Secret Wedding

Secret Wedding
S.W.33


__ADS_3

dan entah mengapa, Feby merasakan da gelayar aneh. saat sang suami mengatakan bahwa dirinya cemburu.


Feby mencoba menetralkan derap jantungnya yang merasa tidak aman.


"cemburu sama siapa,?" tanya Feby mencoba mengelak. Aiden yang mendengarnya, memajukan wajahnya hingga hembusan nafasnya, menerpa permukaan kulit Feby.


membuat gadis itu seketka merinding di buatnya. namun, dirinya tak bisa berbuat apa apa. selain karena pinggangnya yang di tekan oleh Aiden, ada jugw serangan aneh dalam tubuhnya.


hlal itu membuat Feby seakan tak berdaya dan memilih untuk memejamkan matanya. namun, tiba tiba,..


ceklek


pintu kamar tiba tiba di buka dari luar dan menampakan Mama Yunita yang begitu terkejut. karena melihat anak dan menantunya yang sepertinya sedang bermesraan.


"eh, Maaf Mamah gak sengaja," wajah Mama Yunita langsung bersemu merah karena malu. begitupun dengan Feby.


gadis itu sudah tampak seperti tomat wajahnya karena menahan malu. rasanya, gadis itu ingin menghilang dari muka bumi ini karena saking merasa malu.


"ehm, kalau gitu Mamah tunggu di luarvl saja," Mama Yunita tampak menutup pintu dengan sedikit tergesa.


sementara Aiden, laki laki itu hanya meringis menahan malu. karena terburu buru, dirinya sampai lupa mengunci pintu.


Feby segera berdiri dan berkacak pingganh di depan Aiden. oersis seperti emak emak yang sedang marah karena tidak membayar kontrakan.


"kamu mau kamana,?" tanya Aiden dengan menarik tangan sang istri. sementara gadis itu hanyq bisa menghela nafas panjang.


mengapa laki laki yang berstatus suaminya itu berlaku seperi anak kecil saja. sehingga gadia itu seperti mempunyai bayi lagi.


namun yang membedakannya adalah ukurannya lebih besar.


"aku harus menyusui Baby Syeril Aiden," ucapnya mendesah pelan.


gadis itu mencoba bangkit dari pangkuan Aiden. namun, lagi dan lagi Aiden menahannya. " kanmasih ada stok asi di kulkas," bisiknya terdengar lembut.


Feby seketika langsung mendorong sang suami. hingga laki laki itu terjerembab keatas kasur. "enak aja, mumpung aku ada di rumah biar baby Syeril langsung sama aku," gadis itu segera melangkah dan keluar dari kamar.


gadis itu segera menuruni satu persatu anak tangga menuju ruang tamu. dimana mertuanya ada di sana bersama putri kecilnya.


"Mah," sapa Feby sedikit kikuk jika mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

__ADS_1


senyum Mamah Yunita mengembang "sudah selesai,?" tanya wanita paruh baya itu dengan senyuman menggoda.


rasanya, gadis itu ingin sekali menenggelamkan dirinya di dasar samudra agar tidak merasa malu. Feby segera melangkah dan duduk di samping mertuanya.


tanganya terulur dan mengambil alih Baby Syeril dalam gendonganya. kemudian segera menyusuinya.


Ibu muda itu tampak tersenyum geli saat melihat gadis kecilnya itu menyusu dengan rakusnya. " lucu banget sih kamu sayang, jadi gemas. " Feby tampak mengeyel pipi Baby Syeril dengan hidung mancungnyq.


tak lama, Aiden turun dari kamar dan menghampiri keluarganya itu. " Mah, Sayang, aku pergi dulu ya,"pamit Aiden.


blush


seketika, wajah Feby merasa panas karena malu di panggil sayang. sementara Mama Yunita yang melihat interaksi itu hanya tersenyum kecil.


"emang, kamu mau kemana Aiden,?" tanya Mama Yunita.


"Aiden mau buka warung makan baru di jalan cempaka Mah, sama toko baju dan ada toko sepatu di sana," ucap Aiden.


hal itu membuat Feby melongo karena seorang siswa yang masih remaja, memiliki usaha sebanyak itu.


jangan jangan, suaminya itu memelihara tuyul di dalam rumah ini. tiba tiba, gadis itu menjadi merinding.


bukanya menjawab, Feby malah menatap suaminya dengan tatapan menyelidik. "Aiden, kamu nggak lagi pelihara tuyul kan,?'tanya gadis itu spontan.


hal itu membuat dua orang yang ada di sana saling berpwndangan. dan tiba tiba,..


pletak


satu sentilan keras, mendarat keras di kening Ibu muda itu. membuat gadis itu menerang karena kesakitan.


"awh sakit Aiden," ucap Feby seraya mengusap keningnya yang terasa panas.


"makanya, kalau ngomong itu jangan asal, enak aja bilang kalau aku pelihara tuyul," Aiden tampak mendegus kesal.


Feby yang mendengarnya, terkekeh pelan. " ya lagian, masa baru pelajar udah bisa bangun banyak usaha, aku kan jadi curiga," ucapnya seakan tanpa dosa.


karena menurutnya, mereka itu masih aangat muda untuk memulai sebuah usaha.


" makanya kalau di kasih uang, itu jangan di buat jajan ajs. sesekali, sisihkan untuk usaha," ucap Aiden seraya mengelus kepala baby Syeril.

__ADS_1


Feby yang secara tidak langsung di sindir, hanya mengerutu seraya mengerucutkan bibirnya.


"udah, nggak usah di manyun manyunin, nanti kalau aku khilaf, kan bahaya," ucapnya seraya menggoda sang istri.


Ibu muda itu hanya melengos saja. kemudian, gadis itu segera menuju meja makan kecil yang berada di samping ruang keluarga.


ya apa yang dirinya pikirkan memang tidaklah salah. karena memang pelajar seperti mereka belum bisa merintis usaha.


"Mah, aku berangkat dulu ya," ucapnya seraya mencium punggung tangan Mama Yunita.


"iya sayang, hati hati ya," ucap Mama Yunita tersenyum tipis.


Aiden yang mendengarnya, hanya mengangguk dan kemudian menghampiri Istri dan anaknya. "aku pergi dulu ya, kamu kalau mau di bawakan sesuatu, bilang aja," Aiden tersenyum tipis dan mengelus kepala anak dan istrinya.


Feby hanya menganggukan kepala dan bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya. gadis itu meletakan Baby Syeril di sampingnya.


dan setelahnya, dirinya pun ikut terlelap di samping anaknya.


****


sementara itu, Aiden kini telah sampai di restaurqnt mini miliknya yang berdampingan dengan toko baju miliknya.


namun, sepertinya Aiden lebih senang menyebutnya, sebagai warung makan bukan restaurant. karena di sini, semua orang berhak makan mulai dari orang yang memakai jas, sampai orang yang nyeker. alias tidak menggunakan alas kaki.


dan Aiden tak mempermasalahkan hal itu. jika dirinya bisa memberi, kenapa tidak,


di saat laki laki itu masuk ke dalam warung makannya, mata elangnya seperti menangkap bayangan seseorang yang dia kenal.


namun, Aiden tak mau ikut campur. karena memang, hal itu bukan urusanya. lagi pula, apa yang dirinya lihat itu belum tentu benar.


dan dengan segera, Aiden melangkahkan kakinya masuk kedalam restaurant mini yang dirinya kelola itu.


"Bos, datang mau mantau ya,?" tanya Teguh salah satu teman yang ikut bergabung dalam gengnya.


"bukan, mau mancing," jawabnya ketus. sudah jelas jelas dirinya datang kesini pasti ingin mengawasi sekalian ingin mengecek. dasar!!


kadang, Aiden sedikit heran dengan orang orang yang senang berbasa basi. apa mereka tidak punya mata, untuk melihat sedang apa dirinya, sampai harus bernasa basi yang tak berfaedah


See You..

__ADS_1


__ADS_2