
Jhon menatap tajam ke arah istrinya, mengekspresikan ketidakpuasannya. Meli hanya memalingkan wajahnya, menyesal karena menggelitik leher Jhon untuk melihat reaksinya.
"Kenapa kamu selalu melakukan hal seperti ini?" tanya Jhon, masih tetap mempertahankan tatapannya ke Meli.
"Bagaimana aku bisa menahan diri darimu? Kamu terlalu mempesona," jawab Meli, mencoba menguras kesalahan dalam perlakuan mesumnya terhadap suaminya.
"Seharusnya kamu bisa," balas Jhon, menghela nafas berat lalu keluar dari ruangan itu.
Meli menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Jhon, merasa kesal dan tidak puas. Ia telah berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangganya bersama Jhon di dalam dan di luar kamar, tapi selalu saja Jhon terlalu merespon negatif terhadap upayanya.
Sementara itu, Jhon merenungkan keadaannya. ia tidak tahan dengan perlakuan mesum Meli, tetapi ternyata tidak bisa mengontrol dirinya sendiri ketika istrinya menggoda.
"Kenapa Meli selalu menggodaku seperti itu?" tanya Jhon dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Jhon kembali ke dalam kamar, memandangi istri tercintanya dengan cinta dan kelembutan yang kembali memudar.
"Kita perlu bicara," ucapnya, mengambil tangan Meli agar ikut merapat duduk bersama di sofa.
Meli mulai merasa gugup, tidak tahu apa maksud Jhon saat ini. Ia merasakan suasana cinta yang selalu menemani hubungan mereka tidak seperti biasanya.
"Meli, aku tahu aku terlalu keras padamu," kata Jhon dengan suara yang lebih halus. "Tapi itu karena aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Aku juga tidak ingin kehilanganmu, karena kamu adalah segalanya bagiku."
Meli terharu mendengar ucapan Jhon, ia mencoba menutupi rasa harunya dengan tangis. "Aku juga mencintaimu, Bee. Tapi aku rasa terkadang kamu tidak memperhatikan kebutuhanku."
Jhon mengerti apa yang dikatakan istrinya. ia memang tidak pernah terlalu memperhatikan kebutuhan Meli, terlalu fokus dengan pekerjaannya sebagai asisten CEO di sebuah perusahaan ternama, tapi kali ini dia bersumpah akan mencoba lebih memperhatikan istrinya.
Beberapa hari kemudian, Jhon mencoba meluangkan waktunya untuk istirahat dari pekerjaan yang selalu menyerap energinya. Ia memikirkan hari-hari di mana dirinya dan Meli masih di awal hubungan, mereka pernah menghabiskan waktu bersama-sama dengan bahagia. Jhon berharap bisa mengulangi moment-moment seperti itu.
Meli kagum dengan perubahan sikap suaminya. Ia merasa bahagia karena Jhon sekarang menempatkannya sebagai prioritas utama dalam hidupnya.
Keduanya melakukan berbagai macam aktivitas bersama-sama, seperti jogging setiap pagi dan pergi makan malam, mencoba untuk saling memperhatikan satu sama lain. Tapi tak disangka, suasana harmonis yang mereka rindukan ternyata berubah tiba-tiba.
Suatu malam, Jhon dan Meli pergi makan malam di sebuah restoran yang baru dibuka. Mereka duduk di meja yang nyaman sambil menikmati hidangan lezat yang disajikan di depannya. Tiba-tiba, Meli merasa tidak enak badan dan pusing.
"Kamu tidak terlihat baik-baik saja, apakah kamu merasa sakit?" tanya Jhon khawatir.
__ADS_1
"Iya, agak pusing saja," jawab Meli sembari memegang kepalanya.
Ketika mereka berdua akan meninggalkan restoran, Meli tiba-tiba ambruk. Jhon amat khawatir dan memutuskan untuk membawa Meli ke rumah sakit terdekat.
Dua jam kemudian, seorang dokter keluar dari kamar rawat Meli dan mengatakan kepada Jhon bahwa Meli sudah dalam kondisi stabil.
"Kamu harus terus-menerus memantau kesehatan Meli. ia memiliki masalah pada saluran pencernaannya, dan jangan biarkan keadaannya semakin buruk," kata dokter tersebut kepada Jhon.
Jhon merasa kecewa, karena baru saja menemukan keharmonisan dengan Meli, tapi sekarang harus melihatnya sakit parah. Di sisi lain, Meli merasa bersyukur karena memiliki suami yang sangat mencintainya.
Mereka meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang berbeda. Jhon merasa tertekan dengan kondisi kesehatan istrinya, sedangkan Meli merasa lebih mencintai suaminya setelah mengalami masa-masa sulit seperti ini.
Setelah kejadian itu, Jhon benar-benar merubah pendekatannya terhadap Meli. Iia lebih memperhatikan kebutuhan istrinya daripada pekerjaannya.
Keduanya memulai lembaran baru dalam hubungan dan kembali menemukan kebahagiaan di dalam rumah tangga.
Pagi harinya Jhon tersenyum melihat sang istri sudah menyiapkan sarapan.
"Sayang apa kamu sudah lebih sehat?" tanya Jhon menatap istrinya dengan intens.
Meli tersenyum, ia tidak boleh membuat suaminya khawatir. Hari ini ia ingin berkunjung di mansion Zara karena sudah merindukan Nevan.
Mobil yang dikemudikan oleh Jhon sudah sampai di mansion Tuannya.
Keduanya keluar dari mobil dan langsung masuk pintu utama.
Zara yang melihat kedatangan sahabatnya langsung mengajak Meli dan Jhon untuk sarapan bersama, tapi pasangan itu menolak karena sudah makan sebelum kedua berangkat tadi.
Meli dan suaminya duduk di ruang keluarga, sedangkan Zara dan suaminya sedang sarapan.
Namun, Jhon tidak melihat Tuan besarnya ikut sarapan.
Biasa Albert akan sarapan setiap Jhon pergi. Keduanya jarang sekali akur.
Nathan setelah selesai sarapan, pria itu duduk di ruang keluarga. Ikut bergabung dengan Jhon dan Meli.
__ADS_1
"Apa kamu sudah sehat, Meli?" tanya Nathan tanpa melihat ke arah Meli karena ada hati yang ia jaga.
"Alhamdulillah, sudah, Tuan." Meli agak salah tingkah karena biasanya ia tidak pernah sedekat ini dengan Nathan saat dirinya masih menjadi pelayan.
"Apa kamu sedang banyak pikiran?" tanya Zara yang baru saja datang.
"Tidak, Nona." Meli meremas jari-jarinya karena masalah keluarga biar dirinya dan Jhon saja yang tau.
Zara mengangguk, wanita itu menatap Jhon yang masih terlihat kaku walaupun duduk bersebelahan dengan istrinya.
Zara tersenyum tipis, ia tidak bisa membayangkan bagaimana suami istri itu menghabiskan malam panjang atau masih kaku dan sebaliknya sangat romantis.
Nathan melirik sang istri melalui ekor matanya." Apa ada yang salah?"
Zara langsung menoleh dan menggelengkan kepalanya, wanita itu bisa-bisa kena hukum oleh Nathan jika menceritakan apa yang sedang berkeliaran di sisi liar Zara.
“Tidak ada,” jawab Zara dengan tersenyum canggung.
Nathan segera beranjak dari duduknya, begitu juga dengan Jhon. Kedua pria itu akhirnya pamit pada istrinya masing-masing.
Setelah para suaminya sudah pergi Zara segera mengajak Meli untuk masuk. Wanita itu mengajak sahabatnya itu untuk duduk di kamar Nevan.
“Meli bagaimana dengan wanita itu?” tanya Zara ingin tahu karena kemarin Meli hanya cerita sedikit.
“Carla hanya teman dan mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri, Nona.”
“Syukurlah, aku juga tanya pada Nathan katanya tidak mengenal wanita itu,” ujar Zara.
Meli tersenyum pantas Nathan tadi langsung menanyakan kabarnya, ternyata Zara sudah menceritakan apa yang selama ini membuat rumah tangganya terjadi pertengkaran.
“Padahal aku ingin menjodohkanmu dengan Rehan, tapi jodohmu Jhon si manusia kaku, tapi jangan khawatir, suamiku dulu lebih parah,” kata Zara dengan tersenyum.
Meli menatap Zara, wanita itu menarik napas panjang dan bertanya,”Apa Tuan sampai sekarang tidak menceritakan wanita lain yang dekatnya waktu sebelum dengan Maryam?”
Zara langsung menoleh dan kembali menggantikan popok Nevan.”Memangnya ada?”
__ADS_1
Meli merasa bersalah karena sudah menanyakan hal yang tidak seharusnya.”Maaf, saya kira ada.”
Zara tersenyum dan menepuk bahu Meli.”Itu hanya masa lalu, kalau sekarang masih macam-macam lihat saja bagaimana seorang Zara bertidak?”