
Meli menghela nafas dan kemudian mengelus rambut Aron yang ikal. "Karena ini urusan bisnis, Nak. Kali ini Papa harus menjalani pembicaraan dengan klien yang sangat penting. Jadi harus berkonsentrasi. Tapi, jangan khawatir, Papa akan membawa oleh-oleh untuk kamu dan Mama."
Aron mengangkat alisnya sambil merajuk. "Aron ingin kenal, Bunda Zara. Aron dengar, dia baik sekali."
"Begitu?" kata Meli, terkekeh.
Aron mengeluarkan ekspresi seperti pasrah dan menatap jauh ke luar jendela. "Hm, baiklah, Aron mengerti. Aron akan menunggu saja."
Malam itu, ketika Aron telah tertidur, Meli dan suaminya berbicara melalui video call.
"Bagaimana kabarnya Aron?" tanya Jhon sambil tersenyum lebar.
"Tenang saja, Aron baik-baik saja," sahut Meli. "Terus, bagaimana perkembangan bisnismu di sana?"
Jhon menghela nafas sebelum menjawab, "Sudah hampir rampung, Mel. Tinggal beberapa hal teknis yang harus kami selesaikan. Kemungkinan besok malam bisnis ini akan tuntas, dan saya akan segera kembali."
Mereka berdua menyerap detil dari tampilan wajah yang memuai. Perpisahan mereka bukanlah sesuatu yang mudah, karena kerap membutuhkan waktu yang cukup lama. Meli menggigit bibirnya. "Ketemu Zara, Ngga, Sayang?"
Jhon tersenyum tipis, "Belum, Mel. Kami berencana untuk makan malam besok. Mengenalkan diri secara resmi sebagai mitra bisnis."
Meli tersenyum, mengangguk mantap, lalu beralih mengisahkan pengalamannya mengurus anak-anak. Keduanya tertawa, saling menghibur dalam kelelahan berajak malam.
Sementara di kediaman Zara, wanita cantik itu menyiapkan kopi untuk Jhon dan suaminya.
"Luar biasa," desah Zara sambil melirik jam di dinding.
"Ini sudah malam hari dan mereka masih bicara?" Erlan menatap Nathan dan Jhon
"Diluar dugaan," timpal Zara. "Tapi aku rasa ini hal yang penting agar proses pengambilalihan ini berjalan lancar."
Zara menyerahkan kopi pada Erlan yang akan disajikan pada Jhon dan Nathan. Saat dia berbalik, Zara menatap dalam Carla.
"Carlal tidakkah kau merasa bahagia merekomendasikan bisnis ini? Aku pernah dengar bahwa mereka adalah rekan pertama yang kamu hubungi saat bisnis mengalami kesulitan?" tanya Zara pada iparnya itu
Carla mendesah, kemudian mencoba tersenyum tegar kepada Zara. Sebagai anak yatim yang tinggal bersama keluarga angkat ia paham bagaimana perasaannya.
"Kalau menurutku ada bagusnya juga Jhon pindah ke sana, bukan maksud apa-apa. Di sana banyak pebisnis juga," ujar Carla.
Erlan yang mendengar obrolan istri dan iparnya merasa tertarik dengan topik itu.
"Di sana banyak juga penjilat," ucap Erlan.
"Kamu pernah kesana, Sayang?"
Erlan mengangguk, ia ingat waktu harus menjalani misi dari Pasada.
"Aku yakin Jhon dan Meli bisa berkembang di sana," kata Zara.
"Ya, aku tahu," jawab Erlan
"Aku hanya khawatir tentang perubahan lingkungan, apakah mereka akan bisa menyesuaikan diri dengan baik." Carla menatap suaminya.
Zara tersenyum dan menepuk bahu Carla . "Jangan khawatirl. Kita semua perlu menghadapi perubahan dalam hidup kita, dan kadang-kadang itu adalah hal terbaik yang bisa terjadi."
Mereka menatap matahari tenggelam, dan merasakan kedamaian yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Beberapa hari kemudian, seiring dengan penyesuaian dan pengepakkan barang-barang, mereka mulai mengenal tetangga mereka. Beberapa di antara mereka adalah keluarga yang ramah dan sopan.
Meli dan Aron yakin bahwa Jhon akan menemukan teman-teman baru yang baik.
Suatu hari, Meli mengantar anak ke sekolah baru mereka. Aron tampak gugup, tapi juga penuh semangat. Saat mereka berjalan menuju pintu gerbang, Meli mencoba memberi semangat.
"Aron akan baik-baik saja di sini, percayalah. Di sini akan menemukan teman baru dan belajar banyak hal berbuat kasih erat tangan mereka.
Di dalam sekolah, mereka disambut oleh kepala sekolah, Pak Abdul.
"Selamat datang, Taun Jhon dan Nona Meli," katanya dengan ramah, "semoga kalian menikmati waktu kalian di sekolah ini."
"Terima kasih, Pak Abdul," jawab mereka, lega bahwa kepala sekolah tersebut sangat ramah.
Seiring waktu berlalu, Aron mendapatkan teman-teman baru dan mulai menikmati hidup mereka. Jhon, yang berbakat dalam bisni , bergabung dengan klub atas arahan dari temennya dan segera mulai memenangkan beberapa tender.
Suatu sore, langit menjadi gelap, dan suara petir yang keras bergema di langit. Hujan deras merendam tanah . Meli belum pernah mengalami hujan deras seperti itu selama bertahun-tahun.
Meli dan Jhon mengkhawatirkan anak mereka yang masih di sekolah, dan menunggu mereka pulang. Ketika mereka akhirnya pulang, keluarga itu berkumpul di ruang tamu dan menyalakan perapian untuk menghangatkan tubuh di cuaca dingin seperti ini.
Meli sebenarnya enggan untuk pindah ke kota yang lebih kecil dari sebelumnya.
Namun, di kota ini Jhon akan memulai usaha sampingan selain bekerja dengan Nathan.
__ADS_1
Meli hanya mendukung apa yang ingin suaminya lakukan. Apa lagi itu untuk masa depan keluarganya.
Pembicaraan antara pasangan itu terdengar begitu intens, tapi hangat.
"Jadi, kamu yakin ingin memulai usaha sampingan ini, meski Nathan kurang begitu tahu tentang kota ini?" tanya Meli, menatap dalam ke mata Jhon yang penuh semangat.
"Aku yakin, Sayang. Ini adalah kesempatan besar untuk kita, untuk masa depan keluarga. dan anak-anak kita nanti. Nathan juga akan membantu kita dengan semangat," Jawab Jhon, berusaha meyakinkan istrinya.
Mereka baru saja pindah ke kota ini, mengikuti pekerjaan Jhon yang harus berpindah kantor dan teman baiknya, Nathan, yang menawari pekerjaan tambahan kepada Jhon untuk tinggal bersama Nathan di kota ini.
Nathan sendiri adalah seorang wirausahawan muda yang ambisius. Mereka berdua selalu membicarakan rencana untuk memulai usaha sampingan bersama sejak lama. Kini saat yang tepat bagi mereka.
"Alright, tapi kita harus lebih mengenal kota dan orang-orang di sini. Baru kita pikirkan urusan usaha itu," kata Meli yang setengah ragu tapi penuh dukungan.
"Setuju. Pertama, kita akan mencari tahu tentang kota ini, membangun networking, dan memutuskan bidang usaha yang tepat untuk kita jalankan. Mungkin Nathan juga punya beberapa rekomendasi, dia juga ingin usaha ini berhasil," ucap Jhon dengan mantap.
Beberapa hari berlalu, Jhon dan Meli menghabiskan waktu mereka menjelajahi kota. Selama itu, Jhon masih bekerja keras dengan Nathan, dan merekomendasikan Meli mencari pekerjaan untuk mengisi waktu luang. Semua itu demi mengumpulkan modal untuk usaha sampingan mereka.
Tidak lama kemudian, Jhon menemukan informasi tentang pasar terbuka yang baru saja diresmikan oleh pemerintah daerah. Ia kemudian menceritakannya kepada Nathan dan Meli.
"Market ini bisa menjadi lokasi yang bagus untuk usaha kita," kata Jhon antusias.
Nathan mengangguk, kemudian menyambung, "Kita bisa berjualan makanan atau minuman, dan kota ini sedang populer dengan konsep kopi organik. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah cara kita memasarkan produk kita."
Meli, yang sudah siap memasak resep-rahasia mereka, menjawab, "Yuk kita bikin singkatan nama kita bertiga sebagai merek kita! Kayak JNM café, agar lebih mudah diingat."
Jhon dan Nathan menerimanya dengan gembira dan merasa semakin yakin dengan usaha mereka. Akhirnya, mereka sepakat untuk membuka usaha minuman kopi organik bernama JNM Café di pasar terbuka tersebut.
Namun, perjalanan mereka tidak seindah yang dibayangkan. Pada minggu pertama usaha mulai beroperasi, JNM Café mendapat persaingan ketat dari kompetitor yang sudah lebih dulu eksis di pasar terbuka.
Beberapa kafe dan kedai kopi di area tersebut telah membangun basis pelanggan yang loyal dan menyajikan berbagai menu minuman dan makanan yang membuat pelanggan betah berlama-lama.
Minggu itu merupakan pekan yang melelahkan dan penuh kecemasan bagi Jhon, Meli, dan Nathan. JNM Café belum mampu menarik perhatian pengunjung pasar terbuka atas minuman kopi khas mereka.
"Pemandangan ini sungguh tidak menyenangkan hati," keluh Nathan ketika ia melihat kedai sebelah ramai dikunjungi pelanggan, sementara JNM Café sepi.
"Kita perlu strategi pemasaran yang lebih baik," kata Jhon, menyadari bahwa merek JNM Café perlu melakukan sesuatu lebih untuk menarik pengunjung.
Meli menimpali, "Bagaimana kalau kita mengadakan diskon spesial untuk pelanggan yang datang pada jam-jam tertentu, atau mungkin menawarkan promo buy 1 get 1?"
Jhon dan Nathan mengangguk setuju. Mereka kemudian segera membuat strategi pemasaran yang lebih menarik.
Beberapa hari kemudian, sebuah awan mendung pun datang dalam hidup Jhon dan Meli. Terlambatlah mereka tahu bahwa di antara obrolan usaha yang mereka bangun adalah lingkaran utang yang saat itu kian hari kian membesar.
Suatu malam, Jhon mendapat telepon dari kantor tempat ia bekerja. Ia diberitahu bahwa Rekannya dipecat karena perusahaannya melakukan penyelidikan serta internal audit.
Rico terjerat kasus pencurian dana, dan dalam penyelidikan tersebut, ia mengaku telah digunakan untuk melunasi hutang dan perluasan bisnis.
Jhon terkejut mendengar kabar tersebut. Ketika ia sampai di rumah, Meli pun sudah mengetahui kabar buruk itu.
"Jhon, apakah ini benar? Kita tidak tahu kalau Rico punya masalah keuangan sebesar ini," ucap Meli dengan penuh kecemasan.
"Aku juga baru tahu malam ini, Tapi jangan khawatir, kita akan cari solusi untuk usaha kita. Aku berjanji," kata Jhon, mencoba meyakinkan Meli.
Keesokan paginya, sebelum Jhon bisa berbicara apapun dengan Nathan, ia mendapat surat pemberitahuan pengadilan. Rico telah menghilang dan diduga kabur. JNM Café kini terancam bangkrut dan menjadi tanggungan pribadi Jhon dan Nathan karena selama ini Rico hanya investor saja..
Mereka berdua merasa sangat kecewa dan takut akan konsekuensi yang akan mereka hadapi.
Namun, dibalik rasa takut itu, Jhon juga dibakar semangat untuk menyelamatkan usaha mereka dan menjadikan JNM Café sukses di kota mereka.
Jhon dan Meli kemudian menyewa pengacara untuk menangani masalah dengan Rico dan membuat strategi bisnis baru untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti. Pasangan itu berjanji satu sama lain untuk tidak berhenti berjuang demi keluarga mereka, sekalipun harus memulai kembali dari awal.
Perlahan, tapi pasti, Meli dan Jhon mulai menyusun rencana penjualan dan pemasaran yang lebih inovatif untuk JNM Café.
Salah satunya adalah kolaborasi dengan influencer lokal dan pengusaha kuliner lainnya di kota tersebut semua itu atas ide Zara.
Mereka juga mengadakan kompetisi kebarat-baratan secuil untuk menarik pelanggan dan memperluas jaringan mereka di dunia kuliner kota ini.
JNM Café mulai memperkenalkan berbagai macam kreasi menu kopi yang unik dan belum pernah ada sebelumnya, seperti kopi dengan aroma dan sentuhan rempah-rempah, menggabungkan beberapa budaya dan tradisi lokal.
Makanan dan camilan yang ditawarkan di JNM Café semakin beragam. Mereka mulai mengeksplor selera internasional dan unik, dan berhasil menemukan momen kejayaan ketika resep minuman dan makanan lokal yang eksotis mereka mendapat banyak apresiasi dari pengunjung di kota tersebut.
"Sayang, terima kasih sudah mau berjuang," ucap Jhon memeluk istrinya di ruang kerja yang berada di cafe itu.
Meskipun begitu, tidak semua hal berjalan dengan mulus selama masa pemulihan JNM Café.
Kadang pelanggan mereka melontarkan kritik dan saran pada menu baru yang mereka tawarkan. Namun, Jhon dan Meli tidak patah semangat dan justru menjadikannya bahan perbaikan untuk kualitas produk dan jasa mereka.
Melalui keuletan dan kerja keras mereka berdua, JNM Café akhirnya mulai bangkit kembali dan kini memiliki pangsa pasar yang cukup besar di kota tersebut.
__ADS_1
Keduanya mulai menemukan ciri khas dalam penyajian dan konsep kafe mereka, yang membuat pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati kopi dan makanan, tetapi juga menikmati suasana JNM Café yang unik dan hangat.
Di sisi lain, upaya mereka menyewa pengacara untuk menangani kasus Rico juga mulai menemui hasil. Sang pengacara berhasil menemukan jejak Rico yang telah melarikan diri ke kota lain.
Pengacara mereka memberi tahu Jhon dan Meli bahwa Rico kemungkinan akan ditangkap segera dan akan diadili atas tindakannya, sehingga mereka berdua akan terlepas dari keterlibatan dalam kesalahannya.
Setelah beberapa bulan melewati tantangan dan badai yang berat, hari-hari yang cerah mulai menjelang untuk Jhon dan Meli.
Rico akhirnya ditemukan, ditangkap, dan diadili untuk kejahatannya, dan JNM Café makin hari makin berkembang pesat.
Dalam perjalanannya, Jhon dan Meli juga mendapatkan teman-teman baru yang berasal dari komunitas pengusaha dan pelaku kuliner lainnya di kota itu.
Mereka mulai bekerja sama dalam menciptakan event-event spesial untuk mempromosikan kafe mereka sekaligus menciptakan hubungan yang erat dengan sesama pengusaha.
Kini, setiap harinya JNM Café semakin ramai oleh pelanggan yang ingin menikmati kopi khas mereka, makanan lezat, dan tentu saja suasana yang selalu menghangatkan hati.
Dari semula yang hampir terjatuh dalam lubang kehancuran, usaha sampingan Jhon dan Meli berubah menjadi sebuah kisah sukses di kota itu.
Semua itu berkat tekad dan keberanian mereka untuk mengambil risiko dan terus bangkit dari titik terendah dalam hidup mereka. Keberhasilan itu tidak lepas dari Nathan dan Zara.
Tahun demi tahun berlalu, dan keluarga Jhon dan Meli semakin bahagia dengan kesuksesan yang mereka raih. pindah ke rumah yang lebih layak dan memiliki kamar yang cukup untuk anak mereka yang sedang tumbuh.
Sementara itu, JNM Café juga bertransformasi menjadi sebuah tempat yang penuh keceriaan dan keakraban, seperti perpanjangan tangan dari rumah Jhon dan Meli.
Dinding kafe ditumbuhi oleh foto-foto mereka dan pelanggan yang menjadi bagian dari perjalanan JNM Café. Setiap pojok kafe membawa para pengunjung ke berbagai kisah kebahagiaan dan keberhasilan.
Jhon dan Meli sering menemui para pengunjung lain, termasuk rekan-rekan wirausaha yang telah membantu mereka dalam berbagai momen. Saling berbagi cerita, suka duka, serta ilmu dalam memajukan kafe dan bisnis mereka di kota tersebut.
Dalam beberapa kesempatan, Jhon dan Meli menceritakan pengalaman mereka dengan Rico dan bagaimana peristiwa itu membentuk mereka menjadi orang yang lebih kuat dan bijaksana, serta mengajarkan mereka betapa pentingnya kepercayaan dan jujur dalam sebuah hubungan atau bisnis.
Ketika Rico menjalani hukuman di penjara, Jhon dan Meli masih merasa sedih meski lega bahwa masalah itu telah terselesaikan. Namun, hubungan mereka dengan Rico terputus dan mereka tidak pernah berbicara tentang memaafkannya.
Pada saat yang tak terduga, beberapa tahun kemudian Rico telah bebas dari penjara dan kembali ke kota itu.
Ia membawa bekal ilmu yang ia dapatkan selama di penjara dan keinginan untuk mengubah hidupnya. Dalam hatinya, Rico merasa terpanggil untuk memohon maaf kepada Jhon dan Meli atas segala kesalahan yang ia lakukan.
Ketika ia berkunjung ke JNM Café, Jhon dan Meli tidak mengenali Rico. Namun, setelah ia memperkenalkan diri, rasa kaget, marah, dan sedih yang pernah mereka rasakan kembali menghantui
"Selama ini kami percaya dan modal darimu kau bilang warisan," kata Jhon begitu kesal.
Bersamaan dengan itu Nathan dan Zara datang berkunjung.
"Ada apa ini?" tanya Nathan .
Jhon menceritakan semuanya dan hal itu akhirnya Nathan mengajak Rico dan Jhon untuk berbincang.
Namun, siapa sangka, Rico ternyata telah menunjukkan penyesalan yang mendalam selama ia di penjara dan memiliki niat baik untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu dengan memberikan sejumlah uang yang sama dengan jumlah yang dipinjam saat itu.
Jhon dan Meli menerima permintaan maaf Rico dengan hati terbuka dan pelukan hangat. Namun, mereka memutuskan untuk membiarkan pria itu mencari jalan hidupnya sendiri dan menjalani kehidupan yang baru, mereka tidak ingin kembali bernasib sama seperti sebelumnya.
Dari usaha itu jhona dan Meli tahu bagaimana JNM Café menumbuhkan bisnis yang sukses seiring dengan waktu, semakin membuat Jhon dan Meli menghargai arti kepercayaan dan kejujuran dalam hubungan dan bisnis.
Kini, JNM Café menjadi salah satu destinasi favorit para pengunjung terutama kawula muda.
Zara melihat Nevan , Nessa dan Aron sedang bermain.
"Mereka sangat kompak, lihat Aron begitu melindungi Nessa, apa jangan-jangan mereka berjodoh," kata Zara.
"Masih terlalu kecil," kekeh Meli.
"Usaha ini hebat jatuh bangun tetap bertahan," kata Zara salut pada sahabatnya itu.
di kota tersebut, yang tidak hanya dikenal dengan sajian kopi dan makanannya yang lezat, namun juga cerita kebangkitan dan perjuangan Jhon dan Meli dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan dalam usaha mereka.
JNM Café semakin menjadi pusat kegiatan di kota tersebut, menyelenggarakan berbagai acara hingga workshop edukatif yang membuka wawasan banyak orang, khususnya para pemilik usaha pemula.
Zara mendengar penjelasan dari Meli makin kagum. Menurutnya Jhon dan Meli, sangat bersemangat berbagi pengetahuan dan kisah sukses mereka kepada orang-orang yang ingin mengejar mimpi mereka di dunia kuliner maupun di bidang lainnya.
Seiring waktu berjalan, JNM Café juga mengembangkan sayapnya. Mereka membuka cabang-cabang baru di berbagai tempat strategis, tidak hanya di kota itu, tetapi juga di kota-kota lain. Banyak yang terinspirasi dengan kegigihan dan kerja keras Jhon dan Meli dan ingin menjadi bagian dari kesuksesan JNM Café.
Dalam perjalanannya, Jhon dan Meli telah menghadapi banyak perubahan, baik yang baik dan buruk.
Namun, mereka tetap ada di setiap tahap perubahan itu, bersama dalam kebahagiaan dan kesedihan, berbagi canda dan tawa, berjuang dan belajar bersama, menghadapi setiap tantangan dan meraih setiap kesuksesan.
Cerita Jhon, Meli, dan JNM Café menjadi sebuah legenda di kota tersebut, menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin memulai usaha mereka sendiri atau menghadapi kesulitan. Walaupun tempest yang dialami JNM Café adalah sesuatu yang tidak diinginkan, pemiliknya tetap berbicara tentang bagaimana Rico, secara tidak langsung, membantu mereka menjadi orang yang lebih kuat dan pantang menyerah.
Zara melihat bagaimana pengunjung yang datang, tidak ada sepi. Mereka datang dan pergi. Bahkan tak jarang ia melihat Meli ikut membantu melayani pelanggan.
Nathan tersenyum, pria itu menghampiri istrinya dan bertanya,"Bagaimana apa masih penasaran?"
__ADS_1