
Dia benar soal dadanya. Jin Ji bergeming, wajahnya kini berwarna merah padam. Lekuk tubuh Chae Eun membuatnya tak bisa berkutik. Dia bahkan lupa kalau alasannya menghampiri Chae Eun adalah untuk membahas perceraian. Bodoh!
Jin Ji segera menutup pintu kamar itu, dan mematung didepannya. Sial! Kenapa harus melihatnya begitu di saat aku ingin berbicara penting?
Jin Ji memegangi wajahnya yang memanas.
"Tuan Ji, kau sakit? Wajahmu merah." Jessica yang sudah kembali segera menghampiri Jin Ji, dengan Hyunwoo yang mengekorinya.
"E-eoh, i-tu.., bukan apa-apa." Jin Ji tergagap, pikirannya masih berkelut pada bayangan lekuk tubuh Chae Eun yang indah.
"Apa sih? Apa ada sesuatu di sini?" Hyunwoo hendak membuka pintu kamar ketika Jin Ji segera menghentikannya.
"Jangan! Jangan dibuka!"
"Kenapa?" Tanya Jessica. "Apa ada sesuatu di dalam? Apa mungkin Chae Eun sudah pulang?" Jessica mencoba membuka pintu. Namun, lagi-lagi Jin Ji melarangnya.
"Bukan apa-apa. Selamat malam." Jin Ji masuk ke kamar Chae Eun lantaran dia takut jika Jessica maupun Hyunwoo masuk dan melihat tubuh ***** Chae Eun yang kini tertidur pulas. Wanita itu mabuk, dan kebiasaannya melepas pakaian saat mabuk sungguh mencenangkan.
Jin Ji mengunci pintu sebelum dia menghampiri Chae Eun dan menutupi tubuh ***** Chae Eun dengan selimut.
"Dia gila. K-kenapa dia tidur tanpa memakai baju?" Jin Ji tergagap, wajahnya masih merah padam. "Sepertinya mabuk." Jin Ji mendekatkan wajahnya pada wajah Chae Eun untuk memastikan bahwa wanita itu memang mabuk, dan...,
Grebbb
Jantung Jin Ji berdegub kencang ketika Chae Eun melingkarkan kedua tangannya dileher Jin Ji. Wanita itu perlahan membuka matanya, dan dengan mulutnya yang berbau alkohol, ia berkata, "rupanya ini Jin Ji. Kau sudah makan malam?"
"A-aku...," Jin Ji kesulitan menelan salivanya. Wajah Chae Eun yang merona dan matanya yang terlihat menawan membuat Jin Ji tidak bisa berkutik. Dia..., sejak kapan secantik ini? Pikir Jin Ji.
__ADS_1
"Jika belum, maka aku akan pesankan makanan untukmu karena aku tidak bisa memasak," Chae Eun meracau.
"T-tidak perlu. K-kau hanya perlu melepaskanku, n-nona Chae."
"Emmm, aku tidak mau! Jangan pinta aku untuk melepaskanmu. Jin Ji, kau itu adalah satu-satunya hal yang ingin kuperjuangkan dalam hidup ini untuk pertama kalinya. Jadi, jangan bilang padaku untuk melepaskanmu." Chae Eun meneteskan airmata. "Selama ini aku tidak pernah bisa memerjuangkan apa yang kuinginkan, aku selalu menuruti perkataan keluargaku. Kau tahu? Aku..., aku ingin sekali mati jika saja saat itu aku tidak bertemu denganmu. Jin Ji, kau itu..., meskipun kehidupanmu tidak sesederhana penampilanmu, dan banyak orang yang tidak menyetujui dirimu dalam hidupku. Aku..., aku akan tetap memerjuangkanmu. Karena aku..., aku mencintaimu...," Chae Eun kembali memejamkan matanya setelah meracau panjang lebar. Sedangkan Jin Ji kini tertegun dengan pengakuan Chae Eun barusan.
Jadi itu bukan angan? Kau..., memang menyukaiku. Dan aku..., aku juga menyukaimu. Jin Ji menghapus bekas airmata Chae Eun dengan ibu jarinya.
"Chae Eun, aku..., aku menyukaimu juga." Jin Ji mengecup bibir Chae Eun dengan lembut.
●●●
Chae Eun mematung dimeja kerjanya. Wajahnya merah, dan pandangannya begitu kosong, dan itu membuat Jessica yang sedari tadi memanggilnya terheran-heran.
"Hey, Direktur Chae, kau baik-baik saja? DIREKTUR!!!" Jessica menaikkan volume suaranya, dan itu berhasil menyadarkan Chae Eun.
Jessica menghela napas panjang. "Direktur, apa ada sesuatu yang terjadi? Sejak pagi wajahmu merah dan kau terus melamun. Kau baik-baik saja? Ceritalah padaku kalau ada masalah."
Masalah? Ya! Itu masalah! Karena aku mendapari Jin Ji berada di sampingku ketika aku bangun tidur. Pikir Chae Eun. Ketika terbangun, dia memang dikejutkan oleh sosok Jin Ji yang tertidur pulas disampingnya. Terlebih lagi Chae Eun tidak memakai pakaian lengkap, serta Jin Ji toples. Apakah kami melakukannya?
Chae Eun mengacak-acak rambutnya. "Aishhhh seharusnya aku tetap pada prinsipku untuk tidak menyentuh alkohol. Aku tidak ingat apapun!!" Chae Eun menggerutu.
"Hey, kau kenapa?" Jessica semakin bingung.
"Jangan dibahas! Jangan dibahas kumohon!" Pinta Chae Eun. Namun, terdengar seperti memaksa.
Aku tidak menyangka bahwa Jin Ji adalah orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan!! Membuat frustasi saja, jika dia mau melakukannya, maka seharusnya dia menyadarkanku dulu. Aku ingin melakukan itu dengan keadaan sadar. Hks hks hks. Rupanya itulah yang sebenarnya dikhawatirkan Chae Eun.
__ADS_1
"Dasar Direktur aneh!" Umpat Jessica yang merasa dirinya tak dianggap. Dia menjatuhkan dokumen yang dipegangnya di atas meja kerja Chae Eun. "Daripada Direktur berlaku tak jelas, sebaiknya Direktur urus semua dokumen ini!"
●●●
Jin Ji termenung di depan meja rias. Membuat sang penata rias kebingungan. "Adakah sesuatu yang mengganggumu? Kau terus saja melamun."
"E-eoh..., itu...," bagaimana bisa dia pergi begitu saja? Apa dia tidak akan bertanya apa yang terjadi semalam? Dasar wanita menyebalkan. Jin Ji menggerutu dalam hatinya. Semalam itu karena mabuk Chae Eun jadi berkelakuan tak jelas, Jin Ji pikir wanita itu sudah tidur, rupanya masih saja meracau dan berkelakuan tak jelas. Benar-benar kebiasaan mabuk yang aneh. Dia merobek kemeja yang dikenakan Jin Ji, dan menindih tubuhnya dengan berkata 'i like woman on top! Kau diam sajalah'. Jin Ji bergedik saat itu. Dia ingin pergi. Namun, siapa sangka bahwa Chae Eun yang mabuk rupanya bisa menjadi duakali lipat lebih kuat.
Aishhh dia mencuri kehormatanku, dan yang lebih menyebalkan adalah dia melakukannya dalam keadaan mabuk. Jin Ji terus menggerutu.
"Apa karena Haejun?" Tanya sang penata rias, Cho Jihyun. "Kau sangat dekat dengan Haejun, jadi pasri sangat sulit melihat orang yang dekat denganmu tiba-tiba menjadi buron."
"Buron?"
"Iya, satu jam usai Haejun ditetapkan sebagai tersangka, dia langsung menjadi buron. Polisi belum menemukannya sampai hari ini," jelas Jihyun.
Jin Ji terdiam. Jika mengingat Haejun, dia jadi teringat bahwa ternyata orang yang selama ini membantunya diindustri hiburan bukanlah Haejun melainkan Chae Eun. Haejun rupanya hanya menjadi avatar Chae Eun untuk membantu Jin Ji. Chae Eun, karena kau memerjuangkanku, maka aku juga akan memerjuangkanmu.
Jin Ji meraih ponselnya, dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada ayah mertuanya.
[Jin Ji: ayah, maafkan aku. Aku sungguh meminta maafmu karena aku..., aku tidak akan bercerai dari putrimu. Aku..., aku berjanji akan menjaganya. Tolong percayalah]
●●●
Haejun, merobek-robek koran harian yang sedang dibacanya. "Sialan! Wanita gila itu benar-benar membuatku menjadi seperti buron begini!" Umpat Haejun. Saat itu, jika dia tidak cepat-cepat melarikan diri dari hotel, dia pasti sudah berada dalam jeruji besi.
"Lihat saja. Aku akan pastikan mainanmu itu ikut hancur bersamaku!"
__ADS_1