
Melihat yang datang istrinya membuat Nathan terkejut. itu artinya ia harus melindungi istrinya dari para preman itu.
Zara menatap Nathan, setelah itu pandangannya ke arah lengan suaminya, wajah Zara memerah menatap lima preman yang sudah membuat tempatnya bersandar itu berdarah.
"Siapa mereka, Sayang?" tanya Zara sambil meraih lengan Nathan untuk memeriksa lukanya.
Nathan menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu. Mereka tiba-tiba datang dan menyerangku."
Zara menatap tajam ke arah para preman itu. "Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi, Mas."
Zara memastikan lagi pada Nathan sambil mulai melangkah maju.
"Jangan, Zara! Mereka berbahaya menggunakan senjata tajam!" Nathan mencoba untuk menahan istrinya, meminta agar tidak gegabah.
Tapi Zara sudah terlanjur naik pitam. Ia berteriak dan langsung menyerang para preman itu.
Pertempuran pun terjadi, dan setelah beberapa menit, ada seseorang yang tiba-tiba ikut menyerang preman itu.
Jhon datang dan dua preman itu langsung menyerangnya. Hal itu disambut pria dingin itu.
Kini mereka berkelahi satu lawan satu karena ada anak buah Jhon yang ikut.
Setelah tiga puluh menit mereka berhasil melumpuhkan preman itu, sedangkan Jhon sudah menghubungi pihak berwajib. Anak buah Jhon menunggu ada sampai polisi datang.
Zara dan Jhon segera membawa Nathan ke rumah sakit terdekat.
Nathan terluka cukup parah. Zara merasa ketakutan melihat suaminya seperti itu, untuk alasan keamanan mereka meminta anak buah Jhon untuk berjaga-jaga.
Zara tidak bisa melupakan kejadian itu, dan sebagai hasil dari luka-luka suaminya , ia menjadi sangat protektif terhadap Nathan. Ia selalu berusaha untuk menahannya agar tidak pergi ke luar rumah setelah sembuh nanti.
Musibah bisa saja terjadi pada siapapun, begitu juga yang sedang dialami oleh Nathan. Awalnya ia ragu lewat jalan sepi itu, tapi karena ingin segera sampai mansion pria itu nekat lewat jalan yang sepi.
Akan tetapi, ketika Zara memutuskan untuk pulang karena ada Nevan di rumah yang membutuhkannya. Akhirnya Nathan di jaga oleh anak buah Jhon .
Zara segera keluar dari ruang rawat suaminya, untuk mengambil beberapa pakaian suaminya, Nathan tidak bisa menghindari perasaan khawatir walau ia tahu istrinya bisa bela diri.
"Sayang."
"Saya akan pergi sebentar, Mas?" kata Zara, sambil mencoba untuk meyakinkan suaminya.
"Hati-hati. Jhon akan menemanimu," sahut Nathan dengan nada yakin.
Alih-alih merasa aman dengan keberadaan suaminya, Zara justru merasa tertekan dan terkekang. Ia mencoba untuk tetap tenang, tetapi perasaan cemas selalu menghantuinya.
Setelah istri dan asistennya pergi, Nathan melihat lengannya. Ia tidak menyangka kalau luka itu tajam dan harus menerima beberapa jahitan.
Kabar Nathan terluka langsung terdengar di telinga Albert dan Dania. Walaupun Nathan sudah besar mereka tatap khawatir.
Pagi harinya tepat pukul sebelas Albert langsung menuju ke rumah sakit tempat putranya di rawat. Zara dari pagi sudah datang karena suaminya sebentar-bentar menghubunginya minta pulang dan dirawat di mansion saja.
Dania tersenyum melihat bagaimana Zara begitu sabar menghadapi Nathan jika sedang sakit. Dari kecil putranya itu paling susah makan jika sedang tidak enak badan.
“Mama pulang saja jaga Nevan, biar Zara di sini yang menemaniku,” kata Nathan.
“Dasar modus, “ ucap Dania ketus.
Zara langsung mencubit pinggang Nathan karena mengusir mamanya, sedangkan Albert baru selesai bicara dengan Jhon.
__ADS_1
“Semua urusan kantor aman di tangan Jhon, sebaiknya dirawat saja sampai dokter bilang sudah stabil.” Albert menatap lengan Nathan yang masih di perban.
“Mama dan Papa pulang dulu ya, kamu baik-baik jangan manja-manja kasihan Zara,” kata Dania mengecup kening Nathan dan memeluk menantunya.
“Mama dan Papa hati-hati,” kata Zara.
Zara mengantar mertuanya sampai depan ruang rawat suaminya, setelah keduanya sudah masuk lift, barulah Zara masuk kembali ke kamar rawat.
“Sudah pergi, ya?” tanya Nathan.
“Sudah, Mas mau makan buah atau makan yang lainnya. Mama bawa makanan banyak banget,” ujar Zara.
“Mas mau peluk kamu saja, Sayang,” ucap Nathan.
Zara hanya mengelengkan kepalanya, dalam hati wanita itu berharap putranya tidak rewel saat dirinya sedang di rumah sakit.
Zara tidak khawatir akan stok susunya untuk Nevan, tapin jauh dari anaknya itu yang kini berat untuk ibu satu anak itu.
Dalam kamar rawat, Zara duduk di samping tempat tidur Nathan. Ia merasa lelah dan khawatir tentang kondisi suaminya. Nathan sudah berada di rumah sakit selama beberapa hari karena luka yang dideritanya.
Zara mengusap lembut tangan Nathan dan berkata, "Bagaimana rasanya, Mas?"
Nathan tersenyum kepadanya, meskipun terlihat lemah. "Sedikit lelah, tapi aku baik-baik saja. Aku senang kamu ada di sini, Sayang."
Zara tersenyum, meskipun hatinya masih penuh dengan kekhawatiran. Ia berusaha keras menunjukkan kekuatan dan dukungan kepada suaminya, meskipun dalam hati merasa takut dan gelisah.
"Sampai kapan kamu harus tinggal di rumah sakit ini, Mas?" tanya Zara dengan suara yang lembut.
Nathan menghela nafas. "Belum ada kepastian, Sayang. Dokter masih memantau kondisiku. Kita harus tetap bersabar dan berharap yang terbaik."
Zara merasa hatinya semakin berat mendengar perkataan Nathan. Meskipun ia berusaha untuk tetap kuat, rasa cemasnya semakin tumbuh. Ibu satu anak itu merindukan Nevan, anak kecil mereka yang saat ini tinggal dengan Omanya.
Nathan memegang tangan Zara lagi dan mencoba memberikan dukungan, "Aku juga merindukannya, Sayang. Tapi kita harus tetap sabar. Nanti kita akan bisa bersama lagi, dan kita akan segera pulang."
Zara mencoba tersenyum, mencoba menekan rasa sedih dan cemasnya. Ia tahu bahwa dirinya harus tetap kuat untuk Nathan, untuk Nevan, dan untuk keluarganya.
"Nevan pasti juga merindukan kita, Mas," kata Zara sambil mengusap perlahan tangan Nathan.
Nathan mengangguk dengan lemah, dan Zara tahu bahwa ia juga mengalami rindu yang sama. Mereka saling melihat satu sama lain, penuh dengan cinta dan kekuatan yang mereka miliki sebagai pasangan.
Dalam hatinya, Zara berdoa agar Nathan segera pulih dan mereka dapat bersatu kembali sebagai keluarga.Ia tahu bahwa dengan dukungan dan cinta mereka akan bisa menghadapi segala rintangan dan melewati masa-masa sulit ini bersama-sama.
Siang ini Dokter masuk dan langsung memeriksa luka Nathan,merasa sudah membaik dan sudah kering di bagian luarnya Dokter mengatakan kalau bisa pulang hari ini.
Zara dan Nathan begitu bahagia mendengar apa kata Dokter itu, kabar Nathan pulang hari ini sudah diketahui oleh kedua orang tuanya dan begitu juga Jhon yang akan menjemput bosnya itu.
“Sayang kenapa Jhon lama sekali?” tanya Nathan.
“Sabar, mungkin sedang ada di jalan, Mas.”
Setelah itu pintu terbuka Jhon meminta maaf karena sudah terlambat menjemput. Pria itu membantu membawa tas Zara sedangkan Nathan berjalan dengan tangan kirinya memeluk posesif pinggang istrinya.
Zara hanya menarik napas saat wanita itu meminta tangan suaminnya untuk lepas, setelah itu pergi ke apotik. Wajah Nathan seketika memerah saat melihat Zara sedang mengobrol dengan pria dengan posisi membelakanginya. Darah Nathan mendidih melihat itu.
“Tuan.” Jhon terlambat mencegah Tuanya.
__ADS_1
Tanpa bicara apa-apa Nathan langsung menarik pria itu dan memberikan bogemen mentahnya apda wajah pria itu.
“Mas hentikan!” seru Zara saat melihat sepupunya sudah dihajar oleh suaminya.
Jhon dan mengunjung lainnya langsung memisahkan kedua pria itu, Nathan semakin murka saat melihat istrinya menolong pria yang baru selesai dihajarnya.
“Zara,” kata Nathan dingin.
“Kamu ini apa-apaan, Mas. Tiba-tiba memukul pria itu?” tanya Zara dengann nada kesal.
“Aku cemburu karena pria itu mengodamu, Sayang,” aku Nathan.
Zara mengsuap wajahnya dengan kasar dan berkata,” Orang yang kamu bilang sedang mengodaku itu Rehan sepupuku, Mas. Puas kamu.”
Zara segera menuju UGD di mana Rehan sedang di rawat karena wajahnya dibuat babak belur oleh suaminya.
“Reh, maaf ya,” kata Zara merasa bersalah.
Rehean tersenyum, dilihatnya Nathan berdiri menatapnya.” Sorry sudah buat Tuan Nathan cemburu, tapi saya senang itu artinya Anda sudah bisa menerima gadis bar-bar ini.”
“Reh!” Mata Zara melotot karena tidak terima atas pernyataan sepupunya itu di depan suaminya.
“Saya minta maaf, Tuan Rehan,” kata Nathan sambil mendekati brankar di mana Rehan masih berbaring.
“Tidak masalah,” jawab Rehan dengan meringis saat akan tertawa karena bibirnya robek akibat bogemen Nathan.
Zara segera mengaja suaminya untuk pulang,Jhon hanaya diam. melihat pasangan suami istri di jok belakang.
Saat sampai di toko roti, Jhon ingat jika Zara suka dengan roti itu begitu juga dengan istrinya.”Tuan, saya mau….”
“Diam!” seru Zara dan Nathan bersamaan membuat Jhon terkejut dan langsung diam.
Jhon akhirnya kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. ia tidak ingin mengganggu pasangan di belakangnya daripada dibentak lagi.
Mobil yang dikemudikan oleh Jhon sampai di mansion, Zara dan Nathan keluar dari mobil dan langsung menuju ke pintu utama.
Meli yang ingin menyambut suaminya dibuat heran akan sikap suami istri itu, wanita itu menatap suaminya dan hanya menaikkan kedua bahunya.
“Bee, mereka kenapa?”
Jhon akhirnya menceritakan pada istrinya akan apa yang terjadi, mendengar itu Meli menatap suaminya iba karena terkena imbas amarah pasangan unik itu.
“Mama,’ sapa Zara saat melihat mertuanya ada di kamar Nevan.
“Kenapa lama sekali?” tanya Dania.
“Maaf,” ucap Zara merasa bersalah karena sudah merepotkan mertuanya.
“Lebih lama juga tidak apa-apa, tapi lain kali kasih kabar agar mama tidak khawatir,” ujar Dania.
Zara merasa bersyukur karena memiliki mertua yang begitu pengertian padanya. Dania segera meninggalkan anak dan cucuknya itu. Wanita itu begitu lelah dan segera masuk kamar untuk beristirahat.
Zara langsung menyusui putranya dari sumbernya, air matanya menetes menatap wajah tampan mirip dengan suaminya itu.
Wanita itu menoleh saat ada tangan yang yang memeluk bahunya. Nathan mengusap air mata istrinya.”Maaf.”
Zara hanya tersenyum tipis, walaupun kesal pada suaminya. Namun, ia tidak boleh mengabaikan Nathan.
__ADS_1
Setelah Nevan sudah kembali lagi tidur, Zara mengajak suaminya untuk keluar. Pasangan suami istri itu ikut bergabung dengan yang lainnya di ruang keluarg.
Nathan duduk di samping istrinya, tidak lama Albert duduk di depan putranya dan bertanya,”Siapa yang melakukan pengeroyokan itu, Jhon apa kamu sudah selidiki karena musuh kita bukan hanya dari kalangan bisnis?”