
setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, mobil yang di kendarai oleh Feby dan Aiden telah sampai di depan sebuah Mall terbesar di kota A.
mereka segera turun dan masuk ke dalam bagunan yang memiliki empat lantai itu.
sepanjang jalan masuk ke Mall, mata Feby selalu menelisik ke semua arah. hal itu membuat sang suami merasa curiga.
" kamu kenapa Feb,?" tanya Aiden seraya mendorong kereta bayi yang du tempati Baby Syeril.
"aku takut, kalau nanti ketahuan sama teman teman," jawabnya singkat.
Aiden yang mendengarnya, menghela nafas dan mencoba mengerti posisi sang istri. karena bagaimanapun, istrinya itu masih terlalu muda.
setelah perjalanan mengitari toko toko baju yang berada di sana, akhirnya mereka berdua, masuk ke toki baju anak anak dan juga perlengkapannya.
"sayanh, ini bagus kan ya,?" tanya Aiden oada sang istri.
Feby yang melihatnya, hanya memgangguk. dsb dengan semangat, laki laki itu membeli peralatanakan baby Syeril.
"Aiden, kamu beli sebanyak ini buat apa,?' tanya Feby pada sang suami.
"ya buat makan lah sayang, memangnya buat apa lagi,?" tanya Aiden yang sekilas menoleh kearah sang istri.
Feby menghela nafas panjang. " ya tau buat makan, tapi masak sebanyak ini,?" tanys Feby.
Aiden tersenyum dan mengelus perut istrinya. " kan siapa tau aja, kamu bisa hamil lagi, supaya baby Syeril ada temenya," jawab Aiden dengan wwjah tanpa Dosanya.
plak
satu geplakan mendarat mulus di pundaknya. " enak aja, emang kamu fikir aku ini kucing," tanya Feby dengan wajah kesalnya.
hwl itu membuat Aiden meringis karens melihat reaksi sang istri.
"ya kan siapa tau aja berhasil. itukan cuma rencaba aku aja sayang, kalau kamu nggak mau juga nggak papa," ucapnya membela diri.
Feby yang mendengarnya, merasa gemas sendiri. tangan gadis itu terangkat dan langsung menjewer telinga Aiden.
"dasar! nyebelin!!" ucapnya seraya memelintir dan menarik telinga laki lalo itu.
hal itu, membuat Aiden meringis kesakitan. " awh sayang, sakit tau," rengeknya seraya memasang wajah memelas.
agar sang istri menghwntikan aksi menjewernya itu. namun, bukannya ter lwpas, telinganya malah semakin merasa sakit.
__ADS_1
sehingga tidak ada rencana lain, selain menarik secara paksa." aeh panas sekali," gerutunya saat telingannya telah terlepas dari cengraman sang istri.
" mau kemana kamu ? hmm ayo sinu," terlihat Frby sangat geram sekaligus kesal pada laki laki itu.
dsn aksi kejar kejaran seperti anak kecilpun, tak tetelakan. hal itu membuat sebagian orang yang ada di sana, terkekeh pelan karena merasa terhibur.
sementara sebagian lagi, merasa tidsk pwrduli dan rasa acuh.
hingga tibs tiba, kegiatan mereka terhenti saatlasang netranya melihat ada yang ia kenal.
lantas, Feby melangkahkan kakinya, menuju ke arah yang ia lihat. sementara.Aiden, laki laki itu mengikuti sang istri dengan mendorong kereta baby Syeril.
"sayang, ada apa,?" tanya laki laki itu. namun, Feby tak menghiraukan dengan pertanyaan sang suami.
kakinya terus saja melangkah mendekati objek yang ia amati. hingga sekumpulan orang, tiba tiba melintas di depannya.
hingga membuat pandangannya terhslang. dan di saat gerombolan itu telah hilang dari pandanganya, objek yang ada di depan matanyapun, ikut menghilang.
"sayang, kamu lihat apa sih,?"tanya Aiden seraya menepuk pundak sang istri.
seketika, Feby menoleh pada Aiden. " nggak, kayaknya aku salah lihat," jawabnya dengan tersenyum tipis.
kemudian, mereka menuju ke ruang pembelian tiket karena mereka akan menonton film kesukaan istrinya itu.
Deg
jantungnya seperti ingin lepas dari tempatnya karena dirinya melihat sosok yang tak asing baginya. dan benar saja, orang itu juga menoleh dan sama sama terkejutnya.
"Feby, loe ada di sini juga,?" tanyanya tersenyum tipis. Feby yang mendengarnya, hanya tersenyum tipis.
"a-ah iya Ris, loe sama siapa,?" tanya Feby sedikit gelagapan.
Risa menunjuk di sebelahnya dan tampak.di sana, ada Rangga yang tampak melambaikan tanganya padanya.
"hay Fev, loe di sini juga,?" tanya Rangga. Feby mengangguk ringan. " loe sama siapa,?" tanya laki laki itu
sejenak, Feby terdiam. ia bingung harus menjawab bagaimana. karena dirinya bingung.
"hey kok malah bengong,?" tanya Risa seraya menepuk bshu gadis itu.
"e-eh, enggak, gue nggak ngelamun," jawabnya cepat.
__ADS_1
Risa yang merasa anehpun, mencoba melihat di sekelilingnya. dan matanya tertuji pada seseorang, yang dirinya kenal.
"Aiden, loe ada di sini juga,? dan itu, bayi siapa,?" tanya Risa menatap Aiden dan Feby swcara bergantian.
"jangan bilang, kalian..." kata kata Risa menggantung membuat Feby menahan nafas dan memutar otak untuk mencari ide agar tidak ketahuan.
"ini, adiknya Aiden. dan kebetulan, kami ngak sengaja bertemu," jawab Feby dengan cepat. gadis itu sebisa mungkin tak menunjukan gelagat yang aneh.
"oh, itu adiknya Aiden. lucu juga, udah gede punya adek," ucap Rangga terkekeh pelan.begitupun dengan Risa.
Feby menghela nafas lega," huh, untung saja," gumamnya. tanpa dirinya sadari, ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan marah dan juga sedih.
siapa lagi orangnya jika bukan Aiden. laki laki itu mengeraskan rahangnya saat sang istri tak mengskui dirinya.
lebih parahnya, wanita itu tak mengakui darah dagingnya sendiri. itu benar benar keterlaluab.
****
setelah hsmpir tiga jam berada di Mall, akhirnya mereka memutuskan umtuk pulang saja. namun, Feby merasa aneh karena sedari tadi, laki laki itu hanya terdiam.
dsn sesampainya dirumahpun, Aiden masih saja terdiam.dsn mereka masuk dalam kamar denganasih saling diam.
"Aiden, kamu marah,?" tanya gadis itu dengan wajah was was.
laki laki itu hanya terdiam.di balkon kamarnya. Feby memberanikan dirinya untuk memeluk tubuh Aiden dari belakang.
"maaf," satu kata itu yang mampu lolos dari mulutnya.
"rasanya ternyata begitu sakit saat orang yanh menjadi bagian terpemting, malah tidak menghargai kita," ucapnya dengan nada rendah namun, sarat akan makna.
hal.itu membuat Feby yang mendengarnya, semakin merasa bersalah. gadis itu tampak bergetar hebat karena memahan tangisnya.
"Maaf, aku nggak bermaksud menutupi ini semua, tapi aku juga nggak mau jika nanti, semia orang tau kalau kita ada hubungan jarena aku merasa belum siap," ucapnya menndukan kepala
Aiden berbalik arah dan menatap wajah sembab sang istri kemudian memeluknya dengan erat.
"jamgan nangos, aku nggak sanggup lihat kami nangis seperti ini Feb, " Aiden mengangkat dagu istrimya menghapus jejak air mata itu kemudian,..
cup
satu kecupan mendarat mulus di matanya. kemudian, beralih ke pipi, hidung dan berakhir di bibir.
__ADS_1
mereka berpagutan agak lama. dan sama sama melepaskan, saat merasa pasikan oksigennya hampir habis
...See You........