Secret Wedding

Secret Wedding
istri Siaga


__ADS_3

"Diam! Jangan tanya-tanya. Ini urusan pribadiku." Nathan menjawab dengan nada kesal.


"Kenapa kamu begitu marah? Bukankah kita seharusnya saling jujur dalam pernikahan ini?" Zara tetap mempertanyakan hal itu.


"Aku tidak mau membicarakannya! Sudahlah, jangan diganggu!" Nathan berteriak, meninggalkan Zara sendirian dengan pikirannya.


Zara merasa khawatir dengan penampilan Nathan yang semakin memburuk setiap harinya. Ia tak pernah mengeluh pada Zara tentang apa-apa, tapi Zara melihat ada sesuatu yang mengganjal di hati Nathan. Ia memutuskan untuk menemui ayah Tama, yang juga  di perusahaannya.


"Sudah lama kita   tidak bicara berdua begini, Zara. Ada apa?" tanya Ayah Tama saat mereka bertemu di restoran.


"Maaf mengganggu, Ayah. Saya khawatir tentang Nathan. Kepalanya selalu pusing dan disiplin dirinya terganggu. Dan.... saya melihat dia merokok," ujar Zara yang sedari pagi gelisah.


Tama mencoba menenangkan Zara. "Aku tahu kamu menyayangi Nathan. Tapi tentu saja, suamimu hanya sedang menghadapi masalah biasa. Kami akan menyelesaikannya."


Zara pergi dari restoran dengan sedikit kelegaan, meskipun tidak sepenuhnya meredakan kekhawatirannya.


Namun, saat ia tiba di rumah, Nathan sudah berada di sana dan sepertinya pikirannya masih dalam keadaan terganggu. 


Zara memutuskan untuk mencoba bicara dengan suaminya lagi.


"Mas, aku tidak ingin memaksa kamu. Tapi, saya ingin kamu tahu bahwa aku disini untukmu, dan aku siap mendengarkan segala permasalahanmu. Bisakah kamu katakan apa yang terjadi?" Zara mencoba menyampaikan dengan lembut.


Nathan diam sejenak, lalu memulai menceritakan semuanya pada Zara. Dia memaparkan bagaimana pekerjaannya yang semakin menantang, tentu saja sejak Dika ketahuan  curang. Dan di tengah persaingan yang begitu kuat itu, Nathan terkena masalah di mana  salah satu pihak yang ingin menekannya.


"Istirahatlah sebentar dan biarkan aku membantumu," kata Zara.


Nathan tersenyum lebar dan meraih tangan Zara. "Terimakasih, Sayang. Kamu benar-benar seorang istri yang peduli."


***


Keesokan harinya, Zara bersama dengan Tama, ia  memberikan solusi atas kasus yang menimpa Nathan. Tama  yang juga seorang pengusaha handal, membantu Nathan menangani masalah ini.


Setelah hampir satu Minggu masalah   selesai, Nathan perlahan mulai merasa tenang. Ia kembali menjadi suaminya yang perhatian dan perlahan-lahan berhenti merokok, seiring dengan banyak waktu yang dihabiskannya dengan Zara dan keluarganya.


"Aku tidak tahu bagaimana  bisa bertahan tanpa kamu," kata Nathan pada Zara, suaranya penuh dengan ketulusan dan rasa syukur karena diberikan istri yang begitu sabar.


"Aku selalu disini untukmu, dan kita akan menghadapi semua hal bersama-sama," jawab Zara.


Mereka berpelukan erat dan Nathan merasa dirinya sangat beruntung memiliki Zara sebagai pasangannya. Di sisi lain, Zara merasa sangat bahagia karena bisa membantu Nathan mengatasi permasalahannya dan melihat kembali kebahagiaan di wajah suaminya.


"Sayang, kamu habis sholat, berarti aku sudah boleh buka puasa," kata Nathan dengan mengerlingkan matanya menggoda sang istri.

__ADS_1


Wajah' Zara seketika merona,  ia jujur malu untuk mengatakan pada suaminya kalau sudah hampir seminggu ini sudah selesai masa nifasnya.


Melihat istrinya hanya diam saja, pria itu menggenggam tangan Zara." Apa masih belum siap?"


"Mas!" seru Zara dengan tersenyum lembut.


Nathan langsung menyambar bibir ranum  istrinya. 


Zara terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya,  tapi wanita itu akhirnya bisa mengimbanginya. 


Sentuhan demi sentuhan Nathan lakukan, hingga tubuh sang istri menggeliat karena ulahnya.


"Mas, masih  siang," kata Zara.


"Sekali saja." Nathan kembali membaringkan sang istri ke atas ranjang.


Di dalam kamar kedap suara itu,  lenguhan keduanya saling bersahutan. Hingga lenguhan panjang terdengar saat keduanya  sama-sama sampai puncak surah dunia.


Tubuh polos keduanya sama-sama basah dan napas tersengal-sengal.


"Sayang, terima kasih." Nathan mengecup kening istrinya dan pria itu mengangkat tubuh Zara untuk di bawa ke kamar mandi.


Mandi yang biasa hanya dua puluh menit, kini hampir tiga jam hingga tangan Zara dan Nathan berkerut.


Entah berapa ronde Nathan melakukan di bathtub, kadang juga keduanya melakukannya bawah shower.


Setelah merasa puas keduanya keluar dari kamar mandi, Zara begitu lelah badannya sakit semua karena suami terlalu banyak melakukan gaya. Namun, sisi liar Zara begitu menyukainya.


Saat  Nathan baru siap memakai baju, pria itu mendapatkan telepon dari mertuanya karena ada investor yang ingin bertemu dengannya langsung.


Pria itu segera pamit pada istrinya, setelah Nathan pergi. Zara yang kelelahan akhirnya tertidur sampai tidak tahu Dania mengambil Nevan karena menangis. 


Dania beruntung Zara selalu menyediakan asi di kulkas. Zara sengaja memompa asinya karena benar-benar melimpah.


Selain itu juga Zara lakukan buat persiapan.


Tepat pukul empat Zara terbangun, wanita itu segera membersihkan tubuhnya, setelah selesai ia keluar dari kamar.


Zara sedang duduk di ruang tamu ketika Nathan datang, pria itu  pulang dari tempat kerjanya. 


Zara melihat Nathan masuk dengan wajah lelah dan murung. Suaminya itu  langsung duduk di samping istrinya sambil melepas sepatunya.

__ADS_1


"Hai, Sayang," sapa Zara ramah.


"Hai," jawab Nathan singkat.


"Sudah lama kulihat kamu lelah seperti ini. Apa yang terjadi?" tanya Zara.


Nathan menghela nafas berat. "Sudahlah, lagi pula ini bukan urusanmu," jawab Nathan dengan jengkel.


Zara merasakan bahwa Nathan selalu bersembunyi dari dirinya, dan itu membuatnya tidak nyaman. 


"Itu adalah urusanku. Kita saling mencintai, Mas. Jangan menyembunyikan masalahmu dariku," kata Zara dengan nada serius.


Nathan mengambil napas dalam-dalam, tampaknya merenungi kata-kata Zara. Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan masalah yang tengah ia hadapi.


"Iya, kamu benar. Aku punya masalah dan mengakuinya bukanlah hal yang mudah bagiku. Pekerjaanku yang bertambah banyak membuatku merasa tertekan. Dan kebetulan lagi, aku juga sedang menghadapi kasus perdata yang cukup berat di mana salah satu pihak sengaja menghambat jalannya bisnis kita," ujar Nathan sambil menghapus rambut yang menyentuh wajahnya.


Zara merasa lega ketika Nathan akhirnya terbuka tentang masalahnya. "Kenapa kamu tidak bilang sejak dulu? Kita bisa berbicara tentang hal itu bersama-sama dan menyelesaikannya."


"Iya, maaf Sayang. Aku terlalu terjebak dalam pikiran dan stres," kata Nathan.


"Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi. Kita akan mengatasi semuanya bersama-sama," kata Zara sambil meraih tangan Nathan. 


Nathan merasa lega dan meraih erat tangan Zara.


Hari demi hari, Zara selalu mendukung Nathan dalam menghadapi masalahnya, bahkan ketika ia memiliki kesulitan dalam menyelesaikan kasus perdata tersebut. 


Nathan juga belajar untuk lebih terbuka dan berbicara tentang perasaannya kepada Zara, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.


Saat akhirnya kasus perdata itu diselesaikan, Nathan merasa seperti beban besar telah diangkat dari dirinya. Ia merasa sangat beruntung memiliki istri yang sangat peduli dan selalu mendukungnya dalam menghadapi kesulitan.


"Aku  sungguh beruntung memilikimu, Sayang. Kamu selalu ada untukku," kata Nathan sambil memeluk Zara erat.


"Kita akan selalu mampu mengatasi masalah bersama-sama, selama kita tetap terbuka dan berbicara satu sama lain," kata Zara sambil membalas pelukan Nathan erat.


Akhirnya mereka menemukan kembali kebahagiaan dalam pernikahan mereka. 


Nathan belajar untuk lebih terbuka dan berbicara tentang perasaannya dengan Zara, 


Sementara Zara selalu mendukung Nathan dan  siap mendengarkan ketika Nathan membutuhkan seseorang untuk berbicara. 


Kepercayaan dan kerja sama di antara mereka semakin kuat, membawa pernikahan mereka ke tingkat yang lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2