
Seok Woo masuk ke officetel, dia mencari Jin Ji. Namun, nihil, Jin Ji tidak ada. Kemana? Padahal Seok Woo hanya meninggalkannya selama beberapa menit untuk menemui Chae Eun.
"Dia kemana? Kapan keluarnya?" Seok Woo bergumam. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, mencoba menghubungi Jin Ji ketika dia sadar bahwa ponsel Jin Ji ada di meja lampu.
"Sebenarnya dia kemana? Mungkinkah..., kabur?"
●●●
Media terus menyudutkan Jin Ji dengan semua pemberitaan yang keluar, dan benih kebencian mulai tumbuh dalam masyarakat terhadap Jin Ji. Jin Ji yang tidak ada kabar selama satu minggu, membuat sang direktur agensinya dengan seenaknya melimpahkan kesalahan kepada Jin Ji. Seok Woo terus mencoba menepisnya. Namun, masa lalunya yang terlibat dengan kreditur, membuatnya menjadi sosok yang perkataannya tidak bisa dipercayai oleh masyarakat.
Disisi lain.
Chae Eun yang namanya ikut terlibat dalam skandal tersebut, terus didesak oleh para pemegang saham untuk menyerahkan jabatannya. Meskipun Chae Eun baik-baik saja jika harus kehilangan jabatannya ditambah lagi dia sudah mendapat dukungan dari ibu dan kakak-kakaknya. Namun, dia merasa bersalah pada ayahnya karena jika dia dilengserkan, maka adik ayahnyalah, ataupun keponakkan ayahnya yang akan memegang kekuasaan penuh di Chae-gu Group. Chae Eun bisa menerima pelengserannya. Akan tetapi dia tidak bisa menerima dua orang itu yang akan menggantikannya. Oleh karena itu, Chae Eun masih terus berusaha untuk mencari bukti untuk membersihkan segala skandal yang melibatkan dirinya dan juga Jin Ji. Tapi...,
Ji Hyujin, sebenarnya kau di mana?
"Para pemegang saham telah setuju bahwa kau memang harus melepaskan jabatanmu dan mengeluarkan dirimu dari kandidat untuk jabatan presdir," jelas Kang Song Seuk, pemegang saham terbesar setelah Chae Eun, dan ayahnya.
__ADS_1
"Lalu, kalian memaksudkan bahwa sepupuku, Chae Su pantas menggantikanku?" Hardik Chae Eun. "Cih, bahkan dia tidak bisa menghidupkan satu cabang kecil milik Chae-gu di pinggiran kota."
"Yaa! Mulutmu itu sungguh keterlaluan sekali!" Bentak Chae Su.
"Aku tidak keterlaluan, aku hanya bicara fakta," sahut Chae Eun.
"Berbicara fakta? Oke, kalau begitu mari kita jabarkan fakta tentang kita. Mana yang lebih baik, apakah fakta bahwa aku tidak becus mengelola cabang perusahaan, atau kau yang menjadi sugar-mommy dari seorang artis kacangan yang punya banyak sekali skandal?!" Chae Su terlihat sangat puas saat memojokkan Chae Eun seperti itu. Sedangkan semua orang yang berada di ruang rapat itu menatap Chae Eun seolah fakta tentang Chae Eun lah yang terburuk.
Chae Eun menghela napas panjang. "Karena kau ingin membahas fakta, maka akan kukatakan fakta yang sebenarnya. Aku, bukanlah sugar-mommy nya Jin Ji!" Tukas Chae Eun.
"Tapi, aku adalah isterinya!" Tukas Chae Eun, menyela perkataan Chae Su. Membuat semua orang yang ada diruang rapat itu tersentak.
"Kau gila?! Kau mau memakai alasan itu untuk terbebas dari skandalmu?!" Desak Chae Su.
"Direktur Chae, anda terlalu berlebihan untuk menggunakan alasan ini untuk bebas dari perbuatanmu," Kang Song Seuk menimpali.
"Benar! Ini terlalu gegabah dan tiba tiba!" Yang lainnya pun ikut menimpali.
__ADS_1
"Aku tidak meminta kalian percaya. Aku hanya ingin mengatakan faktanya saja. Tapi, karena kalian adalah orang-orang berpendidikan jadi kalian pasti akan mencari bukti tentang ucapanku barusan. Kuharap kalian tidak terlalu terkejut jika kalian menemukan perkataanku tadi benar." Chae Eun beranjak dari tempatnya. Ia hendak meninggalkan ruang rapat ketika dia teringat ingin mengatakan sesuatu. "Ah iya, semua berita tentang Jin Ji itu belum tentu benar. Kalian bahkan tidak ada di sana dan memergokinya melakukan seperti apa yang media beritakan. Jadi, jangan asal bicara tentangnya. Dan lagi, aku tidak peduli jika aku harus kehilangan jabatanku tapi, karena aku pemegang saham terbesar disini, aku menolak sepupuku atau pamanku untuk menggantikan posisiku, paham? Kalau tidak paham, maka aku akan menghibahkan semua harta keluaega Chae pada dinas sosial."
"YAA CHAE EUN!!! KAU...," belum selesai Chae Su berbicara, Chae Eun sudah lebih dulu pergi.
"Ucapanmu itu enteng sekali ya. Mentang-mentang sekarang kau sudah dapat dukungan dari keluargamu untuk melakukan apapun yang kau suka. Kau jadi enteng seperti ini?" Omel Jessica yang sebelumnya juga ikut rapat bersama Chae Eun. Ini pertama kalinya Jessica ikut rapat pemegang saham, karena biasanya Chae Eun tidak pernah mengajaknya, mengingat rapat pemegang saham itu bagaikan sedang berada di kandang singa, oleh karenanya Chae Eun tak pernah membiarkan Jessica ikut. Namun, karena Jin Ji yang tiba-tiba saja menghilang, Jessica pun merasa bahwa dia harus menjaga Chae Eun ke manapun dia pergi, supaya temannya itu tidak melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, karena itulah untuk pertama kalinya Jessica memaksa ikut ke rapat pemegang saham.
"Kau pikir mudah untuk memercayakan perusahaan yang ayahku bangun dengan susah payah ini kepada dua orang yang tahunya hanya foya-foya saja, huh?! Daripada memercayakannya pada mereka, akan lebih berfaedah kalau diberikan kepada dinas sosial! Jadi, jangan anggap aku ini sedang bersikap enteng, aku ini sedang serius menanggapi ini semua!" Tanggas Chae Eun. Membuat Jessica takjub.
"Kau sungguh sudah berubah. Padahal dulu kau tidak peduli dengan perusahaan ayahmu."
"Ketidakpedulianku saja mampu membawa perusahaan ini berkembang pesat, apalagi jika aku benar-benar peduli. Sudahlah, Chun Bong. Aku tahu kau ini sebenarnya mau memujiku, 'kan? Puji saja aku, jangan berbelit-belit." Gurau Chae Sun dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
Jessica yang melihat senyuman itu ikut tersenyum. Selama satu minggu ini dia khawatir karena Chae Eun sempat terpukul ketika tahu Jin Ji menghilang. Namun, sekarang, melihat senyum sahabatnya itu ... "senang rasanya melihatmu tersenyum dan bertingkah narsis seperti ini," kata Jessica. "Eun-ah, tetaplah menjadi Chae Eun yang seperti ini, ok? Aku tahu kau pasti sedih, tapi, aku ingin tetap kau selalu menjadi Chae Eun yang seperti ini. Yang sarkastik, narsis, dan impulsif. Meskipun kadang sikapmu itu menyebalkan, tapi aku lebih suka kau yang begitu, ok?"
Chae Eun terdiam barang sejenak. "Kalau kau memang suka aku, berarti kau harus putus dari oppa tampanmu itu, dan berkencan denganku!" Gurau Chae Eun. Sebenarnya itu hanyalah kedok Chae Eun, dia tidak ingin membuat orang-orang disekelilingnya khawatir, maka dari itu dia berlagak kuat dan seolah tak terjadi apapun. Namun, didalam hatinya, dia bersedih.
Hyujin, sebenarnya kau di mana? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau merasa takut? Apakah kau meringkuk dan menangis disuatu tempat? Aku..., merindukanmu.
__ADS_1