Secret Wedding

Secret Wedding
Suami matang


__ADS_3

Zara menatap penampilan suaminya, wanita itu menarik pipi Nathan karena gemas. Kalau dulu awal menikah mana berani ia melakukannya.


“Sakit, Sayang.” Nathan langsung menarik tangan Zara dari pipinya.


“Kamu sudah tua, tapi gemasin, Mas.”


Mata Nathan membola dikatakan sudah tua, pria itu menarik kepala istrinya dan mengapitnya di ketiak, hingga jilbab Zara berantakan.


Di tengah  candaan mereka, Zara merasa tidak nyaman dengan tindakan Nathan yang agak kasar tersebut. Meskipun mereka sudah lama menikah, Zara masih merasa sepenuhnya memiliki hak untuk mengungkapkan kegemasannya tanpa adanya intervensi fisik yang kasar.


Zara melepas pelukan Nathan dengan lembut dan menatapnya dengan tatapan serius. "Mas, aku mengerti kamu ingin bermain-main, tapi tolong jangan mengambil tindakan kasar seperti itu. Aku ingin kita bisa bercanda tanpa menyakiti satu sama lain."


Nathan merasa malu dengan kelakuan kasarnya dan menyesal atas tindakannya. Dia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin bermain-main denganmu."


Zara mengangguk dan tersenyum lembut. "Aku tahu, Mas. Tapi mari kita berkomunikasi dengan cara yang lebih baik. Kita bisa saling menyenangkan tanpa menyakiti satu sama lain, kan?"


Nathan mengambil tangan Zara dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. "Tentu, Sayang. Maafkan aku atas tindakanku tadi. Aku akan belajar untuk lebih mengontrol diri."


Zara tersenyum lega. "Terima kasih, Mas. Aku tahu kamu itu masih gemas dan bersemangat. Tapi mari kita saling mendukung dan memahami batasan masing-masing dalam bermain dan bercanda."


Keduanya pun tersenyum satu sama lain, merasa lebih dekat dan saling mengerti. Mereka tahu bahwa dalam pernikahan mereka, komunikasi yang baik dan saling mendukung adalah kunci untuk menjaga kebahagiaan dan keharmonisan.


Keduanya berhenti setelah medengar ketukan pintu dari luar.


Zara segera merapikan lagi jilbabnya,sedangkan suaminya membuka pintu. 


“Kenapa kalian lama sekali, itu tamunya sudah datang,” ucap Tama menggelengkan kepala melihat Zara masih membetulkan hijabnya.


“Iya, Maaf. Kami segera turun.” 


Zara mengangguk singkat sebagai tanda permintaan maafnya kepada Tama. Ia menyadari bahwa kehadiran tamu menjadi prioritas utama mereka, dan mereka seharusnya tidak membuat mereka menunggu terlalu lama. Dengan hati-hati, Zara menyelesaikan memperbaiki penampilannya yang terburu-buru dan Nathan membantunya dengan mengatur jilbabnya. 

__ADS_1


Setelah menyusun jilbabnya dengan rapi, Zara dan Nathan  siap menyambut tamu mereka dengan penuh keramahan. Mereka mengetahui pentingnya menghormati tamu dengan memberikan layanan yang baik dan kesan yang positif. Setelah itu, mereka berjanji untuk memperhatikan waktunya lebih baik di masa yang akan datang agar tidak membuat tamu mereka menunggu.


Nathan menatap istrinya, keduanya sama-sama tersenyum.  Kini pasangan suami istri itu segera keluar kamar, Zara ingin mengecek menu makan malam yang sudah terhidang.


Setelah semua sudah lengkap Zara menuju ruang tamu, Nathan memberi kode agar istrinya duduk di sampingnya.


“Tuan Satya perkenalkan ini Zara istri saya,” ucap Nathan.


Satya mengulurkan tangannya, tapi Zara langsung menangkupkan kedua tangannya di dada. Pria itu akhirnya mengangguk tanda paham.


“Sayang ini Tuan Satya dan mertuanya Tuan Yoga,” ujar Nathan.


“Sepertinya istri Anda seumuran dengan anak saya, Tuan Nathan,” ucap Yoga entah kenapa pria itu merindukan sosok Senja.


“Berarti adiknya istri Tuan Satya,” tebak Tama.


Yoga terkekeh.”Bukan,  malah istrinya.”


Satya yang melihat Zara dan Nathan bingung tentang hubungannya dengan Yoga pria itu langsung berkata,”Sayan menikahi istri saya setelah lulus SMA.”


Zara dan Nathan kini mengangguk, Tidak lama pelayan datang karena makan malam sudah siap. Tama segera mempersilahkan Satya dan Yoga untuk segera ke meja makan.


Kini mereka makan dengan lahap,Satya dan Yoga ikuti peraturan jika di meja makan jangan ada yang berbicara.


Setelah selesai makan Nathan  mengobrol dengan Satya, sedangkan Tama dan Yoga mengobrol sesekali Zara ikut menimpali.


Tepat pukul sepuluh malam Satya dan Yoga segera pamit, Zara dan suaminya mengantarkan sampai di mobil tamunya tidak terlihat lagi.


“Aku pikir hanya aku saja yang punya suami tua,” kekeh Zara dengan bergelayut manja pada lengan suaminya.


Tama mendengar ucapan anaknya hanya menggelengkan kepala, sedangkan Nathan melengos karena tidak suka dikatakan tua.

__ADS_1


“Sayang tua dan matang itu beda,” kata Nathan.


Mendengar ucapan suaminya Zara membalikan badan dan kini menatap wajah tampan yang mulai ditumbuhi bulu kasar, tapi entah kenapa wanita itu lebih menyukainya.


“Apa bedanya?” tanya Zara.


Nathan tersenyum dan menjawab, "Suami matang seperti aku memiliki kebijaksanaan dan pengalaman hidup yang lebih banyak. Kami sudah melalui banyak hal dan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan. Kamu juga lebih sabar dan bisa memberikan dukungan serta kestabilan yang lebih besar dalam hubungan ini."


Zara mendengarkan dengan penuh perhatian, tersenyum kecil. "Aku mengerti. Tapi bagiku, kepercayaan dan kasih sayang yang kamu berikan jauh lebih berarti daripada usia atau penampilanmu. Aku mencintaimu apa adanya, suamiku yang tua dan matang."


Nathan tersenyum lega, merasakan kehangatan dalam kata-kata Zara. Mereka saling memeluk, merasa bersyukur memiliki hubungan yang penuh cinta dan pengertian. Bagi mereka, usia hanyalah angka dan yang terpenting adalah saling mendukung dan mencintai satu sama lain, tidak peduli berapa lamanya mereka bersama.


Tama melihat anak dan menantunya berpelukan pria itu langsung berdehem.


Zara dan Nathan refleks melepaskan pelukannya. Wanita itu begitu malu karena lupa kalau ada Ayah Tama  di depannya.


"Kalian ini kalau mau mesra di kamar sana!" usir Tama.


Wajah Zara memerah karena rasa malu. Nathan mengangguk, dengan cepat menenangkan situasi. "Maaf Ayah, kami tidak bermaksud mengganggu atau menyakiti perasaan apa pun. Kami hanya sedang mengekspresikan cinta dan kebahagiaan kami sebagai pasangan."


Tama melihat ekspresi kejujuran dalam wajah Nathan, merasa agak menyesal dengan sikapnya yang tiba-tiba. Dia menggelengkan kepala, "Maafkan aku, anakku. Terkadang aku lupa bahwa kalian juga membutuhkan privasi dan keintiman dalam hubungan kalian. Aku hanya khawatir akan penampilan terlalu mesra di depan umum."


Zara tersenyum lega mendengar permintaan maaf dari Ayahnya. "Terima kasih telah memahami kami, Ayah. Kami akan lebih berhati-hati di masa depan."


Nathan mengangkat tangan dan menyentuh lengan mertuanya dengan penuh rasa hormat, "Terima kasih, Ayah. Kami sangat menghargai kehadiranmu dan pengawasan yang penuh kasih sayang."


Tama merasa hangat dalam hatinya mendengar ungkapan terima kasih dari Nathan. Ia merenung sejenak, menyadari bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang indah dan layak dihormati. Dari saat itu, mereka semua berjanji untuk saling menghormati dan tetap memberikan privasi satu sama lain dalam hubungan mereka yang harmonis.


Tama pamit untuk istirahat, pria itu juga meminta anaknya untuk segera masuk kamar karena malam kian larut.


Zara dan Nathan juga sudah lelah, pria itu mengajak istrinya untuk segera istirahat. Apa lagi wanita itu sedang mengandung darah dagingnya.

__ADS_1


Namun, saat akan beranjak dari duduknya keduanya mendengar suara gaduh di lantai dua seperti ada orang berkelahi.


__ADS_2