
Jhon menatap gadis yang terlihat shock itu, ia mengambil sendok yang jatuh ke lantai. Pria itu kemudian mengganti dengan yang baru.
"Kenapa sampai begitu?"
"Tuan Anda buat saya kaget." Meli kembali lagi memakan nasinya.
Jhon setelah selesai makan pria itu duduk di ruang keluarga. Sedangkan Meli membereskan meja makan.
"Tuan saya pulang ya," pamit Meli.
Jhon menepuk sisi kosong sofa di sampingnya.
Meli menurut, gadis itu duduk dengan tenang. Namun, sedetik kemudian tubuh kembali menegang karena Jhon memeluknya.
"Tuan."
"Hem, bagaimana? Apa kamu mau menikah dan menjadi ibu dari anak-anakku?"
"Saya hanya pelayan, Tuan."
"Saya tidak peduli itu. Saya tahu kamu juga mencintaiku, Meli."
"Tu-tuan dari siapa?"
Jhon tersenyum, pria itu mengecup bahu Meli, tapi tidak melepaskan pelukannya.
"Waktu kamu bilang pada Nona Zara kalau pria yang kamu cintai yang menolongmu dari anak buah penagih hutang pamanmu, itu aku. Satu lagi pria yang membuat jantungmu berdebar saat ada pria yang menangkap tubuhnya, itu juga aku."
Wajah Meli meronta, gadis itu begitu malu. Bagaimana bisa pria yang sedang memeluknya mendengar apa yang dikatakan pada Nonanya.
"Kami diam berarti kamu mau."
"Tuan kenapa Anda memaksa." Meli mengerucutkan bibirnya.
Jhon tersenyum dan kembali lagi memangut bibir ranum itu.
"Ah, Tuan." Meli begitu terkejut karena Jhon mengangkat tubuhnya.
Kini Meli duduk di pangkuan Jhon. Posisinya begitu intim, kedua paha Meli mengapit tubuh Jhon..hingga kepala pria itu kini tengelam di dadanya.
Jantung Meli berdetak dengan cepat, ini pertama kalinya ia sedekat ini.
"Minggu depan kita menikah, aku akan meminta tolong Diego untuk mengurus semuanya."
Meli begitu gemas,. karena baru kali ini pria dingin itu berbicara banyak. Entah keberanian dari mana, gadis itu mengecup bibir tebal Jhon, membuat pria itu tertegun.
"Gadis nakal," kata Jhon menarik kedua pipi Meli.
Setelah itu ia mengendong Meli dan keluar dari unit apartemennya.
Gadis itu melingkarkan tangannya dileher pria yang begitu dingin padanya.
Meli juga menyembunyikan wajahnya di leher Jhon karena malu. Tanpa gadis itu sadar hembusan napasnya di leher pria itu membuka sesuatu yang di bawah sana on.
Jhon sendiri tidak tahu kenapa ia begitu cepat on, jika bersentuhan dengan Meli.
Kini Jhon sudah sampai mobil, ia perlahan menurunkan kekasihnya itu di jok depan.
Setelah itu Jhon segera berputar dan duduk di belakang kemudi.
Mobil mulai meninggalkan aren parkir di salah satu apartemen yang berada di jakarta pusat.
Selama dalam perjalanan Meli merasa menjadi orang kedua. Apa lagi pria itu sudah membeli pakaian wanita begitu banyak.
"Tuan, apa sudah putus dengan kekasih Anda?"
"Kekasih? Aku tidak punya, kamu tahu jam kerjaku bersama tuan Nathan."
"Tapi…." Meli tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa, Sayang?"
__ADS_1
"Pakaian wanita yang Anda beli?"
Jhon menatap Meli, pria itu menoleh ke belakang." Apa masih di apartemen?"
"Iya saya susun di samping lemari Anda yang kosong."
Jhon kini paham akan apa yang dipikirkan gadis di sampingnya.
"Itu baju untukmu, aku pikir masih di mobil."
Mata Meli membulat karena pria itu tidak memberi tahu jika membelikan baju untuknya.
Meli hanya diam, ini pertama kalinya ada yang membelikan pakaian lengkap dengan **********.
Seketika Meli menoleh, ia ingat kenapa ********** sesuai dengan ukurannya.
"Anda tahu dari mana ukuran saya?"
Jhon tersenyum, pria itu mengelilingkan matanya." Apa kamu lupa saat kamu pingsan dulu di kejar anak buah penagih hutang pamanmu."
Meli memejamkan matanya, ia ingat saat melarikan diri saat itu sedang hujan deras. Namun, saat sadar ia sudah memakai kemeja warna putih tanpa dalaman.
Meli segera memalingkan wajahnya, gadis itu malu mengingat kejadian itu.
Mobil yang dikemudikan oleh Jhon sampai di rumah Zara, pria itu setelah parkir segera keluar dari mobil, begitu juga dengan Meli.
Saat masuk keduanya melihat Zara dan Nathan sedang berciuman. Melihat itu Jhon menarik tangan Meli untuk ketaman tidak jauh dari rumah Zara.
Meli masih terlihat shock Melihat bagaimana cara Zara dan suaminya itu saling cumbu.
"Kenapa?"
Meli hanya menggelengkan kepalanya saja, wanita itu tidak tahu mau bicara apa.
"Tuan tadi tidak melihatkan?" tanya Meli penuh selidik.
Meli menarik napas lega, tapi sedetik kemudian wanita itu memukul lengan Jhon karena pria itu pasti berbohong padanya.
"Anda bohongi saya?"
Jhon hanya tersenyum, mobil yang dikemudikan berhenti di dekat taman. Namun, tiba-tiba hujan deras.
Keduanya saling pandang, kini baik Meli dan Jhon hanya diam dalam mobil.
"Tuan, bagaimana ini?"
Jhon tanpa menjawab. Pria itu segera mengemudikan mobil menuju ke apartemen lagi. Hal itu membuat Meli heran." Kenapa ke apartemen lagi?"
Jhon segera keluar dari mobil, begitu juga dengan Meli. Keduanya masuk lift, tapi Jhon mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada bosnya kalau Meli akan tidur di apartemennya.
Pesan hanya dibaca oleh Nathan. Setelah itu hanya ada balasan ok.
Sampai di unit apartemen, Jhon segera menarik tangan Meli untuk segera masuk.
"Kenapa?" tanya Jhon melihat gadis itu enggan untuk masuk apartemen.
"Tuan tidak akan berbuat lebih pada saya, bukan ?"
"Hanya cicip dikit sayang," ujar Jhon dengan tersenyum.
Meli hanya menatap datar pria itu, wanita itu segera masuk dan duduk di sofa. Begitu juga dengan Jhon. Pria itu menatap netra indah itu.
Jhon menipiskan jarak keduanya, Meli jantungnya berdetak kencang. Wanita itu memejamkan matanya, saat Jhon mencium bibirnya dengan lembut.
Ciuman kian dalam, keduanya seakan terbawa akan suasana.
Tangan pria itu tidak tinggal diam, ia menelusupkan tangannya di balik kaos Meli.
"Tuan , jangan." Meli menahan tangan Jhon yang kini sudah berada di dadanya. Jhon menatap wajah cantik di depannya, pria itu kembali mencumbunya, terdengar erangan saat ciuman itu kian leher yang jenjang.
__ADS_1
Meli memejamkan matanya, ia mendesis saat tangan pria itu meremas dua gundukan di dadanya.
Jhon menarik kaos Meli, hingga kini tinggal dalaman saja menutupi bagian atasnya.
Meli begitu malu, hingga gadis itu menutupi area berharganya.
"Tuan." Suara Meli begitu merdu saat Jhon seperti bayi menyusu.
Tubuh Meli menggeliat karena merasakan sentuhan yang baru pertama kali dirasakan, tapi kesadaran gadis itu kini mulai datang. Digigitnya bibir bawahnya agar tidak mendesah."Tuan cukup."
Jhon menghentikan menyusunya." Maaf."
Pria itu segera memakaikan pakaian Meli, sedangkan gadis itu hanya menundukkan kepalanya.
Jhon mengecup kening Meli, pria itu beberapa kali mengatakan permintaan maaf bhf pada gadis yang terlihat sedang menangis.
Rasa bersalah dalam hati pria itu, tidak seharusnya ia melakukan hal itu. Namun, entah kenapa ia tidak bisa menahan setiap dekat dengan Meli.
Jhon mengajak wanita itu untuk masuk kamar, setelah itu ia keluar dan duduk di ruang keluarga. Jam di menunjukkan pukul delapan malam.
Ia ingat belum makan malam, tapi saat akan berdiri bel apartemen berbunyi. Pria itu segera melihat siapa yang datang karena merasa tidak ada temen.
Jhon membuka pintu, pria itu terkejut melihat siapa yang tersenyum di depan unit apartemennya.
"Hai, saya Rosi unit depan. Ini ada makanan untuk Anda."
Jhon mempersilahkan wanita itu masuk, lagian ada Meli di kamar sedangkan membersihkan tubuhnya.
"Tu-tuan." Meli terkejut melihat ada wanita berpakaian seksi berada di apartemen pria yang sore tadi mengajak menikah.
"Sayang kamu sudah bangun, Nona Rosi ini yang menempati apartemen depan kita. Nona kenalkan ini istri saya." Jhon memeluk pinggang Meli dengan posesif sambil memperkenalkan gadis yang terlihat terkejut akan kedatangan tetangganya itu.
"Hai, aku Meli."
"Rosi, maaf mengganggu kebetulan tadi masak banyak."
"Makasih kebetulan kami belum makan, mau makan bersama," tawar Meli dengan ramah.
"Oh, tidak. Lain kali saja," tolak Rosi.
Setelah itu Rosi segera pamit, Meli mengantarkan sampai depan unit apartemen. Setelah itu ia masuk menatap Jhon dengan dingin.
“Sayang jangan salah sangka dulu,” kata Jhon
“Kak Rosi cantik dan seksi, Tuan.”
Jhon menarik napas dalam dan menatap wajah cantik yang kini cemberut, tapi pria itu suka karena Meli sedang cemburu.
“Makan Meli,” ajak Jhon dengan wajah datar.
Meli menatap menu makanan yang kini sudah tersaji di atas meja makan.
Meli dengan berat hati mengambil nasi dan lauk untuk Jhon, setelah itu mengambil untuk dirinya sendiri.
Saat Jhon memasukkan makanan dalam mulutnya, pria itu menatap Meli dan segera mengambil piring gadis itu," jangan di makan."
"Tuan."
"Rasanya hanya garam." Jhon langsung lari ke kamar mandi.
Meli melihat pria dingin itu heran, merasa penasaran akhirnya gadis itu mencicipi ayam bakarnya.
Meli segera mengambil minum di kulkas." Astaghfirullah apa ini bumbunya?"
Jhon melihat Meli menatap makanan di atas meja buru-buru memasukkan sampah.
"Kita makan di luar," ajak Jhon.
"Tapi bajuku," kata Meli ragu.
Jhon menatap dari ujung kepala hingga kaki, pria itu hanya mengangguk dan segera mengambil kunci mobil setelah itu segera keluar dari apartemennya.
Jhon kembali menggenggam tangan Meli, keduanya masuk mobil. Hingga mobil berhenti di sebuah restoran, Meli dan Jhon keluar.
"Meli."
Meli langsung menoleh dan tersenyum melihat Zara dan suaminya.
Jhon akhirnya melepas genggaman tangannya, setelah itu segera ikut bergabung dengan bosnya.
"Kalian dari mana?" Zara menatap Meli dan Jhon bergantian.
"Dari apartemen saya, Nona."
Zara mendengar itu hanya mengangguk, setelah itu Meli dan Jhon memesan makanan. Setelah lima belas menit pesanan mereka datang.
Zara sibuk mengambil makanan yang dipesan suaminya, hal itu membuat Jhon menatap bosnya itu nanar. Dulu kalau Maryam ingin rasa milik Nathan selalu dilarangnya dan banyak alasan tak jelas diberikan pria itu.
Sejak saat itulah,. Maryam tidak pernah melakukannya.
"Kenapa?" tanya Meli
Jhon menoleh dan hanya diam, pria itu setelah selesai makan segera menghabiskan minumannya.
"Tuan Minggu depan saya akan menikah."
Nathan medengar itu menatap Jhon datar." Kamu sudah ada calon?"
__ADS_1