut di tengah percakapan mereka menggantung seperti rangkaian kalung yang belum selesai.


"Ayah,' dilontarkan dengan begitu banyak cinta, kagum dan rindu sehingga membuat tubuh  Zara bergetar sambil memeluk Tama. 


Saat Dania  memutar, sosok Tama menciptakan bayang-bayang yang mengejek di lantai marmer, pencahayaan lembut membuat wajahnya tampak seperti lukisan. 


Wajah Zara berbinar merona, senyumnya merekah, menembus jantung Dania melihat menantunya  begitu senang karena ayahnya datang.


Dania melihat bagaimana anak menantunya memeluk kerinduannya. Ia hanya bisa mengamati, wajahnya tersenyum manis pada Tama dan mata berkelip lega melihat Zara merasa lebih baik. 


Tama, seorang pria berpostur tegap dengan bahu lebar dan rambut beruban sedikit, memiliki senyum ketulusan yang menghangatkan. 


"Halo, Nia," kata Tama sambil tersenyum kepada Dania.


Dania merasakan suara lama tersebut menjalar di telinganya, menekan titik-titik biru pada ingatannya. "Selamat pagi, Tama. Kapan tidak kasih tau jadi bisa dijemput di bandara?"


"Dini hari kemarin aku berangkat," jawab Tama, sambil terus memegangi Zara dengan sayang. 


"Zara... Kenapa kamu kelihatan seperti itu, Nak?" Tampaknya dari balik kedermawanan Tama, tersembunyi seberkas kecemasan yang tidak dapat ditolak.


Zara menarik napas, raut wajahnya menceritakan cerita panjang yang ingin dia tuturkan akhirnya ia menceritakan kalau kembaran Nathan ada.


"Ayah... Ada masalah. Tapi bisa ditangani  sedikit, apa beberapa ini ada hal aneh?." 


Dania akhirnya beranjak dari duduknya, wanita itu membiarkan ayah dan anak itu mengobrol.


"Kembaran Nathan namanya Erlan, Yah." 


Jantung Tama terjerembab sewaktu Zara mulai berbicara tentang Erlan.


Tama mendengarkan dengan penuh perhatian, berusaha menenggelamkan kekhawatiran yang meradang di dalam dada. 


Erlan, itu nama yang tidak asing di telinga Tama. Pria itu  bukanlah orang sembarangan, 


"Erlan sedang ada masalah. ia jarang berada di rumah, dan saat di rumah selalu di ruang kerja dan enggan bicara. Satu lagi  hari ini melarangku pergi sendirian," lanjut Zara, meremas ujung roknya dengan cemas.


Tama memandang putrinya dengan cinta, lalu berbelok ke Dania yang baru datang dengan membawa minuman.


 "Ada apa sebenarnya dengan Erlan, Nak?" tanya Tama, menatap ke dalam mata Zara mencari jawaban yang belum ia pahami. 


"Apakah Nathan  pernah melakukan sesuatu yang membahayakanmu?"


Zara menggeleng, menahan isakan. "Bukan itu, Ayah. Ada sesuatu yang disembunyikan dariku, sesuatu yang besar yang tidak aku ketahui apa?"


Tama menarik napas panjang, pria itu menatap iba pada putrinya. Sebenarnya sudah beberapa kali ia dikuti oleh seseorang yang begitu mencurigakan beberapa hari ini.


"Tapi kenapa Ayah datang?" Zara berusaha menyembunyikan rasa lega melihat wajah Ayahnya. 


"Aku...Aku bermimpi," kata Tama, suaranya bergetar, "bukan sekali, tapi beberapa kali. Di setiap mimpi itu, aku melihatmu. Kamu menjerit...meminta tolong. Rasanya sangat nyata sehingga begitu aku terbangun, aku langsung memesan tiket pesawat ke Turki."

__ADS_1


Zara terdiam mendengar pengakuan ayahnya. Rasa cinta campur rasa khawatir bertubi-tubi bertumpu di hatinya. " Ayah...," bisik Zara hampir tak terdengar.


Dania yang mendengar semuanya, merasakan sesuatu mendasari sejak awal. Sesuatu mengganjal sekarang ada dalam lingkaran pertanyaannya. "Tama, apakah kamu belum memberitahu Zara?"


Zara berbalik pada Dania, "Memberi tahu apa, Ma?"


Bibir Zara bergetar. Dania memandang Tama, tatapan matanya begitu berarti meski terlihat seolah tidak memaksa. 


Tama menghela nafas panjang, merasakan beratnya beban yang harus dibagi ini.


"Saat kamu  menikahi, Zara." Tama mulai bercerita, “ada beberapa syarat yang diberikan suamimu. Salah satunya adalah tentang Erlan.”


Zara mendengarkan, matanya memandang bingung ke arah Dania dan ayahnya. Nathan dengan quiff rapihnya dan  senyum berani yang telah membuat Zara jatuh hati sejak ijab kabul dilafalkan “Apa maksudmu, Ayah?”


"Nathan  tidak seperti kita Zara," Tama mencoba bicara dengan setenang mungkin, "Nathan   itu seorang agen khusus dari salah satu mafia juga, tapi jabatan sebagai CEO membuatnya makin disegani."


Hening. Zara menatap kosong, hatinya berdetak kencang, pikirannya seakan menolak fakta baru ini. Setelah beberapa detik yang terasa abadi, Zara menemukan kembali suaranya, "Kenapa Nathan? Mengapa ia menjadi seorang agen khusus?"


Dania yang tidak bisa tidak menurunkan pandangannya. Wanita itu merasa bersalah karena tidak menceritakan ini lebih awal pada Zara. 


Melihat menantunya  kebingungan ibarat menggali lubang di hatinya. Dania  menenggelamkan kepalanya, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya.


"Sejak Nathan  Lulus sekolah, ia memiliki bakat alami untuk menjadi agen rahasia. Kemampuannya dalam bela diri, kelicikannya, daya tariknya dan kemampuannya dalam berbicara banyak bahasa. Semua itu membuat  mama yakin bahwa suamimu bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih baik.. Dan itulah yang membuat Nathan ditawari bekerja sebagai agen rahasia."


Zara diam, selama ini Nathan tidak pernah menceritakan apa pun, tapi wanita itu kini ingat pertama kali bertemu dengan suaminya. Kondisi Nathan luka dan meminta tolong padanya waktu itu. 


Kini terjawab sudah, apa yang selama ini membuatnya penasaran, ditatapnya mertuanya dan bertanya , "Apa Sampai sekarang Nathan masih jadi agen khusus, Ma?"


Dania  merenung sejenak, lalu menghela napas, "Ya, Zara. Nathan masih bekerja sebagai agen khusus. Aku tahu ini mungkin sulit untuk diterima, tapi sebaiknya kamu tahu sekarang sebelum mengejar bayangan yang mengelabui. Nathan selalu bekerja keras untuk melindungi keluarganya, itu lah mengapa ia tidak pernah bercerita tentang profesi sebenarnya."


Zara mencoba menelan getir yang mulai terasa di tenggorokannya. Sedih melanda begitu mendalam. Namun ia harus kuat, memikirkan anaknya. "Terima kasih, Ma, untuk jujur padaku."


****


Malam itu Zara terjaga lama, merenungi kehidupannya dengan Nathan. Tak pernah sekalipun ia menyangka suaminya, lelaki yang setiap malam berbagi kasur dengannya,  menyimpan rahasia besar seperti itu.


 Suara langkah kaki Nathan di lantai menghentikkan lamunan Zara. Senyum pahit tersungging di bibir sepasang suami istri yang saling menatap di ruangan itu. 


"Kau sudah tahu semuanya?" tanya Nathan dengan nada dingin.


Zara mengangguk tanpa emosi, seraya menggenggam pergelangan tangannya sendiri. "Mama yang cerita padaku. Sejujurnya, aku merasa dikhianati, Mas. Kita bersama selama ini, tapi kenapa kamu merahasiakan semuanya dariku, kenapa, Mas?"


Nathan tampak mengerang sebelum duduk di sebelah Zara. "Aku minta maaf, Sayang. Aku ingin melindungi kalian. Aku ingin melindungi keluarga kita, dunia di mana kalian hidup dengan aman dan damai. Dunia yang tidak tersentuh kekejaman dan ketidakadilan yang kuhadapi di luar. Kurasa kamu  berhak tahu, tapi aku takut... Takut melihat kekacauan hidupku menyentuh kalian."


Zara menghela napas panjang, mencoba meredakan amarah yang memuncak. Ia mencoba memahami alasan Nathan, tapi kekecewaan dan kekhawatiran memenuhi pikirannya. 


"Jadi, apa yang kamu  kerjakan sekarang? Bagaimana bisa  menjalani hidup ganda ini, Nathan? Dan bagaimana kita harus bersikap setelah ini?" Zara menatap suaminya tajam, terlihat rasa marah khawatir jika mengingat bagaimana dulu pria yang ditolongnya itu, tapi kini sudah menjadi suaminya.


"Sebenarnya, aku sudah berusaha untuk keluar dari pekerjaan ini, Zara. Aku ingin lebih banyak waktu bersama kalian, dan melepaskan ancaman yang selalu mengintai di balik bayangan. Tapi ini rumit, dan aku harus pintar-pintar menghindari perhatian musuh-musuhku. Kau tak perlu khawatir, aku akan menjaga kalian. Kan kuingatkan, Janji adalah janji, Zara. Aku akan berusaha membenahi semua kesalahan yang telah kulakukan, dan kita akan punya hidup yang normal. Tapi saat ini, aku membutuhkan pengertianmu dan doamu agar tetap aman, dan keluarga ini juga," kata Nathan dengan lembut.


Zara menarik napas dalam-dalam. Ia tahu mencintai seorang agen khusus bukan, bukan hanya seorang pengusaha sukses di balik wajah tampan suaminya. Nathan bukan pria biasa, tapi bahaya akan selalu mengintainya di luar sana.


Mata Zara menyipit, wanita itu terlihat gusar dan akhirnya bertanya." Apa ini ada hubungannya dengan Erlan?"


Nathan mengerutkan kening, dengan hati-hati mencoba merangkai kata-kata yang tepat. 


"Erlan… tidak ada bedanya denganku, ia mengetahui pekerjaanku sebagai agen khusus. Setelah kejadian perebutan kekuasaan itu, Erlan menginginkan balas dendam atas kematian saudaranya yang tewas dalam sebuah operasi yang juga melibatkanku," jelas Nathan dengan nada penuh penyesalan.


"Jadi, Erlan itu musuhmu dan sudah tahu  rahasia ini,?" Zara bertanya terkejut. Seolah baru tersadar bahwa Nathan dan Erlan sebenarnya musuh.


Kini Zara paham akan ucapan ipar, ia tidak bisa menyelesaikan misinya untuk membunuh seseorang, apa itu artinya target Erlan adalah kembarannya.

__ADS_1


Nathan mengangguk lamban. "Ya, Erlan mengetahui. Aku tahu kembaranku itu  berbahaya, tapi jujur saja, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran dan tujuannya sebenarnya. Aku harap kamu lebih waspada terhadap Erlan, Zara."


Zara mencoba memahami dunia baru yang ditemukannya. Di satu sisi ia ingin hidup normal tanpa kerahasiaan dan kecemasan, tetapi ia sadar bahwa Nathan tidak akan pernah dibebaskan sepenuhnya dari masa lalunya sebagai agen khusus. 


__ADS_2