Secret Wedding

Secret Wedding
Siapa Carla?


__ADS_3

Di Turki, Meli duduk di taman, menikmati pemandangan indah kota Istanbul. Ia menunggu suaminya, Jhon, yang seharusnya menjemputnya setelah melakukan meeting pentingnya. Namun, Jhon sampai terlambat selama satu jam.


"Mengapa begitu lama, ya?" gumam Meli dalam hati sambil menatap jam tangannya.


Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depannya, dan Jhon keluar dari mobil itu. Meli melihat dengan dingin saat Jhon berjalan ke arahnya.


"Apa yang terjadi? Kamu terlambat satu jam," kata Meli tanpa memandang Jhon.


"Saya mohon maaf, ada urusan penting yang saya hadapi di meeting," jawab Jhon sambil mencoba memeluk Meli.


Namun, Meli menggelengkan kepala dan berdiri. "Kamu sudah terlambat, dan kamu tidak memberi tahu saya sebelumnya. Aku begitu kesal denganmu sekarang."


Jhon mencoba untuk menghibur Meli dan meminta maaf lagi, tetapi Meli tidak mau mendengarkan dan memutuskan untuk pulang sendiri. Jhon pun merasa kesal dan sedih, karena telah membuat hati istrinya terluka.


Sore itu, saat Meli sedang memasak di dapur, ia menerima telepon dari seorang wanita yang tidak dikenal.


"Halo, saya Carla. Apa kamu istri dari Jhon?" tanya wanita itu.


"Ya, saya Meli. Ada apa, ya?" jawab Meli.


"Maaf mengganggu, tapi saya harus memberitahukan sesuatu kepada kamu. Jhon adalah pria yang tidak bisa diandalkan. Saya sudah lama  menjadi kekasih rahasianya," ujar Carla.


Meli merasa seperti dunia miliknya runtuh saat mendengar kata-kata Carla. Ia tidak tahu harus berbuat apa, menghadapi kenyataan bahwa pria yang menikahinya sudah memiliki kekasih.


Setelah telepon dengan Carla, Meli merenung di kamar tidurnya. Ia merasa bingung dan kecewa dengan Jhon. Namun, ia juga merasa bimbang apakah harus menghadapi masalah dengan suaminya atau tidak.


Esok paginya, Meli dan Jhon duduk di teras rumah mereka seraya minum kopi. Meli masih terlihat kesal dan tidak ingin berbicara dengan Jhon.


"Tolong katakan padaku bagaimana aku bisa memperbaiki keadaan denganmu. Aku benar-benar menyesal telah mengecewakanmu," pinta Jhon dengan nada memohon.


Meli diam sejenak, lalu berkata, "Ada yang ingin kusampaikan padamu. Tadi malam, aku menerima telepon dari Carla. Dia bilang bahwa kalian sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun."


Jhon hampir tercekat oleh kopi yang baru diminumnya. "Apa? Ia siapa?" tanyanya dengan suara gugup.


Meli meningkatkan matanya, melihat suaminya begitu gugup.


"Aku hanya tanya apa kamu masih ada berhubungan dengannya, Bee."


"Sayang, itu hanya masa lalu."


"Apa Tuab Nathan tahu?" tanya Meli.


Jhon menggeleng kepalanya, hal itu membuat Meli menarik napas dalam.


Meli menjelaskan semuanya, dan Jhon hanya bisa merenung dengan penuh penyesalan. Ia meminta maaf dan berkata bahwa ia benar-benar menyesal. Namun, Meli merasa bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dikatakan. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya," kata Meli sambil meninggalkan teras.


Hati Meli begitu sakit, apa benar suaminya masih menjalin hubungan dengan wanita itu.


Jika wanita yang bernama Carla itu menghubunginya, itu artinya sejak ia dan suaminya kembali ke Turki mereka bertemu.


Meli mengusap air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya.


Meli merasa sangat terluka dan sedih karena merasa suaminya telah mengkhianatinya dengan Carla. Dia merasa kecewa bahwa Jhon mungkin telah berbohong padanya dan bertemu dengan Carla di belakangnya. Air mata Meli menggambarkan betapa dalamnya perasaan sakit hati yang dirasakan.


Dalam kebimbangan dan kebingungannya, Meli merasa marah dan menyalahkan suaminya, Jhon. 


Ia terluka oleh rasa pengkhianatan yang dirasakannya dan kebenaran bahwa suaminya masih berhubungan dengan Carla.


"Jahat kamu, Bee" 


Meli mengekspresikan kekecewaan dan kemarahan yang mendalam.


Meli merasa terpukul dan bingung dengan situasinya. ia perlu menghadapi rasa sakit dan keputusan yang sulit. 


Apakah ia akan menghadapinya dengan berani atau mencoba memperbaiki hubungannya dengan Jhon? Hanya waktu yang akan menjawabnya.


Saat ini hatinya tengah Luka wanita itu masuk kamar dan tidak lama Jhon mengikutinya.


"Apa yang mau kamu jelasin, kenapa mengajakku menikah. Sebenarnya sudah sejauh mana hubunganmu dengan Carla, Bee?" 


Jhon mengepalkan tangannya, pria itu merasa dihina akan pertanyaan istrinya.


"Apa aku semurahan itu di matamu, tidur dengan banyak wanita?" kata Jhon dingin.


Meli merasa terhenyak dengan pertanyaan dari suaminya. Ia tidak mengira kalau Jhon akan membahas topik serius itu malam ini. 


Tangan Meli berkeringat saat ia mencari-cari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan suaminya.


"Sayang...aku tahu kamu merasa tersinggung dengan pertanyaan ini, tapi kita harus membicarakannya. Aku tidak tahu sejauh mana kamu mendengar gosip tentangku dan Carla, tapi aku harus memberi kamu penjelasan yang jujur dan transparan," ucap Jhon dengan suara lembut.


Mereka duduk berhadapan di ruang tamu mereka yang sempit, cahaya kuning dari lampu meja menciptakan suasana yang tenang di antara mereka.


"Sebenarnya, hubungan aku dengan Carla adalah teman dekat yang telah mempertemukan kita berdua, bukan lebih dari itu. Aku mengerti kalau kamu mungkin merasa cemburu atau curiga padaku, tapi aku berjanji aku tidak memiliki hubungan lebih dari sekadar teman dengan Carla," jelas Jhon.


Meli  terdiam selama beberapa saat, mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Jhon 


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Ini hanya...aku tidak ingin ada yang menghalangi hubungan kita," ujar Meli akhirnya dengan suara lembut.


Jhon  merasa lega mendengar pengakuan itu dari istrinya. Mereka baru saja menikah selama tiga bulan dan awal-awal mereka seringkali ditempa oleh masalah kepercayaan satu sama lain.

__ADS_1


Namun, ia merasakan ada yang aneh ketika mata Jhon berkaca-kaca. ia merasa ada banyak hal yang belum terungkap dari suaminya dan ia harus membuat keputusan untuk menghadapi masalah ini.


"Mengapa kamu merasa tidak percaya padaku, Sayang? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu? Aku juga tidak tahu sejauh mana kejujuranmu terhadap aku," tanya Jhon tegas.


Jhon terdiam lagi, kali ini lebih lama. Ia bahkan mengumpulkan semangatnya untuk melepaskan napas yang dipegangnya sejak tadi.


"Saya dulu memiliki masalah dengan cinta monyet dan tidak pernah memiliki  hubungan intim sebelum aku bertemu denganmu, tapi melihatmu berbicara dengan pria lain membuatku sangat cemburu dan tidak yakin pada diriku sendiri," jelas Jhon sambil menundukkan kepala.


Meli  merasa sedih dan terpukul mendengar pengakuan itu dari Jhon. Namun, di dalam hatinya, dia merasa lega bahwa semua yang dirasakan dugaannya selama ini ternyata salah. Ia sama sekali tidak meragukan kesetiaan Jhon, tapi masalah kepercayaan tetaplah menjadi hal yang paling sulit untuk ditangani.


Namun, ketika Meli berusaha untuk mencari cara agar bisa memperbaiki hubungan mereka, sesuatu yang tidak terduga terjadi.


Hujan mulai turun deras dan terdengar gemuruh petir yang menderu di luar rumah mereka. Meli merasa sedikit takut, tapi senang bahwa hujan datang untuk meredakan situasi yang menegangkan ini. Tiba-tiba, listrik mati dan rumah mereka menjadi gelap gulita.


Meli  panik dan mencoba menemukan senter, tapi ia ditolak oleh Jhon. "Tunggu sebentar aku akan memeriksa pemutus listrik," 


Meli  merasa lega karena Jhon selalu bisa menyelesaikan masalah teknis dengan cepat. Namun, ketika Jhon pergi, Meli mendengar suara aneh dari arah pintu kamar mandi. Ia sangat takut dan mulai bergerak perlahan menuju arah suara itu berasal.


Saat ia membuka pintu kamar mandi, ada orang tak dikenal di dalamnya karena kondisi membelakangi. 


Meli  merasa sedikit tenang ketika mengetahui bahwa pria yang ada di situ adalah Jhon,  tapi  ia terkejut ketika melihat kelakuan suaminya.


Jhon sedang membuka laci kamar mandi dan mengeluarkan beberapa botol minuman beralkohol. ia merobek tutupnya dan menghabiskan sebotol secara cepat.


"Hentikan, Bee! Apa yang kamu lakukan? Kita sedang membicarakan masalah sendiri. Kamu tidak boleh menghindari masalah dengan begitu saja," kata Meli  dengan suara tertekan.


Jhon terlihat tidak peduli dengan permintaan istrinya, dan malah memasukkan sebotol  ke dalam kantong. Ia bahkan membalikkan badannya, tidak ingin melihat ke arah istri yang berdiri menatapnya dengan pandangan tajam.


"Kamu tidak tahu apa yang telah aku lakukan untuk menyelamatkanmu. Aku tidak ingin membahayakanmu dengan masalah-masalah yang aku miliki," jelas Jhon dengan suara bergetar.


Di saat yang sama pintu terbuka dan ditemani gemuruh petir dari luar, Carla tiba-tiba muncul ke dalam rumah mereka. Ia mengajak Jhon dan Meli untuk menyelamatkan diri dari banjir yang datang.


Meli  merasa terkejut dengan kehadiran Carla yang tiba-tiba, tapi ia merasa lega karena dirinya tidak sendirian dalam menghadapi badai yang datang.


Sementara itu, Jhon juga terlihat terkejut melihat Carla di rumah mereka. Namun, daya tarik yang pernah ia rasakan kepada Carla membuat Jhon menjadi ragu-ragu. Ia memutuskan untuk mengajak istrinya menemaninya karena tak ingin melewatkan kesempatan untuk mempererat hubungan rumah tangganya.


Setelah berjalan sekitar 20 menit, tiba-tiba banser menyerang mereka dari arah timur. Jhon, Meli dan Carla yang diserang dalam kondisi basah kuyup. Ketika mereka membuka pintu mobil, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah yang sama.


Meli  hampir kehilangan kesadaran karena kepanikan, ketika Jhon secara tiba-tiba berteriak. "Kalian berdua harus keluar dari mobil! Saya akan memancing mereka menjauh dari sini!"


Carla dan Meli  saling berpandangan sebelum keluar dari mobil, takut melihat Jhon terpisah dari mereka.


Ternyata, Jhon merencanakan  para banser menjauh dari mereka. Dalam perjalanan pulang, Jhon meminta maaf pada Meli atas kesalahannya selama ini dan bersumpah untuk menjadi suami yang baik dan setia baginya.


Meli  merasa sedikit lega mendengar pengakuan itu dari Jhon dan mereka memeluk satu sama lain, menikmati saat tenang dan bahagia yang akhirnya datang juga setelah badai.

__ADS_1


__ADS_2