
Melihat istrinya keluar dari ruang kerjanya, Nathan menarik napas panjang dan mengusap wajahnya dengan frustasi karena Zara belum selesai masa nifasnya.
Nathan mulai menyibukkan diri dengan laporan yang dikirim oleh Jhon. Pria itu kembali menghandle perusahaannya yang berada di Turki. Hingga pukul sebelas malam pria itu meregangkan otot-otot tubuhnya.
Nathan segera mematikan laptopnya, pria itu keluar dari ruang kerjanya.
Saat Nathan akan naik ke lantai dua, dilihatnya Papa dan ayah Tama sedang mengobrol.
"Bagaimana dengan rencanamu, Nak?" tanya Tama pada menantunya itu.
"Setelah Nevan berumur tiga bulan," jawab Nathan karena tidak ingin membuat anaknya kenapa-kenapa.
Tama mengangguk dan kembali lagi bertanya," Apa Zara akan kembali menjadi direktur di ITZ, Nak. Bagaimana dengan Nevan nanti?"
Nathan akhirnya menceritakan, setelah kejadian Bundanya meninggal Zara sudah merekomendasikan sepupunya itu.
Rehan dianggap sebagai salah satu karyawan yang sangat berharga dalam perusahaan ITZ. Zara menyadari kemampuan dan dedikasi Rehan dalam menjaga integritas perusahaan, sehingga ia memberikan promosi pada Rehan sebagai Ceo di ITZ untuk menggantikannya.
Sebagai Ceo, Rehan memiliki peran yang sangat penting dalam mengambil keputusan strategis dan kebijakan perusahaan.
Rehan juga bekerja sama dengan tim manajemen ITZ untuk menyusun rencana strategi dan melaksanakan berbagai program untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Zara tahu kalau Rehan juga bertanggung jawab dalam mengelola hubungan perusahaan dengan pelanggan dan pihak terkait lainnya.
Cara Rehan berkomunikasi secara terbuka dan transparan dengan pelanggan dan mitra bisnis untuk membangun hubungan kerjasama yang kuat serta menjaga reputasi ITZ dalam industri teknologi informasi.
Selain itu, Rehan juga berperan dalam mengembangkan talenta dan keterampilan karyawan ITZ melalui pelatihan dan pengembangan karir.
Pria itu membantu memperkuat budaya perusahaan dan memastikan bahwa karyawan ITZ merasa dihargai dan terlibat dalam menjalankan kegiatan bisnis perusahaan.
Zara tahu peran pentingnya di perusahaan, Rehan dianggap sebagai salah satu pria tangguh dan cerdas dalam industri teknologi informasi.
Rehan merupakan contoh yang baik bagi karyawan lain dan menjadi pendorong semangat bagi banyak orang dalam bekerja di ITZ.
Albert tersenyum mendengar apa yang dijelaskan oleh Nathan, ada rasa bangga melihat putranya menjelaskan pada Tama.
Nathan segera pamit, ia sudah begitu lelah. Saat sampai kamar Zara sedang menyusui Nevan. Pria itu hanya bisa menelan salivanya saat melihat dua favoritnya kini dikuasai putranya.
“Sudah selesai, Mas?” tanya Zara tanpa ada rasa bersalah karena sudah menggoda suaminya.
Nathan yang sedang fokus melihat putranya menyusu tidak mendengar apa yang ditanyakan istrinya. Zara yang merasa diacuhkan mengangkat kepala untuk melihat suaminya.
__ADS_1
Ibu satu anak itu hanya menggelengkan kepalanya, saat melihat bagaimana Nathan menatap dadanya." Dasar mesum."
Nathan terkejut akan suara istrinya, pria itu tersenyum tipis dan kini duduk di samping Zara.
"Kenapa, Sayang. Apa masih ada yang sakit?" Nathan panik saat Zara meringis.
"Pedih, Mas." Zara menunjuk dada sebelah kirinya.
"Astaghfirullah, Nevan kenapa kamu buat lecet, seharusnya belajar dulu sama, Ayah."
Zara langsung spontan memukul lengan suaminya yang mengajak putranya bicara sembarangan." Mas!"
Nathan terkekeh, diciumnya pipi gembul putranya. Zara langsung melotot karena suaminya bukan hanya mencium pipi anaknya, tetapi pria itu juga mengecup dadanya.
"Apa kita perlu ke Dokter?" tanya Nathan merasa kasihan melihat istrinya meringis karena dadanya perih.
"Tidak usah, Mas. Aku sudah minta beli salep sama bibi, itu juga resep dari dokter kemarin." Zara kembali membaringkan Nevan dalam bok karena sudah menjadi kebiasaan bayi gembul itu langsung tidur.
Nathan merasa kasihan, tapi Zara juga tidak tega jika memberikan susu tambahan untuk putranya.
Pria itu akhirnya naik ke ranjang, begitu juga dengan Zara.
"Apa ayah dan papa sudah tidur, Mas?"
"Sayang kamu seperti ini saja, jangan diet," pinta Nathan
Zara langsung menoleh dan menatap suaminya kesal, Ia merasa sekarang tubuhnya tidak seperti dulu, tapi ibu satu anak itu memang belum memikirkan hal itu karena akan fokus memberikan asi pada putranya.
“Aku akan diet setelah Nevan berumur dua tahun, Mas.”
Nathan hanya mengangguk, jujur ia lebih senang melihat istrinya seperti sekarang ini.
Pria itu menarik tubuh istrinya dalam dekapannya.Tidak menunggu lama keduanya ketidur.
***
Pagi harinya Zara terbangun, Wanita itu tersenyum karena sudah lepas masa nifas dan itu artinya ia sudah bisa menjalankan kewajibannya sebagai muslim dan istri untuk melayani suami.
Zara segera membersihkan tubuhnya, wanita itu setelah selesai menjalankan ritualnya segera keluar dari kamar.
Saat sampai di bawah, Zara tersenyum melihat Mama Dania sudah sibuk dengan pelayan.
__ADS_1
“Pagi, Mama,” sapa Zara.
“Eh, pagi, Sayang. Apa cucu Mama belum bangun?” tanya Dania.
“Masih asih tidur sama ayahnya,” jawab Zara dengan tersenyum.
Dania hanya mengangguk, apa lagi hari ini weekend. Nathan tidak pergi ke kantor begitu juga dengan Tama.
“Papa dan Ayah kemana, Mam?” tanya Zara karena biasanya dua pria itu akan selalu kompak.
“Mau jalan keliling komplek,”ujar Dania.
Saat keduanya sedang asik mengobrol Nathan ikut bergabung dengan menggendong Nevan yang sudah bangun.
“Sini cucu Oma, anak bayi ini walau belum mandi masih harum,” kata Dania dengan melirik ke arah Nathan yang tanpa malu memeluk istrinya setelah memberikan Nevan pada omanya.
“Nathan gendong dulu, Mama mau menyiapkan peralatan mandi Nevan.” Dania beranjak dari duduknya.
“Biar Zara saja, Mam.” Zara merasa tidak enak dengan mertuanya.
“Kapan lagi Oma memandikan cucu tampanku ini.”
Zara tersenyum dan berkata, "Tentu saja selama Mama mau. Semua bayi memiliki aroma khas yang begitu menenangkan. Dan aku tidak bisa menahan diri untuk memelukmu."
Nathan tersenyum manis dan menjawab, "Aku juga merindukanmu, Sayang. Rasanya sangat menyenangkan melihatmu bersama Nevan. Kalian berdua adalah sumber kebahagiaanku."
Nevan, yang sedang dipeluk Nathan, terlihat senang dan sesekali tersenyum. Ia menggigit-gigit jari-jarinya, tapi Zara langsung menariknya pelan.
"Kurasa Nevan merasa nyaman bersama Ayah," ujar Nathan sambil mencium lembut rambut Nevan. "Apa yang diperlukan untuk putra ini sudah lengkap, Sayang?"
"Sekarang Nevan hanya butuh ganti popok dan pakaian segar. Setelah itu, kita bisa bermain bersama," jawab Zara.
Mereka berdua menuju kamar Nevan karena bayi gempul itu sudah selesai mandi dan dengan hati-hati mengganti popok serta memakaikan pakaian yang baru. Nathan dengan lembut membantu Zara dalam melakukan tugas tersebut.
Setelah Nevan segar kembali, mereka bertiga kembali ke ruang keluarga. Nathan dan Zara duduk bersama di sofa, sementara Nevan bermain-main di tikar dengan omanya.
Mereka terus mengobrol dan tertawa bersama, menikmati kebersamaan sebagai keluarga yang bahagia. Saat semua berkumpul, masalah di dunia seakan terlupakan dan hanya kebahagiaan yang dirasakan.
Nathan merasa sangat beruntung memiliki keluarga seperti ini. Ia tahu bahwa perjalanan mereka bersama akan penuh dengan tantangan, tetapi dengan cinta dan dukungan yang mereka miliki satu sama lain, mereka akan selalu mengatasi segalanya.
Saat matahari mulai terbenam dan cahayanya memancar di balik jendela, mereka tahu bahwa momen ini akan menjadi kenangan yang indah dalam hidup mereka. Mereka bertiga saling berpandangan dan dengan senyum bahagia yang sama, mereka merasa begitu bersyukur akan kehadiran satu sama lain.
__ADS_1
Malam itu, keluarga kecil itu merasa begitu lengkap dan penuh kasih sayang. Mereka tahu bahwa dengan segala cobaan yang mungkin datang, mereka akan selalu bersama dan saling mendukung hingga Nevan dewasa kelak.