Secret Wedding

Secret Wedding
Part 28


__ADS_3

Apa dia sedang mengakui perasaannya? Ini ...  apa dia sedang mempermainkanku?


Chae Eun melepaskan pelukkan Jin Ji, dan menatap pria itu dengan tajam. "Kau, kau tidak lupa bahwa kau telah mengirimkan surat cerai padaku? Sekarang malah bilang kau mencintaiku! Yaa! Ji Hyujin, jangan karena aku selama ini baik padamu, kau sampai berani menganggapku mudah ya. Kau itu ..."


Ciuman Jin Ji membuat Chae Eun terdiam. Sedangkan Jessica, dan Hyunwoo yang ada di sana, mulai merasa canggung.


"Sebaiknya kita pergi dari sini." Bisik Hyunwoo.


"Pergi ke hotel?" Sahut Jessica, membuat Hyunwoo tertegun. "K-kau mau?"


●●●


Gaun indah yang menjuntai itu nampak terlihat sangat cantik dikenakan Chae Eun.


"Astaga, adikku cantik sekali," puji Chae Jung.


"Benar, kau cantik sekali, Eun-ah." Kini Chae Hyun menimpali.


"Kalian datang cepat sekali. Memangnya tidak sibuk?" Tanya Chae Eun.


"Ini acara bahagia, bagaimana bisa kami tidak datang. Iya, kan, Chun Bong?" Tanya Chae Sun.


Jessica tersenyum ketir. Benar! Ini acara bahagiaku tapi, ... tapi kenapa malah Chae Eun yang mendapat semua perhatian. Dan gaunnya itu! Gaunnya seperti dia adalah mempelai wanitanya! Dan kakak-kakaknya ini. Astaga, mereka sama saja. Oughhhhhhhhh! Terkadang keluarga ini membuatku sebal!!!!


Ini adalah hari pernikahan Jessica tapi, sepertinya Chae Eun yang lebih mendominasi.


"Kalau begitu kami tunggu diluar ya." Kakak-kakak Chae Eun memang hanya berniat menyapa ketika masuk ke kamar rias Jessica.


"Hey, Chae Eun. Kau sungguh berniat mengambil alih hari pernikahanku ya?!" Tegur Jessica saat semua kakak Chae Eun pergi.


"Apa maksudmu, mengambil alih apanya?"


"Gaunmu! Hias rambutmu! Dan dandananmu! Yang menikah itu aku, tapi kenapa kau yang terlihat wah?!"


"Astaga, Chun Bong. Gaun ini adalah gaun bekas kak Chae Sun. Aku sengaja memakai gaun ini supaya aku bisa sekalian mengambil foto pernikahan dengan Hyujin. Kau tahu, 'kan, aku ini sudah menghabiskan seluruh uangku untuk membangun agensi aktor, dan ternyata bisnisnya tidak terlalu lancar, jadi aku harus berhemat. Kalau aku membuat pesta pernikahan pasti sangat mahal sekali, 'kan? Maka dari itu aku meminta bantuanmu untuk memberikan sedikit tempat bagi kami untuk mengadakan pesta pernikahan."


Jessica menghela-hembuskan napasnya dengan berat. Sebelumnya, Chae Eun memang sudah mengatakan pada Jessica tentang niatnya ini tapi, dia tidak tahu bahwa akan seperti ini.


"Tapi kan keluargamu masih tetap kaya raya, dan suamimu itu, bukankah dia sudah mendapatkan kembali semua aset dari warisan ayahnya itu?!"


Chae Eun menghela napas panjang. "Sudahlah Chun Bong, terima saja, ok. Oh iya, kau kan sedang hamil, jangan sebaiknya jangan terlalu lama berdiri di atas altar, ok?"


Benar! Saat pergi ke hotel dengan Hyunwoo hari itu, tiga minggu kemudian Jessica mengetahui bahwa dia hamil, maka dari itu dia dan Hyunwoo segera melangsungkan pernikahan setelah satu minggu kabar kehamilan Jessica.


"Niatmu kentara sekali! Kau berniat mengambil alih altarku, 'kan?!"


"Eihhh, mana mungkin begitu."


Beberapa saat kemudian. Pesta pernikahan di mulai, dan ... seperti yang diduga Jessica, Chae Eun sungguh mengambil alih altarnya.


"Hey, sayang. Bukankah ini hari pernikahan kita ya?" Tanya Hyunwoo, tercengang saat orang-orang mengantri untuk memberi ucapan selamat pada Jin Ji dan Chae Eun.


Jessica tersenyum ketir. "Apa orang kaya selalu bersikap tidak tahu malu seperti ini, ya?"

__ADS_1


"Mungkin sebaiknya kita membuat pesta pernikahan lagi nanti. Hari ini ... biarkan saja para orang tidak tahu malu itu mengambil alih. Toh, kita juga tidak bisa menentangnya, 'kan."


"Benar sekali. Chae Eun sialan."


●●●


Enam bulan kemudian.


"Sebaiknya kau menyerah saja. Kau itu tidak cocok memimpin perusahaan hiburan. Sebaiknya kau kembali memimpin di Chae-gu Group saja!" Tukas Jessica.


Chae Eun menghela napas panjang. "Kau benar. Tapi, kalau aku tidak bekerja di bidang hiburan ini, maka aku tidak akan tahu siapa yang yang mencoba untuk me-lobby suamiku!"


"Kau kan bisa minta pak Uhm untuk mengawasi suamimu lagi, seperti waktu itu."


"Tidak bisa. Pak Uhm, sudah pensiun."


"Pensiun? Secepat ini? Bukankah dia baru satu tahun bekerja. Kenapa pensiun? Umurnya juga tidak terlalu tua."


"Ya, dia bilang dia akan membuka bisnis kecil-kecilan dari uang hasil kerjanya denganku."


Jessica tersentak. "Benar. Sialan sekali kau, Eun. Kau menggajinya lebih besar dariku!" Mengingat ketika dia mengetahui bahwa gaji pak Uhm dua kali lipat dari gajinya.


"Sudah sudah. Sudah mau punya anak dari konglomerat muda masih saja dengki pada orang lain," kata Chae Eun enteng. "Orang hamil itu harus menghilangkan segala sikap buruk, supaya anaknya nanti tidak tertular, paham gak?"


Jessica benar-benar sudah gemas sekali dengan kelakuan Chae Eun, ingin sekali rasanya menghajar temannya itu tapi, ... sabar! Setidaknya tunggu sampai bayiku lahir.


Jessica menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Oh iya, kudengar sidang perceraian kak Sun sudah selesai, jadi dia sungguh-sungguh akan menjadi orangtua tunggal?" Mengubah topik pembicaraan adalah yang terbaik menurut Jessica.


"Ya, tapi itu bagus. Kak Sun itu sangat pintar, tapi mimpinya yang sederhana itu menghambatnya. Sekarang setelah impiannya menjadi seorang ibu dan isteri gagal, dia memutuskan untuk menitih karirnya. Kau tahu, dia sekarang itu menjadi karyawanku loh."


"Umm."


Jessica menggeleng-gelangkan kepalanya. Dia sangat mengenal Chae Eun, wanita itu kalau sudah urusan pekerjaan sangat profesional, jadi dia tidal pefuli dengan status antara dia dan karyawannya. Entah karyawannya itu adalah temannya, atau bahkan keluarganya. Jika Chae Eun merasa kerjanya tak becus, maka dia tak sungkan memakinya. Selama ini Chae Eun menurut pada Jessica karena kerja Jessica sangat baik, jika tidak, maka Jessica akan sering ditindas olehnya.


"Kau sangat menakutkan," gumam Jessica. Dia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya dari Chae Eun, dan lebih memilih menonton televisi.


"Oh, itu suamimu!" Seru Jessica. "Waaahhh, Jin Ji semakin tampan dan terlihat lebih baik dari sebelumnya. Dia juga sangat terkenal."


"Benar. Dia sangat terkenal tapi, iklan itu ... bukankah itu iklan dari perusahaan suamimu, Chun Bong?" Tanya Chae Eun penuh penekanan.


Jessica seketika teringat, bahwa temannya itu ... over jealousy.


"I-itu...,"


"Di mana suamimu sekarang?"


●●●


"Apa ini tidak apa-apa. Aku bilang pada Chae Eun bahwa pasanganku di iklan ini adalah Soyu, bukan Mini," kata Jin Ji, cemas.


"Mau bagaimana lagi. Jadwalmu dan Soyu selalu bertabrakkan, jadi kami memutuskan untuk membatalkan kerjasama dengan Soyu, dan menurut ketua pemasaran Mini cocok denganmu, jadi kami memutuskan untuk memilih Mini," jelas Hyunwoo.


Jin Ji menghela napas berat, "justru itulah alasannya, karena banyak orang yang mengatakan bahwa aku cocok dengan Mini, Chae Eun jadi ...," Jin Ji mengingat kenangan di mana dia pernah bertengkar dengan Chae Eun karena komentar tentang kecocokannya dengan Mini daripada dengan Chae Eun.

__ADS_1


Hyunwoo mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang bergetar.


"Iya, sayang?" Tanyanya setelah dia menerima panggilan masuk itu.


"Hey, sayang. Habislah kau! Kenapa kau berbohong soal pasangan Jin Ji di iklan itu, huh?! Kau tahu kan kalau Chae Eun itu tidak suka pada Mini. Habislah kau! Matilah! Sebaiknya kau segera sembunyi! Dia sedang dalam perjalanan menemuimu!"


Hyunwoo tercengang. Tubuhnya menegang. Chae Eun mungkin hanya seorang wanita, tapi mulutnya, tangannya, kakinya, semuanya seperti pisau yang siap menancap ditubuh musuhnya. Oleh karena itu, kebanyakkan orang mencoba mencari aman dengan tidak menyinggung Chae Eun.


"Bagaimana ini, tuan Ji? Sepertinya aku akan habis di tangan isterimu."


"Chae Eun, apa mungkin dia sudah lihat iklan itu?" Jin Ji ikut panik.


"Aku harus sembu... nyi."


"Hey, Hyunwoo!"


Terlambat. Chae Eun sudah muncuk dari balik pintu ruang kerjanya.


"Kau...,"


"Aku akan melakukan apa saja! Apapun! Jadi tolong jangan memukulku." Pinta Hyunwoo.


"Iya, Chae Eun. Kau jangan marah ya. Soal iklan itu, itu karena Soyu dan aku memiliki jadwal yang bertabrakkan sehingga akhirnya Mini lah yang menjadi pasanganku." Jin Ji bantu menjelaskan.


"Heh?" Chae Eun tidak mengerti dengan maksud dari kedua pria dihadapannya. "Ada apa dengan Mini dan Soyu? Aku tidak paham kalian bicara apa. Aku ke sini karena iklan parfume mu itu. Hey, kenapa kau malah bekerja sama dengan VLK parfume?! Kau kan tahu kalau perusahaanku juga memiliki cabang perusahaan parfume, kenapa malah bekerja sama dengan perusahaan lain hah?! Kau bilang kita teman! Apa-apaan ini! Kau juga, Hyujin. Kenapa kau malah menjadi model iklan untuk merk parfume lain? Kau lupa kalau aku ini memiliki perusahaan parfume?!"


Hyunwoo dan Jin Ji saling menatap. Dan tatapan keduanya seolah menyiratkan kata, Syukurlah.


"Ayo jelaskan!" Desak Chae Eun.


"Begini, kau kan sudah tidak bekerja di sana lagi, jadi bagaimana bisa itu perusahaanmu?" Sahut Hyunwoo.


"Itu tetap perusahaanku! Bahkan walaupun aku membuka bisnis kasino, perusahaan Chae-gu Group itu tetap milikku! Kalian berdua keterlaluan!"


●●●


Butuh waktu agak lama untuk menenangkan Chae Eun.


"Minumlah," kata Jin Ji, sembari menyodorkan teh hangat. "Kau kenapa semarah itu. Kau kan sudah tidak lagi bekerja untuk Chae-gu, kau juga sudah mundur dari pencalonan presdir di sana. Jadi, kenapa masih khawatir tentang perusahaan itu?"


"Tapi tetap saja itu perusahaan milik keluargaku, tentu saja aku khawatir."


"Tidak. Bukan begitu. Kau bukan khawatir hanya karena Chae-gu adalah perusahaan keluargamu, tapi kau khawatir karena sebenarnya kau masih memiliki kerinduan pada Chae-gu, iya kan? Kau, ingin kembali ke sana?" Tanya Jin Ji penuh perhatian. "Kalau kau mau kembali ke sana, maka kembalilah. Sejujurnya kau tidak cocok bekerja sebagai presdir dari sebuah industri hiburan, kau lebih cocok menjadi pewaris perusahaan Chae-gu. Jadi, kalau kau mau kembali, maka kembalilah. Lagipula kudengar Chae-gu belum memilih pemimpin setelah kau memutuskan untuk keluar."


Chae Eun terdiam. Sebenarnya, meskipun awalnya dia dipaksa oleh ayahnya untuk menjalankan perusahaan keluarganya. Namun, lambat laun dia mulai terbiasa dan mulai mencintai pekerjaannya di Chae-gu. Hanya saja, jika dia kembali memimpin Chae-gu, maka dia akan menjadi sangat sibuk, dan akhirnya tidak bisa sering melihat Jin Ji. Bahkan sekarangpun setelah dia bekerja di industri hiburan, dia sudah cukup jarang bertemu Jin Ji karena jadwal Jin Ji yang padat, apalagi jika dia kembali memimpin Chae-gu.


"Ayolah, Chae Eun. Bukankah pernah kukatakan padamu kalau hidupmu adalah hidupmu. Meskipun kita sudah menikah tapi, tetap saja hidupmu adalah milikmu. Jadi, jangan memcoba untuk mengubah gaya hidupmu hanya karena aku, ok? Lagipula meskipun kita jarang bertamu, kau sangat tahu kan bahwa hatiku ini, hanya untukmu seorang. Sejak dulu, kini, dan nanti. Hatiku ini tidak akan berpaling darimu."


"Hyujin, kau...,"


"Bijak sekali? Ya. Aku tahu itu."


"Bukan. Kau itu ... kenapa sangat tampan, buatku khawatir saja." Chae Eun mendekatkan wajahnya pada Jin Ji, dan berujung dengan mencium bibir suaminya itu.

__ADS_1


"Kau harus memegang perkataanmu barusan. Bahwa kau tidak akan berpaling dariku!"


"Tentu saja! Chae Eun ku sayang."


__ADS_2