
Zara kini sudah dipindahkan ke ruang rawat, wanita itu jantungnya berdetak kencang. Entah kenapa ia takut akan mimik wajah suaminya yang dingin saat menatapnya.
Nathan tadi masuk dan setelah itu handphonenya bergetar karena ada panggilan masuk dari Jhon.
Zara melihat suaminya kembali lagi masuk, wajah pria itu terlihat begitu dingin seperti awal mereka menikah dulu.
Zara sama sekali tidak berani untuk melihat wajah Nathan. Walaupun ia tahu ini salah karena terlalu banyak makan asam dan rujak yang pedas hingga asam lambungnya naik.
Nathan duduk di samping brankar istrinya, pria itu menatap Zara dan bertanya," Apa masih sakit, Sayang?"
"Mas aku minta maaf," ucap Zara lirih dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" tanya Nathan sekali lagi.
Zara menatap wajah suaminya, air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Andai ia tahu apa yang dilakukannya akan berakhir di rumah sakit pasti akan mendengar apa kata suaminya.
Nathan melihat air mata Zara dan merasakan kegelisahan dan penyesalannya. Dia meraih tangan Zara dengan lembut dan berkata dengan suara lembut, "Sayang, apa ada yang sakit i? Mengapa kamu menangis?"
Zara mengangkat kepalanya dan menatap mata Nathan yang penuh dengan kekhawatiran. Dia menggelengkan kepala dan berbicara dengan jujur, "Aku merasa takut melihatmu, Mas. Aku merasa takut melihat ekspresi wajahmu yang dingin. Aku tahu aku salah, aku terlalu banyak makan makanan pedas dan sekarang aku harus berada di rumah sakit. Aku minta maaf."
Nathan merasa menyesal dan sedih mendengar kata-kata Zara itu. Dia meletakkan tangannya di pipi Zara dan memberikan kecupan lembut. "Sayang, kau tahu aku peduli padamu dan tidak ingin melihatmu menderita. Aku tidak marah hanya khawatir. Aku mencintaimu dan aku ingin yang terbaik untukmu."
"Aku benar-benar minta maaf, Mas. Harus lebih berhati-hati dengan kesehatanku dan berjanji akan lebih baik lagi," janji Zara
__ADS_1
Nathan senyum dan mengusap air mata istrinya."Aku tahu kamu tidak melakukannya dengan sengaja. Yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu. Aku akan selalu ada untukmu, Sayang, dan akan selalu mengingatkanmu nanti."
Zara merasa hangat di hatinya mendengar dukungan Nathan. Dia merasa beruntung memiliki pria yang penuh cinta dan pengertian sebagai suaminya. keduanya saling memeluk dan merasakan kedekatan dan kehangatan yang terkadang terhalang oleh kesalahpahaman dan ketakutan.
Dalam momen itu, Zara dan Nathan berjanji untuk selalu terbuka satu sama lain dan saling mendukung. Keduanya menyadari bahwa hanya dengan komunikasi yang jujur dan cinta yang kuat dapat mengatasi setiap rintangan yang muncul dalam pernikahan mereka.
Dengan menguatkan ikatan mereka, Zara dan Nathan bersama-sama melangkah maju, melewati masa sulit yang mereka alami.
Nathan tahu bahwa kesulitan akan selalu ada dalam kehidupan, tetapi dengan cinta dan dukungan istrinya ia dapat merasakan kebahagiaan dan kekuatan yang ada dalam rumah tangganya.
Nathan melepaskan pelukannya, pria itu hampir lupa sudah membeli buah dan bubur kacang hijau yang biasa sang istri sukai.
__ADS_1
"Bubur ayamnya sebentar lagi Diego yang akan mengantar, Ayah tadi mau beli. Akan tetapi aku larang karena pasti lelah." Nathan membuka bubur kacang hijau yang masih panas itu.
Zara menatap suaminya dan senyum mengembang melihat bubur sedang ditiup oleh Nathan. Wanita itu sedari tadi tidak melihat ayahnya dan bertanya," Ayah mana , Mas?"