Secret Wedding

Secret Wedding
Merasa was-was


__ADS_3

Seorang pria berusia tiga puluh lima tahun keluar dari mobilnya, letih setelah seharian bekerja. Pria itu bernama Jhon, dan hari ini adalah hari pertama kerja setelah kejadian yang mengejutkan keluarga itu beberapa minggu lalu.


Nathan meminta Jhon untuk mengurus perusahaan yang ada di kota yang kini ditempatinya.


Sebelum sampai di depan rumah, Meli istrinya disambut dengan senyum hangat yang selalu bisa mengusir kelelahan hari ini.


"Daddy," kata Aron, anak laki-laki berumur tiga tahun yang segera mendekat ke arah Jhon, bersemangat setelah melihat ayahnya pulang.


"Hai, Son! Bagaimana hari ini?" tanya Jhon sambil menjinjing tas kerjanya,.Meli maraih  dengan satu tangan, dan menggendongnya.


"Hari ini kita ke taman dan main perosotan dengan Mommy," jawab Aron dengan wajah sumringah menunjukkan semangat anak kecil yang penuh energi.


Mereka semua masuk ke dalam rumah, Meli mengambil tas Jhon sambil mempersilakannya pergi ke kamar mandi untuk merendam lelah di tubuhnya.


"Terima kasih, Sayang. Aku butuh waktu beberapa menit saja untuk bersantai," kata Jhon yang memberikan senyuman lelah kepadanya.


Sementara Jhon menikmati waktu santainya, Meli menuangkan teh dan menghidangkannya di ruang keluarga. Saat Jhon kembali dari kamar mandi, matanya terpaksa melirik ke sudut ruang keluarga, di mana beberapa bingkai foto tergantung.


"Apa yang terjadi pada foto itu?" Tanya Jhon dengan ekspresi bingung dan khawatir.


"Aku ingin memberitahumu ini,Sayang. Aku menulis tanggal pada foto-ini adalah foto yang hilang saat kita sedang di taman kanak bersama. Sepertinya orang itu mengembalikan foto-foto kita, tapi aku masih merasa aneh," jawab Meli dengan nada khawatir.


"Orang itu? Siapa?"


"Pria yang mengikuti kita di taman saat itu, aku masih ingat wajahnya. Aku masih mencoba mencari tahu siapa dia, tapi ini membuatku sangat khawatir."


Mereka berbicara lebih jauh tentang kejadian yang terjadi beberapa minggu lalu. 


Pria itu sebetulnya telah mencoba mengikuti mereka di taman. Awalnya, Meli mengira pria itu adalah seorang pencari nafkah yang ingin menjual barang-barang, tapi selama waktu pertama bertemu, pria itu jelas mencoba mengetahui lebih banyak tentang keluarga kecil ini.


"Sepertinya kita harus lebih waspada dan menjaga Aron," kata Jhon dengan nada yang serius. 


"Siapa tahu apa maksud pria itu, kita harus melapor ke polisi," lanjut pria itu


Minggu berikutnya, Jhon bekerja ekstra keras dan pulang larut malam. Ini membuat Meli merasa cemas sepanjang waktu, apalagi saat ada orang yang datang ke rumah dan mengaku sebagai tetangga baru yang misterius.


"Selamat sore, Bu Meli. Saya Budi, tetangga baru Anda yang tinggal di seberang jalan," kata pria itu, mengulurkan tangan. Meli hanya pura-pura tersenyum dan tidak berniat.


Meli ragu sejenak saat pria yang mengaku bernama Budi tersebut mengulurkan tangannya. Meli tidak bisa mengabaikan perasaan tidak aman yang melingkupinya saat itu.


"Saya minta maaf, saya sedang sibuk, Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Meli berusaha menyembunyikan rasa khawatir, sambil menghalangi pintu rumah agar pria itu tidak bisa mengintip ke dalam.


"Ah, tentu saja, Bu Meli," jawab Budi sambil menarik tangannya kembali. 


"Saya hanya ingin mengantar masakan istri saya sebagai salam kenal. Saya harap Anda dan keluarga menikmatinya." Dia menunjukkan kotak makanan yang dipegangnya.


Meli mengangguk, merasa terpaksa untuk mengambil kotak tersebut dari tangan Budi karena menghormati adat ketetanggaan. "Terima kasih, Pak Budi. Saya akan menyampaikan salam Anda kepada suami dan anak saya."


Pria itu tersenyum dan melangkah mundur dari pintu, berkata, "Selamat menikmati, Bu Meli. Apabila Anda membutuhkan bantuan atau ingin berbicara dengan saya tentang lingkungan, jangan ragu untuk datang atau menghubungi saya."


Setelah Budi pergi, Meli segera mengunci pintu rumah dan menghela napas lega. Ia memutuskan untuk menggali informasi lebih lanjut tentang Budi sebelum menyampaikan ini kepada suaminya. Meli menaruh kotak tersebut di atas meja dapur sambil memeriksa isinya.


Namun, kecurigaan Meli tidak terbukti ketika ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam makanannya. Ada beberapa kue kering dan sepotong kue basah, semuanya tampak enak dan lezat. Meski begitu, Meli tetap merasa ada yang tidak beres.


Selama beberapa hari berikutnya, Budi sering terlihat di lingkungan itu, terutama di sekitar rumah Jhon dan Meli. 

__ADS_1


Ia seakan selalu ada di dekat tempat itu. Terlebih, beberapa kali Aron  mengatakan bahwa ia melihat Budi di sekitar sekolahnya.


Sore itu, ketika Jhon tiba di rumah, Meli langsung membicarakan hal ini dengannya.


"Sayang, aku merasa risau tentang Budi, tetangga baru kita itu. Aku melihatnya selalu di sekitar rumah dan baru saja Aron  bilang dia melihatnya di sekitar sekolahnya juga. Aku tidak ingin membuat asumsi negatif, tapi apa mungkin dia ada hubungannya dengan pria yang mengikuti kita beberapa waktu lalu?"


Jhon mengusap wajahnya, seolah mencari jawaban yang tepat. "Aku sudah mendengar tentang pria itu, Sayang. Tapi kita perlu jelas dulu. Besok aku akan mencoba berbicara dengan Budi, baik-baik saja? Sementara itu, marilah kita lebih ekstra berhati-hati."


Pagi berikutnya, sebelum berangkat kerja, Jhon menghampiri Budi. "Pak Budi, saya ingin mengajak Anda bicara sebentar," kata Jhon dengan nada yang datar.


Budi tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja, Tuan  Jhon, ada apa? Silakan bicara."


Mereka berdua duduk di teras rumah Budi, dengan suasana pagi yang segar. Jhon berusaha untuk tidak menunjukkan kecurigaannya dan membuka pembicaraan dengan sopan.


"Pak Budi, terima kasih atas makanan yang Ibu berikan beberapa hari lalu. Tapi, saya ingin bicara tentang sesuatu yang lain. Sudah beberapa kali istri dan anak saya melihat Anda di sekitar rumah kami dan di sekolah Aron.  Apakah ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan kepada kami? Atau ada alasan tertentu Anda sering berada di sekitar kami?" tanya Jhon dengan hati-hati.


Budi terlihat terkejut dengan pertanyaan itu, namun ia menjawab, "Ah, saya minta maaf, Pak Jhon, jika hal itu membuat keluarga Anda merasa tidak nyaman. Saya baru saja pensiun, jadi saya punya banyak waktu luang. Saya suka berolahraga pagi dan berjalan-jalan di sekitar lingkungan ini. Saya juga sering mengantar cucu saya ke sekolah yang kebetulan berdekatan dengan sekolah Aron. Saya tidak bermaksud menimbulkan kekhawatiran."


Jhon mengangguk, mencerna penjelasan Budi, tapi masih merasa tidak yakin. "Baiklah, Pak Budi, saya mengerti. Namun, saya harap Anda bisa menghargai privasi keluarga kami dan menjaga jarak yang lebih aman. Kami pernah mengalami insiden yang mengganggu beberapa waktu lalu, jadi kami hanya ingin lebih waspada."


Budi tampak mengerti dan segera mengangguk. "Saya sangat memahami, Tuan Jhon, maaf jika keluarga Anda merasa terganggu. Tentu, saya akan menjaga jarak dan memberikan privasi yang Anda butuhkan."


Setelah percakapan itu, Jhon merasa agak lebih tenang meskipun tetap waspada. Dia berbicara dengan Meli tentang hasil percakapannya dengan Budi dan mendorongnya untuk tetap waspada.


Namun, beberapa hari kemudian, ketika Meli pulang dari pasar, dia menemukan ponselnya berdering di atas meja. 


Panggilan tersebut mencerminkan nomor yang tidak dikenal. Meskipun dia tidak mengenal nomor itu, ada suara didalam hatinya yang memberi peringatan, sehingga Meli menjawab panggilan tersebut.


"Halo, siapa ini?" tanya Meli dengan suara sedikit gemetar.


Meli merasa darahnya terasa membeku, dan segera menutup panggilan sambil membuang ponselnya. Dia langsung mencari Arom  dan memastikan keberadaannya di dalam rumah. Meli tidak bisa melupakan ancaman tersebut dan segera menelepon jhon untuk memberitahu bagaimana mereka


Meli ketakutan setelah menerima telepon yang mengancam itu, namun ia tahu bahwa dirinya harus tetap tenang demi melindungi Aron Setelah memastikan anaknya berada dalam keadaan aman, Meli segera menghubungi Jhon di kantor.


"Sayang l, kamu harus segera pulang! Aku barusan menerima telepon mengerikan yang mengancam kita dan Aron. Aku sudah pastikan Erlan aman di rumah saat ini, tapi aku khawatir akan keselamatan kita," bisik Meli ketakutan.


Jhon buru-buru mengumpulkan barang-barangnya dan bergegas pulang. Di sepanjang perjalanan, pikirannya terus terganggu oleh rasa cemas dan takut akan keselamatan keluarganya. 


Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia harus mengusut hal ini lebih mendalam dan melaporkannya ke polisi.


Saat tiba di rumah, Jhon mendapati Meli dan Aron  duduk di ruang keluarga, dengan rasa cemas yang tampak jelas di wajah mereka. Setelah memastikan keluarganya baik-baik saja, Jhon menceritakan rencananya.


"Kita harus melapor ke polisi, Sayang. Kita tidak bisa menangani masalah ini sendirian, kita harus melibatkan pihak berwajib," kata Jhon dengan tegas.


Mereka pergi ke kantor polisi bersama dan melaporkan ancaman yang mereka terima. 


Polisi kemudian mulai menyelidiki kasus tersebut, mulai dari mencari tahu siapa penelepon misterius tersebut hingga menginvestigasi tetangga-tetangga mereka, termasuk Budi.


Seiring berjalannya waktu, penyelidikan tersebut semakin dalam sehingga polisi berhasil menemukan bahwa penelepon misterius tersebut bukanlah Budi, 


melainkan seorang pria yang bernama Rudi. Rudi adalah seorang penjahat yang pernah merasakan penolakan dari Meli saat mereka masih menjadi rekan kerja dulu, dan sejak itu ia menyimpan dendam pada keluarga ini.


Rudi mengetahui bahwa keluarga kecil ini baru saja pindah ke kota ini, dan ia menggunakan kesempatan tersebut untuk mempermainkan mereka. 


Mendengar berita ini keduanya merasa lega l, bagi Jhon dan Meli, karena setidaknya mereka tahu bahwa ada alasan di balik tindakannya. Tetapi pada saat yang sama, mereka merasa lebih waspada dari sebelumnya.

__ADS_1


Budi, yang juga diperiksa oleh polisi, ternyata tidak ada sangkut pautnya dengan Rudi. Dia hanya kebetulan menjadi tetangga baru yang tidak berbahaya, dan tidak sadar bahwa dia telah menjadi bagian dari situasi mengerikan ini. 


Budi meminta maaf kepada Jhon dan Meli atas ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh kehadirannya yang tidak disengaja.


Dalam beberapa minggu berikutnya, Rudi berhasil ditangkap oleh polisi dan dijatuhi hukuman yang setimpal. Kehidupan mulai kembali normal untuk keluarga Jhon dan Meli, tetapi mereka tetap menjaga kewaspadaan mereka.


Jhon dan Meli belajar banyak dari pengalaman ini. Mereka belajar untuk lebih waspada terhadap orang di sekitar mereka, tidak hanya berlaku.


Mereka belajar untuk lebih waspada terhadap orang di sekitar mereka, tidak hanya berlaku dalam menjaga privasi keluarga, tetapi juga dalam menjalin hubungan yang lebih erat dengan tetangga dan masyarakat sekitar.


Setelah kejadian tersebut, Jhon dan Meli mulai lebih aktif dalam pertemuan warga dan kegiatan komunitas, mereka ingin mengenal lingkungan dan tetangga mereka lebih dekat. Perlahan, mereka membangun kepercayaan dan persahabatan dengan tetangga-tetangga mereka, termasuk Budi dan keluarganya.


Aron  juga mulai merasa lebih aman dan nyaman di lingkungan barunya karena melihat kedua orangtuanya mengambil langkah-langkah untuk melindunginya dan menjaga keluarga. Ia semakin akrab dengan anak-anak seusianya dan merasa diterima di kelompok teman-teman baru.


Jhon dan Meli juga menyadari pentingnya saling menjaga dan berbagi informasi tentang aktivitas yang mencurigakan dalam lingkungannya. Mereka secara teratur berbicara dengan tetangga mereka tentang apa yang mereka alami, dan mereka memastikan untuk memberi tahu polisi jika ada hal-hal yang mencurigakan.


Budi dan keluarganya, yang awalnya menyebabkan kekhawatiran, justru menjadi salah satu teman terdekat keluarga Jhon dan Meli. Mereka sering menghabiskan akhir pekan bersama, baik untuk mengadakan makan malam bersama atau sekedar menghabiskan waktu berkumpul di rumah masing-masing.


Dalam beberapa bulan, kota yang awalnya terasa asing dan penuh ancaman bagi keluarga ini berubah menjadi tempat yang hangat, penuh kasih sayang, dan saling melindungi. 


Mereka merasa beruntung dan bersyukur karena mampu melewati masa-masa sulit tersebut dan memulai kehidupan baru di tempat yang sekarang menjadi rumah bagi mereka.


 Peran serta warga dalam menjaga lingkungan sangat diperlukan untuk mencegah tindak kejahatan yang meresahkan, seperti yang dialami Jhon, Meli, dan Aron. 


Selain itu, pentingnya menjalin hubungan yang baik dengan tetangga dan anggota komunitas juga menunjukkan betapa saling menjaga merupakan bagian dari interaksi baik di dalam masyarakat.


Seiring berjalannya waktu, warga kota ini semakin mengerti dan melaksanakan prinsip-prinsip tersebut. Keamanan lingkungan menjadi prioritas utama bagi warga, dan bersama-sama mereka membantu menciptakan tempat tinggal yang lebih baik, tentram, dan damai bagi semua.


Akhirnya, keluarga Jhon dan Meli merasa benar-benar di rumah di kota ini, tetangga baru yang sempat menimbulkan kecurigaan pada awalnya menjadi anugerah dan bukti hubungan yang erat antara keluarga dan tetangga, saling membantu dan tulus dalam bermasyarakat.


Budi, misalnya, yang awalnya dicurigai sebagai pembawa ancaman, ternyata justru menjadi teman baik keluarga Jhon dan Meli.


 Dari sini ia  bisa belajar untuk tidak terburu-buru menilai orang berdasarkan penampilan atau rumor semata, karena kebenaran seringkali berbeda dengan yang kita bayangkan.


Jhon dan Meli berhasil mengatasi masalah yang mengancam keluarga mereka karena mereka bekerja sama, baik antara satu sama lain maupun dengan pihak berwajib dan tetangga mereka. Dengan komunikasi yang baik dan saling percaya, mereka dapat bersama-sama menciptakan solusi yang efektif.


Seiring berjalannya waktu, Jhon, Meli, dan Erlan dapat semakin menikmati kehidupan mereka di kota baru. Mereka menjadi saksi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka, serta kesuksesan mereka dalam pekerjaan dan kehidupan sosial. 


Kehidupan yang mereka jalani jauh lebih kaya dan berarti dari sebelumnya, dan mereka merasa dihargai sebagai bagian dari komunitas yang kokoh dan saling mendukung.


Jhon dan Meli mampu menghadapi ancaman yang menyeramkan dengan keberanian bersama, melindungi anak mereka serta menjaga keutuhan keluarga. 


Ini merupakan contoh luar biasa tentang bagaimana kasih sayang dan tekad kuat dalam menghadapi krisis dapat membantu Jhon melewati masa-masa sulit.


"Mama," panggil Aron yang baru bangun.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Meli.


"Papa Mama?" tanya Aron dengan wajah tampan walaupun baru bangun tidur.


"Papa sedang keluar kota, di tempat Bunda Zara," kata Meli.


Aron mengerjakan matanya,." Tempat Nessa?"


Meli tersenyum dan mengangguk, hal itu membuat sang putra murung." Kenapa tidak ajak Aron, Mama?" 

__ADS_1


__ADS_2