
Aku telah menyelesaikan segala berita buruk tentang kami, tentang dia, dan tentang masa lalunya. Sepertinya sudah sepantasnya aku mendapatkan reward darinya. Namun, bisakah ini dianggap sebagai reward? Surat cerai ini.
Dia menghilang selama lebih dari satu bulan. Aku yang ditinggalkannya harus menanggung segalanya, mulai dari rasa kehilangan, kesepian, dan juga segala berita buruk yang menumpuk tentang kami. Tapi, setelah berhasil mengatasi semua itu, seorang petugas dari pengadilan datang, dan menyerahkan surat cerai darinya padaku.
Brengsek? Sialan? Tidak tahu terimakasih? Tentu aku ingin sekali melontarkan itu tepat di wajahnya. Namun, ini hanya sebuah surat. Surat perpisahan kami yang dia berikan melalui orang lain. Jadi, haruskah aku juga menyampaikan semua umpatan itu melalui petugas dari pengadilan ini?
"Anda harus segera memverifikasi surat tersebut setelah tiga hari. Hanya itu saja. Selamat siang."
Petugas dari pengadilan itu pergi, dan aku gagal menitipkan umpatan untuk Ji Hyujin padanya.
Dan sekarang. Aku ... ingin sekali menangis. Oleh karena itu ... airmataku mengalir dengan sempurna di kedua pipiku.
"Ji Hyujin, kau ... jahat sekali."
●●●
"Chae Eun, bagaimana ini? Apakah Jessica sungguh ingin minta putus? Apa dia sungguh mencampakkanku?"
Entah kenapa, setiap kali aku melihat Hyunwoo, aku merasa begitu kecewa. Saat aku sedang berjuang untuk memperbaiki segalanya, Hyunwoo lah yang ada disampingku dan membantuku. Sedangkan dia? Sial sekali.
Aku kembali menenggak wine ku, rasanya aku sungguh ingin mabuk agar bisa menghilangkan segala ingatan tentang dirinya.
"Tidak mungkin. Kau kan tahu bahwa kau adalah orang yang sangat berharga baginya, tentu saja setelah aku," kataku. Sialnya aku memiliki toleransi tinggi pada alkohol, sehingga lima gelas wine yang kuminum belum cukup untuk membuatku mabuk, yang ada, kini Hyunwoo lah yang mulai mabuk, padahal dia baru meminum dua gelas wine.
"Hks hks, kalau memang begitu, kenapa dia bilang ingin putus, eoh? Apakah dia menemukan pria yang lebih oke dariku?"
See! Hyunwoo memang mabuk dilihat dari caranya berbicara.
"Hey, sebaiknya kau pulang sana. Lagipula kau di sini untuk menghiburku, kenapa malah tingkahmu ini seolah minta untuk kuhibur?! Dasar!"
Aku juga tidak tahu ada apa dengan Chun Bong belakangan ini. Aku menghubungi, dan memintanya untuk bertemu, lantaran aku merasa begitu sesak menyimpan kenyataan bahwa Hyujin mengirimkan surat cerai padaku sendirian. Namun, Chun Bong dengan dingin menjawab bahwa dia tidak bisa menemuiku. Oleh karena itu, aku tidak ada pilihan lain selain menghubungi Hyunwoo. Lagipula, kami ini sudah menjadi lebih dekat belakangan ini, jadi rasanya aku bisa bercerita padanya. Namun, belum sempat aku bercerita, dia sudah lebih dulu curhat tentang Jessica yang memutuskan hubungan dengannya.
"Aku benar-benar frustrasi, aku tidak mau kehilangan Jessica. Dia segalanya buatku. Hks hks hks~"
__ADS_1
Aku terdiam.
Aku juga tidak ingin kehilangannya, dia juga adalah segalanya buatku tapi, jika dia ingin berpisah, aku bisa apa? Hyujin, sebenarnya apa maksud semua ini. Apakah aku, sekalipun tidak pernah ada dihatimu? Apakah kau, hanya memanfaatkanku untuk menuntaskan semua urusanmu?
Sial! Aku merasa lacau lagi. Aku benar-benar ingin mabuk dan melupakannya! Maka dari itu, aku terus menuang wine ke dalam gelasku, dan meminumnya. Terus-menerus. Sampai di mana aku mulai merasa begitu lelah dan mengantuk.
●●●
Entah apa yang terjadi, saat terbangun dari tidur aku mendapati diriku sudah berada di rumah Chun Bong.
Aku mencari Chun Bong ke setiap sudut rumahnya. Namun, nihil. Dia tidak ada di mana pun. Ke mana dia? Ini hari libur, jadi tidak mungkin kan dia ke kantor. Dia juga tipe orang yang tidak suka jalan-jalan sendirian, dan dia juga sudah mengakhiri hubungannya dengan Hyunwoo. Jadi, dia tidak mungkin sedang pergi jalan-jalan. Lantas, di mana dia?
Tririring
Aku segera menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Kau dari mana?" Tanyaku pada Chun Bong yang baru saja datang entah dari mana.
"Olahraga."
"Iya." Chun Bong hendak melewatiku. Namun, dengan cepat aku menahannya.
"Hey, Chun Bong, sebenarnya ada apa? Kau kenapa? Kenapa belakangan ini kau seperti ini?"
Jujur saja. Aku sudah sangat gemas dengan sikap Chun Bong akhir-akhir ini.
Dia terdiam, menatapku barang sejenak, dan kemudian membawaku duduk di sofa.
"Sebenarnya..., ibu Hyunwoo menemuiku, dia ingin aku..."
"Dia ingin kau mengakhiri hubunganmu dengannya? Apa dia melemparkan cek miliaran dolar ke wajahmu seperti di film-film?"
"Astaga, kau ini drama sekali. Mentang-mentang suamimu itu seorang aktor, ehhh—"
__ADS_1
Aku terdiam, dan Chun Bong terlihat merasa bersalah. Ya. Sejak Hyujin pergi, aku tidak pernah lagi membicarkannya dengan siapapun bahkan Chun Bong sekalipun. Tapi, rasanya begitu berat jika menyimpannya terlalu lama seorang diri.
"Hey, Chun Bong. Sebenarnya, aku dan Hyujin... kami akan bercerai."
"Apa?!" Chun Bong terbelalak.
"Bagaimana kau bisa berpikir bercerai dengannya setelah kau melakukan segalanya, hah? Kau gila?! Memangnya ada apa sampai kau mau bercerai dengannya? Apa karena dia pergi? Tapi kau bilang kan itu lebih baik untuknya untuk menenangkan diri, kau bilang kau akan menunggunya. Kenapa sekarang kau begini? Sudah menyerah?!"
Aku tidak gila. Jika Hyujin tidak mengirimkan surat cerai itu, memangnya aku mau untuk menceraikannya? Aku bukanlah pembohong patologis yang saat aku bilang akan menunggu kemudian aku mengingkarinya. Aku memang berniat menunggunya. Namun, dia tidak berpikiran sama denganku.
"Jadi, ada apa dengan ibu Hyunwoo. Apa dia sungguh melemparkan cek padamu? Dia tidak setuju dengan hubungan kalian?"
"Oh, jadi kau mau mengalihkan pembicaraan ya?"
"Iya," jawabku seadanya. Aku ... sungguh ... tidak ingin membicarakannya lagi.
Chun Bong menghela napas panjang. Hampir sering kali Chun Bong menjadi orang yang sangat mengerti aku. "Baiklah kalau kau mau begitu," katanya. "Ibu Hyunwoo menemuiku, dan dia ingin ... aku segera menikah dengan Hyunwoo."
Sejenak aku terdiam. Jika memang begitu lantas kenapa Chun Bong menjadi sangat sensitive? Bukankah dia seharusnya senang.
"Kalau begitu, tidak ada alasanmu bersikap seolah merajuk begini pada Hyunwoo, 'kan?"
Chun Bong tertunduk. "Masalahnya, dia tidak ingin aku yang seperti ini."
"Maksudnya?"
"Ibu Hyunwoo mau aku menjadi wanita yang lebih wah. Dia ingin aku pergi keluar negeri untuk mendapatkan gelar MBA, dia bilang supaya aku pantas untuk bersanding dengan Hyunwoo. Tapi, jika aku menerimanya, maka bukankah itu berarti aku tidak akan bertemu dengan Hyunwoo. Bagaimana jika, saat kami tidak bersama, perasaannya padaku akan berubah, dan hubungan kami akan berakhir bahkan sebelum aku bisa mendapatkan gelar? Eun-ah, aku pusing sekali."
Mendengar penjelasan Chun Bong membuatku akhirnya mengerti.
Dia ... bahkan aku tidak tahu perasaannya ... Ji Hyujin. Jadi, apakah perasaannya yang tidak pernah kuketahui itu sudah berubah? Makanya dia memutuskan untuk bercerai denganku. Begitukah?
Tapi ...
__ADS_1
Bagaimana denganku?
Perasaanku padanya ... belum berubah sedikitpun meskipun ribuan kali kukatakan aku kesal padanya.